Alt Title

Kenakalan Remaja, Potret Nyata Kehidupan Ala Sekularisme yang Rusak

Kenakalan Remaja, Potret Nyata Kehidupan Ala Sekularisme yang Rusak

Masa remaja adalah masa dimana seseorang mempunyai rasa ingin tahu yang besar, ingin mencoba berbagai hal, ingin memiliki ruang untuk meluapkan ekspresinya, mencari jati diri dan banyak melakukan eksperimen dalam segala hal

Masa-masa ini sangat rentan jika tidak dibekali dengan pedoman hidup yang benar

_________________________


Penulis Ai Nurjanah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Berbagai peristiwa yang mengindikasi pada kenakalan remaja kerap kali terjadi. Hampir setiap hari pemberitaan diwarnai dengan berbagai perilaku mereka yang kian memprihatinkan. Seperti kejadian baru-baru ini di laga sepak bola yang diselenggarakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)  Kabupaten Majalengka yang berujung pada keributan hingga tawuran antar peserta. Peristiwa ini terjadi saat final antara SMKN 1 MAJALENGKA dengan SMA 2 MAJALENGKA pada Minggu (1/10/2023) kemarin. 


Dikutip dari Garda Publik, Sulthan Saddam selaku mantan Ketua Organisasi Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Majalengka menuturkan lewat sambungan telepon pada malam harinya, "Saya menerima informasi bahwa ketua Komisariat Pelajar SAPMA dibacok oleh oknum pelajar salah satu sekolah." Sulthan berharap kejadian ini bisa diusut tuntas hingga pelajar pelaku pembacokan tersebut ditangkap. 


Bukan hanya kericuhan atau keributan, remaja juga sering menjadi pelaku perundungan (bullying) seperti yang marak terjadi hari ini di sejumlah daerah dan lingkungan sekolah. 


Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasi hal ini, seperti yang dilakukan oleh kepolisian sektor (POLSEK) Leuwimunding dimana Iptu Budi Wardana didampingi Kanit Binmas Polsek Leuwimunding, Aipda Nana Suherna, mengunjungi SMPN Leuwimunding dengan tujuan untuk memberikan edukasi, pengarahan, dan penerangan terkait perundungan serta mencegah aksi kekerasan dan tindakan kriminal lainnya. 


Upaya kerjasama dan koordinasi antara guru, siswa, dan aparat juga terus didorong untuk membendung perilaku negatif dari remaja. 


Namun jika dibandingkan dengan jumlah kasus yang ternyata terus terjadi, maka dapat dikatakan bahwa upaya yang sudah dilakukan sejauh ini belum berdampak secara signifikan. Sehingga perlu untuk mencari akar dari persoalan yang sesungguhnya dan menyelesaikan dari akarnya. 


Masa remaja adalah masa dimana seseorang mempunyai rasa ingin tahu yang besar, ingin mencoba berbagai hal, ingin memiliki ruang untuk meluapkan ekspresinya, mencari jati diri dan banyak melakukan eksperimen dalam segala hal. Sehingga masa-masa ini sangat rentan jika tidak dibekali dengan pedoman hidup yang benar. 


Tanpa bekal yang cukup, remaja bisa dengan mudah terjerumus dalam perilaku yang melanggar norma atau hukum yang berlaku. Mereka kehilangan simpati dan empati kepada sesama sehingga tidak segan untuk menyakiti yang lainnya. Baik secara fisik maupun verbal. 


Apa sebenarnya yang membuat remaja hari ini terus mengalami kemunduran dan krisis? Rusaknya generasi remaja tidak lain adalah karena penerapan sistem kapitalis dengan paham sekularismenya. Pemisahan agama dari kehidupan yang menjadi asas dan kebebasan yang diusung di dalam paham ini sudah sangat jelas memberikan kehancuran untuk masa depan remaja. Dengan membiarkan anak bebas berekspresi justru akan membuat anak kebablasan mencurahkan ekspresinya karena mereka tidak tahu batas norma sebuah tingkah laku. 


Hal ini diperkuat dengan perkembangan teknologi yang memudahkan remaja mengakses berbagai hal. Sebagai generasi yang tidak dibekali dengan standar hidup dan perilaku yang jelas, maka akan dengan mudah menjadi peniru apapun terlebih jika hal tersebut menjadi tren. 


Sungguh sebuah ironi karena yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah yang sebaliknya, yaitu generasi terbaik yang siap untuk memimpin. Generasi yang tumbuh dengan baik, berada di lingkungan pergaulan yang baik, dan memperoleh didikan yang baik agar menjadi generasi yang siap mengisi masa depan, bertakwa, dan juga penuh karya. 


Peran orang tua tentu sangat penting dalam hal ini, yaitu untuk menemani dan mendampingi mereka. Akan ada banyak sekali pertanyaan pada diri remaja yang memerlukan jawaban dari orang tua. Kelak jawaban ini akan menjadi landasan mereka di kehidupan masa depan. Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk menuntut ilmu agar bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Karena jika jawaban dari pertanyaan itu keliru maka justru akan mengantarkan pada kerusakan. 


Selain orang tua, sistem hidup yang diterapkan juga berperan penting dalam mewujudkan lahirnya generasi terbaik. Islam sebagai sistem hidup akan mampu mewujudkan hal tersebut. Dengan penerapan Islam, maka generasi yang telah disiapkan orang tua bisa tetap terjaga dan tidak rusak oleh lingkungan kehidupan. 


Sistem Islam akan memastikan bahwa keimanan akan menjadi penuntun manusia dalam berpikir dan berbuat. Sehingga akan terpisah dengan jelas antara kebaikan dan keburukan. Pemahaman dan keyakinan pada hari penghisaban akan mendorong mereka untuk selalu berada dalam kebenaran dan siap bertanggung jawab dengan semua perbuatannya. Semata hanya untuk meraih rida Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [GSM]