Alt Title

Bencana Banjir Butuh Solusi, Bukan Sekedar Aksi

Bencana Banjir Butuh Solusi, Bukan Sekedar Aksi

 


Pembangunan yang dilakukan di bawah arahan kapitalis yang tidak memperhatikan tata ruang kota dan lingkungan

Hal ini menimbulkan berbagai kerusakan

________________________


Penulis Ermawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Masalah banjir yang seolah tak pernah kunjung selesai dan terjadi di beberapa daerah membutuhkan solusi sistemik.


Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, mengatakan penyebab banjir di Jateng adalah fenomena atmosfer, seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Monsun Asia, dan Gelombang Rossby.


Selain itu, faktor lain yang menyebabkan banjir merendam beberapa kabupaten/kota di Jateng adalah bibit siklon tropis 91S di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa dan 94S di Teluk Carpentaria.


"Potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi hingga 17 Maret," ujar Yoga, dikutip dari Antara, Jumat (15/3/2024 kompas.com)


Hujan yang terus menerus turun sehingga menyebabkan debit air sungai tinggi dan naik yang akhirnya merendam beberapa daerah, banjir yang melanda di negara ini makin parah dan banyak desa yang terendam banjir lama surutnya serta banjir juga memakan banyak korban jiwa. Curah hujan yang tinggi sehingga air sungai naik khususnya untuk daerah-daerah yang kondisi tanahnya rendah sehingga menjadi kawasan rawan banjir.


Berbagai cara telah dilakukan oleh negara agar banjir tidak terjadi. Salah satunya pembuatan tanggul atau waduk untuk menahan debit air sungai yang tinggi. Namun tetap saja pada saat musim hujan selalu saja curah hujan yang tinggi dan terus menerus turun membuat banjir atau karena masalah tanggul yang jebol tidak kuat menampung air hujan. Banjir pun tidak bisa dielakkan, yang kemudian merendam permukiman warga. Apalagi saat ini tempat yang belum pernah banjir sekarang terendam banjir.


Apa yang menyebabkan banjir selalu terjadi di negara ini salah satunya karena tidak ada tanah resapan air hujan. Banyak tanah yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan tempat wisata, serta tidak kuatnya tanggul yang dimiliki sehingga mudah jebol. Dalam pembangunan infrastruktur tidak melihat kondisi tanah sehingga akhirnya terjadi banjir, air hujan tidak bisa diserap secara langsung ke dalam tanah dan air pun mengalir ke daratan yang rendah yaitu tempat permukiman warga. Ini adalah akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalis yang salah dalam pembangunan tata ruang kota.


Pembangunan yang dilakukan di bawah arahan kapitalis yang tidak memperhatikan tata ruang kota dan lingkungan. Hal ini menimbulkan berbagai kerusakan. Serta sikap negara yang terlalu longgar terhadap para investor asing atau swasta yang telah menanamkan sahamnya. Sehingga menjadikan para kapitalis bisa dengan bebas melakukan pembangunan. Termasuk perusakan SDA tanpa memperhatikan kondisi alam dan rakyat akhirnya menjadi tumbal dari semua kebijakan pemerintah.


Sistem kapitalis sekuler yang lebih mengutamakan keuntungan semata tanpa melihat apa yang akan terjadi dari pembangunan yang telah merusak kondisi alam. Salah satunya tanah resapan air hujan yang dibangun untuk tempat-tempat wisata. Dan dijadikan lahan bisnis oleh negara untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tidak memikirkan akibatnya terhadap kehidupan rakyat. Jadi banjir selalu terulang kembali selain karena faktor alam juga karena kerakusan para pemimpin di negeri ini yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan.


Masalah banjir diperlukan solusi yang tuntas bukan sekadar aksi untuk pencitraan tapi tak menyelesaikan masalah. Begitu juga dengan sistem kapitalis yang diterapkan di negara ini tidak mampu menyelesaikan masalah justru hanya menambah ruwet bagaikan benang yang kusut. Sistem kapitalis adalah sistem yang rusak, hanya akan menambah kerusakan apa bila diterapkan dalam kehidupan. Masihkah kita percaya dan yakin dengan sistem kapitalisme.


Berbeda dengan sistem Islam yang akan melindungi keselamatan setiap rakyatnya. Pemimpin adalah ra'in yang melayani serta memenuhi kebutuhan rakyat. Jika dalam Islam untuk masalah banjir akan dibangun kanal-kanal untuk menampung curah hujan. Tanah-tanah resapan tidak boleh dilakukan pembangunan agar air hujan dapat diserap langsung oleh tanah, dan pengelolaan hutan tidak boleh dipegang oleh swasta atau asing karena takut disalahgunakan. Salah satunya penggundulan hutan secara brutal yang dapat merugikan keselamatan rakyat dan lingkungan.


Jadi marilah kita kembali kepada hukum Allah dengan menjalankan syariat Islam kafah. Karena hanya Islam yang mampu menyelesaikan semua kesempitan dalam hidup dengan menegakkan Islam demi kehidupan yang Allah ridai. Karena hanya Islam yang dapat melakukan semua ini, jadi marilah kita memperjuangkan Islam bersama-sama. Waallahualam bissawab. [GSM]