Alt Title

Ada Apa dengan Kesehatan Mental Ibu?

Ada Apa dengan Kesehatan Mental Ibu?

Salah satu faktor pemicu gangguan kesehatan mental pada ibu adalah ekonomi. Sistem kapitalisme yang hari ini diterapkan telah nyata tidak mampu memberikan kesejahteraan

Tanggung jawab nafkah yang terletak dipundak suami, hari ini banyak yang ikut dipikul istri. Otomatis beban istri/ ibu bertambah besar. Belum lagi jika tidak ada dukungan dari orang terdekat seperti suami dan keluarga. Padahal wanita hamil, melahirkan dan menyusui itu sangatlah payah, lelah fisik dan mental. Makanya syariat Islam menetapkan hukum khusus terkait hal ini

_____________________________


Penulis Yuli Ummu Raihan

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Masalah Publik



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Menjadi seorang ibu bagi seorang wanita adalah anugerah terindah. Seorang wanita akan merasa sempurna jika telah mampu melalui fase ini yaitu hamil, melahirkan, menyusui dan mengurus buah hatinya hingga menjadi seorang anak yang sehat, pintar dan sukses dunia akhirat. 


Namun fakta yang terjadi belakangan ini membuat kita prihatin sekaligus waspada. Dilansir dari Republika[dot]co[dot]id, bahwa sebagian besar ibu hamil, menyusui, dan ibu dengan anak usia dini mengalami gangguan kesehatan mental tinggi. Salah satunya terjadi di Lampung sebanyak 25 persen wanita mengalami gangguan depresi setelah melahirkan. Fakta ini terungkap dalam data laporan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2023. Sementara penelitian skala nasional menunjukkan 50-70 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues. Bahkan angka ini menjadi peringkat ketiga tertinggi di Asia. Sungguh ini bukanlah sebuah prestasi, tapi bom waktu yang harus diwaspadai. 


Gangguan kesehatan mental pada ibu terjadi karena banyak faktor, di antaranya hormonal, terjadinya KDRT, kehamilan tidak diinginkan, hubungan suami istri yang tidak harmonis, faktor ekonomi, ketidaksiapan mental dan ilmu menjadi seorang ibu, kelelahan, kesulitan ibu beradaptasi, kurangnya support system dan lainnya. 


Gangguan mental yang banyak terjadi pada ibu adalah baby blues yaitu kondisi yang tidak mengenakkan pada ibu pasca melahirkan. Melahirkan anak pertama memiliki kemungkinan lebih besar mengalami baby blues dibandingkan mereka yang sudah melahirkan sebelumnya. 


Gejalanya bahkan ada yang tidak terlihat dan disadari. Ciri yang sering terjadi adalah seorang ibu lebih sensitif, mood swing, mudah lelah, gelisah dan sulit konsentrasi. Jika kondisinya memburuk bisa melakukan hal buruk pada bayi hingga membunuh na'uzubillahiminzalik. 


Mengutip situs Hermina Hospital, keluhan yang dirasakan ibu tidak terjadi terus menerus, melainkan hilang timbul. Akan tetapi gangguan ini tetap harus diatasi dengan baik agar tidak semakin parah hingga berubah menjadi depresi. 


Menurut Healthlife, sekitar 80 persen ibu kemungkinan pernah mengalami baby blues, namun ada juga yang tidak merasakan sama sekali. Kasus gangguan kesehatan mental pada ibu semakin banyak terjadi mulai dari baby blues hingga depresi post partum. Banyak ibu hari ini melakukan hal kejam bahkan binatang sekalipun tidak pernah melakukan. Ibu tega melukai buah hati, meracuni, hingga membunuh darah daging yang dia kandung dan lahirkan dengan bertaruh nyawa. Jika kasusnya terjadi hanya sekali dua kali mungkin masih dianggap wajar, tapi kalau sudah masif seperti ini tentu ada sesuatu. Ada apa ini? Apa yang salah? 


Islam Menjaga Fitrah Seorang Wanita


Islam adalah agama yang sempurna. Islam juga sangat memberikan perhatian lebih kepada wanita khususnya ibu. Buktinya diabadikan salah satu surat dalam Al-Qur'an dengan nama Surat An-Nisa (wanita). Bahkan banyak hadis nabi yang  menerangkan keutamaan memuliakan wanita/ibu dan berbakti padanya.


Fitrah wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga akan terjaga ketika Islam diterapkan secara kafah. Hamil, melahirkan dan menyusui adalah kodrat seorang wanita. Ini adalah keutamaan wanita dibandingkan pria. Keutamaan ini pula yang membuat ia lebih utama untuk diperlakukan baik. 


Dari Mu’awiyah bin Haidah al-Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi:


يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ


“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR. A- Bukhari)


Maka sebagai wanita kita harus rida dengan ketetapan Allah ini. Apalagi kalau kita mengingat pahala besar yang dijanjikan Allah Swt. untuk keutamaan ini. Ubahlah lelahmu menjadi lillah agar berbuah pahala. 


Faktor lain yang memicu gangguan kesehatan mental pada ibu adalah ekonomi. Sistem kapitalisme yang hari ini diterapkan telah nyata tidak mampu memberikan kesejahteraan. Tanggung jawab nafkah yang terletak dipundak suami, hari ini banyak yang ikut dipikul istri. Otomatis beban istri/ibu bertambah besar. Belum lagi jika tidak ada dukungan dari orang terdekat seperti suami dan keluarga. Padahal wanita hamil, melahirkan dan menyusui itu sangatlah payah, lelah fisik dan mental. Makanya syariat Islam menetapkan hukum khusus terkait hal ini. 


Islam memberikan keringanan untuk wanita hamil dan menyusui tidak berpuasa di bulan Ramadan. Islam juga mengatur perkara nifas agar ibu bisa fokus mengurus bayi dan memulihkan fisiknya. 


Islam juga memerintahkan suami berlaku makruf terhadap istrinya apalagi ketika istri hamil, pasca melahirkan dan fase menyusui. Islam menjadikan hubungan suami istri itu layaknya sahabat. Maka sebagai sahabat tentu suami akan membuat sahabatnya nyaman, aman dan senang. Suami  bisa menyediakan pembantu untuk meringankan pekerjaan istri, atau suami ikut membantu melakukan tugas-tugas rumah tangga. Suami siaga menjaga istri dan memenuhi segala kebutuhannya. Mendengarkan keluh kesah istri, menghiburnya, serta mengapresiasi perjuangan istri selama hamil, melahirkan dan menyusui. 


Seorang wanita juga butuh bekal ilmu untuk menjalani perannya sebagai istri sekaligus ibu. Untuk itu dibutuhkan kurikulum pendidikan yang menunjang. Dalam Islam kurikulum pendidikan hanya satu dan harus berlandaskan akidah Islam. Tujuannya untuk membentuk kepribadian Islam. Kurikulum Islam juga dirancang sedemikian rupa agar lahir generasi yang siap menghadapi kehidupan dunia. Mereka dibekali keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan. Jika profesi semacam dokter butuh sekolah bertahun-tahun agar bisa mengobati pasien, tentu ibu jauh lebih butuh ilmu karena ia kelak harus menjadi sosok yang serba bisa. Ia  harus mampu menjadi manager, pendidik, perawat, dan lainnya untuk anak dan suami. Kita  bisa membaca kisah kehebatan para ibunda Khalifah dan orang-orang salih di masa kejayaan Islam. Tentu mereka tidak tercipta begitu saja, ada ibu hebat dibelakang mereka. 


Inilah yang tidak kita dapati dalam kurikulum pendidikan hari ini. Kurikulum pendidikan hari ini tidak menjadikan kesiapan menjadi orangtua sebagai salah satu kompetensi yang harus dipelajari dan dimiliki. Pendidikan hari ini pun jauh dari nilai-nilai agama. Padahal agama sangat dibutuhkan sebagaimana pedoman dalam menjalani kehidupan ini. Wanita yang akan menjadi ibu harus tahu fase perkembangan anak dari dalam kandungan hingga besar. Paham terkait gizi, kesehatan dan semua hal tentang anak. Seorang ibu harus paham betapa pentingnya peran seorang ibu bagi tumbuh kembang anak. Seorang ibu harus tahu bagaimana menjadi ibu yang sebetulnya, bukan sekadar kebetulan menjadi ibu. 


Sistem kapitalisme juga berperan besar mengurangi supporting system yang dibutuhkan seorang ibu baru. Ayah disibukkan dengan peran mencari nafkah. Belum lagi jika hidup merantau yang otomatis jauh dari sanak keluarga. Jadilah seorang istri meng-handle semua sendiri. Mulai dari pekerjaan rumah hingga mengurus bayi dan keperluan lainnya. Bahkan bagi ibu pekerja hanya mendapat cuti singkat karena ada hitung-hitungan materi sebagai risikonya. 


Padahal cuti ini sangat dibutuhkan seorang ibu agar bisa mengistirahatkan fisiknya. Bahkan seharusnya ayah/suami juga diberikan cuti agar bisa mendampingi istri. 


Masyarakat juga cenderung bersifat individual. Cuek terhadap kondisi sekitar. Ketika ada kasus akibat gangguan mental masyarakat justru menghujat, membully dan menghakimi si ibu. Padahal ibu seperti ini justru perlu dukungan. Sebagai tetangga kita bisa membantu jika mendapati seorang ibu yang kesusahan, sekadar menjaga anaknya agar si ibu bisa sedikit bernapas, menjadi pendengar yang baik jika mereka berkeluh kesah, dan yang penting jangan membandingkan kehidupan satu orang dengan orang lain. 


Dalam Islam wanita tidak diwajibkan bekerja, karena nafkahnya adalah kewajiban suami. Dalam Islam kesehatan adalah tanggungjawab negara dan hak semua rakyat. Maka segala biaya persalinan dan perawatan pasca melahirkan juga ditanggung negara. Hal ini tentu akan  mengurangi beban keluarga terutama ibu. Dalam Islam ibu yang hamil dan menyusui bisa diberikan santunan.


Dengan adanya ketakwaan individu, supporting system dari lingkungan terdekat, serta negara yang hadir meriayah rakyatnya tentu angka gangguan kesehatan mental pada ibu akan bisa dikurangi. Para ibu akan fokus menjalani perannya hingga kelak akan lahir generasi terbaik yang akan menjadi mutiara umat insya Allah. Wallahualam bissawab. []