Alt Title

WARISAN SANG NABI

WARISAN SANG NABI


Sistem kapitalis liberal mencetak orang-orang berpikiran bebas demi keuntungan yang sifatnya jasadi. Sementara kehidupan akhirat dipandang utopi


Bertolak belakang dengan Islam, Islam justru sangat memuliakan ilmu dan majelis ilmu


Penulis Jasni

Kontributor Media Kuntum Cahaya & Aktifis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com-"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim, No 2699)


Menuntut ilmu adalah suatu hal yang sangat penting untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Tanpa adanya ilmu, manusia tidak akan bisa melakukan segala hal. Dalam mencari nafkah perlu ilmu, beribadah perlu ilmu, bahkan makan dan minum pun memerlukan ilmu. Dengan begitu menuntut ilmu merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditolak, apalagi menyangkut kewajiban seseorang sebagai hamba Allah Swt.. Jika seseorang tidak memahami kewajiban sebagai hamba, maka bagaimana bisa dia memperoleh kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat?


Menurut Hamka yang dikutip dari karangan Susanto yang berjudul Pemikiran Pendidikan Islam, bukan sekadar agar manusia memperoleh kehidupan yang baik, tapi dengan ilmu pengetahuan manusia dapat mengetahui Tuhannya, memperbaiki akhlaknya dan selalu berusaha untuk mencari ridha Allah.


Imam Al-Ghazali berpendapat bahwasanya ilmu merupakan salah satu kewajiban bagi manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, dewasa maupun anak-anak menurut cara yang sesuai dengan keadaan bakat dan kemampuan.


Banyak hadis yang menjelaskan tentang perintah menuntut ilmu di antaranya: Dsri Anas bin Malik, Beliau berkata, "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah." (HR. Muslim)


"Dunia ini dilaknat (maksudnya dijauhkan dari Allah atau dibenci Allah, pet) dan apa saja yang ada di dalamnya dilaknat kecuali zikir kepada Allah, dan amal kebaikan lainnya, dan orang yang berilmu atau orang yang mempelajari ilmu." (HR. At-Tirmizi No 2022 dan berkata hasan gharib. Syaikh Al-Bani Mengatakan hadis hasan di Ash-Shahih No. 2797)


Berdasarkan hadis di atas menjelaskan bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan manusia.


Sementara itu sarana agar ilmu itu sampai kepada manusia pun menjadi hal yang penting, sebab dengan adanya sarana tersebut ilmu akan dapat diserap dan dipahami oleh setiap individu Muslim. Sarana dakwah yang masih bertahan hingga kini dan mengalami berbagai variasi adalah pengajian.


Pengajian merupakan sarana untuk belajar ilmu, baik ilmu tentang pernikahan, parenting, fikih, akhlak dan ilmu-ilmu lainnya menyangkut kehidupan manusia. Sedangkan manfaat dari pengajian itu sendiri adalah semakin meluasnya ilmu dan pemahaman seseorang atau umat dalam aktivitas kehidupan sehari-hari terutama untuk kehidupan akhiratnya kelak.


Bagi ibu-ibu yang mengkaji ilmu parenting akan semakin memahami bagaimana cara mendidik anak-anak generasi setelahnnya. Bagi para muslimah yang belum menikah akan memahami bagaimana menjadi seorang istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya. Bagi anak-anak akan memahami bagaimana harus berakhlak di dalam Islam, bagaimana seharusnya bergaul dengan lingkungan dan seterusnya. Betapa banyak manfaat yang didapatkan saat bermajelis taklim atau pengajian.


Jika ditinjau dari segi materi, terkadang pengajian tidaklah menghasilkan sesuatu yang sifatnya materi. Justru malah sebaliknya pengajian mengeluarkan materi. Melihat kondisi seperti ini mantan presiden kelima Megawati Soekarnoputri menyatakan sebuah ungkapan yang sangat disayangkan ketika mengisi acara Kick off Pancasila dalam Tindakan Gerakan Semesta Berencana Mencegah Stunting, Kekerasan Seksual pada Anak dan Perempuan, KDRT dan Bencana Alam Oleh BPIP bersama BKKBN dan BRIN yakni menyayangkan para ibu-ibu yang senang ikut pengajian. (Tribunnews[dot]com, 18/02/2023)


Ungkapan demikian dalam sistem kapitalis hari ini bukanlah hal yang tabu, sebab hari ini kehidupan manusia dipandang dari asas manfaat yakni asas materi. Inilah asas manfaat yang sangat kental melumuri sistem Kapitalisme sekuler yang diadopsi oleh negeri ini. Jika mendatangkan keuntungan duniawi akan dilakukan, tetapi jika tidak ada keuntungan duniawi akan ditinggalkan bahkan dianjurkan untuk meninggalkan.


Begitulah kapitalis liberal akan mencetak orang-orang yang berpikir sebebas-bebasnya demi keuntungan yang sifatnya jasadi. Sementara memandang kehidupan akhirat adalah sesuatu yang utopi.


Bertolak belakang dengan Islam, Islam justru sangat memuliakan ilmu dan majelis ilmu. Nabi saw. bersabda, "Apabila kalian berjalan melewati taman-taman surga perbanyaklah berzikir." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah apakah taman-taman surga itu?" Nabi menjawab,"Yaitu halaqah-halaqah zikir (majelis ilmu)." (HR. At-Tirmizi No. 3510)


Majelis-majelis yang di dalamnya disebut nama Allah. diagungkan, mereka mengingat Allah, memuji, menyucikan dan memohon ampunan-Nya yang masuk ke dalam majelis tersebut adalah kabaikan. Dalam majelis ilmu hati menjadi tenang, penuh nasihat dari Allah dan Rasul-Nya. Bukan hanya hati, akal pun terpuaskan dengan berbagai jawaban Islam yang menyolusi berbagai masalah kehidupan. Wallahualam bissawab.