Alt Title

Anakku Malang Jangan Ditimang Sayang

Anakku Malang Jangan Ditimang Sayang

Sungguh miris, kasus pembunuhan marak  terjadi dari hari ke hari.Saat beban hidup dirasakan semakin berat dan lapangan kerja pun sulit didapat, pikiran kalut, emosi pun tersulut

Akhirnya membuat seseorang tega melakukan tindakan kekerasan bahkan terhadap istri dan anak-anaknya

__________________________________


Penulis Tinah Ma'e Miftah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi AMK



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Timang-timang anakku sayang
Buah hati ayahanda seorang
Jangan menangis dan jangan merajuk sayang
Tenanglah tenang di dalam buaian


Penggalan lagu yang dinyanyikan oleh Koes Hendratmo di atas menggambarkan betapa sayangnya seorang ayah terhadap anaknya. Ayah yang senantiasa memberikan perlindungan, agar sang anak nyaman dalam tidurnya. Sayang, hal tersebut tidak didapatkan pada diri seorang ayah yang satu ini. Panca Darmansyah (41 tahun), seorang ayah yang tega menghabisi nyawa keempat anak kandungnya, setelah terlebih dahulu menganiaya istrinya 


Diberitakan sebelumnya jika empat bocah ditemukan tewas dalam kondisi berjejer di atas kasur di dalam rumah kontrakan di Jalan Kebayoran Raya Rt. 04/Rw. 03 Jagakarsa, Jakarta Selatan. Panca tega membunuh keempat anak kandungnya yakni VA (6 tahun), SA (4 tahun), AA (3 tahun), AK (1 tahun) dengan cara membekap menggunakan tangannya secara bergantian. Motif pembunuh dipicu karena rasa sakit hati dan cemburu.


Hal itu pun dibenarkan oleh Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Ade Ary Syam Indradi yang mengatakan bahwa berdasarkan pemeriksaan dari 13 saksi serta kesesuaian dengan barang bukti, maka dapat disimpulkan bahwa yang bersangkutan merasa cemburu. "Motif tersangka P ini melakukan perbuatan keji tersebut adalah karena cemburu, cemburu kepada istrinya, saudari D," kata Ade Ary kepada wartawan Selasa, 12 Desember 2023. ( CNN Indonesia[dot]com)


Sungguh miris, kasus pembunuhan marak  terjadi dari hari ke hari. Ironinya, kebanyakan dari kejadian tersebut justru melibatkan orang-orang terdekat korban. Tentu, dengan berbagai motif dan alasan, namun sebagian besar motifnya karena masalah ekonomi. Saat beban hidup dirasakan semakin berat dan lapangan kerja pun sulit didapat, pikiran kalut, emosi pun tersulut. Akhirnya membuat seseorang tega melakukan tindakan kekerasan bahkan terhadap istri dan anak-anaknya.


Program pemberdayaan perempuan, yang diusung oleh sistem kapitalisme ternyata tak mampu menjadi solusi atas permasalahan ekonomi dalam keluarga. Ketika tanggung jawab pemenuhan ekonomi diserahkan kepada istri, sementara pengasuhan anak dilimpahkan kepada suami, justru disitulah letak munculnya masalah baru. Fitrah laki-laki sebagai kepala keluarga, keluar rumah mencari nafkah. Ketika dipaksa harus diam di rumah membuat harga dirinya jatuh di mata istrinya. Begitu juga dengan seorang istri ketika ia merasa mampu menghidupi keluarganya, maka rasa hormat dan taat pada suami tak ada lagi. Pertengkaran pun sering terjadi, dan lagi-lagi anaklah yang menjadi korban.


Padahal, membunuh anak hanya karena takut miskin tergolong ke dalam perbuatan dosa besar menurut syariat Islam. Cerminan ketidakpercayaan kepada Allah Swt., dan kebiasaan orang-orang  jaman jahiliyah. Mereka tega membunuh anak-anak perempuannya, hanya karena anak perempuan dianggap sebagai beban bagi  orang tua. Allah Swt. melarang dengan tegas perbuatan tersebut, sebagaimana yang tertulis di dalam kitab suci Al-Qur'an, Allah Swt. berfirman:


"Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka (dan juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar." (QS Al-Isra: 31)


Berbeda dengan Islam yang telah menetapkan bahwa perempuan (istri) dan anak-anak adalah amanah yang harus dijaga dengan baik oleh para suami. Dijaga kehormatannya, keamanannya, serta dijamin terpenuhi kebutuhan dan hak-haknya. Karena itu Allah Swt. menempatkan posisi laki-laki sesuai dengan fitrahnya. Laki-laki dengan fisik yang kuat, dan ketegasan yang dimiliki,  mampu mengemban amanah sebagai seorang pemimpin, pengatur, sekaligus pelindung dalam kehidupan rumah tangga. Hal ini sesuai dengan apa yang tertulis di dalam Al-Qur'an. Allah Swt. berfirman:


"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga  diri ketika suami tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka." (QS An-Nisa: 34)


Dari ayat ini, jelas bahwa kewajiban bagi seorang suami  juga harus diimbangi dengan ketaatan seorang istri. Seorang istri wajib taat terhadap perintah suami selama itu tidak  bertentangan dengan perintah Allah Swt. Istri adalah partner suami, sekaligus pengasuh, pendidik, dan pembimbing bagi anak-anaknya. Agar mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, kuat, dan pastinya juga bertakwa kepada Allah Swt. Dengan begitu, terbentuklah ikatan keluarga yang kokoh, yang mampu bertahan mengatasi setiap kesulitan, tantangan dan hambatan. Bersabar dan tawakal, menyandarkan semua hanya kepada Allah Swt., sambil terus mengharap dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Karena mereka yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah Swt. tidak akan membiarkan dan menelantarkan hamba-hamba-Nya. 


Meski begitu, jaminan kesejahteraan keluarga pun bukan hanya menjadi tanggung jawab suami secara mutlak. Negara pun harus ikut ambil bagian dari tanggung jawab ini. Negara wajib menjamin tersedianya kebutuhan ekonomi rakyat, seperti sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan serta keamanan. Menyediakan berbagai lapangan kerja, khususnya bagi para laki-laki agar mereka dengan mudah menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami dan pemimpin bagi keluarganya. Sayang, semua itu hanya bisa terwujud jika negara menerapkan sistem Islam secara kafah. Karena itu, menjadi kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim untuk terus berjuang mewujudkannya. Aamiin.. Wallahualam bissawab. [GSM]