Alt Title

Rakyat Miskin, Penguasa Abai

Rakyat Miskin, Penguasa Abai

Pemimpin yang amanah seharusnya memikirkan nasib rakyat, mulai dari memikirkan tempat tinggal yang layak, air, kehidupan perekonomian, pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek lainnya

Pemimpin yang amanah hanya ada kala ia memiliki keimanan yang kuat, takut pada Allah sehingga menjalankan peranan sebagai pemimpin dengan baik

________________________


Penulis Nurul Bariyah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member AMK

 



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dilansir dari CNBC Indonesia (9 Mei 2023), Bank Dunia merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia agar mengubah acuan tingkat garis kemiskinan yang diukur melalui prioritas daya beli atau purchasing power parity. Menurut mereka, garis kemiskinan Indonesia seharusnya diukur dengan besaran US$3,20 per hari bukan US$1,9 per hari sesuai dengan ukuran yang dipakai secara global. 

 

Menanggapi hal itu Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa ukuran garis kemiskinan menurut Bank Dunia belum bisa digunakan di Indonesia karena tidak menggambarkan kondisi perekonomian masyarakat Indonesia. Mengingat struktur harga di masing-masing wilayah Indonesia berbeda satu dengan yang lain, sehingga pengeluaran mereka juga berbeda.

 

Namun demikian, apakah benar jika standar ukuran yang diberlakukan pemerintah adalah ukuran yang sangat kecil, sedang rakyat berhak mendapatkan perhatian dan standar yang lebih besar agar mereka dapat hidup layak. Ketika Negara menetapkan standar yang sangat kecil, negara seolah abai terhadap kondisi rakyat dan membuktikan bahwa kesejahteraan rakyat tidak diprioritaskan. 


Kemiskinan sudah menjadi hal yang memperihatinkan sejak lama. Semakin hari tingkat kemiskinan semakin naik, disebabkan banyaknya PHK, pengurangan karyawan, rendahnya tingkat pendapatan, semakin tinggi harga-harga kebutuhan pokok dan lainnya.


Kesenjangan antara mereka yang kaya dengan yang miskin semakin nyata, terlihat jelas perbedaannya. Mereka orang-orang yang berduit bolak-balik berlibur ke luar negeri, berpakaian mewah, kendaraan mewah, berlomba-lomba membangun rumah mewah, sementara rakyat miskin, mau makan saja susah. 

 

Aspek yang sangat berpengaruh karena faktor kemiskinan adalah kesehatan masyarakat. Yang terjadi di masyarakat adalah bertambahnya stunting pada anak. Dilihat dari hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) persentasi stunting pada balita di Indonesia adalah 21,6 persen di tahun 2022, dengan daerah terbanyak adalah Nusa Tenggara Timur yaitu 35,4 persen.

 

Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting dapat dilihat dari tingginya badan anak yang terhambat, jika dibandingkan dengan anak seusianya. 


Stunting disebabkan salah satunya karena rendahnya akses terhadap makanan dengan nilai gizi tinggi serta menu makanan yang tidak seimbang. Kekurangmampuan untuk membeli ikan, daging, buah dan sayur mayur menjadi penyebabnya. 


Fakta yang terjadi di masyarakat, semakin hari harga bahan pokok semakin melambung tinggi,  membuat daya beli masyarakat menengah ke bawah semakin rendah. Sudah bisa makan seadanya saja sudah bersyukur, tak mampu membeli yang lain. Anak-anak terutama balita yang seharusnya membutuhkan gizi yang cukup, terpaksa tidak terpenuhi.

 

Faktor lain yang mempengaruhi stunting adalah sanitasi yang buruk. Keterbatasan akses pada air bersih akan mempertinggi resiko stunting pada anak, bila anak tinggal di lingkungan dengan sanitasi dan kondisi air yang tidak layak. 

 

Dan saat ini banyak kita jumpai masyarakat yang menempati daerah-daerah yang tidak layak huni. Di kota besar kita jumpai orang-orang yang tinggal di pinggiran sungai atau kali ataupun di kolong-kolong jembatan. Tentu saja tempat-tempat itu jauh dari kata layak. Namun apa boleh buat, mereka terpaksa tinggal di sana karena ketidakmampuan ekonomi.


Begitu pun di desa, mereka yang bekerja sebagai petani ataupun nelayan kebanyakan sekarang bukan mengerjakan sawah milik mereka sendiri, tapi milik orang kaya yang membayar dengan upah yang sangat minim. Akibatnya mereka hidup dengan sangat sederhana malah bisa dibilang kekurangan.


Sangat miris negeri ini, negeri yang kaya dan berlimpah hasil bumi, namun karena pengelolaan yang salah, rakyat jadi korbannya. Seharusnya mereka dapat menikmati hasil kekayaan negeri, tapi kenyataannya berbanding terbalik. Potret kemiskinan terpampang di mana-mana, rakyat harus berjuang sendiri, tanggung jawab siapakah semua ini? Semuanya tidaklah lepas dari tanggung jawab para pemimpin. 

 

Pemimpin yang amanah seharusnya memikirkan nasib rakyat, mulai dari memikirkan tempat tinggal yang layak, air, kehidupan perekonomian, pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek lainnya. Pemimpin yang amanah hanya ada kala ia memiliki keimanan yang kuat, takut pada Allah sehingga menjalankan peranan sebagai pemimpin dengan baik.


Islam melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah. Islam menjadikan pemimpin sebagai pemeran utama dalam mengurus rakyat. Pemimpin bertugas atas kesejahteraan rakyatnya. Mengatur pengolahan sumber kekayaan alam dengan sebaik-baiknya untuk dan hasilnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Di bidang ekonomi, Islam sangat memperhatikan rakyatnya yaitu dengan cara antara lain, mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberi manfaat luas bagi masyarakat, mendorong penciptaan anggaran negara yang memihak pada kepentingan rakyat banyak, dan mendorong pembangunan infrastruktur yang memberi manfaat bagi rakyat banyak.


Para pemimpin Islam tidak pernah tinggal diam saat rakyatnya menderita. Sejarah mencatat kisah Umar bin Khattab yang sangat memperhatikan rakyat terutama rakyat miskin. Pada saat krisis melanda Madinah, beliau sendiri yang langsung menghampiri rakyatnya dan berkeliling masuk ke sudut-sudut kota Madinah untuk mencari rakyatnya yang kelaparan. Ketika bertemu dengan seorang ibu dan anaknya yang kelaparan, Umar sendiri yang mengambil makanan, membopongnya, memasakannya serta menghidangkan untuk ibu dan anak itu. 


Islam juga memerintahkan umatnya untuk berzakat, yaitu mengeluarkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada orang lain yang berhak. Selain zakat, Islam juga mengajarkan kita untuk senantiasa bersedekah dan berinfak. Dengan zakat dan infak sedekah ini, setidaknya dapat membantu orang-orang miskin yang membutuhkan. Allah Swt. berfirman: "Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 43)


Demikianlah Islam memberikan solusi atas setiap masalah termasuk masalah kemiskinan. karena Islam adalah agama yang komplit, mengatur segala aspek kehidupan. Karena Allah telah memberikan aturan yang terbaik buat kita, tinggal kita saja yang harus melaksanakan dan mentaatinya. Wallahualam bissawab. []