Alt Title

Referensi Salah Menghancurkan Pemikiran Fitrah

Referensi Salah Menghancurkan Pemikiran Fitrah

Betapa hebat dan luar biasanya manajemen waktu remaja pada masa sahabat. Di usia yang masih belasan tahun mereka sudah memberi manfaat dan berjuang untuk agamanya. Tak ada sedikit waktu pun mereka gunakan untuk hal sia-sia yang membawa pada kemudaratan

________________________


Penulis Gosa Rahma Widya

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah Remaja



KUNTUMCAHAYA.com, TEENAGER - "Jika kamu ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah pemuda-pemudinya pada hari ini." (Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.)


Akhir-akhir ini remaja kembali dihipnotis dengan serial televisi atau film-film bertopeng hiburan semata. Film tersebut mengajak pada alur hanyut yang tanpa sadar merusak dan menghancurkan pemikiran yang sesuai fitrah.


Remaja bahkan terbuai, seolah seperti barang terlarang yang membuat candu, saat film atau drama yang ditonton telah usai. Ia pun akan kembali mencari tontonan yang menjadikannya bahagia seperti halnya romansa diri sendiri secara visual, karena tak bisa ia dapatkan di dunia nyata.


Remaja merasa terwakili dengan film atau serial yang ditonton, layaknya makanan favorit yang tidak pernah membosankan. Bahkan tontonan yang tidak ada manfaatnya itu, ia jadikan referensi yang disilakan memasuki pemikirannya. Kemudian referensi itu akan ia pahami sampai ia lakukan. Parahnya tontonan seperti pergaulan bebas atau psikopat, mereka ingin mencoba menyalurkannya secara nyata dan langsung. Terkadang referensi yang masuk pun dengan cepat mengubah sifat asli remaja terutama Gen Z. Misalnya, mereka yang awalnya ceria dan humoris bersama teman ataupun keluarga, mendadak menjadi orang yang pendiam dan misterius karena menonton drama pembunuhan, atau pem-bully-an, atau semacamnya. Yang pasti masih banyak efek buruk lainnya yang tanpa disadari oleh remaja itu sendiri.


Hal semacam itu sudah pasti merusak, bukan? Lantas, kenapa remaja malah menikmatinya? Tentu, mereka tidak paham atau tidak tahu sama sekali. Usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali bahkan lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Mereka kehilangan arah dan tujuan, mengikuti tren layaknya air mengalir yang tidak tahu jalannya bagaimana, kotor atau bersih. Apalagi bagi mereka yang toxic atau sudah lama hidup di lingkungan toxic tetapi tidak sadar.


Saat kita mulai menyadari permasalahan remaja saat ini, mulai terlintas di pikiran akan betapa hebat dan luar biasanya manajemen waktu remaja pada masa sahabat, di usia yang masih belasan tahun mereka sudah memberi manfaat dan berjuang untuk agamanya. Tak ada sedikit waktu pun mereka gunakan untuk hal sia-sia yang membawa pada kemudaratan. Mereka tahu dan paham apa yang semestinya dilakukan di dunia, yaitu misi. Misi beribadah kepada Allah dengan penuh ketundukan dan kepatuhan.


Contoh saja Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Byzantium pada saat para jenderal-jenderal lain putus asa. Dengan cara yang mengagumkan pula, ia berhasil memasuki ibu kota Kekaisaran Romawi tersebut.


Selain itu, terdapat Usamah bin Zaid yang merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah. Ia telah mulai memimpin perang pada usia 18 tahun. 


Kemudian ada Zaid bin Tsabit yang berusia 13 tahun dan merupakan penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasulullah shallallu 'alalihi wa sallam. Ia juga telah hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al-Qur'an.


Dan masih banyak lagi pemuda-pemuda luar biasa pada masa itu. Yang berhasil turut andil dalam kejayaan Islam. Merekalah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi remaja saat ini yang masih sulit memahami tujuan dalam kehidupannya. Bukan malah aktris aktor yang dengan senangnya berhasil berjuang (perjuangan semu) di dalam sistem kapitalis-sekuler yang nyatanya tak ada manfaat sama sekali. Para selebritas atau Idol Kpop dengan bangganya menunjukkan karya yang menurunkan harga diri mereka. Penuh kesenangan mereka menampakkan aurat yang memang sudah menjadi hal biasa bagi remaja yang hidup dalam akidah sekularisme. 


Pemuda-pemuda pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu menggunakan tsaqafah Islam dengan menerapkannya pada diri mereka, yang tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri melainkan bagi banyak orang. Mereka yang seharusnya dijadikan referensi dalam setiap pemikiran pemuda penerus generasi, agar menjadikan pemikiran sesuai fitrah dan semangat menggebu-gebu dalam berjuang untuk Agama Allah.


Saat pemuda dalam negeri sudah memahami Islam dan kebenarannya, pastilah langsung terlihat betapa cerahnya masa depan generasi dan negara.


Melihat perbedaan remaja masa sahabat dengan remaja yang hidup di masa teknologi ini, Islam sebenarnya mengajarkan kepada para remaja banyak hal yang bermanfaat dan menginspirasi bahkan bagi remaja yang lain. Hal-hal di bawah ini mungkin dapat diaplikasikan dalam menyampaikan dakwah.


Pertama, sebuah penyadaran. Mungkin terdengar sulit. Bagi orang yang sudah mengetahui ilmu agama lebih dahulu, tentu sudah menjadi kewajibannya untuk menyampaikan kepada yang lain. Contohnya, penyadaran dapat dilakukan kepada remaja. Memiliki masalah dan ujian dalam kehidupan, hal itu bisa dijelaskan bahwa ini merupakan cara terbaik Allah dalam menyayangi dan mendewasakan hamba-Nya. 


Kedua, setelah seseorang mulai menyadari pentingnya bersyukur dan mendekatkan diri pada Allah, mulailah dengan membawanya pada 3 pertanyaan sebelum manusia memulai kehidupan di dunia, atau yang biasa dibut 'uqdatul kubra. Yaitu darimana manusia berasal, untuk apa manusia di dunia, dan akan kemana manusia setelah kehidupan dunia ini berakhir.


Ketiga, mulai mengajaknya pada komunitas-komunitas yang menguatkan Islam. Baik dalam jaringan, maupun luar jaringan. Perlahan beri pengertian akan pentingnya pergaulan dan lingkungan sebagai bentuk penjagaan iman dan takwa. 


Jangan lupa untuk menjadikannya teman yang berbicara dengan teman, bukan seolah guru yang mengajar muridnya.


Saat memulai cara dengan niat yang benar dan tata cara yang benar sesuai ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah pasti akan senantiasa memudahkan jalan hamba-Nya dan memberikan rasa sabar yang begitu besar. Allah akan selalu menemani seseorang yang berjalan menuju-Nya dengan penuh keikhlasan dan ketulusan.


Pahami agama Islam agar senantiasa terarah, terstruktur dan hidup, bukan berbelok pada jalan yang batil ataupun tengah-tengah. Wallahualam bissawab. []