Alt Title

Remaja Pelaku Pembunuhan: Output Pendidikan Sekuler

Remaja Pelaku Pembunuhan: Output Pendidikan Sekuler

 


Remaja semestinya menjadi agen of change sebagai sumber daya manusia dalam upaya pembangunan baik saat ini maupun nanti yang akan menggantikan generasi sebelumnya

Akan tetapi, saat ini justru mereka kehilangan jati diri. Terbukti dengan jumlah kejahatan yang dilakukan pemuda yang kian hari semakin meningkat dengan beragam caranya

_________________________


Penulis Irmawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tindak kejahatan di negeri ini semakin merajalela. Hidup sekarang ini terasa tidak aman. Pelaku dan korbannya pun bisa siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Motifnya pun beragam ada karena konflik keluarga, perselingkuhan, rebutan warisan, masalah utang piutang, dan lainnya. 


Seperti berita yang viral baru-baru ini, Kepolisian Resor Panajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Utara mengungkap kasus pembunuhan oleh seorang remaja terhadap satu keluarga dengan jumlah lima orang. Pembunuhan yang terjadi di Desa Babulu diduga terjadi karena persoalan asmara dan dendam pelaku terhadap korban. 


Tak hanya melakukan pembunuhan, pelaku juga melakukan pemerkosaan pada RSJ (mantan pacar), ibunya, serta mengambil ponsel, dan uang korban sebesar Rp363.000. Akibat perbuatan tindak sadisnya, pelaku terikat sanksi berat sesuai dengan pasal 340 KUHP subs pasal 338 KUHP subs pasal 365 KUHP Jo pasal 80 ayat (3) Jo pasal 76 Undang-Undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup. (Republika, 8/2/2024)


Bukan pertama kali terjadi, tindakan kejahatan sejatinya telah terjadi berulang kali. Tindak kejahatan tersebut tidak sedikit hanya menyebabkan korban luka. Tetapi, juga mengakibatkan nyawa melayang.


Meningkatnya kejahatan yang terjadi menjadi bukti buruknya kualitas generasi saat ini, serta menunjukan gagalnya sistem pendidikan dalam mewujudkan anak didik yang berkepribadian baik dan terpuji. Di sisi lain negara telah gagal melindungi, mengayomi dan menjamin keamanan bagi masyarakatnya. Dalam negeri ini seolah hidup tenang jauh dari kejahatan begitu mahal. Rakyat tidak bisa hidup tenang dan nyaman. 


Hanya karena dendam dan sakit hati membuat remaja hilang kendali. Mirisnya negara justru abai, tidak ada upaya serius untuk menangani tindakan tersebut dan menjaga keamanan masyarakat. 


Remaja semestinya menjadi agen of change sebagai sumber daya manusia dalam upaya pembangunan baik saat ini maupun nanti yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Akan tetapi, saat ini justru mereka kehilangan jati diri. Terbukti dengan jumlah kejahatan yang dilakukan pemuda yang kian hari semakin meningkat dengan beragam caranya. 


Beginilah potret remaja saat ini yang hidup di bawah naungan sekuler kapitalisme. Paradigma masyarakat, aturan kehidupannya memisahkan agama dari kehidupan yang merusak tatanan masyarakat. Semestinya, dalam masyarakat saling menghormati dan menjunjung tinggi nilai agama.


Sistem pendidikan saat ini hanya mencetak generasi yang tidak memahami tujuan hidupnya yang benar. Generasi jauh dari agamanya, akidah dan keimanannya. Akibatnya, remaja lemah dalam kontrol diri, mudah terpengaruh hingga melahirkan generasi minim akhlak, nir empati dan tega. 


Meski telah berganti berbagai kurikulum. Sistem pendidikan sekuler saat ini telah membuat para pelajar hanya berfokus pada hasil akhir. Mereka memandang kehidupan sebagai tempat untuk bersenang-senang. Pendidikan di sistem ini juga telah menghilangkan jiwa pemuda sebagai pemimpin bangsa. Karena itu, alih-alih mereka fokus pada kontribusi terbaik di masa depan. Mereka justru fokus untuk eksistensi diri meraih materi sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, sistem ini telah mengakibatkan jiwa teracuni dan jauh dari Islam.


Terlebih, masyarakat juga semakin tidak peduli dan acuh dengan kondisi generasi muda yang rusak. Bahkan masyarakat justru menunjukan perilaku yang juga semakin mudah melakukan tindak kekerasan yang sama. Masyarakat menjadi apatis dan individualis hingga abai pada kemaksiatan dan kejahatan di sekitar. Sementara itu, keluarga disibukan dalam mencari nafkah dan mengejar karir tanpa tahu tugas dan lupa bahwa anak butuh perhatian.


Apalagi penerapan hukum bagi remaja dianggap di bawah umur tidak mendapatkan hukuman yang sama dengan pelaku kejahatan dewasa. Hal ini semakin memberikan pemikiran pada generasi bahwa kejahatan dapat ditoleransi. 


Selama sistem kapitalis ini tetap diterapkan, tidak ada yang bisa diharapkan. Jika pada Tuhan sebagai pencipta saja tidak takut, begitu pula pada hukum buatan negara pun mudah diremehkan.


Berbeda dengan Islam. Islam dengan seperangkat aturan jika diterapkan secara sempurna mampu menyelesaikan berbagai persoalan. Termasuk masalah pendidikan remaja. Terbukti mampu menghasilkan generasi berkualitas selama 13 abad.


Pendidikan dalan Islam diterapkan berdasarkan akidah Islam. Islam memberikan perhatian besar kepada generasi yang merupakan pembangun peradaban gemilang. Untuk menghentikan kejahatan dengan cara preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan).


Upaya preventif (pencegahan) dilakukan dengan mengembalikan peran keluarga masyarakat dan negara. Sedangkan upaya kuratif (pengobatan) dilakukan dengan mengobati mereka yang memiliki kecenderungan melakukan pembunuhan dengan pendekatan yang mempengaruhi pola pikir remaja saat menghadapi fakta kehidupan. Sehingga mereka meninggalkan perilaku tersebut dengan penuh kesadaran.


Selain itu, Islam memposisikan keluarga sebagai tempat pendidikan dan pembentukan karakter yang terpenting bagi seorang remaja. Orang tua berperan dalam membekali anak-anak dengan akidah yang kokoh dan memberikan teladan pada anak-anak dalam berkata dan bersikap. Alhasil tidak sedikit para pelaku pembunuhan berasal dari keluarga yang rusak akibat hilangnya nasihat dan komunikasi antara orang tua dan anak.


Tak hanya itu, dalam Islam anggota masyarakat memiliki tanggung jawab untuk saling menasihati, mengajak pada kebaikan dan mencegah pada tindakan tercela. Tidak boleh abai terhadap permasalahan di sekitarnya. 


Adapun negara memiliki peran sentral memfilter segala tontonan media yang berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian generasi. Termasuk dalam sistem pendidikan yang dijalankan negara tidak hanya mencetak generasi mampu menguasai sains dan teknologi. Tetapi juga mencetak menjadi generasi bertakwa. Kendati demikian, hanya dengan tata kehidupan sesuai aturan Sang Pencipta yang membangun suasana ketakwaan di tengah masyarakat. Sistem yang hanya terwujud dalam penerapan Islam secara kafah. Wallahualam bissawab. [GSM]