Alt Title

BUDAYA KEKERASAN MARAK, AKIBAT SISTEM RUSAK

BUDAYA KEKERASAN MARAK, AKIBAT SISTEM RUSAK



Budaya kekerasan pemuda menjadi bukti gagalnya sistem pendidikan kini, lemahnya peran keluarga, dan kondisi masyarakat yang rusak


Negara yang seharusnya hadir melindungi generasi kini seolah abai


Penulis Rosmita

Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com-Miris, pemuda yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa malah menjadi pesakitan akibat kekerasan yang dilakukan oleh mereka. Mulai dari penganiayaan, pemerkosaan, hingga pencurian dengan kekerasan. 


Seperti penganiayaan yang dilakukan oleh anak pejabat pajak MDS terhadap putra petinggi GP Ansor JLD di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. (CNNIndonesia, 25/2/23) 


Kemudian kekerasan seksual yang dilakukan oleh 4 orang remaja terhadap J (14), siswi SMP di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Salah satu pelaku MA (15) adalah teman sekolah korban. MA terancam hukuman 15 tahun penjara. (Kompas, 24/2/23) 


Di Purwakarta, polisi mengamankan 5 orang pemuda yang melakukan percobaan pencurian dengan kekerasan. Kelima pemuda tersebut masih berstatus pelajar SMK. (Jurnalpolri, 22/2/23) 


Ada apa dengan para pemuda hari ini, mengapa begitu mudah melakukan kekerasan? Seolah kekerasan telah menjadi budaya yang mendarah daging hingga sulit dihilangkan. Padahal mereka berstatus sebagai pelajar, tetapi kelakuan mereka tidak mencerminkan sebagai orang yang berpendidikan. Maraknya kekerasan yang dilakukan oleh pemuda mengambarkan ada yang salah dengan sistem kehidupan yang diterapkan saat ini. 


Faktor Penyebab Rusaknya Generasi


Budaya kekerasan yang marak dilakukan pemuda menjadi bukti gagalnya sistem pendidikan saat ini dalam mendidik generasi. Sekolah hanya menjadi tempat untuk transfer ilmu yang bernilai akademis semata. Karena ilmu yang disampaikan sekadar menjadi pengetahuan tanpa harus dipahamkan dan diamalkan. Maka wajar bila sekolah gagal mencetak generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia. 


Selain itu, lemahnya peran keluarga juga menjadi penyebab rusaknya generasi. Orangtua yang terlalu sibuk bekerja hingga tidak punya waktu untuk anaknya, membuat anak-anak kurang perhatian dan kasih sayang. Hingga banyak pemuda melakukan tindak kekerasan hanya untuk mencari perhatian. Apalagi tidak ada keteladanan yang baik dari orangtua menyebabkan anak tidak punya panutan. 


Kondisi masyarakat yang rusak turut memengaruhi generasi. Gaya hidup hedonis dan materialis dalam sistem Kapitalisme telah menjadi budaya. Ditambah masyarakat yang individualis enggan melakukan amar makruf nahi mungkar, sehingga menyebabkan para pemuda merasa bebas tanpa ada kontrol dari masyarakat. 


Negara yang seharusnya hadir melindungi generasi seolah abai. Negara tidak mampu membendung derasnya budaya asing yang masuk dan merusak moral generasi melalui tayangan-tayangan berbau kekerasan dan pornografi. Padahal negara punya wewenang dalam membuat kebijakan. 


Namun, pangkal kerusakan sebenarnya adalah sistem hidup yang salah yang membuat para pemuda kehilangan arah. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah menjauhkan generasi dari nilai-nilai Islam. Para pemuda kehilangan pegangan hingga akhirnya hanyut dalam arus globalisasi yang mengakibatkan demoralisasi. Paham kebebasan (liberal) yang diusung membuat para pemuda berbuat semaunya tanpa memikirkan akibatnya. 


Maka wajar bila lahir generasi rusak dan minus akhlak. Motto hidup mereka, masa muda hura-hura, masa tua kaya raya, mati masuk surga. Mereka kerap menghalalkan segala cara untuk bisa meraih apa yang diinginkan. Tak peduli walau harus melanggar hukum, menyimpang dari syariat, dan mengambil hak orang lain. 


Islam Solusi Perbaikan Generasi


Budaya kekerasan pada generasi adalah kerusakan yang sistemis. Maka untuk memperbaikinya harus dari akarnya yaitu mengganti sistem kehidupan yang rusak dengan sistem Islam. Sistem Islam menjadikan akidah Islam sebagai asas kehidupan. 


Dalam negara Islam ketakwaan setiap individu dibina dan akidahnya dijaga agar tidak terpengaruh oleh budaya asing. Keyakinan terhadap Allah sebagai Sang Pencipta sekaligus Pengatur kehidupan membuat setiap orang tunduk pada aturan Allah, karena mereka sadar bahwa setiap amal perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat kelak. 


Sistem Islam menjadikan semua elemen peduli dan bersinergi membina generasi. Orangtua sebagai benteng utama akan menanamkan akidah yang kuat pada diri anak-anaknya, memberikan contoh yang baik dan tak lupa memberi perhatian dan kasih sayang. Sedangkan masyarakat yang telah terbina dengan Islam akan memberi pengaruh yang baik bagi tumbuh kembang generasi. Itu karena mereka terikat dengan pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama yaitu Islam. 


Begitu pula dengan kurikulum pendidikan, setiap sekolah harus berbasis akidah Islam dengan metode talqiyan fikriyan, yang lebih mengutamakan kecerdasan spiritual daripada material. Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran negara dalam menetapkan setiap kebijakan dan memberikan sanksi yang sesuai dengan syariat Islam. 


Negara juga akan menutup semua akses masuk budaya asing dan memblokir seluruh tayangan atau media yang bisa merusak moral generasi. Selain itu, negara juga memberikan jaminan pendidikan bagi seluruh rakyat dengan menyediakan fasilitas gratis dan menjamin kesejahteraan para guru. Maka tidak heran ketika Islam berjaya lahirlah generasi-generasi hebat yang tidak hanya bertakwa dan berakhlak mulia, tapi juga mumpuni dalam bidang kesehatan, sains dan teknologi.


Oleh karena itu satu-satunya cara untuk memperbaiki moral generasi adalah kembali kepada sistem Islam. Sistem yang bersumber dari Allah Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan, pasti akan membawa kemaslahatan untuk seluruh alam. Wallaahualam bissawab.