Alt Title
Predator Anak Merajalela, Islam Kafah Solusinya

Predator Anak Merajalela, Islam Kafah Solusinya



Anak-anak yatim piatu berharap tinggal di panti asuhan akan diberikan kasih sayang, perlindungan dan pendidikan pupus

tergantikan dengan trauma berat yang mengganggu psikis dan mental

______________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Tindakan kriminal terhadap anak-anak kian meningkat. Mulai dari kekerasan fisik sampai kekerasan seksual.


Kasus dimulai dari skala internasional yaitu P.Diddy yang melakukan tindakan pelecehan, pencabulan hingga sodomi terhadap anak-anak. Kemudian tak lama muncul kasus serupa di tanah air yang dilakukan oleh Sudirman sebagai pimpinan panti asuhan. (bbcnewsindonesia.com, 10-10-2024)


Polres Tangerang menetapkan 3 orang pelaku yang salah satunya adalah Sudirman sebagai tersangka utama dalam kasus kekerasan seksual dan sodomi terhadap anak-anak di panti asuhan Tangerang, Banten. Korban diperkirakan mencapai 40 anak dan diperkirakan tindakan tersebut dilakukan hampir selama 20 tahun dari tahun 2006 sejak panti asuhan berdiri.


Hal serupa terjadi di Bandar Lampung. Seorang guru berinisial FZ di sekolah dasar swasta di Bandar Lampung ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan terhadap muridnya. Menurut pengakuan tersangka, tindakan tersebut telah dilakukan sebanyak tiga kali di dalam mobil tersangka.


Namun sayangnya, tersangka tidak ditahan karena telah memberikan uang jaminan sebesar Rp50 juta dan sertifikat hak milik. Padahal saat ini korban telah mengalami truma akibat peristiwa tersebut hingga tidak bersekolah berbulan-bulan. (Liputan 6, 1-11-2024)


Hasil Kegagalan Sistem


Sungguh miris menyaksikan persoalan yang menimpa anak-anak saat ini. Mulai dari skala dunia, negara, provinsi, kabupaten hingga skala desa bermunculan kasus-kasus serupa. Anak-anak yang seharusnya dilindungi justru sekarang menjadi korban dari para predator seksual.


Tak habis pikir, nafsu membuat naluri dan moral menghilang. Anak-anak yatim piatu berharap tinggal di panti asuhan akan diberikan kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan pupus, tergantikan dengan trauma berat yang mengganggu psikis dan mental. Sosok pemimpin panti yang seharusnya menjadi sosok ayah justru menjadi predator mereka sendiri. 


Guru yang seharusnya mengajarkan ilmu yang luas untuk menjadi bekal para muridnya dalam menggapai masa depan yang gemilang justru menjadi perusak masa depan. Saat ini tak ada lagi tempat yang aman bagi anak-anak.


Tak lagi memandang apakah pelaku adalah seorang ustaz, pimpinan, atau guru maupun yang lainnya. Karena nyatanya semua itu tak menjadi jaminan keamanan anak-anak. Siapa pun dapat menjadi predator anak ketika tidak berakidah Islam secara sempurna.


Seseorang boleh mengaku beragama Islam, namun ketika melakukan tindakan tersebut, maka dijamin tidak berakidah Islam secara sempurna. Agama hanya dijadikan sebagai status dan ibadah ritual semata tanpa ada pengaruh sedikitpun terhadap tingkah laku menjalani kehidupan.


Ini semua adalah hasil dari penerapan sistem kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan. Bahwa agama hanya boleh dianut dalam perkara ibadah ritual semata. Namun perkara kehidupan tidak boleh menggunakan agama.


Manusia bebas berhukum dengan apa pun dalam masalah kehidupan. Beribadah tetapi bermaksiat, inilah yang terjadi pada umat muslim kebanyakan. Alhasil, terlahirlah seorang ustaz menjadi predator bagi anak-anak dan guru perusak generasi.


Islam Kafah Solusinya


Islam merupakan agama sempurna, mengatur segala aspek kehidupan manusia. Mulai dari hal terkecil sampai yang besar. Islam memiliki seperangkat aturan yang terperinci yang mudah dipahami oleh manusia.


Seluruh aturan ini harus diambil seluruhnya tanpa melihat apakah mencakup aspek ibadah atau kehidupan. Karena seluruh aturan ini yang dapat menjamin keselamatan umat manusia. 


Sebagaimana Allah Swt. berfiman dalam surah Al- Baqarah ayat 208 yang memerintakan kepada manusia untuk berislam secara kafah (menyeluruh), agar keimanan sempurna dan tak ada celah untuk melakukan kemaksiatan. 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ


"Hai orang-oarang yang beriman, masuklah kalian semua ke dalam Islam secara menyeluruh. Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian."


Jelaslah dalam ayat di atas, bahwa Allah Swt. memerintakan manusia untuk ber-Islam kafah (menyeluruh). Karena memang secara alami ketika manusia beragama, maka seharusnya akan terikat secara menyeluruh dengan agama yang dianut dalam segala aspek kehidupan.


Karena ketika tidak menyeluruh atau parsial (sebagian), akan ada celah untuk mengikuti langkah-langkah setan yang menjerumuskan dalam jurang api neraka. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]


Aini Rahmah, S. Si.

Membangun Kepedulian

Membangun Kepedulian

 




Penyakit individualisme telah mengikis rasa empati dan peduli kaum muslimin

Tak ada lagi gotong royong yang dulu menjadi ciri khas budaya negeri ini

______________________________


Penulis Tinah Asri
Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - Majelis Sakinah Cibeunying Kidul (MS Cidul)  diselenggarakan pada Minggu 27 Oktober 2024, di Masjid Al-Daffa Nazzara, Pasir Leutik, Kota Bandung. Menghadirkan Ustazah Nurjamilah Lala sebagai pembicara.


Alhamdulillah, acara tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Hal ini terlihat dari kehadiran ibu-ibu yang tetap istikamah meski di tengah rutinitas harian yang menumpuk.



"Bu-ibu, tanpa disadari saat ini kita sedang terjangkiti suatu penyakit, bahkan penyakit tersebut telah menjalar jauh ke dalam sendi-sendi kehidupan kaum muslimin," kata Ustazah Lala mengawali penjelasannya.



Penyakit individualisme telah mengikis rasa empati dan peduli kaum muslimin. Tak ada lagi semangat gotong-royong yang dulu menjadi ciri khas budaya negeri ini. Tak ada lagi sikap tolong-menolong di antara sesama, bahkan kepedulian terhadap tetangga pun sirna.


Maka wajar jika hari ini berseliweran berita di media sosial peristiwa yang membuat hati miris. Orang meninggal sudah berbulan-bulan, setelah jadi kerangka baru ketahuan, ada juga orang tua yang tega membunuh anak-anaknya.


Peristiwa ini terjadi di bulan September lalu, Panca Darmansyah, warga Jagakarsa, Jakarta Utara, tega membunuh empat anak kandungnya hanya karena faktor ekonomi. "Lantas kenapa semua itu bisa terjadi?" tanya Ustazah Lala. Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya.


"Kalau kita teliti, semua itu terjadi akibat dari diterapkannya kapitalisme atas negeri ini. Kapitalisme adalah sistem kufur. Sistem yang menilai segala sesuatu berdasarkan pada materi, hitung-hitungan untung rugi. Individu masyarakat dalam sistem kapitalis menghabiskan waktunya untuk mencari rezeki, mengumpulkan pundi-pundi materi. Karena mereka beranggapan bahwa kebahagiaan itu bisa dirasakan jika semua kebutuhan jasmani terpenuhi. Tak ada waktu untuk memedulikan orang lain, keluarga lain. Dari sinilah muncul berbagai kerusakan tatanan kehidupan di tengah-tengah masyarakat, mulai dari pergaulan bebas, narkoba, hingga kriminalitas yang terus meningkat."


"Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita ikut prihatin melihat keadaan masyarakat saat ini. Tugas terbesar bagi kita adalah mengembalikan rasa peduli terhadap sesama. Sebab, peduli dengan penderitaan orang lain, tolong menolong, merupakan perintah dari Allah Swt.. Hal ini tertulis di dalam Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 2, Allah Swt. berfirman, "Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan."



Rasulullah saw. pun memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa peduli dengan nasib kaum orang lain. Bahkan Rasulullah mengancam tidak akan mengakui sebagai umatnya jika seseorang yang bangun di pagi hari tidak memikirkan umat muslim yang lain. Hal ini berlaku juga bagi saudara kita yang ada di Palestina, yang sampai hari ini mereka masih saja menghadapi kekejaman Zionis Israel laknatullah.


Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabarani Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa yang bangun di pagi hari tanpa memikirkan kaum muslim yang lain, maka dia bukanlah golonganku."



Kepedulian juga ditunjukkan oleh kaum Anshar, mereka dengan sukacita menyambut kedatangan kaum Muhajirin saat bersama Rasulullah saw. hijrah dari Makkah ke Madinah. 


Pertama, kaum Anshar memberikan sebidang tanah yang kemudian di atasnya dibangun menjadi tempat tinggal. Menampung kaum Muhajirin untuk tinggal rumah-rumah mereka. Tak sampai di situ, kaum Anshar juga ingin membagi setengah dari hasil panen kurmanya. Begitu besar rasa kepedulian di antara mereka, hingga terwujudlah sikap saling tolong-menolong dan mewarisi. Inilah contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw. saat menjadi pemimpin negara Madinah Al-Mukarramah.


Namun sayang, hal ini tidak kita temukan dalam rezim yang berkuasa saat ini. Pejabatnya banyak yang terjebak budaya (flexing). Pamer di media sosial bisa jalan-jalan ke luar negeri, istrinya menenteng tas branded, sampai-sampai ada pejabat yang menghadiahkan uang gepokan puluhan juta untuk cucunya yang ulang tahun. 


Sementara di sisi lain banyak masyarakat yang mengalami kesusahan. Harga kebutuhan pokok terus naik, PHK gila-gilaan, sulitnya mencari kerja, mahalnya sekolah dan lain-lain tak mampu mengetuk rasa kemanusiaan dan kepedulian mereka.

 

"Oleh karena itu, kaum muslimin harus sadar bahwa semua ini adalah dampak buruk dari diterapkannya kapitalisme atas negeri ini. Saatnya kita campakkan sistem yang bobrok tersebut, kita ganti dengan sistem Islam. Karena hanya dengan penerapan Islam secara kafah sikap peduli senantiasa terpelihara, baik oleh individu masyarakat, maupun pejabat pemegang kekuasaan. Hal itu dilakukan sebagai konsekuensi keimanannya terhadap sang pemilik hukum, Allah Swt.."


Motivasi terakhir dari Ustazah sekaligus penutup kajian. [SM/MKC]

Negeri Ibadurrahman

Negeri Ibadurrahman


 

Perlu dikaji, diteliti dan dipelajari bahwa keberhasilan sebuah negara

tidak hanya ditentukan oleh baiknya seorang pemimpin

_____________________________

 

Penulis Mardiyah

Pendidik di Sekolah Anak Tangguh/SAT Pesantren Al-Mustanir Kuningan


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Apakah pemimpin baru menjanjikan harapan baru?


Salah satu calon anggota kabinet Prabowo, yaitu Amran Sulaiman memiliki harapan besar pada pasangan presiden terpilih yaitu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

 

Beliau menyatakan bahwa presiden Prabowo sungguh luar biasa. Beliau memiliki gagasan besar untuk memperbaiki kondisi negeri ini. Baik masalah pertumbuhan ekonomi, GDP, dan lain-lain (Kompas.com, 21-10-2024)



Sebagian orang memang berharap dengan pergantian pemimpin muncul harapan baru perubahan yang lebih baik. Dalam pemikirannya keberhasilan ada pada individu pemimpin.

 

Padahal tidak seperti itu, selama sistem sekuler kapitalis yang diterapkan di negeri kaum muslimin tidak akan membawa perubahan berarti yang membawa pada kehidupan lebih baik. Karena sistem ini memisahkan peran agama dari kehidupan sehingga banyak masalah muncul karena aturan berasal dari manusia.

 

Sekularisme dengan sistem politik demokrasinya masih mengakui agama (Islam), namun membatasi hanya di ranah privat. Di ranah publik, agama (Islam) dilarang untuk mengatur kehidupan.

 

Di bidang ekonomi terjadi kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin. Karena sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan mengakibatkan kekayaan alam dikuasai hanya oleh segelintir oligarki. Kegiatan ekonomi berbasis ribawi juga tumbuh subur. Sebut saja misalnya pinjaman ribawi ke bank, kredit rumah/kendaraan leasing, asuransi, judol.

 

Di bidang pergaulan terjadi kerusakan yang  parah yaitu pacaran, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, elgebete tumbuh subur, kasus sodomi/pedofil merajalela. Bahkan ada pula hubungan seksual dengan binatang.

 

Kesatuan kaum muslimin yang terpecah karena nasionalisme memengaruhi pemikiran manusia. Negeri-negeri muslim terjajah. Palestina berjuang sendirian nyaris tanpa bantuan militer negara muslim lainnya.

 

Di bidang moral sama saja terjadi kemunduran dan kemerosotan. Mafia hukum dan peradilan sering kita saksikan. Oknum korup dan tidak memiliki kemampuan bisa jadi pejabat.

Membangun Visi Perubahan yang Sahih

 
Perlu dikaji, diteliti dan dipelajari bahwa keberhasilan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh baiknya seorang pemimpin. Tetapi harus juga didukung oleh sistem yang digunakan.



Saat ini umat Islam belum memahami bahwa agama Islam adalah mabda atau ideologi yang memiliki seperangkat aturan yang mengatur kehidupan. Berasal dari Sang Pencipta, yang Maha Tahu aturan untuk kebaikan manusia.

 

Islam adalah agama yang sempurna yang memiliki aturan lengkap. Dari mulai bangun tidur sampai bangun negara. Dari mulai  mengelola sumber daya manusia sampai mengelola sumber daya alam.

Apakah Negeri Ibadurrahman Itu?


Negara yang dibangun di atas ideologi Islam namanya Daulah Islam. Kepala negaranya disebut khalifah. Negara ini berlandaskan akidah dan syariat Islam. Ketika syariat Islam diterapkan secara sempurna (kafah) akan mendatangkan rahmat dan keberkahan.



Kepala negara diangkat oleh rakyat dengan kontrak politik untuk mampu menerapkan hukum syariat Islam secara total. Mengayomi dan melindungi rakyat baik muslim maupun nonmuslim.

Sejarah Kejayaan Daulah Islam


Golden age of world sejak Daulah Islam berdiri di Madinatul Munawarah dan Rasulullah sebagai pemimpinnya. Umat memasuki babak baru dari zaman jahiliah ke zaman yang bertabur cahaya Islam.

 

Manusia penyembah berhala menjadi penyembah Allah dengan mentauhidkan Allah. Anak perempuan yang dikubur hidup-hidup sekarang dimuliakan dengan Islam. Kekufuran berganti keindahan Islam.

 

Ketika Islam dijadikan sebagai aturan kehidupan, kesejahteraan bisa diwujudkan. Sejarah telah membuktikannya. Sejak Rasulullah memimpin Daulah Islam di Madinah sampai runtuhnya Khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924.

 

Dunia pernah mengalami zaman keemasan, masa itu disebut dengan sebutan the golden age of Islam. Maka harapan akan perubahan yang lebih baik sudah selayaknya dialamatkan ke penerapan sistem Islam secara kafah.

 

Alasannya adalah bahwa kebaikan hanya akan terwujud dalam naungan sistem sahih, yaitu sistem Islam yang datang dari zat Yang Maha Mengetahui, yaitu Allah Swt.. Penerapan aturan Allah juga akan mendatangkan keberkahan dalam hidup.

 

Seseorang bisa diangkat menjadi khalifah/kepala negara dalam sistem Islam dengan tujuh syarat in'iqad atau syarat legal sebagai khalifah. Jika tidak terpenuhi salah satunya maka batal.

 

Pertama ia harus seorang muslim tidak sah pemimpin umat Islam seorang kafir. Allah Swt. berfirman :
"Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang kafir untuk memusnahkan orang beriman." (QS. An-Nisa ayat 141)

 

Kedua, khalifah harus seorang laki-laki. Ketika sampai berita kepada Rasul tentang pengangkatan putri Kisra Persia beliau bersabda: "Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada wanita." (HR. Bukhari)

 

Ketiga, khalifah harus seorang yang sudah balig. Rasulullah bersabda: "Telah diangkat pena dari tiga golongan; anak-anak hingga ia balig; orang yang tidur hingga ia bangun; orang yang rusak akalnya hingga ia sembuh." (HR. Abu Dawud)

 

Orang yang telah diangkat pena atau beban hukum darinya tidak sah mengurus urusannya. Berarti dia bukan mukallaf karena itu ia tidak sah dan tidak berhak menjadi khalifah.

 

Keempat, khalifah harus orang yang berakal. Orang gila tidak sah dan tidak berhak menjadi khalifah. Hadis riwayat Abu Dawud tentang diangkat pena dari tiga golongan di antaranya adalah orang yang rusak akalnya. Kondisi ini menjadikan dia tidak berhak menjadi khalifah.

 

Kelima, khalifah harus seorang yang adil. Untuk masalah kesaksian Allah telah mensyaratkan adil. Maka untuk hal yang lebih tinggi dari kesaksian yaitu khalifah lebih utama seorang yang adil.

 

Keenam, khalifah harus orang yang merdeka. Seorang budak tidak sah dan tidak berhak menjadi khalifah.

 

Ketujuh, khalifah harus seorang yang mampu. Amanah kekhalifahan hanya diamanahkan kepada orang yang mampu.

 

Islam sebagai agama yang turun dari Yang Maha Kuasa telah menetapkan tugas kepala negara adalah melaksanakan sistem Islam secara kafah/total.

 

Kepala negara tidak perlu membuat undang-undang untuk mengatur rakyatnya. Tetapi hanya melaksanakan undang-undang Allah yang sudah turunkan kepada Rasulullah yaitu Al-Qur'anul Karim.

 

Cara melaksanakannya yaitu ittiba kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Manusia terbaik sepanjang sejarah. Kehadirannya merupakan rahmat bagi semesta alam.

 

Selain itu kepala negara berperan sebagai raa’in atau penanggung jawab urusan rakyat. Rasulullah bersabda: "Imam itu adalah pengurus rakyat dan ia penanggung jawab rakyat yang diurusnya." (HR. Muslim dan Ahmad)

 

Rasulullah bersabda: "Khalifah juga berfungsi sebagai junnah/perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya mendukung dan berlindung dari musuh dengan kekuasaannya.......” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)



Bukan hanya umat Islam yang butuh kehadiran Daulah Islam. Tapi semua yang hidup di bumi ini membutuhkannya. Karena Daulah Islam akan mewujudkan kesejahteraan, melaksanakan syariat Islam secara kafah. Melaksanakan aturan Allah sesuai dengan misi penciptaan manusia.

 

Untuk mewujudkannya perlu kesadaran umat Islam. Untuk menyadarkan umat maka dibutuhkan kelompok dakwah ideologis yang akan menyadarkan umat akan kebutuhan Daulah Islam. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

Tren Labubu, Generasi Terjebak Hedonisme

Tren Labubu, Generasi Terjebak Hedonisme

 



Tren labubu berpengaruh buruk terhadap generasi

membuat generasi menjadi FOMO alias Fear Of Missing Out

______________________________




KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Pada April 2024 lalu media dihebohkan dengan unggahan Lisa Blackpink yang menampilkan karakter labubu.


Apa Itu Labubu?


Labubu adalah mainan asal Tiongkok, karya seniman Kasing Lung yang sempat viral di Thailand. Mainan ini dipopulerkan oleh artis dan influencer bahkan anggota kerajaan pun turut mengoleksi karakter The Monster ini. (IDN TIMES, 6-9-2024)

 

Kini tren labubu kembali populer setelah personil Blackpink yang bernama Lisa mengunggah postingan dengan mengenakan labubu sebagai aksesoris tas. (beautyhaul.com)



Boneka labubu selain memiliki katakter yang menarik seperti: telinga panjang, gigi runcing, dan senyum jahilnya, ternyata konsep penjualannya pun dikemas dalam blind box. Hal ini menambah daya tarik dari boneka labubu, konsep ini membuat bonekanya menjadi rahasia dan limited edition.

 

Dampak Buruk terhadap Generasi


Tren labubu berpengaruh buruk terhadap generasi, membuat generasi menjadi FOMO alias Fear Of Missing Out. Di mana penderita FOMO ini memiliki kecemasan dan ketakutan akan ketinggalan informasi, pengalaman atau tren-tren yang sedang viral, salah satunya tren labubu ini.


Lihatlah bagaimana generasi muda rela mengantre di bawah terik sinar matahari, berdesak-desakan dan mengocek bujet yang tidak sedikit, semua rela dilakukan demi memiliki boneka labubu.

 

Terjebak Gaya Hidup Hedonis

 

Di tengah melemahnya ekonomi dan sulitnya lapangan pekerjaan, minat generasi muda dalam memburu labubu pun cukup tinggi. Padahal Pop Mart membanderol produk ini dengan harga yang fantastis. Bahkan demi memiliki boneka labubu, banyak di antaranya rela menghalalkan segala cara termasuk menjual kehormatan diri.

 

Generasi yang seharusnya memprioritaskan masa depan dan berkontribusi dalam masalah keumatan justru sibuk meraih materi dan kepuasan duniawi. Inilah bukti generasi saat ini sebagai korban sistem sekularisme kapitalis.

 

Sikap hedonisme yang telah mengakar di berbagai kalangan membuat masyarakat terjajah oleh tren demi mendapatkan pujian dan haus akan validasi publik.

Generasi Islam Pionir Peradaban


Ada tugas mulia yang harus kita pilih, yakni mengembalikan generasi muslim pada karakternya yang tangguh. Membangun kesadaran para pemuda, agar berkontribusi dalam membangun peradaban Islam.

 

Budaya konsumtif dan hedonis bukanlah budaya Islam, sebagaimana Allah Swt. berfirman:

 

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

 

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan." (QS. Al Isra' [17]: 26-27)



Di sisi yang lain, konsep penjualan berupa blind box menyalahi syariat. Ada unsur ketidakjelasan dan ketidakpastian barang yang didapat. Hal ini pun bertentangan dengan syariat Islam.

 

Sebagaimana hadis Rasulullah saw. dari Abu Hurairah berkata: "Rasulullah saw. melarang jual beli al-hashah dan jual beli al-garar." (HR. Muslim)



Fenomena generasi saat ini mejadi tantangan tersendiri bagi para agen perubahan. Mereka harus mengoptimalkan segala kesungguhan dalam mengajak dan membina generasi muda. Yakin semua akan bisa dilalui dengan tetap berpegang teguh pada ajaran Islam kafah.

 

Terus berdakwah menuju tegaknya institusi Islam yang akan melindungi generasi dari budaya kufur termasuk hedonisme. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


Hanif Mursalat Anapi

Deflasi Butuh Solusi Hakiki

Deflasi Butuh Solusi Hakiki

 




Deflasi yang beruntun dan terus menerus adalah indikasi kegagalan pemerintah

dalam mengatasi penurunan daya beli masyarakat


____________________________


Penulis Sunarti

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pengamat Sosial


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Menurut Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, salah satu penyebab deflasi di Indonesia selama lima bulan berturut-turut (sejak April 2024) adalah harga pangan. 

 

Adanya penurunan harga komoditas sayuran membuat para petani mengalami kerugian akibat membusuknya komoditas sayuran. Hal yang sama juga dirasakan oleh sejumlah pengusaha kecil dan menengah (UMKM) yang terus kehilangan pelanggan. Dikutip dari (nasional.kompas.com, 4-10-2024)

 

Deflasi adalah terjadinya penurunan harga-harga barang dan jasa secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Menurut pakar ekonomi Muhammad Andri Perdana (Bright Institute), sekilas deflasi tampak menguntungkan karena harga barang dan jasa menjadi lebih terjangkau oleh konsumen. Namun, sebenarnya sangat berbahaya, apalagi jika terjadi secara terus-menerus. Karena menjadi indikator pendapatan atau uang di masyarakat semakin langka.

 

Pendapatan masyarakat semakin turun sehingga mereka tidak ingin belanja dan lebih memilih untuk investasi sehingga uang yang beredar di masyarakat semakin sedikit. Harus ada solusi tuntas untuk mencari akar dan mengatasi persoalan deflasi.

Sebab-Sebab Terjadinya Deflasi


Deflasi tahun ini disebabkan oleh beberapa hal di antaranya:

 

Pertama, adanya pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut catatan Kemenaker, sebanyak 53.993 tenaga kerja terkena PHK per 1 Oktober 2024 dan diprediksi bisa lebih dari 70 ribu orang. Daya beli masyarakat yang terus menurun mengakibatkan rendahnya pemasukan perusahaan sehingga perusahaan mengambil langkah PHK untuk mengimbangi ongkos produksi yang terus naik agar perusahaan tetap dapat terselamatkan. Hal tersebut juga mengakibatkan angka pengangguran akan semakin meningkat.
 

 

Kedua, minimnya lapangan pekerjaan di sektor padat karya. Dengan menurunnya daya beli masyarakat akan berdampak pada menurunnya harga-harga barang sehingga pemasukan perusahaan berkurang dan memicu tingginya PHK massal.

 

Hal itu menyebabkan kesengsaraan rakyat semakin meningkat. Kenyataannya bukan hanya kebutuhan pangan yang tidak tercukupi tetapi juga rasa aman terancam. Sebab di samping kemiskinan, juga semakin tingginya angka kriminalitas dan problematik sosial lainnya.

 

Selama ini kinerja perekonomian Indonesia sebagian besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Dengan adanya deflasi mengindikasikan konsumsi rumah tangga mengalami penurunan daya beli karena pendapatan yang minim. Dampak secara langsung tampak pada kesejahteraan anggota keluarga termasuk ibu dan anak.

 

Sekarang semakin banyak ditemukan ibu yang stres karena memiliki peran ganda yakni sebagai tulang punggung keluarga sekaligus mengurus anak dan rumahnya. Ibu yang stres dan hidup tidak bahagia akan memengaruhi pola pengasuhan pada anak dan pengaturan rumah tangga.

 

Demikian juga dengan kesehatan dan pendidikan anak-anak yang tidak terpenuhi secara optimal. Kualitas kesehatan dan pendidikan generasi akan memburuk di masa depan. Lantas apa yang menjadi akar permasalahannya?
 

Deflasi yang beruntun dan terus menerus adalah indikasi kegagalan pemerintah dalam mengatasi penurunan daya beli masyarakat. Pemerintah dengan kebijakannya dianggap mandul dalam memperbaiki perekonomian rakyat. Buruknya kondisi ekonomi di negeri ini tidak terlepas dari kepemimpinan ekonomi kapitalisme yang menjadi landasan dalam pengambilan kebijakan.

 

Apabila ditelusuri lebih cermat, deflasi disebabkan oleh perekonomian yang lemah. Uang yang beredar pada saat ini hanyalah kertas yang tidak bernilai dan tidak ada jaminannya. Sedangkan dalam sistem Islam, setiap pertukaran yang beredar ada jaminan emas di baitulmal sehingga stabilitas perekonomian dapat terwujudkan.

 

Sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan saat ini yang menjadi akar permasalahannya. Sebab peran negara hanya sebagai regulator semata. Peran negara seharusnya sebagai pengurus rakyat dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya, bukan hanya kesejahteraan untuk kalangan tertentu saja yaitu para kapitalis.
 

 

Deflasi Butuh Solusi Hakiki


Dalam sistem Islam, posisi penguasa atau pemimpin sebagai pengurus rakyat. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Rasulullah saw. bersabda: “Imam/khalifah itu laksana penggembala dan dia bertanggung jawab terhadap gembalaannya.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dari hadis tersebut jelas bahwa penguasa ada untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kebutuhan pokok rakyat dapat terjamin sepenuhnya oleh negara dan persoalan deflasi pun bisa bisa menemui solusi hakiki. Hal ini terlihat mudah dilakukan oleh Daulah Islam karena keuangan (kas) negara sangat besar dan kuat sehingga negara mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat tanpa bergantung pada pajak yang harus dibayarkan oleh rakyat.


Khalifah memosisikan sumber daya alam sebagai kepemilikan umum, harus dikelola oleh negara dan dikembalikan ke pemiliknya yaitu rakyat. Rakyat pun dapat memperolehnya dengan mudah, murah bahkan gratis.

 

Hal ini seperti sabda Rasulullah saw.
 

“Umat Islam berserikat dalam 3 (tiga) perkara, yaitu padang rumput (hutan), air, api (energi).” (HR. Abu Dawud dan HR. Ahmad)

 

Karena itu dalam sejarah perekonomian Daulah Islam begitu maju pada saat itu yang paralel dengan kemajuan-kemajuan di bidang lain seperti kesehatan, teknologi, pendidikan, sastra, seni dan budaya. Jelaslah hanya dengan sistem Islam, masyarakat bisa sejahtera dalam segala aspek kehidupan. Sebaliknya sangat sulit dan mustahil terwujud kesejahteraan dalam kapitalisme seperti saat ini.

 

Dengan demikian, upaya penerapan dan penegakan syariat Islam secara menyeluruh dan totalitas harus segera diwujudkan agar persoalan deflasi segera teratasi. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

Kapitalisme Sistem Rusak yang Eksploitatif

Kapitalisme Sistem Rusak yang Eksploitatif

 


Kapitalisme juga mengakibatkan hubungan antara perusahaan dan institusi pendidikan

sebagai hubungan saling menguntungkan

________________________


Penulis Umi Lia

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member AMK


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Banyak dijumpai petani miskin, buruh pabrik dieksploitasi adalah hal yang lumrah di negeri ini.


Ada fakta yang lebih memprihatinkan ketika mahasiswa dan para pelajar dizalimi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kasusnya sudah lama terjadi, tetapi belum ada tindak lanjut yang bisa menghentikan kasus ini.


Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati Solihah, mengungkapkan program Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) rentan menjadi modus eksploitasi pekerja anak. Menurutnya, banyak aduan yang masuk ke komisi soal pelanggaran dari perusahaan yang memanfaatkan program ini. Ia memberi contoh pada tahun 2022 sebuah hotel bintang empat di kota Bekasi Jawa Barat, mempekerjakan anak di bawah umur. Mereka diminta kerja selama tujuh hari dengan waktu kerja yang overtime. (Tempo.co, 9-10-2024)


Eksploitasi tenaga kerja ini ternyata bukan hanya menimpa pelajar SMK, mahasiswa pun mengalami nasib yang sama. Pada Oktober hingga Desember 2023 lalu, terungkap 1.047 orang dari 33 universitas di Indonesia menjadi korban eksploitasi kerja berkedok magang di Jerman.

 

Modus penipuan ini melibatkan perusahaan yang mendatangi kampus. Mereka menjanjikan pekerjaan itu karena termasuk program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan dapat dikonversi menjadi 20 satuan kredit semester (SKS). Namun setelah diteliti ternyata keberadaannya hanyalah ferienjob yang meliputi kerja fisik paruh waktu saat musim liburan.


Eksploitasi Berkedok Magang


Magang bagi mahasiswa atau PKL bagi siswa SMK merupakan sarana untuk menambah keterampilan. Di perguruan tinggi hal itu merupakan bagian dari program MBKM agar lulusannya memiliki pengalaman kerja sebelum diwisuda. Alhasil dapat memperbesar peluang untuk terjun ke dunia kerja. Demikian juga dengan PKL merupakan bagian dari kurikulum sekolah vokasi yang didirikan untuk menghasilkan pekerja yang ahli dalam suatu bidang baik secara lokal maupun global.


Magang berbeda dengan bekerja. Kegiatan ini harusnya menjadi jalan pembelajaran secara langsung bagi peserta didik di lapangan sebagai bekal memasuki dunia kerja. Begitu juga dengan program PKL yang merupakan syarat yang harus dipenuhi supaya dapat naik kelas di SMK.

 

Pada kenyataannya banyak kasus yang melibatkan oknum yang rakus sehingga program-program pendidikan ini disalahgunakan. Mahasiswa atau siswa akhirnya dianggap bisa dipekerjakan tanpa gaji karena sifatnya yang sementara. Lebih parah lagi mereka dieksploitasi demi keuntungan perusahaan dan pihak yang tidak bertanggung jawab. Kasus-kasus seperti ini bisa jadi merupakan fenomena gunung es.


Sebenarnya program magang di tingkat perguruan tinggi maupun PKL di sekolah tingkat menengah, merupakan realisasi dari link and match dunia pendidikan dengan dunia industri. Penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan materi telah menjadikan pendidikan harus berjalan sesuai dengan kebutuhan industri atau kehendak pemilik modal.

 

Negara telah gagal membangun paradigma pendidikan yang benar di tengah masyarakat. Pemerintah justru bertindak sebagai regulator yang memudahkan terjadinya relevansi antara kurikulum dengan kebutuhan industri. Bahkan secara terang-terangan penguasa menganggap hal tersebut merupakan solusi untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang siap kerja.


Kapitalisme Biang Masalah


Dari sini terlihat bahwa negara berlepas tangan dalam memenuhi kebutuhan lapangan kerja warganya. Malah menyerahkannya kepada swasta meskipun harus mengorbankan berjalannya pendidikan ideal. Di sisi lain para pemilik modal hanya memiliki paradigma keuntungan dalam menjalankan bisnisnya.

 

Para pengusaha tentu tidak mau ambil pusing dengan banyaknya rakyat yang menganggur. Akhirnya program magang atau PKL rawan menjadi sarana eksploitasi para peserta didik demi mengejar keuntungan yang lebih besar.


Selain mendapatkan calon pekerja yang diharapkan, mereka juga mendapatkan keuntungan tenaga gratis dari kegiatan ini. Perusahaan tidak perlu membayar pelajar atau mahasiswa karena tidak ada kontrak kerja. Sebaliknya mereka menganggap yang magang itu harus merasa diuntungkan karena diizinkan mencari pengalaman kerja di perusahaan tersebut.


Tidak adanya kontrak kerja pada akhirnya dimanfaatkan perusahaan untuk melakukan eksploitasi dengan memberi beban kerja yang tinggi, jam kerja overtime, tanpa gaji, tanpa jaminan keselamatan dan kesehatan kepada para pelajar atau mahasiswa. 


Kapitalisme juga mengakibatkan hubungan antara perusahaan dan institusi pendidikan sebagai hubungan saling menguntungkan, tapi merugikan peserta didik. Ini semua dampak dari kapitalisasi pendidikan yang berjalan secara legal di negeri ini.


Hal tersebut menimbulkan keresahan berbagai pihak. Namun selama negara bertahan dengan sistem kapitalis, maka problem eksploitasi pelajar dan mahasiswa tidak akan pernah terurai. Padahal penyediaan lapangan kerja dan perlindungan kepada rakyatnya adalah tanggung jawab penguasa untuk mewujudkannya.


Islam Solusi Hakiki

 

Rasulullah saw. bersabda:

 

"Imam/khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya." (HR. Muslim dan Ahmad)


Dalam pandangan Islam, negara wajib menyusun kurikulum pendidikan yang berorientasi pada majunya peradaban bukan pada nilai materi.


Islam telah mendudukkan pendidikan sebagai wadah untuk melahirkan ilmuwan yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan umat. Mampu membebaskan negerinya dari cengkeraman penjajah yang mengeksploitasi sumber daya alam dan melemahkan bangsanya serta menjadi negara yang mandiri dan disegani. 


Kondisi ideal sebuah negara seperti di atas bisa terwujud hanya dalam negara yang menerapkan sistem Islam. Kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam merupakan tanggung jawab negara. Menciptakan lapangan kerja dan mengelola sumber daya alam secara mandiri. 


Dalam pandangan Islam sumber daya alam tidak boleh diserahkan kepada swasta terlebih kepada asing, sebab syariat telah melarangnya.


Sejarah mencatat, bagaimana kemampuan negara yang menerapkan syariat Islam menghantarkan kepada peradaban agung, rakyat sejahtera, militernya ditakuti musuh, ekonominya juga maju dan penguasanya berwibawa. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Generasi Z dan Langkah Besar Menuju Islam Kafah

Generasi Z dan Langkah Besar Menuju Islam Kafah




Selain itu dalam Islam kafah generasi muda dibentuk

agar memiliki mental yang kuat dan kepribadian yang tangguh

_________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Di balik gemerlap media sosial yang tampak sempurna, tersembunyi jeritan sunyi generasi muda Indonesia.


Masalah kesehatan mental kian mengkhawatirkan, menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa. Berdasarkan data BPS 2024, populasi remaja dan dewasa muda di Indonesia mencapai 22,12 juta jiwa untuk usia 15-19 tahun dan 22,28 juta untuk usia 20-24 tahun. Jumlah yang mencerminkan potensi besar sekaligus tantangan yang dihadapi bangsa (BPS, 2024). 


Melalui Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama untuk remaja 10-17 tahun di Indonesia. Hasil survei menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental, setara dengan 15,5 juta remaja. Dikutip dari timesindonesia.co.id, Kamis, 17/10/2024.


Generasi Z saat ini menghadapi berbagai tekanan hidup yang tidak ringan mulai dari stres, depresi, hingga kecemasan. Tekanan sosial dan finansial seperti biaya pendidikan yang tinggi dan minimnya kesempatan kerja semakin membebani pikiran generasi ini. Terasa seolah hidup hanyalah perlombaan tanpa akhir di bawah bayang-bayang ekspektasi sosial.


Di sisi lain, tren gaya hidup konsumtif yang mendominasi juga menjadi tantangan. Budaya FOMO, konsumerisme, dan hedonisme sudah seperti bagian dari keseharian. Ini bukan sepenuhnya kesalahan generasi muda melainkan pengaruh lingkungan sosial dan media yang sangat kuat dalam membentuk cara pandang dan nilai hidup.


Kapitalisme dan demokrasi yang saat ini diterapkan nyatanya cenderung menguntungkan segelintir pihak, dan kurang memperhatikan kesejahteraan masyarakat luas, terutama para remaja yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. 


Meski demikian, generasi ini juga memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Kita dapat memilih untuk beralih dari sistem yang membuat kita tertekan menuju jalan hidup yang lebih sesuai dengan nilai hakiki. Jawabannya bukan pada kapitalisme atau demokrasi, tetapi pada penerapan Islam secara kafah. Yang akan memberikan solusi menyeluruh bagi setiap aspek kehidupan.


Islam kafah tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga memberikan pedoman untuk seluruh aspek kehidupan. Diperlukan sistem pemerintahan yang menerapkan aturan Allah Swt. secara adil untuk semua pihak, dari rakyat hingga pemimpin. Memastikan peraturan hukum akan ditegakkan dan tidak hanya sebagai formalitas atau kepentingan golongan tertentu.


Selain itu, dalam Islam kafah generasi muda dibentuk agar memiliki mental yang kuat dan kepribadian yang tangguh. Generasi Z akan mendapatkan bimbingan untuk menjadi individu yang berdaya, berakhlak baik, dan mampu membangun masyarakat yang sehat.


Jadi, jalan untuk keluar dari krisis ini ada di depan mata. Sistem yang kita butuhkan adalah yang benar-benar mampu membawa kita pada hidup yang lebih adil, sejahtera, dan bermakna. 


Penerapan Islam kafah bukan sekadar pilihan melainkan ini adalah kebutuhan bagi generasi yang tengah mencari arah atau jati diri dan makna hidup yang sejati.


Butuhnya pembinaan yang intensif bagi remaja saat ini agar bisa menjadi generasi penerus yang memiliki mental tangguh, berkepribadian Islam, berpegang teguh pada agama dan akan senantiasa membela agama Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC


Hasna Husna Husniyah

(Aktivis Remaja)

Kabinet Zaken atau Seken?

Kabinet Zaken atau Seken?

 



Pada sistem demokrasi presidensial yang multipartai mewujudkan zaken kabinet

bagai pungguk merindukan bulan

______________________________


Penulis Elfia Prihastuti, S.Pd.

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Praktisi Pendidikan 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kabinet Merah Putih memang gebrakan yang menarik perhatian. Presiden terpilih Prabowo Subianto berambisi membentuk zaken kabinet.


Wacana pembentukan zaken kabinet bukanlah hal baru dalam pemerintahan negeri ini. Sejak zaman Presiden Soekarno dan presiden terpilih lainnya, setiap jelang pergantian pemerintahan selalu mengungkapkan keinginan membentuk kabinet berdasarkan ahli.


Namun pertanyaannya mampukah kabinet Merah Putih mewujudkan zaken kabinet di tengah gemuknya koalisi pendukung pemerintah?


Ahmad Muzani juru bicara partai Gerindra menyampaikan bahwa Prabowo berharap kabinetnya kelak diisi oleh para menteri yang ahli di bidangnya masing-masing, bukan sekadar representasi partai politik (parpol).


Dengan kata lain Prabowo menginginkan sebuah pemerintahan zaken kabinet. Di mana para menterinya adalah orang-orang yang ahli di bidangnya, meskipun yang bersangkutan berasal atau diusulkan dari parpol. (Kompas.com, 9-9-2024) 


Apa Itu Zaken Kabinet?


Zaken kabinet adalah kabinet yang dibentuk berdasarkan keahlian yakni seorang menteri yang dipilih adalah seorang profesional yang kompeten di bidangnya. Dengan demikian, performa para menteri akan fokus pada implementasi program daripada kepentingan politis.


Dalam sejarahnya, kabinet zaken telah dilakukan sejak masa pemerintahan Soekarno. Misalnya Mohammad Natsir pada tahun 1950-1951. Natsir menunjuk Soemitro Djojohadikusumo sebagai menteri perdagangan dan perindustrian.


Sementara Bahder Djohan sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Selain itu, ada Kabinet Wilopo tahun 1952-1953. Periode ini identik dengan kabinet zaken meskipun beberapa masih diisi oleh orang-orang partai politik. 


Terakhir ada Kabinet Karya tahun 1957-1959 dipimpin Perdana Menteri Djuanda Kertawidjaya. Kabinet inilah yang menerapkan zaken kabinet paling sesuai. Oleh karena itu, Kabinet Karya disebut kabinet zaken.  Kabinet ini dinilai berhasil mengatasi berbagai masalah yang kompleks dan menciptakan stabilitas politik serta ekonomi yang relatif lebih baik.  


Bagai Pungguk Merindukan Bulan 


Zaken kabinet selalu menjadi wacana dalam setiap pemerintahan baru. Pembentukan zaken kabinet dalam sebuah pemerintahan hanyalah sebatas teoritis semata. Pasalnya konsep ini tidak mempunyai basis praktikal.


Walaupun negeri ini digadang pernah memiliki zaken kabinet, namun perlu dicermati kabinet-kabinet tersebut berada dalam sistem demokrasi parlementer. Jika kita telusuri lagi, kabinet yang disebut-sebut sebagai zaken kabinet tersebut berlangsung tidak lebih dari dua tahun.


Sementara dalam konteks penerapan sistem demokrasi presidensial yang multipartai, mewujudkan zaken kabinet, bagai pungguk merindukan bulan. Menjadi pemerintahan yang tidak akomodatif, menjadikan pemerintahan berjalan oleng.


Tentu pemerintah mana pun akan selalu berharap program-programnya dapat dilaksanakan dengan baik. Maka mencari sebanyak mungkin dukungan dari partai politik dan kelompok masyarakat lainnya adalah hal yang paling rasional.


Efektivitas dan efisiensi kerja kabinet memang idealnya dengan membentuk kabinet yang ramping dan diisi oleh orang-orang kompeten. Namun, pemberian dukungan sering kali disertai imbalan jatah kekuasaan.


Jadi sebuah kabinet ideal hanyalah konsep di atas kertas, sedangkan praktiknya tidak pernah terwujud dalam dunia nyata.


Dari Zaken Menuju Seken


Hal yang paling menonjol ketika kampanye, Prabowo mengungkapkan akan melanjutkan program pemimpin sebelumnya. Sebagai presiden berkelanjutan, Prabowo berusaha meniru pendahulunya. Yakni perkataan hanya terwujud dalam kata-kata belaka dan jauh dari realita.


Prabowo ingin kabinetnya cepat bekerja tapi banyak melakukan pemisahan dan penyatuan kementerian. Hal ini bukan perkara yang mudah. Kementerian baru akan sibuk menata lembaganya dan berakibat tidak bisa langsung bekerja.


Sementara koar-koar ingin membentuk zaken kabinet justru yang muncul adalah seken kabinet. 17 menteri presiden terdahulu masih turut mengisi Kabinet Merah Putih. Hal ini memberikan isyarat bahwa lebih dari sepertiga masih bercokol di kabinet Prabowo. 48 menteri ditempati oleh kalangan pengusaha, politikus, dan profesional yang dekat dengan para pengusaha.


Hal terpenting, sebagaimana diungkapkan oleh cendekiawan muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto, bahwa keberhasilan mengimplementasikan visi misi Presiden terpilih, memimpin negeri ini 5 tahun ke depan ditentukan oleh tiga hal.


Salah satunya jika tidak ada keinginan untuk mengubah sistem yang ada saat ini, maka visi dan misi itu hanya sebatas narasi. Dengan demikian, kabinet Merah Putih hanyalah sebuah kabinet seken semata.


Pandangan Islam 


Islam adalah agama yang datang dari Allah Swt.. Maka aturan-aturan yang diberlakukan untuk manusia sebagai hamba harus disandarkan pada aturan-Nya. Seluruh aspek kehidupan manusia tidak luput dari pengaturan-Nya. Termasuk dalam memilih orang untuk menduduki suatu jabatan. 


Sejatinya jabatan itu merupakan tanggung jawab besar untuk urusan besar. Oleh karena itu, setiap pejabat harus memiliki kemampuan, kapabilitas, dan integritas pada amanah yang ada. Sebab semua itu harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. 


Jika memegang jabatan tanpa kualifikasi maka berimbas pada dosa yang akan dipikulnya di dunia dan akhirat. Bisa jadi dia orang yang baik, tetapi karena amanah yang tidak tertunaikan membuatnya masuk neraka.


Nabi saw. sendiri sangat selektif dalam memberikan amanah kepada seseorang yang akan diberi tugas atas sebuah urusan. Dalam memberikan amanah, Nabi selalu melihat bukti kemampuan yang akan dipilihnya untuk mengemban suatu amanah. Hal ini digambarkan dalam hadis berikut yang artinya:


Dari [Abu Dzar] dia berkata, saya berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikanku sebagai pegawai (pejabat)?” Abu Dzar berkata, “Kemudian beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan hak dan melaksanakan tugas dengan benar.” (HR. Muslim)


Hadis di atas menjelaskan bahwa seseorang dilarang untuk meminta jatah jabatan seperti yang terjadi pada sistem demokrasi saat ini. Sekaligus Islam juga mewajibkan adanya kesesuaian dengan bidang jabatan yang diamanahkan.


Namun gambaran pejabat yang ahli di bidangnya, tidak akan didapati dalam pemerintahan yang menerapkan sistem demokrasi. Pasalnya demokrasi harus akomodatif terhadap berbagai kelompok masyarakat yang mendukung pemerintahannya. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Hancurnya Kehormatan Perempuan Akibat Demokrasi

Hancurnya Kehormatan Perempuan Akibat Demokrasi



Lepasnya tanggung jawab pemerintah itulah yang memaksa individu

terutama perempuan, harus berjuang sendiri menjaga kehormatan

_________________________


Penulis Daun Sore

Kontributor Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Bukan lagi menjadi kasus yang viral, kasus kekerasan terhadap perempuan sudah menjadi kasus statis yang tengah melanda masyarakat khususnya kaum muslim sebagai penduduk mayoritas Indonesia.


Kasus ini bukan lagi terjadi beberapa kali, namun sudah menjadi kriminalitas yang berulang setiap tahunnya bahkan hampir setiap bulan. Banyak korban perempuan yang berjatuhan tanpa penanganan yang efektif.


Bahkan dalam pemantauan Komnas Perempuan, kekerasan seksual di lembaga pendidikan berbasis agama dan berasrama tergolong tinggi dibandingkan lembaga pendidikan secara umum.


Pondok pesantren saat ini sudah dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat normal. Ponpes yang benar-benar menjalankan nilai-nilai Islam pun seolah tertutupi akibat potret kerusakan yang terus melanda di lembaga pendidikan yang katanya berbasis agama dan keimanan tersebut.


Selain di pondok pesantren yang katanya berasas agama Islam, tak dimungkiri kasus kekerasan pada perempuan ini sungguh meledak di kalangan masyarakat umum, baik di tingkat pendidikan maupun kelompok pekerja.


Dilansir dari Kompas.com pada Senin, 07 Oktober 2024, kekerasan fisik dan seksual pada perempuan berusia 15-64 tahun lebih tinggi di kalangan mereka yang berpendidikan sekolah menengah atas (SMA) ke atas dibandingkan dengan yang berpendidikan sekolah menengah pertama (SMP) ke bawah.


Dapat diambil contoh pada kasus yang tengah viral mengenai penganiayaan dan pemerkosaan remaja penjual gorengan yang berusia 18 tahun. Diliput oleh detik.com dari detiksumut pada Rabu, 11 September 2024, NKS (inisial korban) ditemukan tewas terkubur dalam kondisi tangan terikat dan tanpa busana pada Minggu petang. Kuat dugaan, remaja perempuan yang sehari-hari menjual gorengan keliling kampung itu menjadi korban pembunuhan dan pemerkosaan.

 

Tak hanya itu, dikutip dari Kompas.com (Senin, 07 Oktober 2024), prevalensi kekerasan fisik juga lebih banyak terjadi di kalangan perempuan yang bekerja dibandingkan dengan yang tidak bekerja.


Pada 2024, kekerasan terhadap perempuan dari pasangan maupun bukan pasangan mencapai 25,6 persen di kelompok pekerja, sedangkan di kelompok tidak bekerja sebesar 22,7 persen. Kekerasan yang terjadi sangat kompleks, mulai dari kasus penghinaan, penganiayaan, sampai pada pelecehan seksual.


Ketidakpahaman Hakikat Hidup


Kasus yang seolah terstruktur dan hukuman yang tidak setimpal bagi para pelaku ini dipastikan tidak akan pernah bisa dihentikan. Para pelaku tidak akan pernah merasakan efek jera akibat hukuman yang sangat lemah jika bertatapan dengan uang dan harta.


Seolah merendahkan harga diri korban bahwa tindak kejahatan yang dialami dapat mudah ditutupi dan dibersihkan dengan seonggok materi dunia.


Belum lagi kontribusi pemimpin dan kelompok rezim yang hanya mengandalkan mulut tanpa sebuah aksi perjuangan yang nyata. Calon pemimpin yang hanya mengandalkan suap demi mendapat suara rakyat. Program yang dibuat hanya dipuja di awal, pun tampak diciptakan tanpa akal dan solusi yang bersifat takzir atau memberi efek jera. 


Mengenai kasus kekerasan pada perempuan, calon presiden RI, Prabowo Subianto dan wakil presiden Gibran Rakabuming Raka, membuat program yang berkaitan bahwa salah satu cara yang menjadi konsen calon tersebut yakni pembangunan kesejahteraan keluarga.


Agar tidak lagi bermunculan masalah tersebut, mereka menekankan langkah preventif dengan membangun kesejahteraan ekonomi keluarga, dengan lapangan pekerjaan makin dibuka luas. (surakarta.suara.com, 15 Desember 2023)


Tidakkah para calon pemimpin itu berpikir dengan normal? Tindak kriminalitas ini terjadi mengakar subur dari bibit kapitalisme demokrasi. Sistem yang sudah salah di awal, apa pun aturan baru yang dibuat akan tetap berujung pada kesalahan fatal.


Coba bayangkan, jika lapangan pekerjaan dibuka lebar, baik laki-laki maupun perempuan diberikan hak bekerja, apakah tidak menimbulkan masalah baru semisal dalam hubungan rumah tangga. Mulai dari perasaan narsistik antarpasangan sampai KDRT akibat tidak adanya sosok di dalam rumah untuk mengurus anak. 


Berselimut pancasila sebagai ideologi negara namun tidak dijadikan acuan dalam hukum, semua hanya dijadikan pajangan yang fungsi utamanya sebagai estetika, bukan dasar negara. Lantas untuk apa?


Permasalahan terstruktur ini tentu memiliki banyak peran, baik dari rakyat maupun yang katanya pemimpin rakyat. Rakyat yang muslim bahkan belum mengetahui hakikat hidupnya di dunia untuk apa.


Sebagian yang sudah paham dan berusaha taat akan agamanya, terus diterjang kemaksiatan di manapun mereka berada. Di dalam juga di luar rumah karena tidak ada peran kontrol bagi masyarakat.


Lepasnya tanggung jawab pemerintah itulah yang memaksa individu terutama perempuan, harus berjuang sendiri menjaga kehormatan yang nyaris hilang di zaman ini.


Sistem yang Tidak Pernah Memberikan Solusi


Sistem yang dibentuk atas dasar kebuasan nafsu manusia tidak akan pernah menghadirkan solusi atas seluruh permasalahan di berbagai bidang. Di awal terlihat menjanjikan, namun di akhir hanyalah kehancuran tak terbendung yang makin menyesatkan.


Bertumpah ruah korban di dalam negeri akibat sistem yang tidak menjamin perlindungan nyata. Entah itu masyarakat yang benar-benar korban atau mengorbankan diri demi materi dunia.


Manusia akan sulit menemukan jalan keluar atas masalahnya dikarenakan hilang peran pemimpin yang dapat menaungi dan memikirkan penuh umatnya.


Yang ada hanya pemimpin kotor bertopeng visi misi menarik, ketika sudah terpilih mereka akan dengan senang hati membuka topeng dan menunjukkan sifat asli. Layaknya pencuri dengan taktik manisnya yang siap menghunus kala korban berhasil direnggut.


Upaya yang Bisa Dilakukan 


Roda kehidupan itu berputar, ada masanya manusia naik ada masanya ia terpuruk. Roda kehidupan umat sungguh terpuruk di bawah penjajahan Barat.


Jika roda pernah di atas, tentu sudah ada sistem yang membuat roda itu mampu di atas, dan realitasnya sistem Islamlah yang pernah memimpin dunia sehingga bagian roda pernah ada di atas dalam kurun waktu yang lama. Roda kembali turun saat sistem Barat mengambil alih dan menghancurkan seluruh kehidupan dengan kebengisan di atas kebengisan.


Sudah lama roda dunia ini ada di bawah, saatnya umat bersatu memutar roda itu agar kembali naik dan berjaya. Satu-satunya yang mampu memutar kehidupan umat hanyalah sistem Islam. Penerapan sistem Islam secara menyeluruh akan menyelamatkan kehidupan manusia, bukanlah sistem demokrasi. 


Allah yang menciptakan manusia, tentu Allah tahu hukum dan peraturan yang terbaik untuk manusia itu apa. Bukan dibuat oleh manusia yang memiliki akal terbatas dan hanya berpusat pada pemuasan hawa nafsu saja.


Islam yang merupakan sistem sahih, akan mampu menjaga kehormatan perempuan dengan segenap jiwa. Seperti yang terjadi pada kekhalifahan Umar di mana Bani Qainuqa melecehkan perempuan secara verbal di pasar, pada saat yang bersamaan Umar bin Khattab langsung membawa pasukan menuju lokasi dan menghukum Bani Qainuqa tersebut. 


Apalagi hal yang berbau penganiayaan dan pelecehan fisik. Sistem sanksi yang tegas dalam Islam akan memberikan efek jera kepada pelaku bahkan mampu mencegah agar tidak ada lagi orang-orang yang berbuat serupa. 


Sampai di sini, apakah yakin masih akan mempertahankan sistem kufur buatan nafsu manusia yaitu kapitalisme demokrasi ini? Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

Zionis Yahudi Menggila, Umat Satu Tubuh ke Mana?

Zionis Yahudi Menggila, Umat Satu Tubuh ke Mana?

 


Diamnya negara-negara Arab membuktikan penguasa negeri-negeri muslim telah tunduk dan patuh

kepada negara adidaya yang telah bekerja sama dengan Zionis Yahudi


________________________


Penulis Ummu Ahsan

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Mencermati situasi terkini di Gaza dan pasca gugurnya kepala biro politik Hamas Yahya Sinwar, tentara Israel melakukan serangan udara dan darat besar-besaran di permukiman Beit Lahia, Gaza Utara pada tanggal 20 Oktober. 87 warga Palestina dibantai di antaranya ada wanita dan anak-anak. 


Negara-negara Arab tidak berkomentar atas serangan-serangan brutal tersebut dan PBB sebatas mengutuk. Milter Israel mengatakan, pihaknya meningkatkan serangan di Gaza Utara untuk mencegah pasukan Hamas berkumpul kembali. 


Kebrutalan Zionis Yahudi di Gaza Utara memaksa ribuan penduduk untuk mengungsi tanpa arah tujuan. Tanpa adanya jaminan kehidupan. Dikutip dari (tempo.co, 21-9-2024) 


Adanya Pengkhianatan


Masalah Palestina semakin berlarut-larut. Hal ini dilihat dari solusi tambal sulam yang dilakukan dari kedua belah pihak antara kelompok Hamas dan pihak Zionis Yahudi.


Adanya pertukaran tahanan sampai gencatan senjata tidak mampu membawa pada satu kesepakatan untuk mengakhiri genosida. Mengapa demikian?


Akar masalah Palestina adalah perampasan hak milik berupa wilayah yang telah ditempati oleh rakyat Palestina. Zionis melupakan jasa yang telah diberikan oleh para pendahulu penduduk Palestina.


Di mana mereka tidak memiliki tempat tinggal dikarenakan sifat aslinya sebagai kaum pendusta dan khianat. Namun dengan kemurahan hati serta iman dan takwa rakyat Palestina, mereka bersedia menampung dan memberikan tempat tinggal yang layak bagi Zionis. 


Namun sayang seribu kali sayang, ibarat kacang lupa kulitnya Zionis yang hanyalah tamu, telah diberikan tumpangan ingin menguasai wilayah Palestina dengan segala cara. Bahkan dengan pengkhianatan terhadap rakyat Palestina, berupa menjadi musuh dalam selimut.


Zionis bekerja sama dengan beberapa negara melakukan provokasi dengan jalan perjanjiannya. Kesepakatan yang lebih memihak kepada Zionis inilah yang membuat penduduk Palestina terkhusus kelompok muslim di sana tidak menerima dan memutuskan perjanjian. 


Alhasil, Zionis tidak menerima dan mendramatisir situasi dan kondisi politik yang ada. Akhirnya kelompok muslim dicap sebagai kelompok pembangkang sampai pada tuduhan  terorisme karena membela kependudukan dan batas wilayah. 


Tidak sampai di situ, melihat fakta yang ada dari peperangan yang tak seimbang antara Zionis Yahudi dengan Hamas, korban terus berjatuhan. Karena target dari peperangan tersebut tidak hanya akan menghilangkan jejak kelompok Hamas, melainkan menghilangkan jejak kependudukan di tanah yang dimuliakan oleh Allah Swt., yakni Palestina. 


Diamnya negara-negara Arab membuktikan penguasa negeri-negeri muslim telah tunduk dan patuh kepada negara adidaya yang telah bekerja sama dengan Zionis Yahudi.


Bahkan kematian pemimpin Hamas Yahya Sinwar di kota Rafah, kota yang begitu dekat dengan Mesir. Konon Mesir adalah salah satu negara yang memiliki pasukan militer terkuat di Arab.


Harapan Palsu di Balik Nasionalisme


Nasionalisme adalah sebuah paham yang lahir dari pemisahan agama dari kehidupan (sistem hidup sekularisme). Nasionalisme sering digunakan dalam politik negara-negara Barat agar tidak saling mencampuri urusan satu sama lain.


Secara tak kasat mata memang memiliki fungsi yang baik yakni tidak saling mengganggu dan merecoki hubungi luar negeri ataupun dalam negeri. Pada intinya nasionalisme memberikan batas sikap, batas atas solusi serta batas bantuan.


Negara yang menjadikan nasionalisme sebagai bagian pilar pemerintahannya terkhusus pada sistem perpolitikannya, maka negara tersebut harus bisa mandiri dalam mengatasi problem internalnya.


Dari penjabaran nasionalisme ini telah membuktikan bahwa nasionalisme tidak bisa dijadikan harapan perubahan untuk menyolusi masalah Palestina bahkan untuk masalah negara lain. Rasa cinta yang berlebih pada suku, tanah air, keluarga dan kelompok telah mengantarkan pada pola pikir yang keliru. 


Bahwa ada solusi yang lahir dari paham nasionalisme. Membela tanah air, membela wilayah telah dicap sebagai satu satunya solusi yang harus diupayakan sampai titik darah penghabisan.


Ikatan seperti inilah yang mengikat dunia saat ini sehingga aktivitas penjajahan, genosida dan perampasan SDA di negeri-negeri muslim sampai detik ini masih terus terjadi.


Umat yang Satu


Sejatinya umat muslim bisa bersatu mematahkan ikatan nasionalisme dengan kesadaran politik Islam. Menuntut pemimpin negeri muslim agar mengirimkan pasukannya untuk membebaskan Palestina.


Umat harus dibangun kesadarannya membela Palestina, karena membela Palestina adalah amal yang sangat luar biasa besar pahalanya. Ada banyak pujian dan keistimewaan dalam membela Palestina.


Di antaranya dalam surah Al-Maidah ayat 21 Allah Swt. berfirman, "Wahai umatku, masuklah ke tanah suci yang telah ditetapkan Allah kepadamu dan janganlah kamu mundur (dari berperang di jalan Allah) karena nanti kamu akan dikembalikan sebagai orang-orang yang merugi.”


Dari dalil ini telah disebutkan bahwa tanah Palestina adalah tanah yang Allah muliakan, terdapat banyak keberkahan hidup di dalamnya. Allah menyeru kepada seluruh kaum muslim tanpa terkecuali untuk membela Palestina.


Karena Islam adalah umat yang satu, sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw. bersabda, "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR. Bukhari dan Muslim)


Perisai Hakiki


Umat membutuhkan payung yang akan menjadi pelindung dari kezaliman manusia yang zalim. Payung itu tidak lain adalah Daulah Islam. Umat harus kembali pada kesadaran penuh akan kewajiban menegakkan Daulah Islam.


Daulah Islam akan menghapus sekat nasionalisme dari pemikiran umat. Daulah Islam adalah sebuah institusi yang dipimpin oleh seorang khalifah yang akan menerapkan sistem Islam.


Islam hanya akan meninggikan rasa cinta kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Maka dibutuhkan sebuah kelompok dakwah yang akan menyadarkan umat pada posisinya sebagai umat terbaik dan wajibnya menegakkan Daulah Islam.


Rasulullah saw. telah memberikan teladan terbaik bagaimana menegakkan negara Islam kafah. Umat wajib meneladaninya. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]