Alt Title

Strategi Pork Barrel dan Favoritability Rate dalam Politisasi Bansos

Strategi Pork Barrel dan Favoritability Rate dalam Politisasi Bansos



Kualitas pemimpin dalam Islam akan berdasarkan kepada keimanan dan ketakwaan serta menjadikan syariat Islam sebagai sandaran. 

Karena syariat memang sejatinya datang sebagai solusi seluruh problem manusia. 

_____________________________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Tim pemenangan dan pendukung dari salah satu pasangan calon presiden dinilai kian masif menggunakan program bantuan sosial sebagai alat kampanye pendongkrak suara. Mereka melakukan kegiatan yang sifatnya unjuk publik dengan melibatkan massa yang besar menggunakan sumber daya negara. 


"Para pejabat publik seharusnya bisa memisahkan kerja-kerja pelayanan publik dan kampanye. Akhirnya, publik pun curiga ada kecurangan politik yang berpotensi merugikan pasangan calon tertentu", kata Aisah Putri Budiatri, peneliti di Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (www.bbc.com, 30 Januari 2024)


Kultur politisasi bansos sudah terjadi sejak lama di dunia politik sebagai salah satu trik kampanye dalam politik. Eropa lebih mengenalnya dengan istilah pork barrel atau gentong babi. Istilahnya pork barrel, tong yang isinya daging babi dulu di Eropa. Jadi memberikan supply makanan kepada konstituennya, bahkan jauh hari sebelum pemilu.


Trik politik ini juga bisa dilakukan oleh para penguasa yang masih memegang kekuasaan. Tujuannya membangun favorability, kesukaan terhadap dia, mempertahankan approval rate, untuk mempertahankan dukungan warga terhadap kepemimpinan.


Kekuasaan menjadi tujuan yang akan diperjuangkan dengan segala macam cara. Oleh karena itu setiap peluang akan dimanfaatkan. Hal itu wajar karena sistem demokrasi meniscayakan kebebasan perilaku dengan mengabaikan aturan agama dalam kehidupan. Motif kepentinganlah yang menjadi kerangka dasar suatu aktivitas dibangun. 


Di sisi lain, dengan kesadaran politik yang rendah, taraf pendidikan yang kurang mumpuni dan kemiskinan yang menimpa, masyarakat akan berpikir pragmatis, sehingga mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.


Para penguasa menjadikan kemiskinan sebagai isu yang digoreng menjelang pemilu, alih-alih bukannya mengentaskan kemiskinan dengan cara komprehensif dan dari akar persoalan, para penguasa hanya mengentaskan kemiskinan sekadar dengan bansos berulang.


Islam memiliki berlapis-lapis mekanisme untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat individu per individu, mulai dari pemenuhan kebutuhan primer (basic needs) oleh negara, pemberlakuan ihyaul mawat, menyediakan lapangan pekerjaan serta akses permodalan tanpa riba yang bisa diperoleh warna negara.


Islam juga menetapkan kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.. Sehingga penguasa akan mengurus rakyat sesuai dengan hukum syarak. Islam juga mewujudkan SDM berkepribadian Islam, termasuk amanah dan jujur.


Rakyat juga akan diberikan edukasi oleh negara dengan nilai-nilai Islam termasuk dalam memilih pemimpin, sehingga umat memiliki kesadaran akan kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.


Kualitas pemimpin dalam Islam akan berdasarkan kepada keimanan dan ketakwaan serta menjadikan syariat Islam sebagai sandaran. Karena syariat memang sejatinya datang sebagai solusi seluruh problem manusia. 


“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (TQS. Al-Anfaal: 24).


Sungguh, umat hari ini, sangat membutuhkan kepemimpinan Islam. Karena kepemimpinan Islam tegak atas paradigma sahih tentang hakikat amanah dan pertanggungjawaban. Yang akan menjadikan penguasa benar-benar menjadi pengurus dan penjaga rakyatnya semata-mata mengharap rida Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [SJ


Nai Haryati, M.Tr.Bns.

Pemerhati Politik dan Ekonomi