Alt Title

Ketika Tawuran Pelajar Membudaya di Tengah Masyarakat

Ketika Tawuran Pelajar Membudaya di Tengah Masyarakat

Aktivitas ini membawa banyak sekali keburukan pada diri remaja. Bukan hanya pada dirinya tetapi masyarakat sekitar

Dengan adanya tawuran membuat masyarakat semakin resah dan khawatir terhadap keamanan dirinya, keluarga dan anak-anak di wilayah terjadinya tawuran. Hal ini sudah tentu tidak bisa menjadi jalan untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik bagi para pelajar

_____________________________


Penulis Siti Nurtinda Tasrif

Kontributor Tetap Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah Kampus



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Ketika berbicara mengenai pelajar maka yang tebersit dalam benak adalah usianya masih mudah, semangatnya sangat besar dan berada pada usia keemasan. Masa untuk membentuknya menjadi sosok yang lebih sempurna. Sempurna dalam kecerdasan, keputusan dan masa depannya. Kemudian, membuatnya mampu menggapai cita-citanya setinggi angkasa.


Membentuknya menjadi pribadi yang Rabbani, memiliki iman dan takwa yang kuat serta mendukungnya dalam menentukan masa depan yang diinginkan. Namun, seringkali orang tua lupa dengan hal terpenting bagi anak yang berusia pelajar. Akibat kebutuhan ekonomi membuat perhatian orang tua teralihkan, mengira anak bisa bahagia hanya dengan harta.


Tetapi bukan itu yang dibutuhkan oleh seorang anak. Melainkan kasih sayang dan perhatian yang sangat mereka butuhkan. Nasihat yang menunjukkan perhatian yang diinginkan. Sehingga, anak tidak perlu mencari kenyamanan di luar dan akhirnya terjebak dengan lingkungan sebaya yang tidak kondusif. Bahkan, cenderung kepada aktivitas yang menghancurkan masa depannya. Misalnya, tawuran antar pelajar.


Aktivitas ini membawa banyak sekali keburukan pada diri remaja. Bukan hanya pada dirinya tetapi masyarakat sekitar. Dengan adanya tawuran membuat masyarakat semakin resah dan khawatir terhadap keamanan dirinya, keluarga dan anak-anak di wilayah terjadinya tawuran. Hal ini sudah tentu tidak bisa menjadi jalan untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik bagi para pelajar.


Lebih parahnya lagi, dapat menghancurkan masa depannya, membuat ia merasa khawatir berada dalam kondisi yang dipenuhi oleh dunia kerja yang begitu sibuk sedang ia belum siap. Sehingga, para pelajar harus diawasi oleh berbagai pihak, mulai dari keluarga hingga negara. Lalu, kerjasama ini menuntut setiap masyarakat termasuk para aparat polisi untuk berupaya lebih keras dalam mencegah terjadinya tawuran antar pelajar.


Sebagaimana yang penulis kutip dari Media pantura[dot]pikiran-rakyat[dot]com (15/08/2023) Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) Comal menggelar rapat di Pendopo Kecamatan Comal, untuk mengantisipasi kenakalan remaja, seperti tawuran yang melibatkan pelajar dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat.


Kapolres Pemalang AKBP Yovan Fatika Handhiska Aprilaya melalui Kapolsek Comal AKP Heru Irawan mengatakan,  sebelumnya terjadi peristiwa yang memprihatinkan, dimana sejumlah pelajar dari Pemalang diamankan Polres Brebes saat berkumpul di Desa Cidegog, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes. “Warga sekitar yang merasa resah kemudian melaporkan kepada pihak berwajib, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tawuran,” kata Kapolsek Comal.


Hal ini sudah tentu bisa dikatakan sebagai solusi untuk menghilangkan kasus tawuran antar pelajar yang terjadi. Dengan langkah ini, masyarakat berharap lingkungan bisa tetap aman dan kondusif untuk menjadi tempat beraktivitas seperti sedia kala. Namun, apakah langkah ini cukup strategis? Mengingat tawuran yang terjadi tidak hanya satu wilayah saja melainkan seluruh Indonesia.


Seharusnya, solusi tidak hanya datang dari cabang negara melainkan dari negara utamanya. Dimana, penguasa negara yang harusnya memberi arahan pada bawahannya untuk bersinergi dalam menjaga pelajar.


Ini merupakan bukti kehilangan tujuan yang jelas oleh negara sebagai efek dari penerapan sistem kufur yaitu kapitalisme. Sistem yang membuat negara mengalami krisis tujuan berdirinya yakni untuk kemaslahatan umat. Namun, kapitalisme membuat para penguasa tidak sadar dengan tujuannya bahkan sudah dialihkan untuk mencari materi-materi semata. Sedangkan urusan rakyat seolah tidak penting untuk dipikirkan.


Padahal nasib para pelajar dipertaruhkan dalam hidupnya. Jika negara tempatnya bernaung saja abai apalagi mau berharap pada sektor di bawah-bawahnya. Sungguh ironis, kapitalisme mengalihkan manusia dari kebaikan menuju keburukan. Dari tanggungjawab menuju pengabaian bahkan kelalaian. Jika sistem ini terus diterapkan maka tak mustahil jika ke depan Indonesia hanya akan mendapatkan bonus demografi yang sudah hancur lebur.


Oleh sebab itu, kapitalisme harus diganti dengan Islam. Sistem yang memiliki mekanisme yang sempurna dalam peraturan serta penerapannya. Bahkan, seluruh sektor dalam negara harus dikontrol oleh kepala negara untuk menunjukkan sinergisitas dalam melindungi generasi. Menjadikan para pelajar hidup untuk mengemban Islam dan membuatnya memiliki tujuan hidup yang jelas.


Islam akan menjamin seluruh kebutuhan umatnya. Kedua orang tua tidak perlu bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Cukup laki-laki saja yang bekerja sebagai tugasnya dan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Sedangkan wanita tetap berada dirumah untuk menjaga dan mendidik anak-anaknya menjadi sosok yang beriman dan bertakwa. Bahkan, bisa mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan kebaikan, memajukan peradaban Islam dan menegakkan Agama Allah Swt. yang mulia yaitu Islam.


Para pelajar hanya akan disibukkan untuk belajar, melatih diri untuk kuat dan memiliki visi misi sehidup sesurga. Menjadi pribadi yang bermanfaat, bukan saja untuk dirinya, keluarganya tetapi juga seluruh dunia Islam. Sebagai jalan dan langkah awal untuk membantunya menggapai rida Allah Swt. semata. Maka, jalannya akan sesuai dengan tujuan yang ingin diraihnya. Wallahualam bissawab. [Dara]