Alt Title

Marak Fenomena Bunuh Diri, Mengapa?

Marak Fenomena Bunuh Diri, Mengapa?

Ia akan berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, termasuk larangan bunuh diri

Bunuh diri jelas hukumnya haram. Seorang muslim akan menyadari bahwa itu bukanlah solusi. Ketika dihadapkan pada persoalan hidup, pasti kita akan mampu memikulnya dan Allah akan memberikan solusi

_________________________________


Penulis Siska Juliana 

Tim Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Baru-baru ini masyarakat dikejutkan kembali oleh kasus bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswa. Kasus tersebut terjadi berturut-turut di kota yang sama. Pertama, mahasiswi perguruan tinggi negeri yang tewas di Mal Paragon, Semarang pada 10 Oktober 2023. Alasannya karena terlibat pinjol. Kasus kedua, mahasiswi perguruan tinggi swasta yang ditemukan tewas di kamar kosnya pada 11 Oktober 2023. Ia mengakhiri hidup karena permasalahan keluarga. (Tempo[dot]com, 13/10/2023) 


Kedua peristiwa tersebut merupakan sebagian kecil dari kasus yang terjadi. Menurut data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI, bahwa selama periode Januari-Oktober 2023 kasus bunuh diri di Indonesia mencapai 971 kasus. Meningkat dari tahun 2022 yang sebelumnya sebanyak 900 kasus. Sungguh miris, Indonesia dinyatakan menjadi negara darurat bunuh diri.


Lebih miris lagi, tren bunuh diri ini terjadi pada mahasiswa yang merupakan individu terdidik. Mereka memilki pengetahuan untuk bisa menjalani kehidupan. Jika ditelaah, ada beberapa faktor penyebab maraknya fenomena bunuh diri, yaitu: 


Pertama, adanya persoalan ketahanan mental yang rapuh. Saat ini, generasi muda mendapat julukan generasi strawberry. Hal ini menunjukkan mereka sebenarnya adalah generasi yang kreatif, hanya saja ketika ditimpa suatu permasalahan, mereka sangat rapuh dan mudah hancur.


Kedua, gaya hidup materialistis. Tak dapat dimungkiri, kehidupan remaja saat ini terjebak dalam gaya hidup hedonisme. Adanya keterlibatan dengan pinjol membuktikan bahwa kehidupan mereka besar pasak daripada tiang. Belum lagi ditambah biaya hidup dan biaya kuliah yang tinggi. Memaksa mereka untuk mencari pekerjaan tambahan. Di dunia kerja pun tekanan semakin tinggi belum ditambah persoalan yang lainnya. Akhirnya, muncullah depresi. 


Ketiga, adanya kurikulum perguruan tinggi yang fokus mengejar nilai ditambah dengan tugas yang menumpuk, membuat mahasiswa stres. Tak heran mereka terdorong untuk mengakhiri hidupnya. 


Keempat, sekularisme. Ini adalah pangkal dari penyebab kasus bunuh diri. Cara pandang ini berasal dari Barat, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Paham ini telah terhujam kuat dalam benak remaja. Mereka semakin jauh dari agama. Alhasil, kehidupan mereka menjadi bebas, tidak mengenal halal dan haram. Tujuan kehidupan hanya materi semata.


Maka, perlu solusi yang komprehensif dalam menghentikan kasus bunuh diri ini. Solusi yang hakiki yaitu menerapkan Islam di dalam kehidupan. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Masyarakat akan menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah Swt. yang harus tunduk pada aturan-Nya.


Ia akan berhati-hati dalam menjalankan kehidupannya. Ia akan berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi laranganNya, termasuk larangan bunuh diri. Bunuh diri jelas hukumnya haram. Seorang muslim akan menyadari bahwa itu bukanlah solusi. Ketika dihadapkan pada persoalan hidup, pasti kita akan mampu memikulnya dan Allah akan memberikan solusi. 


Sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa [4]: 29)


Negara pun akan menjamin kebutuhan rakyatnya. Dengan begitu, masyarakat serta mahasiswa akan terhindar dari stres karena besarnya biaya hidup. Negara juga akan melindungi fitrah manusia dengan melindunginya dari pemikiran asing yang merusak, seperti konten pornografi, kehidupan hedonis dan materialistis. 


Islam juga akan mewujudkan lingkungan yang kondusif untuk kesehatan mental remaja. Hal ini dilakukan dengan penanaman akidah sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah. Kurikulum yang diterapkan berbasis Islam, sehingga tercipta kepribadian Islam. Tujuan pendidikan bukan untuk mengejar materi, tetapi dapat berkontribusi untuk umat. 


Dengan demikian, solusi hakiki untuk menghentikan fenomena bunuh diri adalah dengan mengembalikan kehidupan Islam. Sistem ini yang mampu menjaga fitrah manusia dan membawa keberkahan hidup. Wallahualam bissawab. [By]