Alt Title

Ramadan : Bulan Penuh Ampunan, Momen Perjuangan

Ramadan : Bulan Penuh Ampunan, Momen Perjuangan



Ramadan tidak boleh menyebabkan seorang Muslim menjadi lemah, berdiam diri, apalagi bermalas-malasan. Justru umat Islam harus lebih produktif meraih kemenangan dalam berbagai aspek, sebagaimana Rasulullah yang berhasil mencapainya di beragam peristiwa penting dalam sejarah Islam

________________________________________________________________________ 


Penulis Nurul Putri K.

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com-Tidak terasa kita telah memasuki pertengahan bulan puasa, yang penuh rahmat dan ampunan. Dimana kita ditempa untuk menahan segala hawa nafsu, mulai dari makan, minum, amarah dan lain sebagainya. Istilah setan dibelenggu pun sering kita dengar. Namun faktanya apa yang tampak tidak sesuai dengan yang tengah terjadi.


Kendati Ramadan, ternyata tidak menghalangi maraknya kemaksiatan. Kita sering menjumpai orang-orang yang dengan santainya, tanpa merasa malu makan minum di siang hari, warung-warung makan masih tetap buka dan tidak sepi pelanggan. Di sisi lain, tingkat kriminal pun tidak pernah berkurang. Beberapa titik di wilayah-wilayah tertentu, masih menjadi tempat rawan kejahatan. Salah satu contohnya seperti yang terjadi di wilayah Tangerang Selatan. Benyamin Davnie selaku Walikota setempat berkoordinasi dengan Polres Tangsel untuk mengantisipasi gangguan keamanan selama Ramadan berlangsung.


Antisipasi ini dilakukan menyusul terjadinya peningkatan kenakalan remaja yang mengarah pada perbuatan kriminal seperti tawuran, balap liar, perang sarung dan lain sebagainya. Untuk itu pihaknya bekerja sama dengan jajaran kepolisian, agar masyarakat merasa aman dan kondusif selama menjalankan ibadah puasa. (Kompas[dot]com, 27 Maret 2023)


Inilah realitas menjalani puasa di tengah naungan Kapitalisme, alih-alih kekhusyukan yang didapat, justru masyarakat dihadapkan pada perasaan waswas dan tidak aman.  Karena negara tidak mampu memberikan jaminan keamanan. Kondisi ini terjadi, selain karena lemahnya pengontrolan yang dilakukan penguasa, juga diakibatkan oleh minimnya pemahaman tentang hakikat puasa itu sendiri, dikaitkan dengan hukum-hukum yang ada di dalamnya dan keutamaan menjalaninya.


Seperti yang kita tahu, Ramadan selain disebut sebagai Syahrus Shiyam (bulan diwajibkan berpuasa), juga disebut sebagai Syahrul Jihad wal Intisharat (bulan jihad dan kemenangan). Dalam sejarah perkembangan Islam, terdapat ragam perjuangan umat Islam, baik dalam konteks jihad perang maupun pembebasan dan kemenangan umat Islam lainnyaa. Tidak sedikit peristiwa yang terjadi pada bulan Ramadan. Sebagai bulan suci yang penuh keistimewaan, pahala ibadah seorang hamba pun dilipatgandakan. Allah Swt. menjanjikan limpahan rahmat, ampunan dan keberkahan, menghadirkan malam Lailatul Qadar, yang kualitasnya sama dengan seribu malam.


Selain keistimewaan di atas, bulan Ramadan pada zaman Rasul dan para sahabat juga bertepatan dengan berbagai peristiwa penting peperangan dan kemenangan. Misalnya  perang Badar, peristiwa perang dahsyat yang terjadi di bulan suci Ramadan dalam sejarah peradaban Islam sekitar 624 M/17 Ramadan tahun ke-2 H di Madinah. Selain itu juga ada Fathu Makkah (perebutan kembali kota suci Makkah) terjadi pada bulan Ramadan tahun ke-8 Hijriyah. Dimana umat Islam harus bisa menaklukkan musuh tidak nyata yang bermakna hawa nafsu melalui berpuasa. 


Setiap Muslim diwajibkan untuk berpuasa pada suatu momen yang disebut sebagai bulan jihad dan perjuangan dan semangat kemenangan. Ramadan tidak boleh menyebabkan seorang Muslim menjadi lemah, berdiam diri, apalagi bermalas-malasan. Justru umat Islam harus lebih produktif meraih kemenangan dalam berbagai aspek, sebagaimana Rasulullah yang berhasil mencapainya di beragam peristiwa penting dalam sejarah Islam. 


Jihad merupakan puncak kesabaran, pengorbanan, keikhlasan seorang hamba demi Allah semata. Berkaca dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama Ramadan tersebut, seharusnya menjadi momentum bagi seluruh kaum Muslim untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat dan generasi setelahnya. Hal ini bisa kita rasakan saat ini, betapa umat Islam dirundung berbagai persoalan yang tak kunjung usai akibat dari implementasi demokrasi sekularisme. Nabi Muhammad saw. bersabda:


“Dan yang disebut dengan mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad)


Kita pun merasakan bagaimana tragisnya nasib yang menimpa saudara seiman di sejumlah negeri kaum Muslim. Palestina telah lama kehilangan sebagian besar tanah airnya. Puluhan ribu warganya terbunuh, sebagian lagi dipenjara tanpa pengadilan, dan yang lainnya masih terus mengalami kekerasan dari militer Israel hingga saat ini. Belum lagi negeri-negeri kaum Muslim lainnya seperti di Rohingya, Cina dan lainnya yang hingga  kini masih belum merasakan ketenangan dan ketenteraman.


Inilah realitas hidup dalam naungan kepemimpinan lain selain Islam. Hanya dengan diterapkannya syariat Allah secara menyeluruh saja seluruh permasalahan kehidupan akan mampu terselesaikan. Kepemimpinan seorang penguasa Muslim akan meniscayakan itu semua karena hakikatnya ia adalah pelindung bagi umatnya, sebagaimana sabdanya:


"Sungguh Imam (Khalifah) adalah perisai/pelindung; orang-orang berperang di belakang dirinya dan menjadikan dia sebagai pelindung." (HR. Muslim)


Wallahualam bissawab. []