Alt Title

Sistem Kapitalis Bikin Pesimis

Sistem Kapitalis Bikin Pesimis

Amerika sebagai pionir dan dianggap negara paling maju juga menghadapi permasalahan besar yang menunjukkan sistem mereka tidak berjalan

Fakta dalam bidang ekonomi menunjukkan “Capitalism isn’t working, another world is possible”. Maknanya, kapitalisme gagal membawa kesejahteraan untuk rakyat

__________________________________________


Penulis Novi Widiastuti 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pengamat Sosial Ekonomi



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Peringkat terbaik ke-2 diraih Kabupaten Bandung dalam program Integrated Sustainability Indonesia Movement (I-SIM) for Regencies 2023. Prestasi tersebut diraih karena tersedianya data indikator capaian dari 17 Goal Sustainable Development Goals (SDGs) dan hasil yang relatif baik dalam kurun waktu 2021-2022. (www[dot]dara[dot]co[dot]id, 09/11/2023)


Terkait program I-SIM tersebut, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bandung, Erwin Rinaldi yang juga merupakan Sekretaris Tim Koordinasi Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di Kabupaten Bandung tahun 2022-2026, Program Kampung Bedas terpilih sebagai program unggulan strategis.


Program ini dinilai dapat mendorong pencapaian beberapa target SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Sesuai dengan RPJMD Kabupaten Bandung 2021-2026, dipilihnya Kampung Bedas karena program ini dianggap sesuai dengan konsep Perencanaan Pembangunan Terintegrasi Berbasis Tematik (Bandung Bedas Manunggal).


SDGs lahir pada Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan di Rio de Janeiro pada tahun 2012. Tujuannya adalah untuk menghasilkan serangkaian target universal untuk menjawab tantangan lingkungan, politik dan ekonomi yang dihadapi dunia.


SDGs menggantikan Milenium Development Goals (MDGs), yang memulai upaya global pada tahun 2000 untuk mengatasi dampak kemiskinan. MDGs menetapkan tujuan-tujuan terukur dan disepakati secara universal untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dan kelaparan ekstrem, mencegah penyakit mematikan, dan memperluas pendidikan dasar bagi semua anak, serta prioritas pembangunan lainnya.


MDGs diklaim mendorong kemajuan di beberapa bidang penting seperti mengurangi kemiskinan, menyediakan akses air bersih dan sanitasi yang sangat dibutuhkan, menurunkan angka kematian anak, dan secara drastis meningkatkan kesehatan ibu.


Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata fakta menunjukkan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yang mencapai 65 persen. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) tidak mengalami penurunan.  Pada 2015, target MDGs Indonesia tahun ini adalah menurunkan AKI menjadi 212 per 100 ribu kelahiran hidup, malah angkanya mencapai 350 per 100 ribu. Begitu juga target untuk mengurangi angka gizi buruk pada balita. Dari target 15 persen, capaian saat ini masih ada sekitar 19 persen balita yang mengalaminya. (www[dot]kbr[dot]id, 13/09/2015)


Dunia nampaknya menyadari bahwa kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup gagal diatasi. Hanya saja yang belum mereka sadari adalah permasalahan global ini diakibatkan oleh sistem yang berjalan yaitu kapitalisme. Ideologi ini telah menciptakan jurang besar antara  kaya dan miskin.


Selain itu perusakan lingkungan atas nama eksploitasi dan industrialisasi terus berlangsung. Pendidikan hanya menjadi sarana untuk mencetak pekerja dan buruh bagi korporasi kapitalis. Dunia dihadapkan pada perlombaan ekonomi dan kekuatan negara-negara besar. 


Permasalahan yang disebabkan kapitalisme sekuler sesungguhnya berpusat dari ketidaksesuaian dengan fitrah dan akal sehat manusia. Ideologi ini memuja manusia sebagai pusat segalanya (antroposentrisme).


Amerika sebagai pionir dan dianggap negara paling maju juga menghadapi permasalahan besar yang menunjukkan sistem mereka tidak berjalan. Fakta dalam bidang ekonomi menunjukkan “Capitalism isn’t working, another world is possible”. Maknanya, kapitalisme gagal membawa kesejahteraan untuk rakyat. 


Tujuan pembangunan selanjutnya seharusnya adalah mengganti kapitalisme dengan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagai contoh, dalam bidang ekonomi, syariat memiliki panduan komprehensif bagaimana agar ekonomi stabil dan menciptakan keberlanjutan pembangunan. Ada lima hal yang harus diubah:


Pertama, mengubah perilaku buruk pelaku ekonomi. Untuk memperbaiki pola pikir dan pola sikap bisa dilakukan dengan menanamkan dasar fundamen akidah, meningkatkan pengetahuannya tentang fikih sehingga semua aktivitas perekonomian dilakukan berdasarkan syariat. 


Kedua, tata kelola pemerintahan sesuai syariat. Kebijakan Ekonomi Islam bertujuan  memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok setiap warga negara (Muslim dan non-Muslim), sekaligus mendorong mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kadar individu yang bersangkutan yang hidup dalam masyarakat tertentu. Dengan demikian titik berat sasaran pemecahan permasalahan dalam ekonomi Islam terletak pada individu manusia, bukan pada tingkat kolektif.


Ketiga, kestabilan sosial dan politik. Berdasarkan tata kelola pemerintahan dalam Islam, negara akan melaksanakan dan memantau perkembangan pembangunan dan perekonomian dengan menggunakan indikator-indikator yang menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya, bukan hanya pertumbuhan ekonomi.


Keempat, menstabilkan sistem moneter. Upaya stabilisasi dengan dua cara yaitu mengganti mata uang dengan standar emas dan perak dan membubarkan pasar non-riil agar ekonomi bergerak masuk ke sektor riil. 


Kelima, menstabilkan sistem fiskal. Islam mengatur tiga jenis kepemilikan yaitu pribadi, umum dan negara. Seluruh barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak terkategori sebagai barang milik umum. Benda-benda tersebut tampak dalam tiga hal: (1) fasilitas umum; (2) barang tambang yang tidak terbatas; (3) sumber daya alam yang sifat pembentukannya menghalangi individu untuk memilikinya, sehingga wajib dikelola oleh negara dan tidak diperbolehkan diserahkan ke swasta atau privatisasi.


Kelima cara tersebut dapat terlaksana dengan sempurna jika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh. Untuk itu perlu diwujudkan kesadaran di tengah masyarakat sehingga semua aspek dalam syariat dapat tersosialisasi dan kaum muslimin terdorong untuk dapat menerapkannya. Wallahualam bissawab. [SJ]