Alt Title

Kunjungan di Tahun Politik

Kunjungan di Tahun Politik


Pergantian pemimpin merupakan momen paling dinantikan oleh sebagian masyarakat. Dengan harapan bahwa penguasa terpilih nanti akan mampu memberi perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Namun sayang belum banyak dipahami bahwa kebaikan itu ada pada sistem Islam bukan sistem Kapitalisme sekuler


Tidak cukup hanya pemimpin yang baik, tapi aturan apa yang akan dijalankannya. Itulah yang seharusnya ada dalam pemahaman umat Islam terlebih calon pemimpin yang banyak perhatiannya kepada kepentingan agama


Penulis Nazwa Hasna Humaira

Kontributor Media Kuntum Cahaya, Pelajar dan Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com-Politikus Ganjar Pranowo saat ini tengah bersosialisasi dengan masyarakat melalui kegiatan canvassing. Adapun acara yang digelar berupa workshop bertemakan Moderasi Beragama. Untuk itu ia melakukan kunjungan ke Pesantren Az-Zakiyah dan memberikan bantuan berupa alat-alat untuk pembangunan pondok. Acara tersebut berlangsung di Jalan Manglayang Raya, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Sabtu, 11 Maret 2023. (HarianTerbit[dot]com, Maret 12/03/2023)


Koordinator Wilayah Pondok Pesantren Az-Zakiyah Jawa Barat, Achmad Hakiki mengatakan bahwa  acara itu terinspirasi dari sosok Ganjar yang sangat moderat dan pluralis. Ganjar dipandang sebagai sosok yang terus berupaya merangkul keberagaman masyarakat di Indonesia untuk mencapai satu tujuan yaitu Nusantara yang lebih baik dan maju.


Melakukan kegiatan canvassing ke tengah masyarakat, telah menjadi suatu hal yang biasa dilakukan oleh para calon presiden. Mengobral janji-janji manis dan memberikan sekadar yang tengah dibutuhkan masyarakat umum maupun lembaga pesantren. Semua itu terindikasi kuat demi meraih suara terbanyak saat pemilu berlangsung. 


Demikian pula dilakukan oleh pria yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah tersebut. Sebagai salah satu bakal calon  presiden yang akan digelar 2024 mendatang. Ia berupaya memenangkan hati masyarakat melalui kegiatan yang ia gelar. Dukungan pun mengalir dari para santri dan koordinator pondok pesantren itu.


Pada acara kunjungan tersebut, Ganjar menyeru para santri untuk meningkatkan sikap moderasi beragama dalam kehidupan, saling toleransi dengan agama lain, menerima adat istiadat yang ada di tengah masyarakat, dan lain sebagainya. Semua itu dimaksudkan untuk mencegah segala bentuk radikalisme.


Pergantian pemimpin merupakan momen paling dinantikan oleh sebagian masyarakat. Dengan harapan bahwa penguasa terpilih nanti akan mampu memberi perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Namun sayang belum banyak dipahami bahwa kebaikan itu ada pada sistem Islam bukan sistem Kapitalisme sekuler. Tidak cukup hanya pemimpin baik tapi aturan apa yang akan dijalankannya. Itulah yang seharusnya ada dalam pemahaman umat Islam terlebih calon pemimpin yang banyak perhatiannya kepada kepentingan agama.


Seharusnya umat Islam memahami bahwa kita tidak dituntut oleh Allah Swt. menjadi Muslim radikal juga moderat. Tetapi umat dituntut menjadi Muslim kafah yang tunduk pada seluruh aturan Zat yang menciptakan manusia. Ungkapan "menerima adat istiadat yang ada di tengah masyarakat" seharusnya dikritisi selama adat istiadat tersebut tidak bertentangan dengan syariat. Saat ini tidak sedikit adat istiadat yang ada di tengah masyarakat yang mengandung kemusyrikan malah dipelihara atas nama kearifan lokal.


Kita semua telah mengetahui bahwa kepemimpinan negara saat ini berada di bawah sistem Kapitalisme sekuler. Ia mengukur segala sesuatu hanya dari sisi materi dan meminggirkan peran agama dari kehidupan. Penguasa yang seharusnya memprioritaskan kepentingan masyarakat justru bersikap sebaliknya. Alih-alih sejahtera, kondisi rakyat justru semakin terpuruk. Sekularisme telah menjerumuskan manusia kepada kerusakan moral, korupsi yang menggurita, gaya hidup hedonis, minim empati.


Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan penguasa hanya menyulitkan rakyat, berpihak pada korporat, menghasilkan kehidupan kian memburuk bahkan semakin terpuruk. Membentuk masyarakat yang pragmatis akibat apatis menghadapi sulitnya kehidupan. Mereka mudah termakan dengan janji-janji manis yang tidak realistis.


Agama yang seharusnya menjadi sebuah sandaran bagi setiap masalah yang sedang dihadapi, justru dijadikan sisi lain yang terpisah dari kehidupan. Kedudukan penguasa yang seharusnya memberi pengayoman, tidak ubahnya hanya sebagai hubungan atasan dan bawahan. Urusan rakyat dinomorduakan setelah kepentingan para pemilik modal.


Berbeda halnya dalam sistem Islam, mengajukan diri untuk menjadi seorang pemimpin negara, tidak dilarang. Namun tentu harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan syariat, yaitu Muslim, laki-laki, balig, berakal, dan mampu. Ia juga harus berkomitmen untuk menjalankan seluruh aturan Allah tanpa kecuali, dan tidak menjadikan sistem lain sebagai acuan dan pedoman.

 

Islam tidak mengenal sosok pemimpin yang hanya mampu mengobral janji, memberi iming-iming materi untuk sekadar meraih suara rakyat. Karena sejatinya jabatan kepemimpinan adalah sebuah amanah berat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.


Penguasa Muslim akan mendedikasikan dirinya untuk mewujudkan kesejahteraan umat yang hakiki. Yang mana hanya akan  lahir dari sistem yang benar, yaitu Islam. Semua permasalahan hidup dapat diselesaikan dengan tuntas hingga akarnya dengan berpedoman pada Al-Quran dan sunah.


Allah Swt. menjanjikan, keberkahan hidup dan kebahagiaan hakiki hanya mungkin mewujud jika kita menyempurnakan ketakwaan. Yakni dengan cara menjalankan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan sebagaimana yang Allah perintahkan. Allah Swt. berfirman,


وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ


Artinya: ”Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)


Jalan menuju kesejahteraan yang sesungguhnya dalam naungan sistem Islam ini tentu saja tidaklah mudah untuk digapai. Perlu adanya upaya yang dilakukan oleh umat Muslim untuk mewujudkannya, yaitu dengan menebarkan dakwah Islam kepada siapa pun, hingga terwujud kesadaran untuk menerapkan  syariat Allah Swt. secara total di muka bumi ini. Wallahu a'lam bi ash-shawwab.