Alt Title

Lovely Hometown

Lovely Hometown

 


Pulang ke kampung halaman dapat kita tempuh melalui jalur darat, laut maupun udara dengan menggunakan alat transportasi

Pulang ke kampung akhirat hanya bisa ditempuh melalui kematian


____________________


Penulis Arda Sya'roni 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, MOTIVASI - Lovely Hometown atau kampung halaman tercinta, tempat dimana kita tinggal bersama kedua orang tua kita. Kampung halaman adalah rumah yang selalu dirindukan untuk tempat kita kembali, melepas penat dan beban. Bahkan, setelah kita pergi merantau ataupun berumah tangga, pulang kampung adalah hal yang dirindukan.


Pulang kampung alias mudik adalah momen yang sudah pasti ditunggu-tunggu terutama oleh kaum rantau. Kenangan masa lalu saat menghabiskan masa kecil di kampung, suka dan dukanya serta masakan ibu yang selalu dirindukan, sudah pasti menjadi tujuan utama kita untuk mudik. 


Namun, untuk bisa menikmati mudik tentu tak semudah membalikkan sebuah tangan. Ada hal-hal yang perlu dipersiapkan jauh hari. Kalau kita masih single no problem at all, ya. Tinggal packing, beli tiket atau motoran doang juga tidak masalah. Beda lagi nih bagi yang sudah double alias berumah tangga apalagi sudah punya babies. Makin banyak anak makin banyak juga perlengkapan yang disiapkan, sudah mirip rombongan sirkus saja. 


Mudik tanpa membawa oleh-oleh tentu tidak afdol apalagi tanpa memberi THR untuk orang tua, saudara dan keponakan, bukan? Alhasil, buah tangan dan bagi-bagi rejeki ini makin menambah daftar anggaran yang wajib diagendakan dalam persiapan mudik kita. Bagi-bagi THR dan buah tangan saja tentunya sudah membutuhkan jumlah rupiah minim 6 digit nolnya. 


Belum lagi tiket bagi pengguna transportasi umum atau bensin dan tol bagi pengguna kendaraan pribadi. Jarak tempuh yang lama turut andil dalam menambah budget yang harus dikeluarkan untuk makan, minuman, camilan dan sekedar break time melepas penat berkendara. Artinya mudik itu cukup menguras isi dompet sehingga harus dipersiapkan secara matang sejak jauh hari bahkan mungkin sejak akhir Syawal tahun lalu.


Rute mudik dan berapa lama hendak menghabiskan waktu di kampung halaman juga berpengaruh dalam persiapan dana yang perlu kita anggarkan. Jarak tempuh antara yang hanya lintas kota dengan yang harus lintas propinsi tentu berbeda apalagi hingga lintas pulau bahkan lintas negara. Dana tersebut dkalikan dengan jumlah orang yang turut serta, sehingga makin banyak anak otomatis makin banyak juga dana yang dikeluarkan.


Namun, meski dana yang dikeluarkan begitu besar, perlengkapan yang dibawa begitu banyak, urusan dalam mempersiapkan segalanya juga begitu merepotkan, perjalanan yang melelahkan, begitu kita melihat senyuman orang tua dan keceriaan mereka dalam menyambut kita. Maka, semua seakan terbayar lunas. Segala perjuangan itu berganti kegembiraan.


Kampung Akhirat 


Bila mudik lebaran yang masih dalam lingkup di bumi yang sama saja sudah membutuhkan begitu banyak persiapan. Bagaimana dengan mudik ke kampung akhirat yang akan abadi? Tidakkah hal ini pernah terlintas di pikiran kita? 


Manusia sejatinya adalah penghuni surga sebagaimana dahulu Nabi Adam dan Bunda Hawa ditempatkan. Bahkan, kita sebelum dilahirkan adalah penduduk surga. Hingga kemudian ruh ditiupkan ke dalam rahim ibu kita dan terlahirlah kita di dunia. Oleh karena itu, sejatinya kita semua umat manusia adalah penduduk asli surga, kampung halaman kita yang sesungguhnya. 


Sebagai kampung halaman yang sesungguhnya, tidakkah kita merindukannya? Mengapa euforia justru kita tumpahkan ketika pulang ke kampung halaman daripada pulang ke kampung akhirat? Tidakkah kita mendamba berkumpul kembali bersama keluarga tercinta di surga-Nya?


Namun, sebagaimana mudik ke kampung halaman yang membutuhkan dana tak sedikit. Mudik ke kampung akhirat membutuhkan tiket yang tak murah. Begitu banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus dikeluarkan sebagai tiket perjalanan menuju surga. Kampung kita yang sesungguhnya. Oleh karena itu, bekal yang harus kita bawa wajib dipersiapkan jauh hari bahkan sejak saat ini karena panggilan untuk pulang bisa kapan saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. 


Bila kita melihat bahwa kehidupan di kampung halaman begitu menyenangkan, terasa nyaman dan damai. Di kampung akhirat akan lebih dari itu semua bahkan takkan pernah terbayangkan oleh akal kita. Sebagaimana firman Allah : 


"Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)" (QS Adh Dhuha: 4)


Dalam ayat lain juga disebutkan :

"Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS Al A'la: 17)


Lalu apa yang perlu kita siapkan untuk bekal pulang ke negeri akhirat?


Bekal Pulang Akhirat 


Pulang ke kampung halaman dapat kita tempuh melalui jalur darat, laut maupun udara dengan menggunakan alat transportasi. Pulang ke kampung akhirat hanya bisa ditempuh melalui kematian. Artinya, kematian adalah batas akhir kehidupan manusia di dunia sebelum menuju akhirat. Karenanya, persiapan bekal menuju akhirat harus dipersiapkan secara matang ketika di dunia.


Dari Anas bin Malik ra, dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda : 

Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)


Dalam hadits lain disebutkan Rasulullah saw. bersabda: "Orang cerdas adalah yang bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian. Orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan terhadap Allah." (HR. Ahmad)


Dengan demikian, amal saleh adalah tiket utama kita menuju akhirat. Dari amalan-amalan saleh ini InsyaAllah rida dan ampunan Allah atas kita akan kita raih sehingga menjadi jalan bagi kita untuk memasuki surga-Nya.


Amalan-amalan saleh ini tak hanya berupa salat, puasa, zakat, ataupun tadarus kita. Karena, semua amalan itu tidak menjamin diterima Allah. Namun, amalan saleh ini adalah ketika kita mampu ber-Islam secara kaffah, artinya kita menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya tanpa tapi dan tanpa nanti atau tanpa pilah pilih syariat. Kita juga gemar beramar makruf nahi munkar kepada masyarakat, senantiasa mendatangi majelis ilmu dalam rangka meningkatkan ketakwaan serta hal-hal lain yang menjadi sebab Allah rida dengan kita. 


Lantas, bagaimana dengan diri kita? Apakah bekal kita telah dipersiapkan dengan matang? Siapkah kita pulang ke kampung akhirat? Wallahuallam bissawab. [Dara]