Alt Title

TBC MOMOK BAGI INDONESIA, MUNGKINKAH TERATASI?

TBC MOMOK BAGI INDONESIA, MUNGKINKAH TERATASI?



Permasalahan TBC di negeri ini bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi masalah yang saling berkaitan antara faktor yang satu dengan faktor yang lain. Maka, semua faktor itu bisa muncul sebagai akibat penerapan sistem kehidupan di negeri ini yang sekuler kapitalistik 


Praktik pelayanan negara terhadap berbagai urusan rakyat yang seharusnya menjadi prioritas utama justru terabaikan. Negara disibukkan dengan urusan korporasi yang melibatkan para pengusaha


Penulis Nur Syamsiah Tahir

Kontributor Kuntum Cahaya, Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi AMK


KUNTUMCAHAYA.com-Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali
Kutipan lirik lagu tersebut seringkali diperdengarkan bahkan disenandungkan oleh peserta didik di tingkat TK maupun PAUD. Mereka menyanyikannya dengan riang gembira, dipadu dengan gerak tangan dan seluruh anggota tubuh, sehingga kegembiraan terus melingkupi mereka dan menjadikan mereka betah di lingkungan belajarnya. Hanya saja, kondisi ini jelas berbeda saat kenaikan yang terjadi justru menimpa pada kasus TBC yang saat ini merebak di tengah masyarakat, khususnya pada anak-anak.


Sebagaimana dilansir oleh cnnindonesia[dot]com (18/3/2023), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan terjadi kenaikan sangat signifikan atas temuan kasus Tuberkulosis (TBC) pada anak di Indonesia. Kenaikan itu bahkan melebihi 200 persen.


Sungguh, kondisi ini amat mencengangkan. Pasalnya, Indonesia baru saja terlepas dari kasus pandemi Covid-19 dan kini dilanda kasus TBC, dimana keduanya masih terkait erat dengan masalah pernafasan. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes Imran Pambudi sendiri menilai bahwa kenaikan ini terjadi lantaran banyak orang tua yang tidak menyadari gejala TBC, bahkan tidak segera mengobati penyakitnya. Akibatnya penyakit tersebut menular pada kelompok rentan, yakni anak-anak.


Dalam acara daring 'Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2023', Jumat (17/3) Imran mengatakan, kasus TBC anak mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Pada tahun 2021 ada 42.187 kasus, kemudian 2022 meningkat menjadi 100.726 kasus. Di samping itu, Kemenkes juga menerima laporan bahwa penyakit menular ini telah menginfeksi 18.144 anak sampai bulan Maret ini. Hal ini berarti, secara kumulatif 443.235 kasus TBC terjadi pada tahun 2021 dan kondisi ini naik menjadi 717.941 kasus pada 2022. Sedangkan berdasarkan data Global TB Report 2022, Indonesia menempati posisi di peringkat kedua dengan beban kasus TBC terbanyak di dunia setelah India, dengan perkiraan kasus baru sebanyak 969 ribu.


Menelisik fakta ini muncul pertanyaan, bagaimana hal ini bisa terjadi? Jika ditelusuri, kasus TBC muncul tidak hanya pada saat ini. Jauh sebelum pandemi Covid-19 mendunia, TBC telah merebak juga. Merebaknya penyakit yang bisa berakhir dengan kematian ini tidak hanya disebabkan oleh satu hal, melainkan banyak hal. Pertama, kondisi lingkungan. Penyakit TBC bisa merebak karena faktor lingkungan tempat tinggal. Sebagaimana informasi di laman Alodokter (10-6-2022), beberapa kelompok berisiko tinggi tertular TBC, antara lain orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh, orang lanjut usia dan anak-anak, orang yang mengalami kekurangan gizi, orang yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah seperti penderita HIV, kanker, dan lain sebagainya. 


Sebaliknya, lingkungan tempat tinggal yang bersih, sanitasi yang memadai, dan penerapan pola hidup yang sehat akan mampu mengurangi penyebaran penyakit ini. Meski tak jarang penyakit TBC juga menjangkiti orang yang hidup di lingkungan bersih.  Hanya saja, kemungkinannya amat kecil. 


Kedua, faktor kemiskinan. Masyarakat yang miskin rentan terjangkit penyakit ini, karena mayoritas masyarakat pada level ini  tinggal di pemukiman yang padat dan kumuh. Jangankan untuk memikirkan masalah rumah dan lingkungan yang bersih, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja mereka terengah-engah. Apalagi yang hidup di perkotaan dengan derajat kepadatan dan kebutuhan yang tinggi. Namun, tak jarang masyarakat yang tinggal di pedesaan dengan kondisi alam yang lebih bersih dan derajat kepadatan kecil juga berpeluang untuk terjangkit penyakit ini.


Ketiga, tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan dan pengetahuan besar pengaruhnya dalam penyebaran penyakit ini. Hal ini setali tiga uang dengan kemiskinan. Masyarakat yang miskin cenderung memiliki tingkat pendidikan yang rendah, apalagi dalam sistem kehidupan saat ini. Biaya pendidikan amat mahal. Sekalipun pada faktanya ada pula penderita TBC dengan latar pendidikan yang tinggi. Hal ini terjadi sebagai hasil dari pengabaian terhadap kondisi yang ada.


Penyebab lain adalah peran negara. Di dalam kehidupan masyarakat, peran negara amat besar dalam semua aspek termasuk dalam masalah kesehatan. Terciptanya lingkungan yang bersih, kondisi kemiskinan yang teratasi, dan terselenggaranya pendidikan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat akan mampu menopang tingkat kesehatan masyarakatnya, termasuk mampu mencegah penyebaran virus TBC.


Dengan demikian, permasalahan TBC di negeri ini bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi masalah yang saling berkaitan antara faktor yang satu dengan faktor yang lain. Maka, semua faktor itu bisa muncul sebagai akibat penerapan sistem kehidupan di negeri ini yang sekuler kapitalistik. 


Praktik pelayanan negara terhadap berbagai urusan rakyat yang seharusnya menjadi prioritas utama justru terabaikan. Negara disibukkan dengan urusan korporasi yang melibatkan para pengusaha. Mereka adalah pemeran utama dalam pergerakan ekonomi negara. Semua tender diproyeksikan kepada para pemilik modal. Sebaliknya, pengusaha dengan modal tipis tersingkirkan. Apalagi rakyat di lapisan bawah hanya diposisikan sebagai konsumen yang harus menanggung tingginya biaya hidup. 


Dengan demikian, berbagai urusan masyarakat termasuk kesehatan beserta jaminan keamanan hidup hanya akan terpenuhi jika uang ada. Sebaliknya, jika uang tak ada,  maka masyarakat hanya gigit jari. Kemewahan yang disodorkan oleh sumber daya alam negeri ini hanya mampu dinikmati oleh segelintir orang yang nota bene mereka adalah para pemilik modal.


Di sini,  jelas negara lepas tangan dari semua urusan masyarakat yang nyata-nyata menjadi tanggung jawabnya. Akibatnya, kesejahteraan yang diidam-idamkan masyarakat di nusantara ini hanyalah ilusi. Selama Kapitalisme dijadikan dasar dalam menjalankan negara, maka kesejahteraan hanya impian bagi masyarakat.  Bahkan tanda-tanda kehancuran negara bersama rakyatnya semakin di pelupuk mata. 


Oleh karena itu, umat Islam selayaknya kembali pada sistem yang pernah berjaya di bumi ini. Sistem yang telah menyejahterakan umatnya selama 13 abad. Islam juga telah menguasai 2/3 wilayah dunia. Negara Islam menjadi magnet kesejahteraan, kesehatan, bahkan keamanan rakyatnya.


Islam yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. tidak hanya menyangkut masalah akidah saja. Islam tidak hanya mengatur urusan hamba dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur masalah manusia dengan dirinya sendiri, urusan manusia dengan sesamanya, dan urusannya dengan makhluk ciptaan Allah Swt. Sang Pencipta bahkan memerintahkan manusia untuk masuk Islam secara kafah sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208:


يَا اَيُّهَا الَّذِينَ اَمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كآفَّةً


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah.” 


Dari ayat ini, bisa dipahami bahwa manusia yang beriman dituntut untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, bukan sebagian atau separuhnya saja. Artinya,  semua urusan manusia, baik saat berurusan dengan Sang Pencipta (beribadah), maupun saat berurusan dengan sesama manusia dan sesama makhluk (bermuammalah) termasuk urusan bernegara harus merujuk pada aturan Islam. Ketika kaum Muslimin termasuk penguasanya merujuk secara totalitas pada Islam, maka secara otomatis kesejahteraan dan kedamaian itu akan terwujud. Hal ini karena pada dasarnya Islam itu memuaskan akal, menenteramkan hati, dan sesuai dengan fitrah manusia.


Demikian pula dalam menyikapi permasalahan TBC. Solusi yang akan diambil oleh negara berupa solusi yang bisa menuntaskan masalah. Negara tidak hanya fokus pada masalah penyebaran dan upaya penyembuhannya. Negara tidak hanya akan menghentikan penyebaran virus ini dengan berbagai tindakan nyata berupa mendatangkan para dokter yang ahli dengan penyakit TBC, pemberian obat-obatan secara gratis, dan pemberian vaksin anti virus TBC.


Akan tetapi, negara menyelenggarakan kehidupan masyarakatnya dengan tempat tinggal yang memadai, lingkungan yang bersih, memenuhi kebutuhan pendidikan para peserta didik di berbagai level lengkap dengan sarana dan prasarananya. Bahkan negara juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi usia produktif terutama para lelakinya, agar tidak muncul masalah kemiskinan. Negara akan menciptakan rasa aman di tengah kehidupan warga negaranya. Alhasil, tidak hanya masalah kesehatan yang teratasi. Kesejahteraan masyarakat benar-benar akan terwujud secara totalitas, sebagaimana yang pernah tercipta selama 13 abad yang lampau. Wallahu a'lam bi ash-shawwab.