Alt Title

Di Balik Kelamnya Perayaan Hari Buruh Internasional

Di Balik Kelamnya Perayaan Hari Buruh Internasional

 


Persoalan buruh akan terus menjamur selama diterapkannya sistem kapitalisme

Sistem ini selamanya menganggap pekerja buruh hanya sebatas faktor produksi atau media penghasil materi saja

__________________


Penulis Dini Al

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Peringatan Hari Buruh ini berawal dari aksi demonstrasi oleh buruh-buruh di Chicago, Amerika Serikat yang menuntut pengurangan padatnya jam kerja dan telah dilanggengkan sejak tahun 1886 hingga sekarang untuk menghormati perjuangan pekerja buruh di seluruh dunia.


PHK Mengancam Para Pekerja

Pada tahun 2024 ini, International Labour Organization (ILO) memberikan 2 poin penting yang mewakili tema untuk Hari Buruh, salah satunya yaitu "Social Justice and Decent Work for All atau Memperjuangkan Keadilan Sosial dan Pekerjaan yang Layak untuk Seluruh Rakyat."


Berdasarkan laporan Talent Acquisition Insights 2024 oleh Mercer Indonesia, 69% perusahaan di Indonesia menyetop perekrutan karyawan pada tahun 2023. Masih pada tahun lalu, terdapat sebanyak 23% perusahaan melakukan PHK terhadap karyawannya sendiri. Maka dari itu, tujuan dari dibekukannya perekrutan adalah agar perusahaan terhindar untuk melakukan PHK besar-besaran seperti sebelumnya. 


Diketahui bahwa saat ini hampir setiap perusahaan menganggap teknologi AI telah mampu menjadi pengganti peran pekerja seutuhnnya. Sayangnya, ini terjadi hampir seluruh aspek industri. Mereka lebih memilih untuk menggunakan teknologi AI karena dinilai lebih irit biaya dan lebih pintar, tingkat akurasi dan kecepatan lebih tinggi daripada menggunakan tenaga kerja manusia. Inilah alasan mengapa angka PHK mendadak naik (cnnindonesia.com, 26/04/2024).


Tidak hanya itu, isu terkait PHK ini terlihat dari kasus yang baru saja ramai kemarin, yaitu ada pihak yang mengorupsi tata niaga timah di wilayah IUP milik PT Timah Tbk sebesar 271 triliun rupiah. Oleh karena itu, beberapa alat mereka disita oleh kejaksaan dan akhirnya perusahaan harus memecat banyak pekerja (inews.id, 28/04/2024).


Potret Ketidakdilan dan Keprihatinan Pekerja Hari Ini

Sungguh prihatin, jika melihat banyak sekali pekerja yang akhirnya terpaksa kehilangan pekerjaannya. Padahal jika diungkit lagi, pemecatan itu bukan karena ulah mereka, tapi karena perusahan. Pekerja tidak mampu berkutik karena nasib mereka bergantung pada perusahaan.


Di sisi lain, mencari pekerjaan hari ini sangatlah susah. Selain persaingan yang ketat, lapangan pekerjaan yang sedikit, ditambah lagi dengan perusahaan hanya ingin mempekerjakan orang dengan standar yang tinggi dan ribet. Tidak heran banyak fresh graduate yang lama mendapat pekerjaan dan akhirnya jobless sebab kriteria yang diberikan perusahaan terlalu sulit untuk ditembus. 


Tidak hanya sampai di situ, sebagai pekerja resmi mereka masih harus menghadapi banyak rintangan-rintangan. Contohnya, mereka dipaksa berjibaku dengan gaji kecil yang tidak sepadan dibanding dengan jam kerja yang menekan, diskriminasi di tempat-tempat kerja, hari cuti yang tidak manusiawi, dan masih banyak lagi.


Persoalan buruh akan terus menjamur selama diterapkannya sistem kapitalisme. Kapitalisme akan selamanya menganggap pekerja buruh hanya sebatas faktor produksi atau media penghasil materi saja. Apapun akan dilakukan oleh para pemilik materi atau ‘si perusahaan’ untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Tidak peduli apakah mereka harus sampai mengeksploitasi para pekerjanya atau tidak. Karena, makin banyak SDM yang terbuang sia-sia kemampuannya. Mereka tidak akan pernah memikirkan nasib buruh yang bekerja keras banting tulang demi sekadar melanjutkan hidup mereka.


Sementara itu, tidak ada jaminan dari negara karena negara hanya berperan sebagai regulator dan penengah antara buruh dan perusahaan. Seperti kasus di atas, negara hanya menjalankan peran kejaksaannnya. Namun, tidak berdiri untuk rakyatnya yang kena imbas PHK besar-besaran dari kasus korupsi, pemanfaatan AI, dan sebab-sebab lainnya. Sungguh miris!


Pekerja dalam Sistem Islam

Sudah cukup menyesakkan melihat nasib pekerja buruh yang harus bergantung pada perusahan yang tidak mengenal kata kemanusiaan. Inilah saatnya kita mencari solusi hakiki. Ya, solusinya ada pada sistem Islam dan syariatNya.


Dalam negara Islam, pekerja yang menawarkan jasanya berhak menerima gaji yang sepadan dengan waktu, manfaat pekerjaan dan tingkat kesulitan pekerjaannya. Intinya dalam negara yang memberlakukan sistem Islam, antara perusahaan dan calon pekerja wajib berdiskusi dahulu sebelum akad kerja disahkan. Sehingga, tidak ada yang merasa dirugikan dan InsyaAllah keberkahan akan senantiasa menyelimuti aktivitas kedua belah pihak karena dijalankan dengan keridaan.


Hanya Islam yang dapat memenuhi hak-hak pekerja buruh. Hanya Islam yang menganggap pekerja buruh sebagai manusia selayaknya elemen rakyat yang lainnya. Hanya Islam pula yang memegang teguh pendirian bahwa pemimpin adalah raa’in (pengurus atau pelayan) bagi rakyatnya, bukan sekadar regulator. 


Pemimpin akan selalu memperhatikan kesejahteraan rakyat tanpa syarat dan tanpa imbalan apapun. Bahkan, pemimpin (Khalifah) pula yang bertanggung jawab memastikan terbuka lebarnya lapangan pekerjaan serta memastikan setiap kepala keluarga atau laki-laki yang sudah baligh memiliki pekerjaan untuk menafkahi diri dan keluarganya.


Jika ada pertanyaan, "Kapan buruh bisa sejahtera?". Jawabannya ialah saat Islam memimpin negeri ini. Karena, hanya syariat Islam yang datang dari Al-Khaliq yang memiliki mekanisme ideal yang mampu dan pantas mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di dunia.  Wallahuallam Bissawab. [Dara]