Alt Title
Ibu Generasi Ideologis: Pilar Kebangkitan Umat di Tengah Sistem Sekuler

Ibu Generasi Ideologis: Pilar Kebangkitan Umat di Tengah Sistem Sekuler




Ibu harus menyiapkan anak-anaknya sebagai abdullah yang taat kepada Allah

khalifah fil ardh yang bertanggung jawab mengelola kehidupan sesuai syariat, serta menjadi bagian khairu ummah

_________________________


Penulis Fatimah Al Fihri

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Menjadi ibu di era sekarang bukanlah hal yang mudah. Kaum ibu hari ini dituntut berjuang lebih keras dalam mendidik anak terutama di era digital.Seiring masifnya paparan gawai dan media sosial yang memengaruhi pembentukan karakter anak. Peran ibu menjadi lebih berat karena salah satunya melawan kecanduan handphone. (antaranews.com, 22-12-2025)

 
Oleh karena itu, ibu dituntut menjadi sosok yang tangguh, sehat, dan penuh dedikasi dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Ibu memiliki peran yang sangat mulia sekaligus strategis dalam Islam. Ia bukan hanya berperan di level domestik saja dalam keluarga, tetapi juga berperan dalam level yang lebih tinggi sebagai pendidik generasi.
 
 
Dari rahimnya kelak, akan lahir generasi yang menentukan arah perubahan umat, apakah tetap berjalan di atas koridor Islam atau justru terseret arus kebatilan. Oleh sebab itu, membicarakan peran ibu sejatinya adalah membicarakan masa depan umat dan peradaban.


Peran Ideal Ibu: Mencetak Generasi Pemimpin dan Penakluk


Peran ideal seorang ibu adalah mencetak generasi pemimpin dan penakluk, yakni generasi yang tidak takut kepada apa pun dan siapa pun kecuali kepada Allah Swt.. Generasi yang berani menyampaikan kebenaran, teguh memegang prinsip Islam, serta tidak tunduk pada tekanan zaman. Mereka adalah generasi visioner yang tujuan hidupnya tidak berhenti pada dirinya sendiri dan urusan dunia, tetapi menembus ke langit menuju surga.


Generasi seperti ini tidak lahir dari pendidikan yang biasa saja dan sekadar mengikuti arus. Ia dibentuk oleh ibu yang memahami bahwa anak bukan hanya amanah biologis, melainkan amanah ideologis. Dari sinilah lahir peran ibu generasi ideologis, yaitu ibu yang memadukan perannya sebagai pendidik anak dengan kewajiban berdakwah.


Dakwah seorang ibu dimulai dari rumah. Ia menanamkan Islam sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak. Kesadaran politik Islam menjadi bagian penting dari peran ini karena ibu generasi ideologis memahami bahwa kehidupan manusia diatur oleh sistem. Ia sadar bahwa berbagai persoalan umat mulai dari kemiskinan, ketidakadilan, rusaknya moral, hingga krisis keluarga bukan semata kesalahan individu, tetapi akibat diterapkannya sistem yang menjauh dari syariat Islam.


Dengan kesadaran politik yang tinggi, seorang ibu akan mampu memberikan makna dan nyawa pada perannya. Bagi ibu generasi ideologis, aktivitas mendidik anak tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi menjadi bagian dari cita-cita besar yaitu menyiapkan generasi yang kelak akan memimpin umat. Ia paham bahwa pemimpin umat tidak lahir tiba-tiba, melainkan dibentuk sejak dini melalui pendidikan ideologis yang konsisten.


Sejarah Islam memberikan banyak teladan. Ibu Imam Syafi’i mendidik anaknya dengan kesungguhan meski hidup dalam keterbatasan. Ibunda Salahuddin al-Ayyubi menanamkan kecintaan pada Islam dan semangat perjuangan sejak kecil, hingga lahir pemimpin besar pembebas Baitul Maqdis. Semua ini menunjukkan bahwa ibu yang memiliki visi ideologis mampu melahirkan generasi yang mengubah sejarah.


Tantangan Peran Ibu di Tengah Sistem Sekuler


Namun, peran mulia ini menghadapi tantangan besar dalam sistem sekuler. Serangan pemikiran dan budaya datang dari berbagai arah. Narasi kesetaraan gender versi Barat, HAM liberal, dan moderasi beragama membentuk lingkungan yang merusak cara pandang umat. Menjadi ibu tidak lagi dipahami sebagai amanah strategis, melainkan dipersempit menjadi pilihan personal yang bisa ditinggalkan.


Serangan ini makin menguat melalui dunia digital. Media sosial, konten hiburan, dan informasi tanpa filter dengan mudah menguasai ruang keluarga. Nilai-nilai liberal dinormalisasi, gaya hidup bebas dipromosikan, sementara Islam dipinggirkan sebagai urusan privat. Tanpa kesadaran ideologis, ibu akan kesulitan membentengi anak-anaknya dari arus ini.


Di sisi lain, sistem ekonomi kapitalisme membuat peran perempuan makin berat. Tekanan ekonomi memaksa kaum ibu memikul beban ganda. Negara tidak hadir menjamin kebutuhan dasar keluarga, sementara perempuan didorong masuk ke pasar kerja demi menopang ekonomi. Akibatnya, peran ibu sebagai pendidik utama generasi menjadi terpinggirkan.


Kondisi ini merupakan bagian dari kerusakan yang lahir dari sistem buatan manusia. Allah Swt. mengingatkan:

 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)


Kerusakan keluarga, generasi, dan peran ibu yang kita saksikan hari ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan konsekuensi dari penerapan sistem sekuler yang menjauhkan kehidupan dari aturan Allah.


Peran Riil Ibu Saat Ini: Dari Rumah hingga Perubahan Sistem


Di tengah kondisi tersebut, peran riil ibu harus dimulai dengan menetapkan visi pendidikan yang jelas. Ibu harus menyiapkan anak-anaknya sebagai abdullah yang taat kepada Allah, khalifah fil ardh yang bertanggung jawab mengelola kehidupan sesuai syariat, serta menjadi bagian khairu ummah yang membawa kebaikan bagi umat manusia.


Visi ini tidak akan bermakna tanpa keteladanan. Karena itu, ibu harus menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Keteguhan akidah, kesungguhan beribadah, keberanian bersikap terhadap kebatilan, serta kepedulian terhadap urusan umat adalah pendidikan paling efektif bagi anak.


Namun, peran ibu tidak cukup jika berhenti pada ranah keluarga. Kerusakan yang bersifat sistemik menuntut solusi yang juga sistemik. Selama sistem kapitalisme sekuler tetap diterapkan, peran ibu akan terus tergerus dan generasi akan terus menjadi korban. Oleh karena itu, upaya mencetak generasi ideologis harus dibarengi dengan perjuangan untuk mengubah sistem rusak ini menuju sistem Islam yang benar dan menyejahterakan.


Menjadi ibu generasi ideologis berarti berdiri di barisan terdepan penjaga arah umat. Dari rumah-rumah yang dipenuhi kesadaran Islam, akan lahir generasi pemimpin yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga siap memimpin umat keluar dari krisis menuju kehidupan yang diridai Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

Era Digital Kapitalisme: Tantangan bagi Aktivisme Gen Z

Era Digital Kapitalisme: Tantangan bagi Aktivisme Gen Z




Selama kapitalisme sekuler masih mendominasi ruang digital

generasi muda akan terus terpapar nilai asing yang mengikis identitas keislaman


_____________________


Penulis Irmawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perkembangan era digital yang begitu cepat sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z. Internet dan media sosial bukan lagi sesuatu yang istimewa, melainkan kebutuhan harian. Hampir semua aktivitas, mulai dari belajar, berkomunikasi, hingga mengekspresikan diri, dilakukan melalui ruang digital.


Hal ini tidak mengherankan karena Gen Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh dan berkembang bersama teknologi sejak usia dini. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet pada semester pertama tahun ini adalah 229.428.417 jiwa. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan kenaikan yang signifikan.


Kelompok yang paling dominan dalam penggunaan internet adalah Generasi Z. Dengan kontribusi 25,54 persen dari total pengguna. Disusul Generasi Milenial sebesar 25,17 persen dan Generasi Alpha sebesar 23,19 persen. (Cloud Cumputing Indonesia, 12-08-2025)


Kemajuan teknologi informasi sejatinya memberikan banyak kemudahan. Akses terhadap ilmu pengetahuan makin terbuka, komunikasi dapat dilakukan tanpa batas wilayah, dan partisipasi sosial menjadi lebih luas. Media digital memberi ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam berbagai isu.


Namun, di balik kemudahan tersebut realitas yang dihadapi Gen Z tidak selalu sejalan dengan harapan. Era digital justru membawa pengaruh besar terhadap pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda. Media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana berekspresi, melainkan berubah menjadi ruang persaingan yang sarat tekanan.


Nilai diri seseorang sering kali diukur dari angka-angka di layar. Jumlah tanda suka, komentar, dan pengikut. Gaya hidup Gen Z banyak dipengaruhi oleh algoritma serta tuntutan sosial yang kerap tidak realistis. Akibatnya, banyak yang merasa harus terus tampil sempurna agar diakui keberadaannya.


Tekanan dari lingkungan digital turut berdampak pada kesehatan mental. Rasa cemas, stres, hingga depresi makin sering dialami remaja akibat tuntutan untuk selalu aktif dan terlihat ideal di media sosial. Berbagai survei menunjukkan adanya peningkatan gangguan mental di kalangan remaja yang berkaitan dengan penggunaan media digital.


Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan mencatat bahwa 5,5 persen remaja usia 10–17 tahun mengalami gangguan mental. Rinciannya meliputi 1 persen depresi, 3,7 persen gangguan kecemasan, 0,9 persen PTSD, serta 0,5 persen ADHD. Selain itu, survei di 26 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa media sosial menimbulkan rasa cemas yang lebih tinggi pada Gen Z dibandingkan generasi sebelumnya.


Kondisi ini membuat Gen Z kerap dipersepsikan sebagai generasi yang rapuh dan rentan. Padahal di balik tekanan tersebut Gen Z memiliki potensi besar sebagai pelopor perubahan. Daya kritis dan kemampuan mereka dalam memobilisasi opini publik menjadi kekuatan penting jika diarahkan dengan tepat. Aktivisme Gen Z seharusnya tidak berhenti pada sekadar mengikuti tren, tetapi berlandaskan nilai yang jelas.


Gen Z bukan sekadar generasi hari ini, melainkan penentu masa depan. Pilihannya adalah terus hanyut mengikuti arus digital atau bangkit membangun peradaban yang berakar pada nilai. Arah masa depan sangat ditentukan oleh keputusan yang diambil saat ini.


Ruang Digital yang Sarat Kepentingan


Ruang digital pada dasarnya tidak bersifat netral. Ia dibangun dalam sistem kapitalis sekuler yang menempatkan keuntungan dan kepuasan instan sebagai tujuan utama. Platform digital dirancang bukan untuk mendidik atau membentuk karakter, melainkan untuk mempertahankan perhatian pengguna demi profit.


Akibatnya, seseorang sering dinilai dari tingkat popularitasnya. Konten yang dominan mengusung nilai kebebasan tanpa batas, konsumerisme, dan kesenangan sesaat. Banyak generasi muda yang rela mengubah karakter demi eksistensi, bahkan memilih jalan pintas seperti berutang agar terlihat diakui.


Meski Gen Z memiliki potensi kreativitas dan aktivisme yang besar, banyak gerakan yang muncul bersifat sementara. Tekanan hidup yang makin kompleks membuat sebagian anak muda terjebak dalam gaya hidup konsumtif, kehilangan arah, dan putus asa. Hal ini terjadi karena tidak adanya landasan pemikiran yang kuat sebagai dasar perjuangan menuju perubahan yang hakiki.


Islam sebagai Jalan Penyelamatan Generasi


Dengan potensi kritis dan kreatif yang dimiliki, Gen Z sejatinya dapat berperan sebagai agen perubahan dan pengontrol sosial, terutama di ruang digital. Oleh karena itu, menyelamatkan generasi dari dominasi kapitalisme sekuler menjadi hal yang sangat penting.


Upaya tersebut tidak cukup dilakukan hanya dengan membatasi penggunaan media digital. Lebih mendasar adalah perubahan paradigma berpikir, yaitu membentuk akal dan hati agar tidak terjebak pada pemikiran yang memisahkan agama dari kehidupan. Paradigma ini perlu digantikan dengan pemahaman Islam secara menyeluruh.


Islam harus dipahami sebagai sistem hidup yang mengatur cara berpikir, bersikap, dan berjuang, bukan sekadar ritual ibadah. Dengan paradigma Islam, Gen Z mampu membedakan mana tren sesaat dan mana perjuangan jangka panjang yang benar-benar bermakna. Aktivisme pun diarahkan pada solusi yang bersifat sistemis dan ideologis.


Melalui pendidikan Islam, regulasi media yang sesuai syariat, serta komunitas yang saling menguatkan, era digital dapat menjadi awal kebangkitan generasi islami. Generasi yang kokoh dalam iman, jernih dalam berpikir, dan kuat dalam moralitas. Generasi yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan sebagai jebakan.


Namun, perubahan ini tidak dapat dilakukan oleh individu semata. Diperlukan peran keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga menjadi fondasi utama dalam menanamkan akidah sejak dini. Masyarakat menciptakan lingkungan yang sehat dan bernilai. Sementara negara berperan melalui sistem pendidikan, kebijakan media, ekonomi, dan politik yang melindungi generasi.


Selama kapitalisme sekuler masih mendominasi ruang digital, generasi muda akan terus terpapar nilai asing yang mengikis identitas keislaman. Mereka berisiko menjadi sekadar pengguna teknologi, bukan pembangun peradaban.


Perubahan sejati hanya dapat terwujud melalui pemikiran ideologis yang mampu menggantikan pemikiran yang rusak. Tanpa itu, gerakan apa pun hanya akan menjadi fenomena sesaat, bukan perubahan yang hakiki. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Inspirasi Kriminal Game Online Mengintai Generasi

Inspirasi Kriminal Game Online Mengintai Generasi



Menjaga generasi muda dari kerusakan moral dan kebodohan

yang diakibatkan oleh kekerasan di game online merupakan suatu kewajiban

______________________________


Penulis Aksarana Citra 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Permasalahan remaja dan generasi muda seakan tidak pernah ada habisnya. Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda hari ini begitu mudah terpapar berbagai isu dan pengaruh dari luar. Hegemoni ruang digital menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat bahkan mendominasi hampir seluruh aspek kehidupan. 


Ironisnya, kemajuan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas manusia. Di saat teknologi melesat jauh ke depan, akhlak dan cara berpikir sebagian generasi justru menunjukkan gejala kemerosotan. Nilai-nilai moral makin tergerus, kontrol diri melemah, dan kekerasan kerap dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.


Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apa yang sebenarnya salah dalam arah pembinaan generasi hari ini? Apakah merupakan persoalan individu atau persoalan sistemik yang sudah mengakar dan sulit diatasi selain dengan solusi sistemik. 


Seorang siswa SMP di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), berusia 13 tahun membuat geger setelah mengirim ancaman bom melalui grup WhatsApp. Pengakuan dari anak tersebut ia melakukan karena iseng dan sekadar ikut-ikutan, tetapi akibat yang ditimbulkan kegaduhan atas ancaman tersebut. Dari hasil penyelidikan polisi, anak tersebut diduga terpengaruh permainan game online, seperti Roblox dan pelaku pernah menjadi korban bully. (detiknews.com, 10-12-2025)

 

Bulan November lalu, negeri ini dilemparkan dengan ledakan yang terjadi di SMA 72 Jakarta setelah ditelusuri oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) pelaku peledakan yang masih siswa SMA 72 Jakarta itu tergabung pada grup daring True Crime Community, dan temuan ini mengindikasikan bahwa pelaku terpapar kekerasan berbasis peniruan atau memetic violence. (bbcnews.com, 10-11-2025)


Kasus pembunuhan yang membuat geger bocah kelas 6 SD tega membunuh ibu kandungannya karena terpengaruh game online dan serial anime. Kini anak tersebut berstatus anak yang benkonflik dengan hukum dan saat ini ada di rumah aman serta di bawah pengawasan polisi dan psikologi. (detiksumut.com, 30-12-2025)

 

Melihat dari kasus-kasus di atas dilatarbelakangi karena terpangaruh game online. Contoh dari kasus bocah SD yang membunuh ibunya ditemukan fakta selain hubungan keluarga yang tidak harmonis, game online Murder Mystery dan serial anime Detective Conan menginspirasi pelaku.


Setelah ditelusuri apa yang dilakukan pelaku bukan karena gangguan mental, tetapi dipicu karena pengalaman kekerasan yang dialami atau disaksikan ditambah emosi yang masih labil yang cenderung memendam kemarahan sehingga akhirnya menjadi tindakan luapan emosional outburs (ledakan emosional). Karena game online yang mengandung kekerasan dan banyak contoh tindak pembunuhan serta akses yang mudah, membuat anak anak gampang terpengaruh secara emosi dan kesehatan mental.  


Generasi muda kini tumbuh di derasnya arus media sosial teknologi digital game online. Platform digital yang di mana itu semua tidak netral karena tumbuh di ekosistem kapitalisme sekularisme yang alogaritmanya membentuk tren opini dan memengaruhi pola pikir dan pola sikap pada remaja dan anak. 


Dalam sekularisme kapitalis banyak game online yang merusak dikemas dalam bentuk menarik. Banyak game yang bermuatan kekerasan yang sangat eksis di kalangan anak-anak. Contohnya saja PUBG Mobile, Free Fire, Call of Duty di mana game-game tersebut menormalisasi pembunuhan, agresifitas tinggi, glorifikasi perang dan kekerasan, maka anak terbiasa dengan visual senjata dan membunuh.


Paling brutal adalah Murder Mystery pada season kill other dengan jelas mempertontonkan adegan pembunuhan memakai pisau yang terasa sangat realistis. Banyak game lain yang berisiko kriminalitas dinormalisasi, nilai moral terbalik karena pemeran utama merupakan penjahatnya. Lalu toxic behavior makin emosi tidak stabil, konten yang sulit dikontrol interaksi bebas dengan orang asing yang membuka ruang eksploitasi anak.


Selain itu, pembiasaan manipulasi dan kebohongan, stres kecanduan bahkan judi terselubung. Ruang digital yang seharusnya bermanfaat bagi generasi karena menawarkan segala kemudahan, malah dimanfaatkan oleh kapitalisme global untuk meraup keuntungan tanpa mempedulikan kerusakan generasi dan kehidupan manusia.


Padahal dengan kita merusak generasi itu otomatis masa depan yang cerah hanya sebuah mimpi kosong semata. Elite global yang berasaskan kapitalisme sekularisme dan liberalisme nyatanya berhasil mengontrol kita dan melahirkan generasi dengan pola sikap dan pola pikir mereka. 


Kerusakan moral, ketimpangan ekonomi, kemiskinan struktural karena di kapitalisme yang bermodalah yang bertahan. Kemiskinan kini bukan karena malas, tetapi karena sudah didesain agar seperti itu. Mereka tidak takut rakyat miskin, mereka takut ketika rakyat terlalu kritis dan cerdas dan dengan game online, medsos, platform digital yang tidak netral itu adalah senjata mereka membuat para generasi muda terjerumus pada kerusakan moral dan kebodohan.


Inilah penjajahan modern atau neoimperialisme. Di mana penjajahan tidak secara fisik lagi, tetapi pada pemikiran kita. Negara tidak mampu melindungi generasi dari kerusakan dan kebodohan akibat dari game online dengan konten kekerasan. 


Dalam pandangan Islam, Islam mewajibkan negara menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan. Mau itu kerusakan yang membahayakan akal dan jiwa. Karena kepemimpinan dalam Islam adalah amanah yang wajib dijaga bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban syar’i.


Hegemoni ruang digital oleh kapitalisme global harus dilawan dengan kekuatan kedaulatan digital di mana negara Khil4fah yang memegang kendali atas kedaulatan tersebut. Khil4fah tidak akan tunduk pada korporasi Barat karena segala yang ada di bumi ini adalah amanah yang harus dijaga.


Menjaga generasi muda dari kerusakan moral dan kebodohan yang diakibatkan oleh kekerasan di game online merupakan suatu kewajiban. Negara di bawah naungan Khil4fah akan memastikan bahwa game online tidak akan merusak, tetapi sebaliknya membuat anak makin pintar dan kreatif. 


Kerusakan generasi bisa ditangkal dengan 3 pilar (ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan perlindungan negara). Ketakwaan individu yakni kesadaran individu akan keterikatan dengan hukum Allah dalam segala aspek kehidupannya baik dalam ibadah dan akhlak. Perbuatan anak-anak akan dibina sejak dini agar memahami halal dan haram. Alhasil, tidak akan terjerumus atau sekadar ikut tren.


Mereka sudah memahami itu sehingga menjauhi segala konten kekerasan, pornografi, dan game yang merusak bukan sekadar takut kepada sesama manusia, tetapi takut karena Allah. Pendidikan tauhid dan akhlak yang kuat merupakan fondasi dalam membentuk ketakwaan anak.


“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.” (QS. Ali Imran: 102) 


Kontrol masyarakat merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat tanpa terkecuali. Mengingatkan dan menerapkan amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat, sekolah dan lingkungan agar terciptanya suasana kondusif bagi anak.


Media sosial game online berperan sebagai penjaga nilai bukan sekadar hiburan semata. Karena jika masyarakat diam, maka kerusakan akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104)


Perlindungan negara, peran negara sebagai raain atau pengurus rakyat. Maka negara akan menetapkan kebijakan, hukum, sistem yang akan melindungi akhlak, akidah, dan masa depan generasi. Negara akan melarang game online yang akan merusak akhlak dan metal anak.


Di sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam bukan sekularisme, sistem ekonomi Islam yang akan menutup segala jalan eksploitasi anak, judi, dan industri hiburan yang destruktif, serta menjaga sistem pergaulan sosial masyarakat agar sesuai dengan syariat. Wallahualam bissawab.

Catatan Akhir Tahun: Peta Kriminalitas Jabar

Catatan Akhir Tahun: Peta Kriminalitas Jabar



Penerapan Islam kafah tidak hanya mengatur ibadah individu

tetapi membangun sistem kehidupan yang dapat melindungi masyarakat

______________________________


Penulis Aksarana Citra

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Jawa Barat atau bumi parahyangan, suku Sunda yang dikenal halus dalam tutur kata dan sikap, masyarakatnya cenderung menghindari konflik dan mengutamakan keharmonisan sosial. Mempunyai falsafah hidup silih asah silih asih silih asuh. Masyarakat Sunda mempunyai ungkapan someah hade ka semah.


Namun, falsafah dan ungkapan itu kini terasa asing dan menghilang dari masyarakat karena maraknya tindak kriminalitas di masyarakat, pembegalan di jalan raya, geng motor, premanisme yang marak, narkoba, dan ratusan kasus kriminal menghiasi tahun 2025 serta kasus lainnya dengan berbagai motif dan pemicunya.


Jabar dulu yang someah atau ramah seakan berganti skin menjadi gelap dan keras. Mirisnya, karena tindak kejahatan jalanan malam hari yang tinggi, Kota Bandung pernah dijuluki Gotham City seperti di film Batman.


Selama periode Januari hingga Desember 2025 Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Bandung berhasil mengungkap 386 kasus. Dari jumlah tersebut, 112 orang ditetapkan sebagai tersangka dengan rincian 94 laki-laki dan 18 perempuan. 


Dari total kasus yang diungkap 289 di antaranya ditingkatkan ke tahapan laporan polisi dan 97 kasus diselesaikan melalui restorative justice. Kalau berdasarkan kategori, 264 kasus berkaitan dengan narkotika, 3 kasus psikotropika, 22 kasus obat obatan keras tertentu. (radarbandung.com, 23-12-2025)


Lalu kasus premanisme yang marak selama empat bulan terakhir kepolisian telah menangani 24 kasus premanisme. Salah satunya adalah aksi premanisme yang mengganggu pembangunan pabrik mobil listrik BYD di Kabupaten Subang pada Maret lalu. Para pelaku melakukan sejumlah perbuatan pidana seperti pemerasan, pengancaman dengan senjata tajam penguasaan senjata dan pengeroyokan.


Selain permanisme BYD, aksi premanisme yakni pungutan liar di Pasar Gedebage. Di mana pungutan tersebut berdalih untuk pembayaran iuran kebersihan, tetapi yang terjadi di lapangan penanganan sampah tidak optimal di pasar tersebut. Karena Jabar memang masih dibelit masalah kemiskinan dan pengangguran. Menurut data statistik, rata-rata jumlah pengangguran Jabar mencapai 8% pertahun. (kompas.com, 30-04-2025)


Kasus kriminal di Kota Garut mengalami kenaikan sebanyak 25% sepanjang tahun 2025. Tercatat sebanyak 608 perkara pidana berbagai jenis dengan 366 kasus berhasil diuangkap. Data ini dirilis Polres Garut menjelang penutupan akhir tahun 2025, beragam motif kejahatan baik lama atau baru berhasil diungkap.


Kasus-kasus yang tersorot publik, yakni dokter cabul terhadap ibu hamil yang telah diputus pengadilan. Kasus persetubuhan ayah dan anak yang sudah P21 di kejaksaan, penggerebekan pabrik uang palsu dengan barang bukti ratusan juta rupiah, serta aksi berandalan motor yang menebas tangan seorang pelajar. Kejahatan yang mendominasi tahun 2025 adalah penipuan seperti arisan bodong dan sejenisnya serta kriminal jalanan dan tindak penganiyaan. (harapanrakyat.com, 20-12-2025)


Selain kasus-kasus di atas, kasus pembunuhan tergolong tinggi terjadi di Jabar. Contohnya, kasus pembunuhan karena ejekan di medsos. Tindakan pembunuhan yang bermula dari unggahan korban yang menyinggung terdakwa. Kasus pembunuhan satu keluarga di Indramayu dan kasus ASN Bandung Barat yang mencabuli 3 anak tirinya. 


Sebagian besar kasus terjadi didominasi kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Perempuan dan anak rentan menjadi korban karena kondisi dan fisik yang lemah yang mengakibatkan mereka menjadi sasaran empuk berbagai tindak kekerasan.


Fenomena femisida dan perisida serta fenomena lainya berhubunga erat dengan kerentanan perempuan dan anak. Fenomena tersebut adalah puncak kekerasan yang sebelumnya telah berulang dan dinormalisasi. Ketimpangan kekuasaan di mana perempuan dan anak sulit untuk melawan, kekerasan domestik yang dibiarkan, serta normalisasi hak suami/pasangan/orang tua atas tubuh hidup perempuan dan anak.


Fenomena tersebut  tidak lepas dari masalah kesehatan mental karena kekerasan yang dibiarkan akan memperparah kondisi mental hingga berujung fatal. Mereka rentan menjadi korban bukan karena kelemahan saja, tetapi karena sistem sosial yang gagal melindunginya.


Tingginya kasus kriminal sepanjang tahun 2025, menjadi bukti negara gagal dalam menjamin keselamatan dan keamanan jiwa masyarakatnya. Faktor-faktor penyebab kasus tersebut adalah karena faktor ekonomi, emosi dendam, dan peran media digital.


Faktor ekonomi mendominasi lonjakan tindakan kriminalitas karena tekanan finansial yang tinggi tak ayal para pelaku nekad dalam melancarkan segala aksinya. Tekanan ekonomi ini pun berjalan lurus dengan penerapan sistem kapitalisme yang merajai dunia di era ini. Di mana ekonomi tidak adil dan merata, kesenjangan yang begitu besar antara si miskin dan si kaya kerap memicu konflik dalam kehidupan masyarakat belakangan ini.


Selain itu, emosi dendam dan nafsu pelaku yang tidak terkendali kerap menjadi motif. Hal itu membuktikan lemahnya iman pelaku sehingga mudah dalam melakukan tindak kekerasan. Hal ini diperkuat karena sistem sekuralisme yang memisahkan aspek spiritual dengan kehidupan, yang menjadikan masyarakat kini jauh dari keimanan dan mudah terjerumus pada kemaksiatan. 


Media digital berperan sangat besar menjadi pendorong merebaknya tindakan kriminal yang tepengaruh dari konten-konten kekerasan di platform medsos dan darkweb, cyberbullying, ujaran kebencian, komen para netizen yang sudah tidak ada batas dan bebas. Paparan tersebut tidak hanya menormalkan kekerasan, tetapi juga menormalkan pola pikir agresif yang dapat memicu kekerasan di dunia nyata.


Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana komunikasi dan edukasi berubah menjadi arena kebebasan tanpa batas dan kekerasan yang menekan psikologis sehingga memicu kemarahan dendam dan frustasi. Kondisi tersebut tidak lepas dari karakter ruang digital yang dibentuk oleh sistem liberaris yang mengagungkan kebebasan tanpa batas dan minim tanggung jawab moral. 


Dengan demikian, penerapan sistem sekularisme kapitalisme liberalisme merupakan akar dari segala masalah tersebut. Karena tekanan ekonomi di sistem kapitalis ini membuat pelaku mengahalalkan segala cara demi tercapainya kesuksesan finansial. Kapitalisme melahirkan budaya hedonisme di masyarakat yang akhirnya masyarakat kini menjadi sangat konsumtif karena kapitalisme mengukur kesuksesan seseorang dengan materi.


Dalam Islam, keamanan adalah kebutuhan dasar masyarakat yang wajib dipenuhi negara. Masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang merasa aman dan nyaman dalam melakukan aktivitasnya di setiap aspek kehidupan tanpa dibayangi ketakutan. Penjagaan masyarakat merupakan maqashid syariah (tujuan-tujuan utama syariah). Hukum Islam diturunkan untuk menjaga kemaslahatan masyarakat dan mencegah kerusakan dalam kehidupan individu maupun sosial. 


Dalam penjagaan ini ada lima pokok utama yakni, hifz ad din menjaga agama agar masyarakat tetap beriman, memiliki pedoman hidup, agar tidak terjerumus pada kerusakan moral. Hifz an nafs menjaga jiwa.


Islam mewajibkan melindungi jiwa manusia maka pembunuhan dilarang bahkan menjadi dosa besar, kekerasan dicegah, dan pelaku kekerasan diganjar dengan sanksi yang tegas, agar terciptanya rasa aman pada masyarakat karena Allh berfirman dalam QS. Al-Maidah: 32 yang berbunyi:


“Barang siapa membunuh satu jiwa.. seakan akan ia telah membunuh seluruh manusia.”


Hifz al aql menjaga akal maka segala sesuatu yang menghilangkan akal akan dimusnahkan seperti konten-konten medsos dan pemikiran yang sesat akan diberantas karena masyarakat yang akalnya rusak, mudah melakukan kekerasan dan kejahatan maka segala sesuatu yang merusak akal wajib dimusnahkan.


Hifz an nasl menjaga keturunan. Islam menjaga individu, keluarga, anak perempuan, kehormatan, dan menjaga nasab. Terakhir hifz al mal menjaga harta. Islam akan mengatur keadilan ekonomi, larangan mencuri, menipu, dan merampok serta distribusi kekayaan yang adil karena tujuannya mencegah kriminalitas akibat dari ketimpangan kekayaan. 


Dengan demikian, penerapan Islam kafah tidak hanya mengatur ibadah individu, tetapi membangun sistem kehidupan yang dapat melindungi masyarakat, mencegah kejahatan dan keamanan bagi seluruh masyarakat. Negara mengatur ruang digital yang sesuai dengan syariat memblokir bahkan menghilangkan konten-konten yang didasari budaya Barat yang merusak.


Ruang digital yang tidak baik diubah menjadi konten-konten yang mengedukasi dan memberikan infirmasi yang valid, terpercaya, serta memberikan keamanan bagi generasi. Hukum negara yang tegas dan adil serta menjerakan para pelaku. Alhasil, segala macam tindak kekerasan tidak akan terjadi bahkan musnah. Wallahualam bissawab.

Malapetaka Ibu dan Generasi Muda di Sistem Kapitalisme

Malapetaka Ibu dan Generasi Muda di Sistem Kapitalisme



Mereka yang tumbuh dengan kekurangan sosok ibu mengakibatkan anak lapar kasih sayang

dan mencari kasih sayang dari orang lain


____________________


Penulis Sahara Maina Larasati 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Ibu dan Anak Zaman Now
Orang tua terlebih ibu memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan setiap anak. Peran ibu bukan hanya sekedar melahirkan. Sebagaiman ibu-ibu di zaman modern yang tidak sedikit lupa dengan peran sejatinya.


Para ibu sering kali menganggap perannya hanya sebatas memberikan ASI, memberikan makan, mengantar sekolah, atau bahkan ketika dia sudah ikut serta berpartisipasi sebagai pencari nafkah dalam rumah tangga menganggap perannya sudah cukup sampai di sana. Tidak jarang di tengah guncangan ekonomi yang makin sulit para ibu ikut andil dalam kegiatan mencari nafkah di tengah-tengah keluarganya.


Alhasil, para ibu harus meninggalkan anak-anaknya di rumah. Akibatnya, anak-anak akan tumbuh dengan penuh kemewahan harta dan fasilitas, tetapi kurang dalam kasih sayang dan pendidikan serta pembinaan keluarga terutama ibu. Mereka yang tumbuh dengan kekurangan sosok ibu mengakibatkan anak lapar kasih sayang dan mencari kasih sayang dari orang lain.


Dengan kekurangan pendidikan serta pembinaan, anak tidak memiliki gambaran fenomena kehidupan yang akan dihadapi di luar sana. Ketika menghadapi suatu masalah anak-anak membuat problem solving sendiri tanpa dilandasi mafhum. Karena dalam tahapan pendidikan serta pembinaan ibu berperan sebagai penanam mafhum atau pemahaman kepada anak-anak.


Ibu dan Anak Terbawa Arus Sekuler Kapitalisme


Di sistem yang mengatur kehidupan ini tidak heran jika para ibu menjadi ibu-ibu karir yang hanya mementingkan profesi, jabatan, gaji, atau bahkan isi rumah serta kecantikannya. Karena para ibu ini otomatis ikut dalam sistem sekuler kapitalisme sebab tuntutan sistem tersebut menjadikan wanita kedudukannya sama dengan laki-laki. Kemudian framing masyarakat menganggap wanita yang berpendidikan itu wanita yang memiliki profesi dan jabatan tinggi.


Ditambah lagi standar kesuksesan dilihat dari kekayaan. Inilah yang membuat para ibu-ibu melakukan berbagai cara demi mendapatkan cuan bahkan tidak malu memperlihatkan auratnya. 


Apalagi dengan mekarnya sistem ekonomi kapitalis membuat mereka mengalami krisis ekonomi. Mirisnya, tidak jarang para ibu dengan sukarela menggadaikan nyawanya sendiri karena tidak sanggup menopang ekonomi keluarga.


Sebagaimana dikutip dari BBC News Indonesia (10-09-25) bahwa "Sementara ekonom menyebut bunuh diri dengan faktor ekonomi yang berdiri di belakangnya sudah mengarah ke fenomena sosial. Maraknya kasus bunuh diri karena ekonomi memperlihatkan betapa realita di lapangan tidak seindah yang sering diklaim pemerintah."


Apa yang terjadi pada anak-anak tidak jauh dari apa yang dilakukan oleh ibunya. Anak yang ditinggal bekerja akan kekurangan kasih sayang dari sosok ibu. Mereka mengalami degradasi moral akibat ibunya yang tidak memberikan pendidikan dn pembinaan penuh di rumah. Akibatnya, anak mencari kasih sayang dari orang lain secara bebas.


Tidak heran, banyak anak-anak zaman sekarang tergerus dalam pergaulan bebas, bullying, judol, pinjol, perzinaan, bahkan tidak jarang juga mereka sebagai pelaku pembunuhan. Sebagaimana dikutip dari inilah.com (26-12-2024) bahwa "Kasus perundungan di sekolah, pencurian, pelecehan seksual, perzinaan, judi online, hingga pembunuhan terhadap keluarga sendiri menjadi cerminan terdegradasinya moral anak-anak bangsa."


Urgensi Kelompok Dakwah Islam bagi Ibu dan Generasi


Di zaman sekarang, di tengah sistem kehidupan yang merusak ini ibu dan generasi sangat membutuhkan Islam. Karena dalam pandangan Islam ibu adalah sosok yang mulia dengan amanah dari Allah untuk melahirkan anak-anak serta merawatnya, mendidiknya, dan membinanya.


Sedangkan anak adalah amanah dari Allah yang harus dirawat, dibesarkan dengan pendidikan dan pembinaan yang dapat mencetak generasi yang dapat meneladani Rasulullah saw. sehingga seorang ibu dalam Islam harus memiliki pemahaman tentang hakikat penciptaanya dimuka bumi ini. Dengan modal itu dia akan mendesain anaknya diiringi oleh hakikat penciptaan tersebut, yaitu menjadi hamba Allah.


Para ibu dalam Islam harus memiliki akidah Islam yang kuat yang mana tujuan kehidupannya adalah rida Allah. Dari sanalah anak akan dibekali dengan akidah islamiah sehingga tujuan kehidupan dirinya yang ditanamkan kepada anaknya hidup untuk menjadi hamba Allah agar mendapatkan rida-Nya.


Kemudian seorang ibu dalam Islam harus memiliki pola pikir islamiah. Di mana seorang ibu dalam menjalankan perannya untuk membesarkan, mendidik, serta membina anaknya tertuju pada pemahaman Islam yang dimiliki. Ia harus mampu memecahkan masalah dengan pemikiran Islam yang dimilikinya.


Serta menjadi seorang ibu dalam Islam harus memiliki pola sikap islamiah atau akhlakul karimah. Ia harus berperilaku sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Bukan distandarisasi dari pandangan manusia apalagi berperilaku ikut-ikutan mayoritas manusia sehingga segala perilaku yang akan dicontohkan kepada anaknya adalah perilaku-perilaku yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw..


Semua itu sulit dapat dilakukan secara personal melainkan membutuhkan komunitas yang akan menunjang peran ibu atau anak itu. Komunitas inilah yang disebut dengan komunitas dakwah Islam ideologis. Dalam komunitas ini, diisi oleh orang-orang yang sudah terbentuk akidah, tsaqafah atau pemahaman, serta kepribadiannya adalah kepribadian Islam.


Alhasil, apa yang keluar dari lisannya senantiasa mengajak pada ketaatan kepada Allah. Tentu ketaatannya secara menyeluruh. Mulai dari taat dalam hubungan hamba dengan Allah sebagai Tuhan, taat tatkala menjalankan hubungan sesama manusia serta taat dalam mengatur dirinya sendiri.


Khatimah


Dalam Al-Qur'an surah Az-Zariyyat ayat 56, Allah Swt. berfirman: "Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku"


Ayat diatas menunjukan bahwa hakikat kehidupan kita sebagai hamba dimuka bumi ini. Tentu dengan tuntunan yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Maka dari itu, penting mencari komunitas yang akan menguatkan dalam ketaatan untuk beribadah kepada Allah dalam ranah apapun. Dengan peran yang diemban baik sebagai ibu maupun generasi. Wallahuallam bissawab [Dara/MKC]

Hutan Lestari Hanya dengan Islam

Hutan Lestari Hanya dengan Islam



Akar masalah penggundulan hutan adalah cara pandang kapitalistik

yang menakar segala sesuatu dengan materi

__________________


Penulis Ekke ummu khoirunnisa

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Niat baik Bupati Bandung yang bertekad untuk kembali menghijaukan hutan yang sudah alih fungsi lahan atau sudah terdegradasi oleh pembalakan liar patut kita aminkan. Bahkan beliau sudah menyiapkan bibit tanaman perkayuan beberapa truk untuk disebar dengan pesawat di lahan yang sulit dijangkau kendaraan juga akan menghijaukan kembali lahan hutan yang sudah digarap petani untuk pertanian.


Dikutip dari inilahkoran.id, (16-12-2025) Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan penting semua pihak terlibat, termasuk TNI AU untuk mengembalikan fungsi hutan dan menghijaukan kembali wilayah yang telah terdegradasi.


Dalam sistem kapitalisme, setiap solusi yang diberikan tidak mampu menyelesaikan masalah karena membenahi masalah tanpa membenahi akar masalahnya tidak akan menuntaskan masalah. Akar masalah penggundulan hutan adalah cara pandang kapitalistik yang menakar segala sesuatu dengan materi.

 

Sering terjadi atas nama pertumbuhan ekonomi negara dengan mudah memberikan izin pengelolaan hutan oleh swasta. Swasta yang pebisnis tidak akan mau berpikir dampak negatif akibat penggundulan hutan. Disamping itu, ketidakjelasan kepemilikan membuat negara dengan mudah memberikan konsesi kepada swasta.


Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah, tetapi di balik itu semua Indonesia juga termasuk salah satu negara paling rentan terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, kekeringan, angin kencang, hingga cuaca ekstrem. Keadaan ini diperparah dengan kerusakan alam oleh hasil kongkalikong pengusaha-pengusaha.


Inilah kegagalan kepemimpinan kapitalisme. Selama akar masalahnya, yaitu penerapan sistem kapitalisme yang materialistik masih berjalan, dan hukum kepemilikan tidak jelas, maka usaha penghijauan sering hanya sebagai euforia karena bencana dan akan hilang seiring waktu.


Hutan dalam Sistem Islam 


Islam hadir dengan segala kesempurnaanya. Dalam sistem Islam hutan adalah kepemilikan umum yang harus dikelola oleh negara dan dipastikan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat.


Sistem Islam menjadikan negara memperlakukan hutan sebagai amanah yang harus dijaga kelestariannya. Dalam sistem kepemimpinan Islam (Khil4fah) mitigasi dilakukan sejak awal dengan pengelolaan alam sesuai syariat dan negara bertindak sebagai raain dan junnah bagi rakyat.


Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban." (HR. Imam Bukhari)


"Sesungguhnya seorang imam atau pemimpin itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah Swt dan adil, maka dengannya dia akan mendapatkan pahala, tetapi jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.


Dengan hanya kembali pada sistem Islam yang sahih dalam naungan Daulah Khil4fah Islamiah-lah yang dapat mengatur negara ini bukan sistem rusak kapitalisme. Islam sebagai agama dan mabda akan bisa diterapkan secara kafah jika tiga asas penerapan hukum Islam ini ada di tengah kehidupan umat, yaitu:

 

(1) ketakwaan individu yang mendorongnya untuk terikat kepada hukum syariah, (2) kontrol masyarakat, dan (3) negara yang menerapkan syariat Islam secara kafah. Maka jika ingin hutan lestari, hanya sistem Islam yang memberi solusi.


Untuk itu, mari bergabung dan bergerak bersama dalam jemaah dakwah untuk mencerdaskan umat agar dapat melanjutkan kehidupan Islam yang cemerlang dan berkah. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

Petani Sejahtera dalam Sistem Islam

Petani Sejahtera dalam Sistem Islam



Negara Islam menjamin ketersediaan bibit unggul, pupuk, tanah yang subur, alat canggih yang cepat dan mudah

dan distribusi pertanian sehingga menguntungkan seluruh lapisan masyarakat

_________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - "Jauh panggang dari api" begitulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan rencana pemerintah Deli Serdang dalam peningkatan produktivitas dalam sektor pertanian dan kesejahteraan petani.


Penerapan Teknologi Pertanian Modern Tidak Berkaitan dengan Kesejahteraan Petani


Salah satu langkah yang dilakukan yakni dengan  penerapan teknologi pertanian modern melalui penggunaan drone dalam penyemprotan atau pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Menurut Wabup Lom Lom, penggunaan drone ini lebih efektif dan efisien dan mengurangi paparan bahan kimia terhadap petani.(HETANEWS.com, 22-12-2025)


Pemerintah juga mendorong pemanfaatan alat tanam padi modern seperti rice transplanter yaitu mesin penanam padi otomatis yang memindahkan bibit padi dari persemaian ke sawah secara mekanis. Mereka mengatakan lebih hemat tenaga, waktu, dan dari paparan bahan kimia. (HETANEWS.com, 22-12-2025)


Kesejahteraan pangan dan petani tentu bukan hanya bersandar hanya pada teknologi semata. Belum lagi masalah petani paham apa tidak terkait dengan alat-alat canggih di era digital hari ini.


Hasil panen yang belum tentu berkualitas, ditambah lagi dengan adanya bencana alam yang mengancam mereka gagal panen. Dari sisi dana yang harus mereka keluarkan, tidak sedikit mereka meminjam uang kepada individu 50,1 %, meminjam ke bank 29,3 % dan sisanya ke lembaga keuangan seperti koperasi belum lagi agunan dan suku bunga yang tinggi. (MNews.com, 19-07-2024)


Masalahnya bukan di pertanian digitalnya, tetapi upaya bagaimana pemerintah dalam menyejahterakan petani dalam segala bidang. Hal itu dibutuhkan untuk para petani secara menyeluruh bukan hanya fokus kepada teknologi, tetapi tidak menyentuh ke akar masalahnya. Para petani menghadapi bukan bagaimana memanen, menabur bibit, pupuk, tetapi juga kesejahteraan petani dalam menjadikan hasil panen di sektor ekonomi mereka. Sementara justru para tengkulak yang berperan untuk menentukan harga.


Di dalam sistem kapitalisme harga diserahkan ke mekanisme pasar sehingga akan memicu munculnya korporasi-korporasi raksasa bermodal besar yang mengakibatkan seluruh rantai pasok mulai dari produksi, distribusi sampai konsumsi hanya dikuasai oleh korporasi.


Pada akhirnya, kebijakan itu dimiliki oleh para pemilik modal yang berkolaborasi dengan penguasa karena memberikan jalan untuk masuknya investasi asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Artinya, semua kebijakan pangan Indonesia akan tersandera dengan utang.

 

Para investor akhirnya juga berpengaruh dalam menentukan kebijakan dan kita tidak punya kedaulatan pangan. Inilah sifat dari sistem kapitalis yang menjadikan segala sesuatunya sebagai ladang bisnis yang menghasilkan keuntungan. Negara sebagai regulator bagi memuluskan para kapital untuk memperkaya diri bukan berperan sebagai pengurus urusan umat yang mana pangan merupakan hak dasar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.


Solusi dalam Islam 


Islam tidak pernah meninggalkan kecanggihan teknologi dan memandang teknologi sebagai sarana dalam kehidupan.


Negara Islam menjamin ketersediaan bibit unggul, pupuk, tanah yang subur, alat canggih yang cepat dan mudah dan distribusi pertanian sehingga menguntungkan seluruh lapisan masyarakat. Islam memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mewujudkan ketahanan pangan. Sistem ekonomi politik Islam akan mampu mewujudkan ketahanan pangan bahkan menjamin kesejahteraan rakyatnya lantaran tujuan utamanya adalah menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat.


Selain itu, negara berperan sentral dalam seluruh urusan rakyat. Islam mewajibkan khalifah, yakni pemimpin negara Islam untuk mengurusi umatnya.

 

"Imam (khalifah) adalah ra’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR. Muslim dan Ahmad)


Sistem Islam memiliki mekanisme atau APBN  pembiayaan dari sumber daya alam yang dikelola untuk negara dan hasilnya digunakan sebaik-baiknya untuk masyarakat tanpa memungut pajak dari rakyat.


Negara juga turut andil dalam penyuluhan pendidikan kepada para petani ketika mereka harus menggunakan teknologi yang memudahkan dalam proses pembibitan sampai proses panen. Negara menyediakan pupuk yang terbaik untuk menghasilkan padi yang unggul dari mulai vitamin untuk tanah maupun pengairan yang memadai.


Negara Islam (Khil4fah) akan mengatur distribusi hasil panen dan memberikan secara mudah ke masyarakat dan menjamin individu-individu untuk mendapatkannya. Khil4fah akan menetapkan kebijakan yang fokus pada kemaslahatan umat. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem yang akan menyejahterakan manusia terkhusus petani, yakni sistem Islam yang diterapkan secara kafah dalam institusi Daulah Khil4fah Islamiah. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


Ummi Aisyah

Ambisi Presiden Usulkan Sawit di Papua, Bagaimana Pandangan Islam?

Ambisi Presiden Usulkan Sawit di Papua, Bagaimana Pandangan Islam?




Penggundulan hutan dengan menanam pohon sawit, singkong, atau pun tebu

bisa memicu masalah yang mungkin lebih besar

_________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Beberapa waktu terakhir ini, Indonesia kembali dihebohkan dengan pernyataan Presiden Prabowo yang menyampaikan keinginannya untuk menanam kelapa sawit di Papua. Hal ini sebagai upaya untuk pengembangan bioenergi, mulai dari biodiesel berbahan sawit, hingga bioetanol dari singkong dan tebu. Dilansir dari berita kompas.tv pada Rabu (17-12-2025) lalu dalam rapat percepatan pembangunan Papua yang di gelar di istana negara. 


Penanaman Sawit Merusak Ekosistem Hutan


Ambisi Presiden Prabowo ini berangkat dari ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap penggunaan BBM, sedangkan nilai impor BBM berada pada kisaran Rp500 hingga Rp520 triliun per-tahun. Jadi diharapkan proyek swasembada ini bisa membantu menghemat biaya impor BBM ke Indonesia. (Parboaboa.com, 21-12-2025) 


Menyikapi masalah di atas, sangat wajar jika kita geram dan marah atas tindakan para penguasa yang seperti tak mendengarkan teguran atas terjadinya bencana di wilayah Sumatra kemarin yang sampai sekarang pun belum tuntas dan selesai. Bukannya mencari solusi untuk menyelesaikan masalah rakyat, tetapi malah menambah polemik baru dengan menggencarkan ambisi dengan dalih menghemat uang negara. Namun, tak diketahui bagian anggaran negara yang mana yang dimaksudkan. 


Penggundulan hutan dengan menanam pohon sawit, singkong, atau pun tebu bisa memicu masalah yang mungkin lebih besar. Seperti yang kita tahu hutan Papua merupakan salah satu hutan hujan tropis terluas yang memiliki peran penting dalam ekosistem keanekaragaman hayati. Jika benar itu terjadi, tak hanya rakyat saja yang di rugikan, tapi spesies flora dan fauna yang sudah menjadikan hutan sebagai habitat tempat tinggal mereka akan jauh lebih menderita.

 

Terlebih ada masyarakat adat yang juga bergantung pada pertahanan ekosistem hutan yang sudah Allah atur sempurna dengan berbagai manfaatnya, sebagaimana firman-Nya : 

 

 وَاللّٰهُ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَحۡيَا بِهِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا‌ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيَةً لِّقَوۡمٍ يَّسۡمَعُوۡنَ


"Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS. An-Nahl: 65) 


Dari ayat di atas, Allah memberi tahu kepada seluruh manusia bahwa Allah telah menurunkan hujan dan menghidupkan bumi yang telah mati. Maksudnya di sini Allah menyuburkan tanah yang telah kering, dan menumbuhkan tanaman yang subur dengan rahmat-Nya yaitu air. Lalu bagaimana bisa air menjadi permasalahan terjadinya banjir? Bukankah kita diperintahkan untuk berpikir bahwa pasti ada kesalahan yang dilakukan manusia?


Banjir Akibat Ulah Ceroboh Manusia


Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam juga pernah bersabda:

 

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

 

"Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kehancuran,’ dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, ‘Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari kehancuran." 


Bukankah hadis Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam di atas sudah sangat menggambarkan terjadi penyelewengan amanah yang sudah hilang. Seharusnya pemimpin menjaga dan menyejahterakan rakyatnya. Namun malah sebaliknya. Bagaimana Allah memerintahkan seseorang untuk berlaku adil saat menjadi pemimpin, menyelesaikan masalah, dan mengelola negara sesuai dengan apa yang Allah perintahkan.

 

Kita bisa mempelajarinya dengan melihat bagaimana Rasulullah memimpin umatnya dengan menerapkan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan meliputi bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik sekalipun. Islam bukan hanya agama, tetapi juga peraturan hidup yang sempurna. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


Tri Ayu Lestari, S.Pd.

Pentingnya Ibu Ideologis di Era Digital

Pentingnya Ibu Ideologis di Era Digital



Ibu ideologis adalah cerminan wanita muslimah sejati yang taat

dan tidak mudah ikut-ikutan hidup hedonis yang mengekor pada sistem kapitalis


__________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Peringatan hari ibu menjadi momentum untuk perempuan Indonesia sebagai agen perubahan. Namun, apakah perubahan itu sesuai dengan standar syariat Islam atau hanya untuk perubahan perjuangan semu semata.


Peringatan Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember kembali dirayakan dengan khidmat di seluruh penjuru Tanah Air. Pada tahun ini, tema yang diusung adalah Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Tema tersebut menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan, melainkan juga motor utama perubahan.


Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menyampaikan bahwa peringatan Hari Ibu menjadi pengingat pentingnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa.


Di era saat ini, perempuan Indonesia telah menjadi agen perubahan yang menggerakkan inovasi, memperjuangkan keadilan, serta menguatkan nilai-nilai kemanusiaan, ujarnya saat membacakan amanat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada upacara bendera Peringatan Hari Ibu ke-97 di halaman Kantor Kementerian PANRB, Jakarta, Senin (mempan.go.id com, 22-12-2025)


Makin pesat perkembangan zaman di era digital saat ini membuat peran perempuan ikut mengambil adil dalam setiap pergerakan perjuangannya. Tidak hanya tinggal diam mereka ikut terlibat agar lebih tahu dan paham mengenai informasi serta berperan aktif dalam berbagai kegiatan khususnya masalah perlindungan anak, serta menjadikan hari ibu adalah sebagai momentum yang tepat untuk mempertegas perjuangan perempuan sebagai agen perubahan dengan berbagai kreativitas dan inovasi yang mereka miliki.


Namun di sisi lain, sepertinya perjuangan ini semu tanpa arah tujuan yang jelas. Apakah semua ini untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau hanya sekadar popularitas. Sesungguhnya jika tujuan ini dilandaskan berdasarkan standar syariat Islam mungkin tujuannya jelas. Sangat penting sekali kesadaran berpolitik dan diiringi dengan kesadaran syariat Islam sehingga paham peranan apa yang harus dilakukan sebagai agen perubahan di era digital terutama peranannya sebagai ibu. 


Peranan perempuan sangat penting di era digital yaitu sebagai ibu ideologis. Mereka adalah agen perubahan penggerak perjuangan generasi muda sesuai dengan standar syariat Islam, memberikan pendidikan dan pemahaman nilai-nilai ideologis serta pengetahuan tentang arti kehidupan yang sesungguhnya.


Ibu ideologis juga akan menanamkan syariat Islam sejak dini dan mendidik anak-anak mereka untuk mempersiapkan menjadi pejuang-pejuang Islam yang tangguh. Dari ibu ideologis inilah kelak akan lahir para pejuang-pejuang muda yang tahan banting dan tidak mudah goyah diterpa badai. Mereka adalah generasi yang lurus bertauhid dan berakhlak mulia, serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidupnya, dan sadar akan jati diri seorang muslim.


Karena sesungguhnya perubahan hakiki tidak muncul begitu saja. Melainkan dari pendidikan yang berlandaskan iman dan takwa. Dari ibu ideologis yang mendidik ia sadar akan amanah, tugas dan tanggung jawabnya sebagai ummu warabbatul bait.


Ibu ideologis adalah cerminan wanita muslimah sejati yang taat dan tidak mudah ikut-ikutan hidup hedonis yang mengekor pada sistem kapitalis. Sifat inilah yang akhirnya ibu ideologis wariskan kepada anak-anaknya. Ibu ideologis paham menjadi generasi muda saat ini tidaklah mudah. Karena mereka lahir di tengah tantangan teknologi yang semakin maju dan sistem yang rusak serta banyaknya orang-orang pintar yang tidak amanah.


Dengan memberikan pemahaman ideologi secara kafah agar generasi muda mampu membentengi dirinya dari sistem kapitalis yang kufur. Karena itu, sangat penting perannya seorang ibu ideologis dari mengandung sudah mempersiapkan hingga melahirkan dan mendidik anak-anak untuk menjadi pejuang Islam ideologis yang tangguh.


Tidaklah mudah melakukan hal itu karena perjuangan sudah mereka tanamkan kepada anak-anaknya selama dalam kandungan. Dan saat ini, mereka harus mampu bersaing dengan perkembangan dunia digital. Karena ibu ideologis dituntut untuk serba tahu, pintar dan ikut mengerti perkembangan digital.


Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam" (TQS. Ali ‘Imran [3]: 19)


Permasalahan ini terjadi karena jauh dari Islam, serta kurangnya pemahaman ideologi Islam yang mereka dapatkan. Maka dari itu, mari kembali kepada hukum Islam.

 

Dengan meneguhkan keimanan kita serta genggam erat putra-putri kita dengan standar pendidikan syariat Islam agar mereka terhindar dan terjaga dari media digital dan ujian akhir zaman. Serta menegakkan dan mengembalikan kehidupan Islam yang telah lama hilang dan menyampaikan risalah dakwah Islam hingga penjuru dunia.. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

 

Ermawati

Bencana Sumatra dan Kejahatan Ekologis Sistem Kapitalisme

Bencana Sumatra dan Kejahatan Ekologis Sistem Kapitalisme



Bencana yang melanda Sumatra seharusnya menjadi momentum refleksi bersama

Selama pengelolaan alam diserahkan pada logika kapitalisme yang eksploitatif, bencana akan terus berulang dengan skala yang makin besar


__________________

 

Penulis Manna Salwa

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Rentetan Bencana yang Mengguncang Pulau Sumatra 

Bencana alam kembali menerjang Pulau Sumatra. Longsor dan banjir bandang terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah, mulai dari Sumatra Barat, Sumatra Utara, hingga Aceh. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat rangkaian bencana tersebut mencapai ratusan orang.

 

Sementara ribuan warga lainnya terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka yang rusak atau tertimbun material longsor. Pemerintah pusat menyebutkan bahwa meski status bencana nasional belum ditetapkan secara formal, penanganan yang dilakukan bersifat nasional karena skala dan dampaknya yang luas. (cnnindonesia.com, 01-12-2025)


Banjir bandang yang terjadi kali ini tampak jauh lebih parah dibandingkan peristiwa serupa di masa lalu. Air datang dengan kecepatan tinggi, membawa lumpur, kayu, dan bebatuan besar yang menghancurkan rumah, jembatan, serta lahan pertanian warga.


Kondisi ini memperlihatkan bahwa bencana tidak semata disebabkan oleh tingginya curah hujan yang mencapai puncaknya. Akan tetapi, karena menurunnya daya dukung wilayah. Alam yang seharusnya mampu menahan dan menyerap air kini kehilangan fungsinya sehingga hujan deras langsung berubah menjadi bencana mematikan.


Bukan Sekadar Faktor Alam, Melainkan Kejahatan Lingkungan Terstruktur


Menyederhanakan bencana Sumatra sebagai murni fenomena alam atau sekadar ujian adalah bentuk pengaburan masalah. Kerusakan yang terjadi hari ini merupakan akumulasi dari kejahatan lingkungan yang telah berlangsung lama dan dilegitimasi oleh kebijakan negara. 


Pemberian hak konsesi lahan secara masif, obral izin perusahaan sawit, pembukaan tambang terbuka, hingga regulasi yang mempermudah eksploitasi sumber daya alam telah menggerus fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan. Undang-Undang Minerba dan Undang-Undang Cipta Kerja menjadi contoh bagaimana negara memfasilitasi kepentingan industri dengan mengorbankan keselamatan lingkungan dan rakyat.


Pembukaan hutan secara besar-besaran tanpa perhitungan ekologis telah menyebabkan degradasi lahan yang parah. Hutan yang dulu berfungsi menahan air hujan dan mencegah erosi kini berubah menjadi lahan gundul. Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir deras ke permukiman warga.


Longsor menjadi keniscayaan di wilayah perbukitan, sementara banjir bandang mengancam daerah hilir. Fakta ini menunjukkan bahwa bencana Sumatra bukan peristiwa kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari kebijakan yang salah arah.


Watak Sistem Kapitalisme dalam Pengelolaan Alam


Kebijakan yang abai terhadap kelestarian lingkungan tidak lahir dalam ruang hampa. Ia merupakan produk dari sistem sekuler-demokrasi kapitalisme yang menempatkan keuntungan ekonomi sebagai tujuan utama. Dalam sistem ini, relasi antara penguasa dan pengusaha sering kali bersifat simbiotik dan saling menguntungkan.


Negara membuka karpet merah bagi investasi atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sementara pengusaha mendapatkan akses luas untuk mengeruk sumber daya alam. Hak milik rakyat dan keselamatan lingkungan dikorbankan demi kepentingan segelintir elit.


Musibah banjir dan longsor di Sumatra memperlihatkan wajah asli sistem ini. Negara terlihat hadir saat bencana terjadi, mengalokasikan dana penanggulangan dan rehabilitasi, bahkan Kementerian Keuangan menyiapkan ratusan miliar rupiah untuk penanganan bencana Sumatra.

 

Namun, negara gagal hadir secara preventif. Pencegahan kerusakan lingkungan, penataan ruang berbasis ekologi, dan pembatasan eksploitasi alam tidak menjadi prioritas. Akibatnya, masyarakat menanggung penderitaan berulang, sementara keuntungan dari hutan dan tambang telah lama dinikmati oleh pengusaha dan penguasa.


Peringatan Al-Qur’an Tentang Kerusakan di Bumi


Islam memandang kerusakan lingkungan sebagai persoalan serius yang berkaitan langsung dengan keimanan. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia, agar mereka merasakan sebagian akibat dari apa yang mereka perbuat.


Ayat ini bukan sekadar peringatan spiritual, tetapi penegasan kausalitas. Ketika manusia melampaui batas dalam mengeksploitasi alam, bencana adalah konsekuensi yang tak terhindarkan. Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah di bumi dalam makna penjaga dan pengelola, bukan perusak.


Alam diciptakan Allah dengan keseimbangan (mīzān) yang harus dijaga. Ketika keseimbangan ini dilanggar oleh keserakahan dan kebijakan yang salah, maka kerusakan sosial dan ekologis akan muncul. Karena itu, menjaga kelestarian lingkungan bukan pilihan, melainkan kewajiban yang lahir dari keimanan.


Tata Kelola Lingkungan dalam Pandangan Islam


Islam menawarkan kerangka pengelolaan lingkungan yang berbeda secara mendasar dari kapitalisme. Negara memiliki tanggung jawab penuh untuk mengatur pemanfaatan alam berdasarkan hukum Allah, bukan semata pertimbangan keuntungan ekonomi. Hutan, air, dan sumber daya strategis dipandang sebagai amanah yang harus dijaga demi kemaslahatan umat. 


Negara wajib menata hutan sesuai fungsi alaminya, menetapkan kawasan lindung yang tidak boleh dieksploitasi, serta memastikan bahwa aktivitas industri tidak menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia dan lingkungan. Dalam sistem Islam, negara juga berkewajiban mengeluarkan biaya besar untuk pencegahan bencana.


Pendapat para ahli lingkungan dijadikan dasar dalam menyusun kebijakan, bukan diabaikan demi kepentingan investasi. Pemetaan wilayah dilakukan secara menyeluruh, mencakup tata ruang permukiman, kawasan industri, tambang, dan hutan lindung, dengan mempertimbangkan daya dukung alam. Kebijakan semacam ini bukan reaktif, tetapi preventif, dengan tujuan utama menjaga keselamatan manusia dan kelestarian ciptaan Allah.


Sejarah pemerintahan Islam menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada amanah dan hukum Allah akan memprioritaskan perlindungan jiwa dan lingkungan. Fokus kebijakan bukan pada pertumbuhan ekonomi semu, melainkan pada keberlanjutan kehidupan. Dengan prinsip ini, bencana yang menyengsarakan rakyat dapat diminimalkan, karena negara tidak membiarkan alam dieksploitasi tanpa batas.


Pelajaran dari Sumatra untuk Perubahan Mendasar


Bencana yang melanda Sumatra seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Selama pengelolaan alam diserahkan pada logika kapitalisme yang eksploitatif, bencana akan terus berulang dengan skala yang semakin besar. Bantuan pascabencana dan anggaran darurat tidak akan pernah cukup jika akar masalahnya tidak diselesaikan. Islam menawarkan jalan keluar melalui perubahan paradigma pengelolaan alam yang berlandaskan iman, amanah, dan keadilan.


Hanya dengan kembali pada hukum Allah dalam mengatur kehidupan, termasuk urusan lingkungan, negara dapat melindungi rakyatnya dari bencana yang berulang. Sumatra hari ini adalah peringatan keras bahwa kerusakan alam bukan takdir, melainkan buah dari sistem yang salah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]