Alt Title

Solusi Islam dalam Menangani Masalah Krisis Air

Solusi Islam dalam Menangani Masalah Krisis Air

Pengaturan berdasarkan kapitalisme sekuler yang meminggirkan peran agama, mengakibatkan mata air yang seharusnya milik umum dan bisa dimanfaatkan bersama malah diizinkan untuk dikuasai perusahaan-perusahan demi meraup keuntungan

Begitupun pembangunan dan penggundulan hutan yang tidak terkendali. Tanah resapan terus berkurang, sehingga tidak ada cadangan air di musim kemarau

______________________________

  

Penulis Rosita

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member Komunitas Muslimah Rindu Surga



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Fenomena perubahan iklim, biasanya disebabkan oleh penurunan muka tanah, pemanasan suhu muka laut atau bisa disebut dengan El Nino, dan kemarau panjang. Hal ini berpotensi terjadinya kekeringan  dan krisis air bersih. Menimpa beberapa  wilayah di Indonesia, salah satunya di daerah  Kabupaten Bandung.


Seperti yang terjadi di Kampung Cibogo Lamping, RT02/01, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Warga di daerah tersebut telah mengalami kekeringan akibat kemarau panjang selama sebulan lebih. Mereka rela mengantre dengan membawa ember dan jeriken, ataupun drum/tong berukuran besar, demi mendapatkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ada beberapa warga yang terpaksa harus mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. (detik jabar, 24 Juni 2023) 


Distribusi air bersih di wilayah-wilayah tertentu belum dapat dirasakan secara merata, meskipun sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulanginya. Selain menyeru masyarakat untuk menghemat air bersih, pemerintah juga mengirim truk-truk tangki dan berencana membuat sumur bor. Namun, alih-alih dapat menyelesaikan masalah kekeringan, sayangnya solusi yang dilakukan hanya bersifat temporal saja, tidak menyentuh akar permasalahan, sehingga kesulitan terus berulang.


Air adalah sumber kehidupan bagi seluruh makhluk yang ada di bumi, baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan, maka dari itu ketersediaannya  harus tetap terjaga dan mampu mencukupi kebutuhan mereka.  Karena jika  tidak terpenuhi maka akan  berpotensi terjadinya dehidrasi massal yang bisa mengakibatkan kematian.


Selain karena faktor alam, kekurangan air bersih ini bisa juga disebabkan oleh ulah tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. Seperti adanya upaya penguasaan sumber mata air oleh pihak-pihak tertentu secara masif, atau karena  minimnya daerah resapan air akibat pembabatan hutan secara besar-besaran yang kemudian dialihfungsikan. Bisa juga akibat dibangunnya infrastruktur megah yang tertutup beton.


Faktor alam adalah kuasanya Sang Pencipta. Sebagai hamba Allah kita ditugaskan untuk memelihara alam ini berdasarkan Islam. Sebab bila tidak, terbukti menimbulkan banyak bencana. 


Pengaturan berdasarkan kapitalisme sekuler yang meminggirkan peran agama, mengakibatkan mata air yang seharusnya milik umum dan bisa dimanfaatkan bersama malah diizinkan untuk dikuasai perusahaan-perusahan demi meraup keuntungan. Begitupun pembangunan dan penggundulan hutan yang tidak terkendali. Tanah resapan terus berkurang, sehingga tidak ada cadangan air di musim kemarau. Kebijakan kapitalistik telah mengedepankan keuntungan bagi segelintir orang tanpa peduli akibat yang ditimbulkan dalam jangka panjang. Dimana rakyat yang harus menanggungnya.


Kapitalisme yang menjadikan keuntungan atau materi sebagai panglima, telah melahirkan kebijakan yang menguntungkan para pemilik modal, sementara urusan rakyat selalu dikorbankan. Dalam sistem ini penguasa tunduk atas apa yang dikehendaki oleh para kapital, menempatkan keuntungan materi lebih tinggi dibanding dengan kesejahteraan masyarakat.


Pengadaan air bersih sebagai bentuk perhatian pemerintah, sebenarnya tidak menyentuh akar persoalan. Rakyat masih kesulitan untuk mendapatkannya. Harus ngantri, harus punya penyimpanan air di rumah. Kalau kehabisan terpaksa harus beli.


Air adalah kebutuhan vital manusia. Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya kesulitan. Apalagi air adalah termasuk milik umum, dimana seluruh rakyat berhak memanfaatkannya. 


Islam sebagai agama yang mengatur seluruh urusan kehidupan memiliki mekanisme dalam menyelesaikan setiap persoalan. Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin harus benar-benar menjalankan tugasnya sebagai perisai dan pelindung umat untuk mengatasi sumber masalah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:


"Imam adalah pelayan, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas seluruh rakyatnya." (Hadis dari Ibnu Umar ra.)


Islam memiliki solusi untuk mengatasi masalah krisis air bersih. Jika faktor alam maka negara berkewajiban mendatangkan air bersih dari wilayah lain yang tidak mengalami kekeringan. Jangan sampai ada rakyat yang kesulitan mendapatkannya.


Untuk mengantisipasi krisis air bersih maka seorang pemimpin harus mengelola alam sesuai syariat. Air, hutan, bukit dalam pandangan Islam termasuk kepemilikan umum yang tidak boleh diserahkan kepada swasta untuk menguasai maupun mengelolanya. Negaralah yang bertanggung jawab mengelola, memelihara atau menjaganya, agar tidak dirusak sehingga menimbulkan bencana.


Begitupun pembangunan, negara tidak dibenarkan memberi izin tanpa mempertimbangkan dampak ke depannya. Negara tidak boleh berpihak hanya kepada segelintir orang, mengabaikan rakyat kebanyakan. Semua rakyat baik pengusaha maupun bukan pengusaha adalah tanggung jawabnya. Pengusaha bisa diarahkan di bidang yang lain, jangan sampai berusaha di bidang yang dilarang oleh Allah Swt..


Selain langkah di atas negara juga berkewajiban  mengajak masyarakat untuk selalu taat menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan berdoa sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Al-A'raf ayat 56, yang artinya: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."


Demikianlah Islam, sebuah sistem yang mengatur segala sesuatu dengan sempurna demi kelangsungan hidup manusia. “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” (negeri yang memiliki kebaikan, baik alam maupun perilaku penduduknya) akan terwujud hanya dengan menerapkan sistem Islam saja. Sebaliknya kapitalisme hanya menciptakan kerusakan yang menyengsarakan.


Ketika tampak jelas perbedaan antara syariat Allah Swt. dengan batilnya aturan hidup buatan manusia, apakah masih ada alasan mempertahankan sistem rusak? Sementara Islam memiliki solusi sempurna atas seluruh permasalahan manusia? Semoga saja kita termasuk orang-orang yang mau berpikir dan melakukan perubahan. Wallahualam bissawab. []