Alt Title

Meningkatkan Peran Pemuda dalam Mewujudkan Kebangkitan Umat

Meningkatkan Peran Pemuda dalam Mewujudkan Kebangkitan Umat

Untuk menuju kebangkitan yang hakiki, sistem pendidikan yang diterapkan haruslah mampu mewujudkan insan yang berkepribadian Islam dan ahli dalam bidang iptek

Seseorang yang berkepribadian Islam, tentunya akan mengamalkan ilmunya untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat

___________________________________


Penulis Bunda Hanif

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, kali ini mengusung tema “Bersama Majukan Indonesia”.  Presiden Joko Widodo menargetkan pada tahun 2045 Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat atau kelima di dunia. Pemerintah telah menetapkan visi Indonesia Maju 2045, harapannya Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat, maju, adil dan makmur. (Muslimahnews[dot]com, 27/10/2023)


Staf Khusus Menpora Bidang Komunikasi dan Hubungan Internasional Alia Noorayu Laksono menyatakan, “Sebagai pemimpin masa depan, pemuda adalah kekuatan yang tak tergantikan dalam mewujudkan visi besar ini. Indonesia Maju 2045 adalah visi kita bersama untuk menciptakan negara yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing di tingkat global.” (Kemenpora, 4/10/2023)


Untuk mencapai visi besar tersebut pemerintah menetapkan strategi melalui peningkatan investasi dan perdagangan luar negeri (ekspor). Namun faktanya, Indonesia masih menerapkan sistem ekonomi kapitalisme yang fokus pada pertumbuhan ekonomi secara global. Sistem ini tidak dapat meningkatkan kesejahteraan orang per orang. Sehingga mustahil kemakmuran akan terwujud secara merata. 


Peningkatan ekspor yang diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, hanya sekedar retorika, karena realitasnya pemerintah justru melakukan impor secara besar-besaran pada banyak komoditas strategis, termasuk pangan. Belum lagi SDA yang seharusnya dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat justru diserahkan pengelolaannya kepada swasta. 


Visi Indonesia untuk menjadi negara maju seolah-olah hanya mimpi tanpa realisasi. Indonesia semakin terjajah dalam banyak hal, terutama di bidang ekonomi.


Indonesia sebenarnya memiliki bonus demografi, dimana penduduk usia produktif jumlahnya sangat banyak. Seharusnya jumlah yang banyak tersebut dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dalam berbagai bidang. Namun faktanya, saat ini kita saksikan, kondisi bangsa ini justru makin terpuruk. Pemuda negeri ini sebenarnya diarahkan untuk menjadi pemegang estafet kepemimpinan. Tapi sayangnya, sistem pendidikan saat ini tidak diarahkan untuk menjadikan mereka ahli di bidangnya. Mereka dicetak menjadi tenaga terampil guna memenuhi kebutuhan dunia industri baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Padahal di negara yang menganut sistem kapitalisme, semua industri dikuasai kaum kapitalis. Kaum inilah yang diberikan kesempatan oleh pemerintah untuk menguasai ekonomi. 


Pendidikan saat ini yang menerapkan Program Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) telah menjadikan para lulusan kampus hanya sekadar pengisi dunia kerja. Padahal seharusnya mereka menjadi SDM yang berkualitas tinggi. Hal ini membentuk mindset para siswa dan mahasiswa bahwa tujuan sekolah adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Orientasi hidup mereka hanya untuk mengejar materi. Tidak ada tujuan luhur mencerdaskan bangsa sehingga terlepas dari penjajahan. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak perduli dengan kondisi masyarakat. 


Mampukah Pemuda Indonesia Mewujudkan Indonesia Maju?


Jika kita saksikan kondisi saat ini, pemuda Indonesia dalam kondisi tidak baik-baik saja. Liberalisasi ekonomi menjadikan arus barang yang sangat deras masuk ke Indonesia. Hal ini menyebabkan mereka dijejali dengan tawaran produk yang silih berganti setiap harinya. Pada akhirnya mereka tidak bisa membedakan mana kebutuhan mana keinginan. Pemuda Indonesia telah menjadi manusia-manusia konsumtif yang hidupnya hanya sekedar memuaskan hawa nafsunya. Berapapun uang yang mereka miliki tidak pernah cukup untuk membiayai gaya hidup mereka. Bagi mereka kebahagiaan itu hanya didapat jika mereka bisa memiliki apa yang mereka inginkan. 


Dengan gaya hidup demikian, akhirnya mereka terjerat pinjol ataupun paylater. Prostitusi juga menjadi pilihan. Banyak perempuan muda yang pada akhirnya terjerumus ke dalam prostitusi online demi untuk membiayai gaya hidup. 


Namun tidak semua remaja mampu memenuhi gaya hidupnya, ada beberapa yang tidak mampu. Akhirnya mereka terkucilkan dalam pergaulan dan mengalami perundungan. Mereka yang tidak tahan dengan perlakuan yang diterima, tidak sedikit yang akhirnya melakukan self harm (menyakiti diri sendiri). Seperti menyayat pergelangan tangannya atau bahkan sampai bunuh diri. Menambah panjang daftar kerusakan di negeri ini. 


Sungguh miris menyaksikan kondisi yang terjadi saat ini. Generasi muda saat ini jauh dari definisi orang yang bertakwa. Kepribadian mereka kacau, tingkat kecemasan mereka sangat tinggi, dan kecerdasan mereka rendah. Seharusnya pendidikan dapat mencetak insan cerdas bertakwa, namun realitasnya makin jauh dari harapan. 


Coba kita bandingkan dengan generasi terdahulu. Para pemuda Mekkah menyadari kerusakan sistem jahiliyah yang diterapkan kafir Quraisy. Akhirnya mereka melakukan upaya menuju perubahan. Saat ini, seharusnya para pemuda juga menyadari bahwa negara tidak sedang menuju kemajuan, melainkan kerusakan. Pemuda seharusnya mampu melakukan perubahan. Berubah dari kondisi yang rusak menuju kebangkitan yang hakiki hingga terwujud kemuliaan umat. Untuk mengubahnya, tidak ada cara lain selain menerapkan ideologi Islam yang merupakan satu-satunya ideologi dari Sang Khalik. 


Untuk menuju kebangkitan yang hakiki, sistem pendidikan yang diterapkan haruslah mampu mewujudkan insan yang berkepribadian Islam dan ahli dalam bidang iptek. Seseorang yang berkepribadian Islam, tentunya akan mengamalkan ilmunya untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat. Begitu juga dengan sistem ekonomi yang diterapkan yaitu sistem ekonomi Islam yang mampu menyejahterakan setiap rakyat. Semua SDA dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyatnya, tidak seperti kondisi saat ini dimana SDA diserahkan kepada swasta dan pihak asing. Dan sistem politik pemerintahan Islam akan membebaskan umat Islam dari penjajahan, baik secara militer maupun nonmiliter. rakyat dapat hidup dengan aman, tenang dan damai. 


Peran pemuda dalam mewujudkan kebangkitan umat bisa dimulai dengan menginstal ideologi Islam dalam dirinya dan terlibat secara aktif dalam pembinaan Islam ideologis. Hal ini pernah dilakukan pada masa Rasulullah saw.. Rasulullah saw. membina para pemuda bersama para sahabat di rumah Arqam bin Abi Arqam. Pemuda yang mendapatkan pembinaan akan memiliki keimanan yang kuat. Pada akhirnya, mereka akan memiliki kesadaran untuk berdakwah bersama jamaah untuk mewujudkan perubahan. Perubahan hakiki akan terwujud hanya dengan menerapkan syariat Islam. Hanya dengan syariat Islam pula lah, umat Islam menjadi umat yang mulia, seperti firman  Allah Swt.: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia." (TQS. Ali Imran: 110)


Semoga suatu saat nanti bangsa ini dapat bangkit dari keterpurukan. Kemuliaan umat dapat diraih kembali seperti yang pernah terjadi sebelumnya selama kurang lebih 13 abad. Tentunya hanya dengan kembali kepada aturan Sang Pencipta. Wallahualam bissawab. [GSM]