Alt Title

Penanganan Mewabahnya DBD, Memang Sudah Cukup Komprehensif?

Penanganan Mewabahnya DBD, Memang Sudah Cukup Komprehensif?

 


Sistem kapitalisme memiliki asas untuk meraih sebanyak-banyaknya keuntungan materi

Termasuk kapitalisasi dalam bidang kesehatan

______________________________


Penulis Siti Aminah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - DBD, kayaknya udah enggak asing lagi deh kalo mendengar istilah yang satu ini, karena  anak tingkat SD (Sekolah Dasar) saja pada tahu kan ya. DBD atau Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh penularan virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Mewabahnya DBD ini salah satunya karena sekarang kan sering turun hujan yang otomatis banyak genangan air yang sangat disenangi oleh nyamuk Aedes. 


Di tahun 2024, kasus DBD sangatlah melonjak bahkan menyebabkan kematian, innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Bahkan untuk di daerah Jawa Barat, kasusnya terus saja mengalami peningkatan.


Menurut data yang dihimpun sejak Januari 2024 oleh Dinas Kesehatan Pemprov Jabar, kasus demam berdarah sudah berada pada angka 11.058 kasus. Dari jumlah tersebut, tercatat ada 96 kasus kematian.


Kasus mewabahnya DBD ini tidak hanya di daerah-daerah saja, melainkan kota besar seperti Jakarta juga mengalaminya. Seserius itu, ya, DBD?


Menurut Jakarta Kompas.com, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta meningkat pesat dalam satu bulan terakhir. Ada 1.729 kasus DBD di Jakarta hingga tanggal 18 Maret 2024 ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati saat dikonfirmasi pada Jumat (22/3/2024). Adapun jumlah orang yang terjangkit itu naik 1.102 orang dari sebelumnya 627 kasus pada 19 Februari 2024.


Sedangkan di Kalimantan Timur, menurut Republika.co.id, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur menerangkan bahwa kasus positif demam berdarah dengue (DBD) di provinsi tersebut meningkat menjadi 2.320 kasus, dan tujuh orang meninggal dunia. Jika dilihat dari data kasus DBD terbanyak ada di provinsi Jawa Barat yakni 11.058 kasus.


Apakah para pemimpin negara sudah melakukan penanganan yang cukup komprehensif? Karena jika sudah cukup komprehensif melihat dari banyaknya data kasus DBD ini harusnya sih tidak terulang dan tidak bertambah banyak.


Terus apa dong yang sudah dilakukan para pemimpin negara seperti gubernur dan lain-lain? Di antaranya adalah sebagai berikut:


(1) Masyarakat diimbau untuk lebih waspada

(2) Menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk menyediakan obat, menambah stok infus, dan vaksin DBD

(3) Edukasi gejala DBD serta memperhatikan kebersihkan lingkungan dengan cara 3M atau menguras, menutup, dan mengubur. Ngomong-ngomong Tentang 3M, ini tuh sudah ada di pembelajaran anak SD sejak dulu enggak sih?

(4) Pemberian larvasida, dan fogging. Untuk ini, kayaknya belum di semua daerah deh.


Bagaimana tidak mewabah dan terus terulang jika yang dilakukan hanya sekadar edukasi semata. Ketika ada rakyat yang terjangkit DBD lalu dilarikan ke rumah sakit harus mengeluarkan biaya sendiri. Biaya yang dikeluarkan cukup besar karena harus diberi vaksin, infus, dan obat-obatan lainnya. 


Harusnya pemerintah juga membantu meringankan dan membuat program vaksinasi gratis kepada rakyat yang kurang mampu. Bukannya malah menjual obat-obatannya kepada rakyat. Namun hal itu bisa terjadi karena penerapan sistem kapitalisme yang memiliki asas untuk meraih sebanyak-banyaknya keuntungan materi. Termasuk kapitalisasi dalam bidang kesehatan.


Padahal Rasulullah saw. telah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim bahwa, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya."


Ngeri, karena saat nanti di akhirat para pemimpin yang zalim terhadap rakyat, yang menelantarkannya akan dimintai pertanggungjawaban atas jabatan kepemimpinannya selama di dunia.


Jadi rindu masa kejayaan pemerintahan Islam dalam naungan Daulah Islam di mana penguasa memenuhi segala kebutuhan rakyat karena hal tersebut merupakan kewajibannya. Kalau sekarang yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin.


Kalau dalam Islam, pelayanan, pemenuhan, dan jaminan kebutuhan rakyat seperti pendidikan dan kesehatan akan diberikan oleh negara secara adil untuk setiap rakyat tanpa memandang perbedaan status ekonomi ataupun agama. Masya Allah indah banget, deh, hidup di dalam naungan Islam, tuh.


Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Rasul saw. mengingatkan, "Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.

Wallahualam  bissawab. [SJ]