Alt Title

Sistem Ekonomi Kapitalisme Gagal Meredam Kelaparan

Sistem Ekonomi Kapitalisme Gagal Meredam Kelaparan

 


Jumlah lapangan kerja yang sedikit, serta upah yang tidak seberapa menjadi wajah sistem kapitalisme

Bahkan rakyat dibiarkan untuk berjuang sendiri demi mencari sesuap nasi

_________________________


Penulis Rismawati Aisyacheng

Kontributor Tetap Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi AMK


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI -

Dengar rintihan berjuta kepala

Waktu lapar menggila

Hamparan manusia tunggu mati

Nyawa tak ada arti

Kering kerontang meradang entah sampai kapan

Datang tikam nurani

Selaksa doa penjuru dunia

Mengapa tak rubah bencana

Menjerit Afrika, mengerang Ethiopia


Potongan lagu di atas berjudul Ethiopia milik penyanyi legendaris Iwan Fals yang di keluarkan pada tahun 1986 bukan hanya sekedar menggambarkan kelaparan yang pernah terjadi di Ethiopia. Namun, lagu itu adalah sebuah gambaran bahwa hari ini kelaparan yang menggila hampir melanda berbagai negara yang ada di dunia. Kelaparan tersebut membuat mereka seolah tinggal tunggu mati, bak nyawa tak lagi ada arti di mata mereka para penguasa.


Sebagaimana yang diungkapkan baru ini oleh Organisasi Pangan Dunia atau FAO yang berada dalam naungan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) bahwa telah terjadi kelaparan akut yang melanda manusia di 59 negara dan jumlah 1 dari 5 orang di negeri tersebut ternyata mengalami kelaparan disebabkan oleh permasalahan pangan akut atau pangan yang buruk. Menurut pelaporan mereka yang bertema Global Report on Food Crises 2024, telah tercatat sebanyak 282 juta manusia di 59 negara yang akhirnya mengalami tingkat kelaparan akut yang tinggi di tahun 2023 lalu. Dan ternyata jumlah manusia yang mengalami kelaparan di tahun 2023 telah meningkat sebanyak 24 juta jiwa dari tahun yang sebelumnya. Adanya kenaikan jumlah kelaparan diakibatkan oleh peningkatan cakupan laporan terkait konteks krisis pangan serta penurunan tajam dalam pangan, terutama di daerah atau di jalur Sudan dan Gaza Palestina. (cnbcindonesia.com, 04/05/2024)


"Krisis ini menuntut tanggapan segera. Menggunakan data dalam laporan ini untuk mengubah sistem pangan dan mengatasi penyebab kerawanan pangan dan kekurangan gizi akan sangat penting," kata António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, di website FAO.org sebagaimana dikutip Sabtu (4/5/2024).


Fakta di atas adalah sebuah gambaran bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Karena selain kasus kriminal yang terjadi di mana-mana, kini bahkan tersiar kabar banyaknya kelaparan di berbagi penjuru negeri. Padahal Allah telah melimpahkan banyak rezeki di setiap negeri yang dipijak oleh manusia atau para pemimpin. Namun, mirisnya kelaparan seolah tak bisa dielakkan kehadirannya di berbagai negara termasuk Indonesia yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya. Yang artinya negeri yang memiliki SDA banyak berarti harusnya rakyatnya bisa jauh dari kelaparan akut. Namun faktanya, justru banyak terjadi stunting pada anak-anak serta kelaparan akut pada beberapa manusia dewasa lainnya. 


Jika terjadi kelaparan di suatu negeri atau di berbagai penjuru dunia akibat dari krisis pangan, ini jelas diakibatkan karena adanya pengelolaan perekonomian yang salah. Sehingga terjadilah krisis pangan yang mengakibatkan meningkatnya kelaparan akut di beberapa negara. Pengelolaan perekonomian dalam sistem kapitalisme memang tidak memiliki mekanisme untuk menjamin kesejahteraan rakyat. Yang ada hanyalah mekanisme untuk menjamin kesejahteraan sekelompok orang saja yang telah berkuasa di suatu negeri. Sebab, dasar pemikiran sistem kapitalisme adalah materi. Maka yang berkuasa untuk mengolah perekonomian negara hanya akan mementingkan kepentingan pribadi atau individu saja dan tidak berfokus pada kesejahteraan rakyatnya.


Jumlah lapangan kerja yang sedikit, serta upah yang tidak seberapa menjadi wajah sistem kapitalisme. Bahkan rakyat dibiarkan untuk berjuang sendiri demi mencari sesuap nasi. Akibatnya terjadilah kesenjangan kesejahteraan untuk rakyat. Ditambah lagi sistem kapitalisme mengakibatkan SDA di berbagai negara miskin dan berkembang dikuasai oleh sekelompok orang bahkan asing melalui penjajahan gaya baru.


Berbeda halnya dengan sistem Islam yang memiliki mekanisme untuk menyejahterakan rakyat. Sebab, sistem Islam memiliki sistem perekonomian yang menjamin kesejahteraan pada rakyat individu per individu. Konsep kepemilikan Sumber Daya Alam (SDA) dalam sistem Islam pun sangat hati-hati dan disesuaikan dengan hukum syarak, yaitu SDA harus dikelola oleh negara. Dengan begitu menjadikan pengelolaan SDA menjadi sumber pemasukan untuk memberikan layanan publik berkualitas dan gratis untuk rakyat yang ada dalam naungannya. 


Penguasaan SDA juga dijamin akan membuka lapangan kerja yang sangat luas dan beragam dengan gaji yang juga besar. Sehingga terpenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan untuk masyarakat. Adapun kesehatan, pendidikan dan keamanan dijamin langsung oleh negara secara gratis. Dengan adanya pengelolaan ekonomi yang benar maka negara akan mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Sehingga tidak akan lagi ditemukan jiwa yang kelaparan yang sampai akut.


Namun, pengelolaan perekonomian yang benar tidak akan mampu didapati dalam sistem kapitalisme yang hanya berfokus pada materi untuk kepentingan pejabat saja. Oleh karena itu, jika kita menginginkan sebuah kesejahteraan untuk rakyat agar tak lagi ada jiwa yang direnggut akibat kelaparan akut. Maka kita harus menyampaikan kepada umat sebuah sistem yang sahih yaitu sistem perekonomian Islam di bawah dalam naungan negara Islam. Sebab, sesungguhnya hanyalah Islam atau sistem perekonomian Islam yang mampu membawa rakyat dalam kesejahteraan yang nyata. Wallahualam bissawab. [GSM]