Alt Title

STUNTING ANCAM GENERASI, ISLAM PUNYA SOLUSI

STUNTING ANCAM GENERASI, ISLAM PUNYA SOLUSI



Sejatinya, solusi yang diberikan untuk menekan tingginya angka stunting dengan mengurangi angka kelahiran di Indonesia masih belum menyentuh akar permasalahan. Kurangnya asupan gizi adalah bentuk dari ketidakmampuan warga memenuhi kebutuhan pokok hidup yaitu makanan bergizi bagi keluarganya


Sulitnya mencari pekerjaan, tingginya harga bahan makanan, tidak adanya jaminan kesehatan dan pendidikan, serta tingginya biaya hidup lainnya, menjadi permasalahan yang saling berkelindan. Hal ini menjadi indikasi buruknya riayah (pengurusan) negara pada rakyat. Negara tidak mampu menyejahterakan rakyat padahal memiliki SDA berlimpah


Penulis Maya Dhita

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi


KUNTUMCAHAYA.com-Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri menggelar safari KB gratis MOW (Metode Operasi Wanita). Acara ini digelar untuk memperingati hari jadi Kabupaten Kediri ke-1219 tahun 2023. Layanan steril bagi wanita secara gratis ini dilaksanakan di Rumah Sakit Aura Syifa Kecamatan Ngasem (28/2/2023).


Dalam keterangannya, dr. Nurwulan Indadani menjelaskan bahwa kegiatan ini khusus pelayanan steril wanita. Sasarannya adalah pasangan usia subur yang yakin tidak ingin mempunyai anak lagi. Tujuan utamanya adalah sebagai salah satu upaya untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan serta menurunkan angka stunting di Kabupaten Kediri. (berita[dot]kedirikab[dot]go[dot]id, 28/02/2023)


Stunting adalah salah satu masalah kesehatan pada anak akibat gizi buruk dan berpengaruh terhadap tumbuh kembang mereka. Kondisi ini ditandai dengan kecenderungan anak bertubuh lebih pendek dari anak seusianya. 


Penyebab Stunting 


Selain akibat gizi buruk, penyakit ini disebabkan infeksi berulang, dan simulasi psikososial. Tentu saja stunting tidak boleh dibiarkan karena dapat menyebabkan dampak kesehatan yang lebih buruk pada anak di kemudian hari.


Selain karena kurangnya asupan nutrisi saat masa tumbuh kembang, stunting juga bisa terjadi akibat kekurangan gizi saat bayi berada dalam kandungan. Faktor lain yakni ibu hamil tinggal di area yang kekurangan air bersih, memiliki sanitasi yang buruk, serta mengalami kesulitan mengakses makanan bersih dan sehat.


Dampak Stunting


Besarnya populasi penduduk Indonesia dengan prediksi usia produktif mencapai 70% pada tahun 2030. Kondisi ini disebut sebagai bonus demografi. Kelompok usia produktif yang diperkirakan mencapai 180 juta jiwa nantinya yang akan menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Namun, hal tersebut hanya menjadi impian semata karena tingginya angka balita terkena stunting di negeri ini.


Dampak stunting pada anak tidak akan hilang begitu saja. Dalam jangka pendek akan memengaruhi tinggi badan. Sedangkan jangka panjang, akan berpengaruh pada:


(1) Gangguan kognitif. Stunting sering dikaitkan dengan penurunan IQ pada usia sekolah. Hal ini menunjukkan dampaknya pada perkembangan otak anak.


(2) Mengganggu fokus belajar anak. Anak dengan stunting akan memiliki waktu fokus yang pendek. Sehingga akan mengganggu kinerja akademis.


(3) Rentan penyakit tidak menular. Stunting menyebabkan anak rentan terhadap penyakit tidak menular saat dewasa. Penyakit itu antara lain, obesitas, hipertensi dan penyakit jantung.


 (4) Rendahnya imunitas. Daya tahan tubuh anak dengan stunting cenderung lemah. Kekebalan tubuh menurun secara keseluruhan akibat kurangnya asupan nutrisi. Hal ini menyebabkan anak lebih rentan mengidap penyakit berulang yang sama.


(5) Hilangnya produktivitas. Stunting dapat memengaruhi produktivitas dan kinerja di tempat kerja. Orang dewasa dengan riwayat stunting terbukti kurang produktif di tempat kerja. Dampak ini jelas akan berpengaruh pada kualitas generasi mendatang. 


Penatalaksanaan Stunting


Dari laman alomedika, dr. Yoke K. Putri, M.Sc, Sp.A, IBCLC menjelaskan tentang penatalaksanaan stunting meliputi perbaikan nutrisi, mengatasi infeksi dan penyakit kronis yang diderita, perbaikan sanitasi dan lingkungan tempat tinggal, serta edukasi ibu atau pengasuh utama tentang perilaku hidup bersih dan sehat. 


Perbaikan nutrisi menjadi komponen utama yang dapat diberikan melalui pemberian MPASI berkualitas dan suplemen vitamin. Tak kalah penting stimulasi psikososial dan perkembangan sesuai usia diperlukan untuk mengatasi dan mencegah gangguan perkembangan lebih lanjut. Menstimulasi anak melalui permainan dan pembelajaran dengan gembira, untuk menunjang tumbuh kembang anak agar optimal.


Untuk mendukung tumbuh kembang anak diperlukan sanitasi, akses air bersih, dan kebersihan lingkungan. Kamar mandi dan jamban yang layak dan akses air bersih penting untuk mewujudkan lingkungan yang sehat dan ramah anak. Faktor lingkungan yang penuh kasih sayang, pola asuh yang baik, dan dukungan masyarakat kepada ibu juga memberi dampak yang positif pada pertumbuhan dan perkembangan anak dan berkontribusi pada manajemen stunting.


Diperlukan perbaikan sosio ekonomi masyarakat untuk pencegahan dan penanganan stunting. Untuk itu diperlukan keterlibatan pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera untuk mengatasinya.


Pokok Permasalahan


Sejatinya, solusi yang diberikan untuk menekan tingginya angka stunting dengan mengurangi angka kelahiran di Indonesia masih belum menyentuh akar permasalahan. Kurangnya asupan gizi adalah bentuk dari ketidakmampuan warga dalam memenuhi kebutuhan pokok hidup yaitu makanan yang bergizi bagi keluarganya. Sulitnya mencari pekerjaan, tingginya harga bahan makanan, tidak adanya jaminan kesehatan dan pendidikan serta tingginya biaya hidup lainnya, menjadi permasalahan yang saling berkelindan. Hal ini menjadi indikasi buruknya riayah negara pada rakyat. Negara tidak mampu menyejahterakan rakyat padahal kita memiliki SDA berlimpah.


Sistem Kapitalisme sekuler meniscayakan negara dengan sumber daya alam berlimpah tapi rakyatnya banyak yang kekurangan. Alih-alih makanan bergizi, bisa makan setiap hari saja sudah beruntung. 


Tidak mandirinya negara dalam pengelolaan SDA dan justru menyerahkannya pada asing adalah jawaban dari fakta miris kehidupan di negeri ini. Bukan karena tidak mampu tetapi karena tidak mau berusaha untuk mandiri. Toh dengan menyerahkan pengelolaan pada swasta, para pejabatnya mampu meraup untung besar. 


Hukum rimba pun berlaku di sistem ini. Siapa yang kuat modal dan kekuasaan maka akan berjaya hidupnya. Sedangkan rakyat miskin akan tetap miskin dan kekurangan. Kesejahteraan hanya berpihak pada penguasa dan pemilik modal.


Dengan sistem semacam ini maka tidak heran jika tingginya angka stunting sulit untuk ditekan. Apalagi solusi yang diberikan hanya bertujuan untuk mengurangi angka kelahiran. Bukankah hanya jadi solusi semu mengurangi angka stunting karena berkurangnya jumlah kelahiran? 


Sejahtera dalam Islam


Kepemimpinan dalam Islam memiliki tujuan utama yaitu menyejahterakan rakyat dalam naungan negara yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Hal ini menjadikan syariat sebagai tolok ukur segala tindakan dan kebijakan yang diambil. 


Dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, negara mengoptimalkan pengelolaan SDA secara mandiri. Hasil pengelolaan akan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk jaminan pemenuhan kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan), pendidikan dan kesehatan serta fasilitas umum. Pengelolaan SDA secara mandiri otomatis membuka banyak lapangan kerja. Perekonomian pun akan semakin kuat ditopang sistem ekonomi Islam.


Tercapainya kesejahteraan rakyat inilah yang akan mengatasi dan mencegah terjadinya stunting. Keluarga yang sejahtera akan memberikan gizi terbaik pada bayi sejak dalam kandungan. Sehingga melahirkan generasi terbaik. Generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang sehat dengan sistem pendidikan terbaik berbasis akidah dan terpenuhinya fasilitas dan dukungan optimal dari negara. Begitulah Islam dengan syariatnya yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a'lam bi ash-shawwab.