Alt Title

Tingginya Kejahatan Saat Ramadan

Tingginya Kejahatan Saat Ramadan

 


Faktor pemicunya adalah kesulitan ekonomi yang dialami sebagian besar masyarakat

Harga kebutuhan makin melambung, sementara penghasilan tidak bertambah dan cenderung menurun

_________________________


Penulis Bunda Hanif

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pendidik


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kejahatan saat Ramadan 1445 H mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Erdi Asrimulan Chaniago. Pada pekan kedua puasa (Ahad, 17-3-2024) terjadi 1.021 kasus. Esoknya, Senin (18-3-2024) menjadi 2.166 kasus. (Media Indonesia, 21-3-2024).


Adapun lima kejahatan tertinggi yang menjadi catatan kepolisian adalah pencurian dengan pemberatan (curat), narkotika, pencurian motor (curanmor), perjudian, pencurian dengan kekerasan (curas). Masyarakat dihimbau agar makin waspada saat ramadan, terutama menjelang lebaran. 


Meningkatnya kejahatan saat Ramadan tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negeri-negeri muslim lainnya pun seperti Maroko menghadapi problem serupa. Sebagaimana dikutip dari Morocco World News, kejahatan saat Ramadan justru lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. 


Hal yang cukup mengherankan, mengapa kejahatan di bulan suci Ramadan justru makin meningkat? Padahal jelas-jelas Allah memerintahkan kaum muslim untuk berpuasa saat ramadan agar tercipta ketakwaan pada mereka. “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)


Mengapa kejahatan saat Ramadan lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya? Hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Faktor pemicunya adalah kesulitan ekonomi yang dialami sebagian besar masyarakat. Harga kebutuhan makin melambung, sementara penghasilan tidak bertambah dan justru cenderung menurun. Belum lagi biaya hidup lainnya seperti tarif air dan listrik, juga biaya mudik yang harganya kian naik. 


Sementara penghasilan warga rata-rata di bawah UMR. Untuk bisa membeli makanan sehat saja sudah kewalahan apalagi kebutuhan hidup lainnya. Bahkan, banyak pabrik yang mem-PHK karyawannya agar tidak perlu membayar THR.


Kondisi inilah yang mendorong orang-orang melakukan kejahatan. Ditambah lagi dengan adanya pemberitaan tentang pejabat dan artis bergaya hidup mewah yang ternyata tersandung skandal korupsi. 


Negara dengan Sistem Sekuler Kapitalis


Setiap menjelang lebaran, harga-harga kebutuhan pokok semakin meroket. Apakah dikarenakan adanya permintaan yang lebih tinggi dari biasanya? Sebenarnya salah satu faktor terbesarnya adalah kecurangan oleh para pedagang besar, seperti penimbunan dan permainan harga. Harga dipermainkan sesuai kehendak mereka demi mendapatkan keuntungan melimpah. Sebaliknya, petani dan konsumen harus menelan kerugian yang sangat besar. 


Namun pemerintah seolah tidak berdaya menghadapi para pengusaha besar yang mempermainkan pasar. Bahkan banyak pejabat yang ikut terlibat bekerja sama dengan para pengusaha untuk memperoleh keuntungan dari tingginya harga komoditas. Kecurangan di negeri ini seolah-olah tidak akan pernah selesai. Alih-alih diberantas, justru malah banyak pejabat yang terlibat. 


Inilah yang terjadi jika sistem pemerintahan yang diterapkan adalah sistem kapitalis. Sistem ini cenderung menyerahkan seluruh urusan rakyat pada individu/swasta. Padahal seharusnya negaralah yang berperan dalam menangani semua urusan rakyat. Sistem ini juga telah menciptakan ketimpangan yang makin tinggi, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Inilah yang memicu meningkatnya kriminalitas. Siapapun bisa melakukan kejahatan, si miskin mungkin terpaksa melakukan kejahatan demi untuk sesuap nasi. Dan si kaya melakukan kejahatan demi mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Terlebih sanksi terhadap tindak kejahatan tidak membuat jera pelakunya, sehingga pelaku kejahatan semakin bertambah. 


Selain karena adanya sistem kapitalis yang diterapkan negara, lemahnya iman juga membuat seseorang bisa melakukan kejahatan. Namun jika masih ada iman dan takwa, seburuk apa pun kondisi ekonomi seseorang, mereka senantiasa bersabar dan berikhtiar sesuai dengan syariat. Orang yang beriman dan bertakwa, senantiasa menerima semua takdir dari Allah Swt..


Lantas, apa yang menyebabkan lemahnya iman seorang muslim? Sejatinya, ini dikarenakan adanya sistem kehidupan sekuler di tengah masyarakat. Sistem ini memisahkan dan menjauhkan agama dari kehidupan umat. Agama hanya dipakai untuk mengatur ibadah mahdhah saja, sedangkan kehidupan umat seperti perekonomian, perniagaan, pendidikan, pemerintahan disetir oleh aturan buatan manusia. Miris memang, tapi inilah fakta yang kita hadapi saat ini. 


Akhirnya, umat tidak memahami hakikat penciptaan manusia, yaitu sebagai hamba Allah yang ditugaskan untuk beribadah kepada Allah. Mereka hanya disibukkan dengan urusan hidupnya dan mengejar materi sebanyak-banyaknya. Ciri masyarakat kapitalis adalah menjadikan materi sebagai standar kebahagiaannya. Mereka akan merasa bahagia jika memiliki harta yang banyak, walaupun harus mengambilnya dengan cara yang bertentangan dengan syariat-Nya. Inilah yang menyebabkan kejahatan semakin meningkat, karena mereka melakukan berbagai cara untuk memperoleh materi tanpa mempedulikan halal haram.


Walhasil, saat Ramadan pun, meski Allah Swt. dan Rasul-Nya telah menyebutkan berbagai keutamaan bulan suci ini, tetapi kaum muslim yang menganut sekulerisme tidak bisa merasakan manisnya beramal saleh. Apalagi jika amal tersebut dianggap tidak mendatangkan maslahat baginya. Walaupun raga mereka berpuasa, tetapi mereka tidak dapat menundukkan hawa nafsu dari ketamakan terhadap harta. 


Sekulerisme telah berhasil melemahkan iman kaum muslim. Mereka tidak benar-benar yakin bahwa Allah telah mengatur rezeki setiap hamba-Nya dan Dia pun akan membalas setiap perbuatan manusia. Inilah yang menyebabkan tingginya kejahatan meski saat ramadan. Sungguh jauh berbeda dengan Islam yang memiliki sistem kehidupan yang khas dan sistem pemerintahan yang fokus pada terpenuhinya kebutuhan umat. 


Sistem kehidupan yang berlandaskan pada akidah Islam akan melahirkan umat yang paham benar bahwa agamanyalah yang dapat menyelamatkan kehidupan mereka. Sedari dini, umat dipahamkan bahwa tujuan mereka hidup semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah Taala. Standar perbuatan umat Islam yang menerapkan syariat adalah mencapai rida-Nya dan tolok ukur perbuatannya adalah halal-haram. Pemahaman terhadap akidah Islam yang mengakar pada jiwa mereka akan menguatkan keimanan, terlebih saat ramadan. Umat akan tersibukkan dengan amal saleh dan menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, terlebih yang mengundang murka-Nya. 


Selain itu, sistem pemerintahan Islam benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyat. Penguasa menjamin seluruh rakyat tercukupi kebutuhan hidupnya karena fungsi pemimpin dalam Islam adalah sebagai pengurus dan pelindung umat. Penguasa sangat memperhatikan pasar agar tidak ada kecurangan, salah satunya dengan menjaga stabilitas harga. 


Begitu pula dengan sistem peradilan Islam yang terkenal dengan sanksinya yang menjerakan. Sanksi yang menjerakan terbukti efektif dalam menurunkan angka kriminalitas sehingga keamanan umat akan terjamin.


Untuk mewujudkan itu semua, Islam membangunnya dengan kekuatan tiga pilar, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan negara yang menaungi. Negara memiliki peran sebagai pihak sentral dalam menangani semua permasalahan. Negara pula yang menjamin tersedianya kebutuhan pokok umat termasuk jaminan atas rasa aman. 


Kejahatan saat ramadan maupun bulan-bulan lainnya tidak mungkin bisa hilang selama sistem yang diterapkan adalah sistem sekuler kapitalis. Hanya sistem Islamlah yang telah terbukti selama lebih dari tiga belas abad menciptakan kesejahteraan dan keamanan bagi seluruh umat manusia. Wallahualam bissawab. [GSM]