Alt Title

Islam Harapan Generasi Berantas Stunting

Islam Harapan Generasi Berantas Stunting

 


Kemiskinan ekstrem ini harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah karena menjadi salah satu penyebab utama stunting. Ini juga menjadi isyarat bahwa prevalensi stunting mungkin akan meningkat

Oleh karena itu, negara seharusnya juga menekankan pengentasan kemiskinan sebagai fokus utama

_________________________


Penulis Siti Aisyah, S.Pd.I.

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pengajar RA di Rancaekek


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Indonesia menjadi negara peringkat kelima angka stunting di dunia, karena itu lah harus ada berbagai upaya dalam meminimalisir angka stunting di Indonesia. Menurut para ahli, penyelesaiannya memerlukan kerjasama semua elemen untuk mencegah hal ini. Maka, pemerintah berupaya melakukan penyelesaian dengan mengalirkan aliran dana yang besar untuk menyelesaikan permasalahan ini. Namun realita yang terjadi di kehidupan kapitalis, tatkala manusia menjadikan uang di atas segalanya, uang yang seharusnya digunakan untuk menangani permasalahan stunting, ternyata realitanya malah banyak yang dikorupsi, sungguh disayangkan.


Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH menyebut program penanganan stunting pemerintah sudah bagus, namun Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo, menyoroti kurangnya efektivitasnya. Rahmad Handoyo menekankan perlunya partisipasi masyarakat dalam penanganan stunting, termasuk penyediaan makanan bergizi di daerah yang belum memenuhi standar. Dia juga membicarakan program suplemen makanan untuk stunting di Kota Depok, Jawa Barat, yang menimbulkan kontroversi karena makanan tidak memenuhi standar. (beritasatu[dot]com, (1/12/2023).


Politikus PDI Perjuangan menyarankan pendekatan yang melibatkan masyarakat seperti ibu-ibu PKK, Posyandu, dan pemerintah desa dalam program stunting. Dia mengkritik program yang cenderung berorientasi pada penyelesaian tugas tanpa hasil yang jelas, menyebutnya sebagai pendekatan proyek yang tak memberikan hasil. Rahmad menuntut evaluasi menyeluruh, khususnya kepada Kementerian Kesehatan dan BKKBN sebagai koordinator penurunan stunting.


Penguatan fungsi pengawasan sangat diperlukan, sementara keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program stunting dapat menjadi inovasi. Rahmad menegaskan bahwa penanganan stunting harus dilakukan dengan serius karena pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting sebesar 14 persen pada tahun 2024. Ini menjadi krusial mengingat misi pemerintah mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045, yang mengamanatkan kebutuhan gizi anak-anak harus terpenuhi.


Hasbullah Thabrany, seorang Guru Besar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, mencatat adanya penyalahgunaan dana penanggulangan stunting di beberapa daerah. Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa dana tersebut digunakan untuk rapat dan perjalanan dinas, yang menurut Thabrany mencerminkan korupsi di kalangan pejabat Indonesia. Hal ini menjadi faktor lambatnya penurunan prevalensi stunting. Thabrany juga menyoroti kurangnya penyajian menu yang memadai bagi anak-anak dalam program penanganan stunting di beberapa daerah.


Urgensi Kasus Stunting Indonesia


Stunting adalah masalah serius yang perlu diselesaikan karena berhubungan dengan masa depan bangsa. Ada banyak faktor yang berpengaruh, meski sudah ada banyak program, tetapi tak kunjung terselesaikan karena tidak menyentuh akar masalah. Di sisi lain, adanya dana besar yang dialokasikan untuk stunting tetapi mirisnya banyak dikorupsi. Sehingga stunting tak mungkin terselesaikan selama negara masih menerapkan sistem kapitalisme. Di mana kesadaran untuk menanggulanginya tidak dilakukan dengan sepenuh hati. Sistem ekonomi dalam Islam dapat mengatasi stunting dan mencapai kesejahteraan hidup bagi setiap individu secara individual.


Isu stunting terus menjadi ancaman serius yang memerlukan perhatian cepat dan tepat. Pemerintah telah mengalokasikan dana besar untuk mengurangi stunting dan kemiskinan. Meskipun klaim tentang penurunan, stunting dan kemiskinan tetap menjadi masalah yang mengganggu di negara yang kaya sumber daya alam ini. Harapan untuk mencapai "bebas stunting" pada tahun 2024 terlihat sulit, terlepas dari berbagai program yang diluncurkan. Penanganan stunting belum menyentuh inti masalahnya, karena faktor penyebabnya lebih dari sekadar praktik pengasuhan yang kurang, juga termasuk akses terbatas pada layanan kesehatan, makanan bergizi, air bersih, dan sanitasi, yang semuanya berkaitan erat dengan kemiskinan.


Kemiskinan Akar Masalah Stunting


Data dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI pada Januari 2023 mencatat jumlah penduduk miskin ekstrem di Kukar mencapai 1,45 persen atau sekitar 11.479 individu. Kriteria kemiskinan ekstrem mencakup lanjut usia (lansia), tinggal sendirian, tidak bekerja, menderita penyakit kronis/menahun, difabel atau disabilitas, tinggal di rumah yang tidak layak huni, dan kekurangan fasilitas air bersih serta sanitasi.


Kemiskinan ekstrem ini harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah karena menjadi salah satu penyebab utama stunting. Ini juga menjadi isyarat bahwa prevalensi stunting mungkin akan meningkat. Oleh karena itu, negara seharusnya juga menekankan pengentasan kemiskinan sebagai fokus utama. Namun yang terjadi, kemiskinan selalu menjadi persoalan klasik yang berulang dari tahun ke tahun tanpa pemecahan bagi negeri ini. Ironisnya,wilayah kita yang terkenal dengan kekayaan sumber pangan dan energi nyatanya tidak mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya terutama kebutuhan gizi bagi setiap balita.


Inilah realita yang dihadapi oleh rakyat. Mereka semakin terpuruk karena kemiskinan yang tak kunjung usai dan diperparah dengan kasus stunting yang terus mengintai. Semua keterpurukan tersebut tidak terlepas dari adanya sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme ini telah menjadikan negara cuek dan abai dalam pelayanan dan pemenuhan terhadap kebutuhan dasar masyarakat yaitu sandang, papan, dan pangan. Terlebih, sistem ini juga telah merenggut hak rakyat untuk hidup sehat, sejahtera dan bahagia.


Islam Harapan Generasi Berantas Stunting


Islam menjadi harapan utama dalam memberantas stunting. Dalam ajarannya, Islam mewajibkan negara untuk memastikan kesejahteraan setiap individu dalam masyarakat, termasuk anak-anak. Islam memerintahkan negara untuk bertanggung jawab atas kebutuhan rakyat, termasuk pencegahan stunting. Negara yang berdasarkan prinsip Islam akan memperhatikan kualitas generasi karena merekalah yang akan membangun masa depan yang akan datang. Dalam menerapkan sistem ekonomi Islam, negara akan mengelola kepemilikan umum dan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Hal ini akan menciptakan pendapatan yang substansial bagi negara sehingga kebutuhan hidup setiap warga akan terpenuhi dan mereka terhindar dari kemiskinan.


Negara Islam juga menjamin pemenuhan kebutuhan pangan dengan gizi yang seimbang dan berkualitas. Dengan dukungan sistem kesehatan dan sistem lainnya, negara Islam akan berhasil memberantas stunting sepenuhnya. Bahkan, negara Islam mampu mencegah stunting pada keluarga yang memiliki risiko terkena stunting.


Iman dan ketakwaan yang dimiliki oleh para pemimpin dan seluruh stafnya akan mendorong mereka untuk secara serius dan bertanggung jawab dalam mengurus rakyatnya. Mereka menyadari bahwa di akhirat nanti, mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas kepemimpinan mereka. 


Hal ini tentu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Kamu semuanya adalah penanggung jawab atas gembalanya. Maka, pemimpin adalah penggembala dan dialah yang harus selalu bertanggung jawab terhadap gembalanya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi dari Ibn Umar).


Sistem Islam memberikan gambaran yang jelas dalam menyelesaikan masalah stunting dan kemiskinan. Negara memiliki tanggung jawab yang besar untuk memberikan layanan terbaik kepada rakyatnya, termasuk penyediaan asupan gizi yang berkualitas. Hal ini akan menciptakan generasi yang unggul, bebas dari stunting, dan siap untuk membangun peradaban Islam yang gemilang. Wallahualam bissawab. [GSM].