Alt Title

Baby Blues Meningkat, Islam Solusi Tepat

Baby Blues Meningkat, Islam Solusi Tepat

Tingginya angka baby blues syndrome disebabkan oleh banyak faktor. Kesiapan menjadi orang tua menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan. Pasalnya, dalam kurikulum pendidikan Indonesia tidak ada kompetisi untuk persiapan menjadi orang tua. Bahkan, kurikulum pendidikan Indonesia jauh dari nilai-nilai agama

Selain itu, tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup yang serba mahal menjadikan seorang wanita (ibu) turut berperan dalam pencarian nafkah keluarganya. Ditambah lagi pengopinian yang masif dilakukan oleh para pelaku bisnis, atas nama emansipasi wanita akhirnya para ibu bekerja di luar rumah

____________________________


Penulis Sumiati

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi




KUNTUMCAHAYA.com, OPINI -

Ibu ...

Ibu kaulah wanita yang mulia

Derajatmu tiga tingkat dibanding ayah 


Kau mengandung melahirkan

Menyusui mengasuh dan merawat

Lalu membesarkan putra-putrimu Ibu


Ibu kaulah wanita yang mulia

Derajatmu tiga tingkat dibanding ayah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Lirik lagu di atas merupakan potongan lirik lagu kasidah lawas yang menggambarkan mulianya peran seorang ibu. Di balik perannya yang mulia, ada banyak perjuangan yang mesti mereka lalui. Salah satunya pasca-melahirkan. Dimana, kondisi ibu akan mengalami syndrome baby blues untuk beberapa waktu. Lantas, bagaimana kondisi para ibu saat ini?


Seperti dilansir REPUBLIKA[dot]CO[dot]ID (26/05/2023) bahwa gangguan kesehatan mental tinggi pada populasi ibu hamil, menyusui, dan ibu dengan anak usia dini. 25 persen wanita mengalami gangguan depresi setelah melahirkan di Lampung.


Dalam data laporan Indonesia National Adleacent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2023 hal tersebut diungkap. 32 persen ibu hamil mengalami depresi dan 27 persen depresi pasca melahirkan terungkap pada hasil penelitian Andriati (2020). Sebanyak 50-70 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues pada penelitian skala nasional.


Ketua Komunitas perempuan dari Wanita Indonesia Keren (WIK) dan psikolog, Maria Ekowati dalam jumpa pers “WIK Dorong Kesehatan Mental Masuk dalam UU Kesehatan” di Jakarta Selatan, Jumat (26/5/2023) menjelaskan bahwa ibu di Indonesia mengalami gejala minimal baby blues tertinggi ketiga di Asia.


Kondisi baby blues biasanya terjadi karena  kondisi hormonal, meski wanita ibu sudah lama mempersiapkan diri sebagai calon ibu. Bahkan, kondisi baby blues parah juga bisa dialami wanita yang hamil karena 'kecelakaan' hingga berada dalam rumah tangga yang tak harmonis, atau mengalami KDRT, ungkap Maria.


Ciri-ciri baby blues syndrome yaitu kelelahan sehingga membuat ibu tidak mampu untuk mengurus diri sendiri dan bayinya, mudah tersinggung, mudah marah, cemas, sulit tidur dan sulit berkonsentrasi. Lebih parahnya lagi, ibu bisa sampai menyakiti dirinya atau bayinya.


Tingginya angka baby blues syndrome disebabkan oleh banyak faktor. Kesiapan menjadi orang tua menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan. Pasalnya, dalam kurikulum pendidikan Indonesia tidak ada kompetisi untuk persiapan menjadi orang tua. Bahkan, kurikulum pendidikan Indonesia jauh dari nilai-nilai agama.


Selain itu, tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup yang serba mahal menjadikan seorang wanita (ibu) turut berperan dalam pencarian nafkah keluarganya. Ditambah lagi pengopinian yang masif dilakukan oleh para pelaku bisnis, atas nama emansipasi wanita akhirnya para ibu bekerja di luar rumah.


Keadaan ini diperparah dengan berkembangnya paham liberal (kebebasan). Setiap orang beranggapan bahwa perbuatan yang ia lakukan merupakan hak asasi yang tidak boleh diganggu gugat. Bagaimana tidak depresi, saat terbiasa dengan kebebasan kini dihadapkan dengan fitrah yang harus dijalani. Jika saja tidak ada dukungan dari keluarga terdekat dan adanya keimanan dalam diri, maka, baby blues syndrome akan menjadi momok bagi setiap wanita.


Sesungguhnya, biang keladi dari segala permasalahan adalah penerapan sistem kapitalisme yang melahirkan paham liberalisme sekuler. Paham ini merupakan paham kebebasan dan pemisahan agama dari kehidupan. Setiap orang bebas melakukan apapun atas nama hak asasi manusia. 


Agama bukan dianggap sebagai pandangan hidup, namun hanya sebatas pelarian dari problematika untuk mendapatkan ketenangan dan sebagai pemuas dahaga spiritual. Dalam menjalani kehidupannya di dunia masih mengakui adanya Allah sebagai Al-Khaliq (Pencipta). Namun yang bersangkutan tidak mengakui bahwa Allah sebagai Al-Muddabbir (Pengatur), sehingga dalam setiap aktivitasnya, Allah tidak dilibatkan.


Beda halnya dengan cara pandang Islam. Islam memiliki solusi untuk mengatasi segala problematika kehidupan. Dalam kurikulum pendidikan Islam setiap orang diberi pengajaran pengokohan akidah sebagai pondasi setiap aktivitas. Mereka dididik sesuai fitrahnya. Seorang laki-laki dididik untuk menjadi qawwam (pemimpin). Sedangkan wanita dididik untuk menjadi ummu wa rabbatulbait (ibu dan manajer rumah tangga).


Saat akidah telah terhunjam dalam diri, maka, setiap aktivitas yang dilakukan merupakan cerminan pemahamannya. Seorang wanita akan rida dengan fitrahnya saat berperan menjadi anak, istri atau ibu. Segala rintangan akan mampu dilewati atas dasar keimanan sehingga saat ia dalam kondisi sudah melahirkan bukan hal yang berat baginya. 


Jika tetap berharap pada sistem kapitalisme, maka, kerusakan demi kerusakan pada segala lini kehidupan akan terus berlanjut. Oleh karena itu, seharusnya kita kembali pada aturan yang sesuai dengan fitrah manusia yaitu aturan Islam. Wallahualam bissawab. []