Alt Title

Saatnya Menjadi Umat yang Satu

Saatnya Menjadi Umat yang Satu

 


Inilah saatnya seluruh umat muslim bersatu 

Bersatu dalam ikatan akidah, menjadi satu umat di bawah kepemimpinan politik global, sistem pemerintahan Islam

___________________


Penulis Ummu Zhafira 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Tepat hari ini Ahad, 3 Maret 2024, seratus tahun dunia tanpa sistem pemerintahan Islam. Jika dihitung berdasarkan penanggalan Hijriyah sudah 103 tahun ketiadaan institusi yang menerapkan syariat Allah secara kafah di muka bumi. Berbagai macam bentuk penjajahan menimpa negeri-negeri muslim sebagai dampak atas keruntuhan Khilafah Turki Utsmani pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924). Kaum muslim terpecah-belah, mereka lemah tanpa memiliki kekuatan politik persis seperti buih di lautan. Tidak terhitung lagi penderitaan yang harus dirasakan oleh umat Muhammad saw. di berbagai penjuru negeri, kebiadaban musuh-musuh Allah nyata saat persatuan umat tidak lagi ada, padahal kita adalah umat terbaik. 


Penjajahan Militer


Tragedi yang menimpa kaum muslim Palestina hingga hari ini adalah salah satu imbas dari ketiadaan sistem pemerintahan Islam. Penjajahan militer yang dilakukan oleh Zionis Yahudi laknatullah atas tanah Palestina sungguh di luar nalar. Dilansir oleh voaindonesia.com (01/03/2024), pejabat urusan kesehatan Palestina mengatakan insiden terbaru yakni ketika tentara Israel membantai kerumunan warga Palestina yang sedang menanti pembagian bantuan kemanusiaan di Kota Gaza membuat jumlah korban tewas sejak berkecamuknya perang Israel-Hamas pada 7 Oktober lalu menjadi lebih dari 30.000 orang. PBB mengatakan seperempat dari 2,3 juta penduduk Gaza menghadapi kelaparan. 


Mirisnya, penjajahan ini tidak hanya terjadi belakangan ini. Secara resmi kebiadaban Zionis Yahudi di tanah Baitul Maqdis dilakukan sejak 14 Mei 1948 lalu. Sejak saat itu, kekejian mereka dengan bantuan Amerika dan Inggris bisa mendirikan negara Israel di tanah Palestina tersebut semakin menjadi-jadi. Mereka mengusir, merampas, memperluas pemukiman bahkan membantai kaum muslim di sana. Lebih dari 76 tahun, setidaknya sebanyak 1,8 juta jiwa diusir. Pada tahun 2022 saja 80% wilayah Palestina telah diduduki Zionis laknatullah. 


Penjajahan militer yang cenderung menjadi program genosida ini nyatanya tidak hanya menimpa kaum muslim di Palestina. Sejak tahun 2001, Amerika Serikat juga melakukan invasi militer terhadap Afghanistan pasca serangan menara kembar WTC di New York. Begitu pun invasi militer AS ke Irak yang dilakukan pada 20 Maret 2003 karena tuduhan adanya senjata pemusnah massal. Kaum muslim di provinsi Xinjiang Cina diperlakukan keji oleh Pemerintah Cina. Kondisi serupa menimpa muslim Rohingya. Etnis muslim minoritas di Myanmar yang diperlakukan keji oleh Pemerintah setempat karena tidak diakui sebagai warga negara (stateless). Belum lagi pembantaian kaum muslim Bosnia (1991-1995). Muslim Kashmir di India bernasib sama di bawah pemerintah India.


Penjajahan Ekonomi


Negara kafir penjajah belakangan ini menggunakan strategi baru dalam upaya penjajahan dengan melakukan pendekatan ekonomi. Mereka memberikan bantuan Luar Negeri. Ada misi terselubung di balik bantuan tersebut yakni melakukan penjajahan dan menancapkan hegemoninya di negara penerima. Apalagi dengan sistem ribawi yang cenderung naik suku bunganya, tentu akan membuat negara jajahannya terjerat. 


Selain itu, ada mekanisme pasar bebas baik secara global, regional maupun bilateral yang digunakan sebagai alat penjajahan negara imperialis. Sejatinya, mekanisme ini hanya menguntungkan pihak negara kapitalis penjajah, bukan menguntungkan kedua belah pihak sebagaimana konsep yang ditawarkan. Negara-negara berkembang bahkan yang terbelakang pasti selalu menjadi pihak yang dirugikan. Hal ini terjadi karena negara maju akan lebih berpotensi memiliki daya saing yang tinggi dibanding negara berkembang maupun negara terbelakang.


Negara maju sudah pasti memiliki modal yang cukup untuk menciptakan produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Apalagi kualitas Sumber Daya Manusia serta memiliki skill mumpuni sehingga mampu bersaing dengan tenaga kerja negara berkembang. Ditambah lagi dengan kekuatan finansial yang memadai. Tidak heran negara maju dengan mudah menanamkan berbagai macam investasi di negara-negara lain. 


Penjajahan Pendidikan


Untuk makin menancapkan kuku penjajahannya, negara kafir imperialis menjadikan pendidikan sebagai sarana yang sangat strategis. Dampaknya memang tidak dirasakan dalam jangka waktu pendek tapi imbasnya akan sangat mematikan di kemudian hari. Dengan sarana ini berbagai macam ide, gagasan bahkan kepentingan akan dapat tersampaikan secara efektif. Pemberian beasiswa adalah salah satu program yang digagas untuk memuluskan misi ini. Dengan beasiswa ini, para pelajar atau mahasiswa akan mempelajari berbagai macam tsaqofah Barat di berbagai negara sekuler. 


Tidak hanya sampai di situ, negara kafir penjajah melakukan intervensi terhadap kurikulum yang berlaku. Sebagai contohnya adalah program moderasi beragama yang diusung negara kafir untuk menjadikan muslim moderat dan toleran. Dengan begitu mereka tidak akan membenci negara kafir penjajah dan toleran terhadap berbagai macam bentuk kemaksiatan serta kekufuran, juga membunuh ghirah untuk menegakkan kembali syariat Allah di muka bumi. 


Penjajahan Sosial Budaya


Efektivitas penjajahan juga dilakukan negara penjajah di ranah sosial-budaya. Para generasi muda menjadi target sasarannya. Mereka menjadikan berbagai macam sarana di antaranya food, fun, film, fashion dan lifestyle. Dari sini muncul tokoh idola yang akan jadi trendsetter di dunia film, musik maupun sosial media. Dari mereka generasi muda muslim akan mengadopsi ide-ide kufur juga gaya hidup liberal yang merusak.


Menjadi hal lumrah ketika generasi muda muslim terjebak pada pergaulan bebas, gaya hidup hedon, hingga penyimpangan seksual bahkan akidah. Angka aborsi tinggi, dispensasi nikah di kalangan remaja meningkat, kriminalitas berupa tawuran, bullying hingga begal makin marak, pinjol (pinjaman online) dan judol (judi online) menjadi bagian hidup bahkan banyak di antaranya terjebak pada lingkaran LGBT yang menghinakan. Mirisnya, akhir-akhir ini generasi muslim terkungkung pada mental illness yang mengakibatkan mereka beramai-ramai mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri ketika menghadapi kesulitan dalam hidup. 


Hilangnya Kekuatan Politik Islam Global 


Inilah realitas berbagai macam bentuk penjajahan di Dunia Islam saat sistem pemerintahan Islam absen dari kancah perpolitikan global selama 100 tahun terakhir. Kaum muslim terpecah-belah menjadi 57 negara bangsa yang lemah. Kehilangan jati dirinya sebagai umat terbaik. 


Bencana ini bermula saat negara-negara kafir imperialis menempuh berbagai macam cara untuk melemahkan sistem pemerintahan Islam. Mulai dari menumbuhkan ide nasionalisme dan separatisme, hingga memberikan dukungan senjata dan dana untuk gerakan pemberontakan terhadap sistem pemerintahan Islam. Kekalahan Blok Sentral yakni Jerman, Austria-Hungaria dan Khilafah Turki Utsmani oleh Blok Sekutu yakni Inggris, Perancis dan Rusia menjadi puncaknya pada Perang Dunia I. 


Inggris dan Perancis kemudian membagi-bagi wilayah Khilafah Islam menjadi negara-negara kecil dan lemah dalam perjanjian Sykes Picot pada 19 Mei 1916. Kondisi Khilafah Utsmani semakin memburuk hingga akhirnya runtuh di tangan Mustafa Kemal at-Taturk laknatullah di bawah konspirasi Inggris dan sekutunya. Sejak saat itu hingga kini, umat muslim terpecah-belah dengan sekat imajiner bernama nasionalisme yang membutakan. 


Keterpurukan itu menjadi-jadi saat negeri-negeri kaum muslim justru menerapkan sistem politik yang bertentangan dengan syariat Islam, yakni sistem kerajaan (monarki), dan republik (demokrasi). Atas dasar ini umat Islam semakin jauh dari syariatnya. Khususnya sistem politik demokrasi yang memang sengaja diekspor oleh negara kafir penjajah ke negeri-negeri muslim agar diterapkan di tengah kehidupan mereka. 


Hal ini dilakukan dengan tujuan agar kaum muslim memiliki standar sekuler sebagaimana Barat. Saat itu, mereka dengan mudah meninggalkan Islam dan syariatnya. Lebih dari itu, negara kafir Barat akan mudah mengontrol berbagai kebijakan di Dunia Islam. Kepastian berikutnya adalah masuknya berbagai produk hukum dan perundang-undangan yang bersumber dari sekularisasi hidup ala Barat. 


Saatnya menjadi umat yang satu


Keterpurukan dunia Islam hari ini persis sebagaimana yang telah dikabarkan oleh baginda Rasulullah saw. dalam haditsnya, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya, ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” “(Bahkan kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih mengapung). Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menimpakan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.” Seseorang bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bersabda, ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud)


Kaum muslim banyak jumlahnya tapi tidak lagi memiliki kekuatan sebab meninggalkan ajaran agamanya. Kaum muslim tercerai-berai karena mementingkan ikatan nasionalisme semu dan mematikan. Pembantaian yang terjadi di Palestina semakin membuktikan bahwa negri-negeri muslim ini lemah, tidak bisa berbuat banyak selain hanya kecaman, bantuan kemanusiaan dan boikot yang dilakukan oleh masyarakat. Sedangkan penguasa bonekanya justru hanya sekadar basa-basi mengutuk tanpa tindakan riil yang dapat membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis Yahudi dengan seruan Jihad. 


Inilah saatnya seluruh umat muslim bersatu dengan ikatan akidah, menjadi satu umat di bawah kepemimpinan politik global, sistem pemerintahan Islam. Persatuan umat di bawah institusi daulah merupakan kebutuhan sekaligus kewajiban yang Allah bebankan kepada kaum muslim. Kebutuhan karena realitasnya Kapitalisme Sekuler dalam sistem politik demokrasi dengan ruh nasionalisme telah gagal mewujudkan kebaikan bagi umat muslim dan umat manusia secara umum.


Merupakan kewajiban karena Allah memang telah mewajibkan persatuan di antara kaum muslim. Allah berfirman, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara” (QS. Ali Imran [4]:103)


Allah juga mewajibkan kepada kita untuk menerapkan syariat Allah secara kafah di seluruh aspek kehidupan. Hal ini, bisa diwujudkan ketika sistem pemerintahan Islam kembali menaungi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Karena dengan ini pula kaum muslim memiliki kekuatan untuk kembali memimpin peradaban, menyatukan negeri-negeri muslim dan menyelamatkan mereka dari berbagai macam bentuk penjajahan yang dilakukan oleh negeri-negeri kafir imperialis. Lebih dari itu, akan mewujudkan kesejahteraan dan keberkahan bagi seluruh umat muslim bahkan seluruh alam semesta. Wallahuallam bissawab. [Dara]