Alt Title
Menjadi Pribadi Dewasa

Menjadi Pribadi Dewasa

Di dalam Islam, yang disebut balig bukan saja terlihat dari penampakan fisik. Tapi, bagaimana kesiapan dia dalam menerima taklif hukum

Mampu membedakan mana yang benar dan salah. Bisa memilih apa-apa yang dia yakini benar tanpa ada paksaan dari orang lain 

________________________________

Bersama Ustazah Dedeh Wahidah Achmad



KUNTUMCAHAYA.com, TSAQAFAH - Bagaimana proses manusia menjadi dewasa, serta apa konsekuensinya ketika dia sudah dewasa menurut pandangan Islam? Berikut ini penjelasan lengkapnya. Yang disampaikan oleh Ustazah Dedeh Wahidah Achmad melalui channel youtube Muslimah Media Center (MMC).


Ustazah mengawali penjelasannya dengan mengatakan bahwa berbagai sikap, berbagai cara, dilakukan oleh manusia untuk menghadapi proses kedewasaan. Atau istilah zaman sekarang disebut dengan "adulting". Proses atau cara seseorang dalam melampaui salah satu fase dalam kehidupan menuju dewasa.


Hal ini, tergantung dari sudut pandang manusia terhadap kehidupan itu sendiri. Misalnya, ada di satu daerah yang menganggap bahwa proses dewasa ini merupakan sesuatu yang istimewa, sehingga harus disambut dengan berbagai upacara adat. Bahkan, ada yang dirayakan sampai berhari-hari. 


"Tanda kedewasaan pun berbeda-beda. Ada yang mengatakan dewasa itu ditandai dengan emosi yang mulai stabil, berkata jujur, mandiri, bertanggung jawab dan sebagainya. Namun, juga ada yang menganggap bahwa dewasa itu ditandai dengan umur 17 tahun. Sehingga dia boleh pergi tanpa izin, boleh menyetir mobil sendiri, bahkan ada yang berpendapat, dengan kedewasaannya itu dia boleh pacaran, boleh pulang malam tanpa ada intervensi dari orang tua," lanjutnya.


Islam sebagai sebuah ideologi, Islam mempunyai aturan dan cara pandang tersendiri terhadap kedewasaan ini. Bagaimana prosesnya? Apakah hanya sekadar umur yang 17 tahun, yang ia boleh pergi sendiri tanpa campur tangan orang tua karena sudah dianggap dewasa.


Hal ini penting kita bahas. Kenapa? Supaya kita bisa mempersiapkan generasi kita menuju kedewasaan itu dengan tepat. Sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt.. Juga, dengan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw..


Di dalam  terminologi fikih, kita mengenal istilah kedewasaan ini dengan adanya istilah mukallaf. Artinya orang yang terkena beban hukum syara. Salah satu syarat mukallaf adalah balig. Sementara menurut definisi bebas, balig adalah masa pubertas. Meninggalkan masa kanak-kanak dan masuk ke dalam masa remaja (mumayyiz). Yang mana, dia sudah bisa membedakan sesuatu itu benar atau salah. Kemudian masuklah ia ke masa dewasa atau balig. 


Islam memandang ketika  seseorang sudah sampai ke masa balig maka dia memiliki konsekuensi tertentu. Sebagaimana firman Allah Swt. yang tertulis di dalam Al-Qur'an,


"Allah Swt. tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.'' (QS. Al-Baqarah (2): 286)


Dengan ayat ini Allah Swt. menjelaskan bahwa ketika manusia hidup di dunia, dia akan menjadi seorang mukallaf. Dia terbebani taklif hukum. Artinya, harus terikat dengan aturan dan risalah Allah Swt., yang diturunkan kepada Rasulullah saw.. Yaitu berupa akidah dan syariat, ketika orang tersebut sudah melewati fase kedewasaan.


Lalu, seperti apa balig itu menurut Islam? Apakah sama dengan terminologi yang dipakai dalam masyarakat saat ini. Yaitu sekadar ditandai dengan usia tujuh belas tahun, adanya penampakan kestabilan emosi, kesiapan mandiri, mempunyai komunitas sendiri, berkata jujur, atau seperti apa kedewasaan tersebut.


"Di dalam Islam, yang disebut balig bukan saja terlihat dari penampakan fisik. Tapi, bagaimana kesiapan dia dalam menerima taklif hukum. Mampu membedakan mana yang benar dan salah. Bisa memilih apa-apa yang dia yakini benar tanpa ada paksaan dari orang lain," ungkapnya. 


Ustazah menerangkan, balig itu ditunjukkan dengan pertama, adanya kematangan dari sisi biologis, kesiapan untuk berpikir, indranya untuk melihat, mendengar dan merasakan. Sehingga ketika fungsi otak dan indra itu dikaitkan, dari situlah dia bisa berpikir, bisa memahami sesuatu, dan akhirnya dia bisa memutuskan, apakah sesuatu itu benar atau salah.


Apakah harus dia lakukan atau harus ditinggalkan karena haram di mata Allah Swt.. Jadi kedewasaan itu jika ada penampakan kematangan biologis yang diikuti dengan proses kematangan berpikir (at-tafkir). Bisa memahami segala sesuatu serta bisa melakukan sesuatu dengan sempurna.


Meski begitu, beberapa realitas menunjukkan ada orang yang secara biologis dia sudah menunjukkan kedewasaan, seperti usia sudah tujuh belas tahun, sudah haid jika dia perempuan, mimpi basah bagi laki-laki. Tetapi secara emosional dia tidak siap untuk berpikir secara benar.  


Boleh jadi, dia ada gangguan secara fisik, misalnya autis, orang dengan gangguan mental, sehingga dia tidak bisa berpikir secara sempurna. Bahkan sifatnya kadang seperti anak kecil, yang mengharuskan dia tergantung kepada orang lain. 


Taklif tidak dibebankan kepada orang yang tidak mempunyai kemampuan memilih. Hal itu sesuai dengan apa yang tertulis di dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah di atas, bahwa taklif hanya dibebankan kepada seseorang sesuai dengan kemampuannya.


Ketika secara pemikiran dia tidak bisa memahami sesuatu, misal karena terganggu kejiwaannya maka Allah Swt. tidak membebankan hukum kepadanya. Taklif juga terkait dengan kemampuan seseorang untuk menerima beban hukum.


Hal itu sesuai dengan hadis dari Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Daud dan Imam Ahmad. "Diangkat pena catatan amal dari tiga golongan (1) Orang yang tidur sampai ia bangun, (2) anak kecil sampai ia mimpi basah pada laki-laki (balig) (3) orang yang gila sampai ia kembali sadar (berakal)."


Dari hadis ini jelas bahwa ada tiga kategori orang yang terkena beban hukum, dimana salah satunya adalah balig. Baik balig secara fisik, maupun balig dari sisi kemampuan memahami sesuatu (at-tafkir). 


Orang tidur, mungkin fisiknya sempurna tapi ia tidak bisa berpikir, tidak bisa tahu apa saja yang ada di sekitarnya. Karena itu, ketika dia melakukan sesuatu bukan atas kesadarannya, sampai ia bangun. Anak-anak dari fisik belum balig, secara pikir dia juga belum matang, sehingga dia tidak terkena hisab. Begitu pun dengan orang gila. Orang gila secara fisik, secara mental, secara berpikir dia terganggu, dia pun terbebas dari taklif hukum sampai ia bisa kembali memfungsikan akalnya dan memahami segala sesuatu.


Begitu Maha Adilnya Allah Swt.. Bagaimana Allah Swt. telah menetapkan taklif hukum itu bukan atas pemaksaan, bukan dengan intimidasi, ataupun ditakut-takuti. Tetapi kita diberi pilihan untuk memilih dan menentukan, apakah jalan yang benar atau salah yang akan kita ambil.


Allah Swt. juga memberi kita hidayah, mengutus Rasul, memberi kita kitab. Dengan contoh dari Rasulullah saw., dengan Al-Qur'an, serta menggunakan potensi akal, serta indra, kita bisa memahami apa-apa yang diturunkan oleh Allah Swt.. Dan pada saat itu, kita akan sampai pada mafhum. Menyimpulkan benar atau salah, sehingga kita punya kesempatan yang sama, memilih, mengambil, atau justru menolak jalan hidayah itu.


"Dengan mengikuti hidayah dari Allah Swt. menggunakan potensi otak, akal, indra, maka siapa pun akan sampai kepada petunjuk itu. Namun sebaliknya, bagi orang-orang yang menutupi dirinya dengan kemaksiatan, kekafiran, seperti pada saat ini dalam sistem sekularisme dan kapitalisme, mereka bukannya mendapat petunjuk, tapi menolak petunjuk. Bahkan menuduh petunjuk sebagai sebuah ancaman. Semoga generasi kita dilindungi oleh Allah Swt. dari kesesatan yang dibuat oleh manusia. Dan kita bisa melewati kedewasaan dengan sempurna," pungkasnya. 


Wallahualam bissawab. [Tinah Ma'e Miftah]

Program Pelatihan Berwirausaha, Akankah Memajukan Perekonomian Negeri Ini?

Program Pelatihan Berwirausaha, Akankah Memajukan Perekonomian Negeri Ini?

 


Program pelatihan serta munculnya para pelaku UMKM hanya bentuk tanggung jawab negara yang bersifat parsial, karena semestinya program seperti ini bersifat menyeluruh untuk seluruh warga masyarakat yang membutuhkan modal dan pekerjaan 

Jikapun program tersebut terlaksana, yang diuntungkan bukanlah rakyat itu sendiri melainkan para kapital dalam wujud pengusaha bermodal besar

______________________________


Penulis Ruri Retianty

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bermula dari program UMKM yang berhasil menjadi penyelamat roda perekonomian negara di saat menghadapi krisis atau resesi beberapa tahun yang lalu. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan lebih, seperti menyediakan pelatihan berwirausaha bagi masyarakat.


Program pelatihan berwirausaha juga diterapkan di wilayah Kabupaten Bandung, dengan penyelenggaranya adalah Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian RI yang bekerjasama dengan Komisi VII DPR-RI. Pelatihan ini pun mengundang antusiasme warga masyarakat yang ingin mengetahui ilmu berwiraswasta.


Pemerintah Kabupaten Bandung berharap pelatihan tersebut selain untuk menekan angka pengangguran juga bisa mencetak wirausahawan-wirausahawan baru dengan kemampuan ilmu dan keterampilan yang mumpuni serta menumbuhkan kemandirian ekonomi masyarakat.


Adapun teknisnya, para calon wirausahawan akan diberikan pelatihan bagaimana cara mengelola usaha supaya bisa berhasil dan berkembang. Namun, hal tersebut tidak bisa diakomodasi semua karena keterbatasan waktu, tempat dan yang lainnya. Selain itu juga karena Diklat WUB ini mahal harganya sehingga tidak semua masyarakat bisa mendapatkan kesempatan dilatih untuk menjadi wirausaha lewat program ini. (Ayobandung[dot]com, 12/09/2023)


Pelatihan UMKM ini hanya menyasar pada masyarakat ekonomi menengah ke atas saja, tidak meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Sebab untuk mendapat pelatihan tersebut harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang rumit dan juga mahalnya biaya yang harus dikeluarkan.


Seharusnya negara memberikan pelatihan secara terbuka dan gratis bagi semua lapisan masyarakat yang ingin berwirausaha, karena hal ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab negara untuk mengatur urusan publik termasuk ketersediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. 


Program pelatihan serta munculnya para pelaku UMKM hanya bentuk tanggung jawab negara yang bersifat parsial, karena semestinya program seperti ini bersifat menyeluruh untuk seluruh warga masyarakat yang membutuhkan modal dan pekerjaan. Jikapun program tersebut terlaksana, yang diuntungkan bukanlah rakyat itu sendiri melainkan para kapital dalam wujud pengusaha bermodal besar.


Begitulah faktanya yang terjadi saat ini, masyarakat bukannya mendapat untung melainkan merugi. Hal tersebut bisa terjadi karena sistem yang diemban saat ini, yaitu sistem kapitalis sekuler, di mana agama dijauhkan dari kehidupan. Sistem yang berpihak pada para pemilik modal ini bertujuan untuk meraih keuntungan semata tanpa memikirkan nasib rakyat.


Pelatihan yang diberikan selama ini tidaklah menjadi solusi karena masyarakat tidak hanya butuh pelatihan tapi juga modal usaha. Sementara saat ini persaingan usaha terutama antara pelaku usaha skala besar dan usaha mikro sangatlah tidak seimbang. Para pengusaha makro bisa menguasai pasar dengan mudah karena ada dukungan izin negara, sedangkan pelaku usaha mikro banyak yang putus di tengah jalan karena minimnya modal dan tak mampu membayar izin perpanjangan usaha.


Inilah persoalan utama yang dihadapi UMKM, maka selama negara tidak pro kepada mereka dengan kemudahan berupa izin, fasilitas, ketersediaan bahan baku, modal dan distribusinya, program untuk rakyat apa pun bentuknya tidak akan berjalan lama.


Berbeda dengan Islam. Agama satu-satunya yang bisa menyelesaikan semua problematika kehidupan, melalui aturan yang diturunkan oleh Sang Maha Pengatur bisa menyejahterakan kehidupan umat, karena negara yang akan bertanggung jawab dalam pemenuhan semua kebutuhan umatnya. Seorang pemimpin akan meriayah umatnya dengan baik dan bijak sesuai tuntunan syariat-Nya. Rasulullah saw. bersabda: 


"Pemimpin adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Al-Bukhari). 


Adapun terkait UMKM, negara tidak akan menjadikan sektor ekonomi mikro seperti UMKM sebagai pilar perekonomian. Negara akan memenuhi kebutuhan ekonomi rakyatnya melalui prinsip kemandirian, di antaranya:


Pertama, negara mengedepankan dua jenis industri yang membuatnya menjadi negara mandiri dan berdikari, yakni industri berat dan industri terkait pengelolaan harta milik umum, semisal pengelolaan minyak bumi, barang tambang, listrik, logam, dan apa saja yang menjadi harta milik rakyat. Dengan kehadiran dua industri ini saja sudah cukup mampu menyerap tenaga kerja rakyat dalam jumlah yang sangat besar. 


Kedua, negara mengatur status kepemilikan harta, seperti harta milik individu, umum, dan negara. Secara khusus negara melarang harta milik umum dimiliki individu atau swasta. Negaralah pihak yang berhak mengelolanya dan mengembalikan hasil pengelolaan tersebut kepada rakyat. Sabda Rasulullah saw.:


"Kaum muslim berserikat atas tiga perkara: padang rumput, air, dan api." (HR. Abu Dawud dan Ahmad).


Ketiga, negara menyediakan modal usaha dari kas negara yang disebut Baitulmal bagi rakyat yang belum bekerja. Bisa berupa pemberian sebidang tanah mati ataupun pinjaman tanpa riba. Bagi mereka yang tidak mampu bekerja atau tidak ada keluarga yang mampu menafkahinya, semisal cacat, tua renta, atau janda, negara menafkahi kebutuhannya secara langsung. 


Keempat, negara akan merapkan pola hidup sehat, sederhana, dan secukupnya di tengah-tengah umat. Dengan pola hidup yang sesuai standar Islam. Produktivitas umat lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder. Adapun bagi yang memiliki harta berlebih akan didorong untuk bersedekah dan berinfak kepada yang kurang mampu sehingga harta tidak beredar pada golongan orang kaya saja. 


Demikianlah Islam mengatur sektor perekonomian yang diwujudkan negara sebagai pelaksananya. Sistem ekonomi Islam diatur berdasarkan syariat agar membawa kemaslahatan. Distribusi dari pengelolaan SDA dan industri diberikan negara secara merata untuk seluruh masyarakat, muslim atau nonmuslim, kaya atau miskin.


Wallahualam bissawab. [SJ]

Dialog Sama Nabi (11): Siapa Idola Ideal

Dialog Sama Nabi (11): Siapa Idola Ideal

 


Ya Nabi please dong kasih tahu

Siapa idola ideal dalam menjalani kehidupan?

Apakah orang-orang yang tak mengenal Tuhan lalu seenaknya menelorkan sistem dan pemikiran jahilnya?

Apakah orang-orang yang tak mengenal wahyu lalu dianggap nabi dan panutan masa kini?


Penulis Hanif Kristianto

Sastrawan Politik dan Analis Politik-Media


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Ya Nabi boleh nggak sih di hati ini?

Menyimpan cinta mendalam pada manusia berwujud keluarga dan anak-istri

Melebihi menaruh hati padamu karena jauh

Seakan-akan tiada lagi yang diduakan di dunia ini


Ya Nabi boleh nggak sih dalam berekonomi?

Menganut sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi

Memuja Adam Smith dengan teori tanpa menimbang aksi

Tanpa penjelasan makna sebuah kepemilikan


Ya Nabi boleh nggak sih dalam keyakinan diri?

Menolak eksistensi Tuhan seperti sosoalisme-komunisme

Menyamaratakan tanpa batas-batas kelas

Lalu memusuhi agama dengan sebutan candu bagi kehidupan dunia


Ya Nabi boleh nggak sih dalam mengatur soal negara?

Bersandar pada demokrasi yang berasal dari filusuf Yunani

Mereka bukan Nabi dan tak menerima wahyu dari Sang Khaliq

Lalu dalam keyakinannya agama harus berpisah dengan negara


Ya Nabi boleh nggak sih mengatakan ini?

Kalau mau menerapkan syariat ke Arab sana

Jangan kearab-araban meniru cara berpakaian

Islam agama gurun yang hadir sebagai penghancur


Ya Nabi boleh nggak sih dalam menentukan masa depan?

Mempercayai dan meyakini peramal masa kini

Seolah masa depan sudah diketahui dengan mendengar kabar langit

Lalu mencocok-cocokan perkataan dengan penyedap rasa kebohongan


Ya Nabi boleh nggak sih meraih harta melimpah?

Datang dengan ritual pesugihan di gunung dan barang tumbal

Mengenyampingkan akal sehat untuk selalu berkompetisi fair

Melupakan Allah Yaa Razaq terhadap setiap makhluk hidup yang udara dihirup


Ya Nabi boleh nggak sih meraih kekuasaan?

Politik uang untuk membeli suara Tuhan

Mendekat ke umatnya dengan abai syariat-Nya

Bertindak culas setelah jadi trengginas dan menggilas


Ya Nabi boleh nggak sih kalau jadi nanti?

Memusuhi umat dengan mengabaikan amanat

Membuat aturan tanpa merujuk pada syariat

Kemudian tunduk pada asing, oligarki, dan korporat


Ya Nabi please dong kasih tahu

Siapa idola ideal dalam menjalani kehidupan?

Apakah orang-orang yang tak mengenal Tuhan lalu seenaknya menelorkan sistem dan pemikiran jahilnya?

Apakah orang-orang yang tak mengenal wahyu lalu dianggap nabi dan panutan masa kini?


Ya Nabi please dong beri gambaran masa depan ini

Apakah hamba mengidolakan tokoh-tokoh yang tak mengenal halal haram dalam kehidupan?

Apakah hamba mengidolakan tokoh-tokoh yang tak kenal kehidupan akhirat yang kekal?

Atau hamba cuma mengidola padamu ya Nabi sebagai manusia pilihan untuk manusia keseluruhan?


#puisi #puisihanifk #dialogsamanabi #nabimuhammad #sastra #sastraindonesia #maulidan #cintanabi

Dialog Sama Nabi (10): 3 Warisan yang Terabaikan

Dialog Sama Nabi (10): 3 Warisan yang Terabaikan

 


Ya Nabi, kalaulah sampai waktunya nanti

Boleh ya informasikan ke hamba tentang kabar gembira tiga warisanmu yang agung

Agar anak cucu mengenang dengan seksama

Apakah hamba termasuk pejuang atau pecundang yang pura-pura berjuang?


Penulis Hanif Kristianto

Sastrawan Politik dan Analis Politik-Media


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Setiap umat mewarisi sebuah amanat

Warisan bernilai tinggi dengan harga mahal tiada beli

Warisan yang terjaga oleh sang Empunya

Turun-temurun dari generasi yang tiada pernah bentrok berebutan


Ya Nabi, mau sebentar mengonfirmasi biar jelas

Syukur lagi hamba dapat warisan tak terbatas

Seolah mendapatkan emas dua gunung Everest

Predikat manusia terkaya sedunia di jajaran papan atas


Ya Nabi, apakah warisan pertama itu Al-Qur’an?

Sebuah kitab penyempurna dan penyembuh hati gundah

Kitab yang terjaga kesuciannya tak bercela dalam isinya

Siapapun bicara dengannya kokoh argumentasi dalilnya


Ya Nabi, warisan kedua apakah Assunnah?

Ucapan, tindakan, dan sebuah keputusan yang diambil dari panduan wahyu

Dalam As-sunah ada wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram

Menjadi Ahli Sunah sebagai pengikut setia sang baginda


Ya Nabi, apakah yang ketiga menjadi warisan peradaban dunia yakni Khilafah?

Sebuah daulah yang menyandingi dan menaklukkan imperium Romawi dan Persia

Dilanjutkan dengan Khulafaur Rasyidin yang terpercaya nan mulia

Ada khalifah sebagai pelanjut pengatur urusan umat manusia


Ya Nabi, maafkan hamba sekali lagi ya!?

Al-Qur’an masih hamba baca tanpa tahu kandungan di dalamnya

Pilah-pilih ayat jadi pekerjaan mengambil yang nikmat dan meninggalkan yang berat

Bahkan saking kejinya, Al-Qur’an dibakar oleh kaum terlaknat


Ya Nabi, maafkan hamba sekali lagi!?

As-sunah yang terkandung hukum dan janji masa depan selalu dikesampingkan

Terkadang As-sunah dimonopoli namanya oleh yang menginginkannya

Bahkan saking bodohnya ada yang ingkar sunah, nauzubillah!!


Ya Nabi, maafkan hamba sekali lagi!?

Khilafah yang bagian ajaran Islam terkadang hamba sembunyikan dan kubur dalam-dalam

Meskipun orang-orang kafir itu meyakini dan menyiapkan antisipasi

Bahkan saking bodohnya hamba menanyakan mana dalil Khilafah di Al-Qur’an dan hadis seolah-olah lupa jika ada indikasinya


Ya Nabi, bagaimana hamba menjaga tiga warisanmu yang suci

Tak peduli UNESCO tak memasukkan dalam keajaiban peradaban dunia

Tak peduli banyak manusia yang justru mengabaikannya

Tak peduli dari segala penjuru mata angin menistakan dan membuat makar


Ya Nabi, kalaulah sampai waktunya nanti

Boleh ya informasikan ke hamba tentang kabar gembira tiga warisanmu yang agung

Agar anak cucu mengenang dengan seksama

Apakah hamba termasuk pejuang atau pecundang yang pura-pura berjuang?


Apakah hamba berada di barisan kaum munafik?

Apakah hamba berada di barisan kaum yang yakin?

Apakah hamba di barisan kaum peragu?

Yang penting hamba bukan di barisan kaum dungu


#puisi #puisihanifk #puisimaulid #muhammad #nabiku #cintanabi #sastra #sastraindonesia

Sekularisme Lahirkan Masyarakat Individualis

Sekularisme Lahirkan Masyarakat Individualis

 


Maka jika seperti ini semua masyarakat, bukannya tidak mungkin negara hancur karena masyarakatnya apatis. Oleh sebab itu, hendaklah kehidupan sosial kita juga diatur oleh agama

Terutama penjaminan ketakwaan, mulai dari lingkup negara sampai rumah tangga akan terjaga dari sikap individualis. Menjadikan mereka orang-orang yang bertakwa dan merasa takut setiap kali tidak taat terhadap perintah dan menjauhi segala larangan-Nya

______________________________


Penulis Siti Nurtinda Tasrif

Kontributor Tetap Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah Kampus


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Pada dasarnya, masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi, mereka diikat oleh peraturan, perasaan dan pemikiran yang sama. Namun jika dilihat dari tafsiran hari ini sangat jauh berbeda. Di mana masyarakat adalah kumpulan individu yang bersosialisasi. Makna ini sekilas baik tapi faktanya, tidak semuanya begitu.


Bahkan antartetangga bisa saja apatis. Tidak tertarik untuk memikirkan urusan orang. Tidak tertarik untuk membicarakan masalah yang dihadapi orang lain. Bahkan untuk tegur sapa saja sangat jarang dilakukan. Padahal sebagai manusia tentu terbatas dan membutuhkan yang lainnya. Tidak bisa satu manusia saja yang hidup tanpa ada manusia yang lain.


Di mana mereka akan saling menopang, membantu dan memudahkan urusan tetangganya atau saudara-saudara setanah air atau seagama. Antara individu satu dan individu yang lain saling memikirkan satu sama lain. Berusaha mencari jalan keluar bersama-sama. Dan yang paling penting tidak menyakiti tetapi menyayangi sehingga terlihat seperti saudara sendiri bukan orang asing.


Namun sepertinya sulit mendapatkan orang yang begitu peduli dengan sesama. Bahkan ia tidak mengetahui bahwa tetangganya dilanda masalah apalagi kalau ada tetangganya yang meregang nyawa. Sebagaimana yang penulis kutip dari Media metrotv[dot]news[dot]com (08/09/2023), bahwasanya Kapolres Metro Depok Kombes Ahmad Fuady membeberkan kronologi penemuan jasad Ibu dan anak di dalam ruang kamar mandi Perumahan Bukit Cinere Indah, RT 1, RW 16, Kelurahan Cinere, Kecamatan Cinere, Kota Depok, Jawa Barat.


Tatkala dilakukan olah TKP, polisi belum bisa memastikan adakah luka di kedua jenazah, mengingat mayat sudah membusuk. Bahkan diperkirakan mayat ini sudah sebulanan yang lalu. Namun baru diketahui setelahnya dikarenakan ada salah satu tetangganya yang curiga. Karena tidak pernah keluar-keluar dari rumah. 


Sungguh ironis, fakta di atas menunjukkan betapa individualisnya masyarakat saat ini. Sampai-sampai mayat sudah membusuk dari sebulanan. Tak habis pikir, bagaimana bisa seorang individu sama sekali tidak terbesit untuk menaruh kecurigaan terhadap tetangganya, yang tiba-tiba tidak keluar. Atau sudah tak terlihat lalu lalang, ataukah memang sejak awal tidak merasa penting untuk mengkhawatirkan keadaan tetangganya?


Di luar nalar, masyarakat saat ini dipenuhi oleh kesibukan diri sendiri saja. Tidak tertarik untuk berusaha merasakan dan memahami perasaan orang lain. Entah ia terluka atau tidak, semua tidak dipedulikan, yang penting hidup sendiri mapan dan bahagia untuk apa memikirkan kehidupan orang lain. Tidak akan membuat perut kenyang malah semakin lapar.


Apa yang dialami oleh dua korban di atas, bisa saja dialami sama yang lainnya. Namun tentunya jika semua memiliki sikap yang sama yaitu individualis maka bisa hancur masyarakat, karena dipenuhi manusia individualis.


Semua ini adalah efek dari sekularisme. Asas yang meniscayakan pemisahan agama dan kehidupan. Asas ini membuat individu hanya memikirkan ibadah pribadinya, akhlak dirinya, dan kebahagiaan sendiri. Sehingga kehidupan sosial tidak dipedulikan.


Maka asas ini, membuat agama tetap ada dalam diri manusia, tapi hanya pribadi saja, begitu juga dalam perbaikan diri. Hanya bisa memperbaiki diri sendiri tapi tidak boleh memperbaiki orang lain. Di mana dalam tiga hubungan, kita hanya diminta mengambil dua hubungan saja untuk diatur oleh agama. Yakni hubungan individu kepada Allah Swt. dan hubungan individu dengan dirinya sendiri. 


Sedangkan hubungan ketiga yaitu hubungan individu dengan individu lainnya tidak boleh diatur oleh agama tetapi undang-undang atau aturan yang dibuat oleh manusia. Dalam artian hubungan sosial dijauhkan dari pengaturan agama, sehingga manusia bisa sesuka hati dan berbuat semaunya mengenai kehidupan sosialnya. Ia mau membantu orang atau tidak itu adalah urusan masing-masing dan tidak boleh ikut campur.


Maka jika seperti ini semua masyarakat, bukannya tidak mungkin negara hancur karena masyarakatnya apatis. Oleh sebab itu, hendaklah kehidupan sosial kita juga diatur oleh agama. Sehingga tidak terjadi pembiaran korban apalagi sampai membusuk lebih dari sebulan. Padahal seluruh kaum muslim bisa saja berdosa jika lebih dari tiga hari mayatnya tidak dikuburkan.


Di samping itu, tidak cukup masyarakat saja yang diatur oleh agama tetapi negara juga wajib sesuai dan menggunakan sistem Islam. Sehingga aturan yang terpancar darinya bisa terlaksana dengan sempurna. Juga memberikan pelayanan yang adil, tanpa pandang bulu untuk menyejahterakan seluruh rakyatnya dan mengurus urusan umat dengan baik dan benar.


Dengan penerapan Islam dalam sebuah institusi negara warisan Rasulullah saw., umat akan merasa aman dan kehidupannya terjamin. Terutama penjaminan ketakwaan, mulai dari lingkup negara sampai rumah tangga akan terjaga dari sikap individualis. Menjadikan mereka orang-orang yang bertakwa dan merasa takut setiap kali tidak taat terhadap perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. 


Masyarakat yang hidup dalam Islam, akan menjadi para pemikir. Di mana setiap masalah yang dihadapi orang lain bahkan tetangganya, ia akan berpikir dengan keras untuk menghasilkan solusi yang dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi orang lain. Di samping itu, ia tetap menjalani kehidupan dirinya tanpa meninggalkan yang lain. Sederhananya tetap amanah dalam tanggung jawab, tetapi tidak melupakan ikatan dengan tetangganya.


Akan lahir individu-individu yang punya ikatan kuat. Di mana mereka saling membantu dan menasihati satu sama lain. Sama-sama kuat dalam setiap masalah yang dihadapinya dan membawa kepada jalan kebaikan. Oleh sebab itu, perlu diketahui bahwa saling memikirkan satu sama lain akan membawa pada kebaikan.


Hal ini sesuai dengan perintah Allah Swt. yang meminta setiap hamba untuk saling menyayangi satu sama lain dan berusaha untuk membawanya kepada jannah. 


Wallahualam bissawab. [SJ]

Tatkala Politik Dipisahkan dari Islam

Tatkala Politik Dipisahkan dari Islam

 



Maka hendaklah umat sadar dan mengetahui bahwa politik tidak bisa dipisahkan dari agama

Begitu juga mengenai pemimpin, pemimpin tidak boleh buta terhadap keduanya yaitu agama dan politik. Di mana politik akan bisa terlaksana dengan sempurna tatkala dipengaruhi oleh agama

______________________________


Penulis Siti Nurtinda Tasrif

Kontributor Tetap Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah Kampus


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Di masa sekarang, banyak sekali yang tidak tertarik membahas politik. Semua terjadi akhibat kesalahpahaman dalam mengartikan mengenai politik. Di mana politik merupakan pengurusan urusan umat. Sehingga, ketika umat mengetahui makna yang sebenarnya, tentu umat akan memiliki pandangan yang berbeda. Namun semua akan sulit diubah, mengingat umat sudah terlanjur menganggap bahwa politik itu kotor.


Meskipun demikian, umat tentu memiliki kekhawatiran tersendiri. Mengenai masa depan negara saat ini. Maka tak ayal jika umat selalu berharap di setiap periode mendapatkan pemimpin yang baik, jujur, amanah dan adil. Yang dapat mengubah seluruh perspektif buruk mengenai politik. Kemudian membuat umat tidak lagi benci berbicara politik, malah membangkitkan rasa ketertarikan, dan terjun sembari bertujuan untuk memperbaiki umat yang lain.


Namun tentu saja tidak akan semudah itu jalan yang ditempuh. Mengingat yang akan diubah adalah masyarakat. Maka harus ada sosok yang memiliki kekuasaan untuk memberikan perubahan secara praktis. Salah satunya adalah pemimpin, para ulama, para tokoh dan sebagainya. Tetapi tentu dari setiap kalangan sering kali mengeluarkan pernyataan yang menohok. Di mana pernyataan ini bisa saja menciptakan kegelapan di tengah-tengah masyarakat.


Sebagaimana yang penulis kutip dari Media kepri[dot]kemenag[dot]go[dot]id, (03/09/2023) bahwasanya jelang tahun politik 2024, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat. "Harus dicek betul. Pernah nggak calon pemimpin kita, calon presiden kita ini, memecah belah umat. Kalau pernah, jangan dipilih," ujar Menag Yaqut di Garut. Ia juga meminta masyarakat tidak memilih calon pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan. 


Sungguh ironis, pernyataan di atas bisa saja menyesatkan umat. Seolah mengisyaratkan, dunia tidak akan baik jika agama "Islam" memengaruhi politik. Padahal dengan memilih pemimpin yang memutus hubungannya dengan agama, maka ia bisa saja menjadi orang yang tidak memiliki belas kasih. Mengharapkan ia amanah saja sepertinya akan sulit, karena ia tidak memiliki fondasi yang kuat yaitu agama Islam.


Di samping itu, dapat menunjukkan bahwa negara saat ini telah dicengkeram oleh sekularisme. Asas yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga pengertian tersebut tampak jelas dari pernyataan dari Menag di atas yang memisahkan agama dari politik. Akibatnya ketika agama dipisahkan dari politik maka akan terjadi ketidakseimbangan anatara pengaturan kehidupan. Mulai dari segala aspek kehidupan akan bersifat individualis.


Bahkan pemimpin juga akan bersikap individualis juga. Di mana mereka akan bersikap apatis terhadap urusan rakyatnya, bersikap semena-mena dan menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diinginkan. Di samping itu, umat akan terus berkubang pada kedangkalan berpikir, di mana mereka tidak mampu melihat, mana pemimpin yang baik juga yang buruk. Kemudian akan bersifat pasrah menerima setiap ketetapan pemimpin tanpa tertarik untuk mengkritisinya.


Padahal semua berhubungan erat dengan kehidupannya bahkan sampai ke ranah pribadi. Namun apa boleh buat, umat sudah terlanjur tenggelam dan enggan untuk mengulik kembali apa yang terjadi. Jika terus dibiarkan maka umat akan makin hancur begitu juga kehidupannya. Tidak akan pernah mendapatkan solusi dalam hidupnya kecuali mereka segera meninggalkan sistem kufur ini dan beralih pada sistem Islam yang sempurna dan menyeluruh.


Di mana Islam menjadikan sebuah negara sebagai jalan untuk menyebarkan ajaran Islam. Bukan sekadar wilayah yang dipenuhi dengan gedung-gedung besar. Di samping itu, Islam meniscayakan bahwa negara hanya berpegang pada satu ideologi yaitu Islam. Di mana dari Islam sendiri akan memancarkan seluruh peraturan yang dapat mengatur kehidupan sosial, tanpa ada jarak, sekat atau pemisah.


Di tambah lagi, Islam meniscayakan kepada seluruh warga negara Islam untuk senantiasa berpegang teguh pada agama, agar hidupnya tenteram. Pun juga membuat dirinya terikat dengan Islam beserta aturan-aturan yang terpancar dari Islam sendiri. Begitu juga dengan politik. Politik tidak bisa dipisahkan dari agama, karena politik itu mengurusi urusan umat maka tidak akan terjamin secara menyeluruh pengurusannya jika tidak dengan Islam.


Maka hendaklah umat sadar dan mengetahui bahwa politik tidak bisa dipisahkan dari agama. Begitu juga mengenai pemimpin, pemimpin tidak boleh buta terhadap keduanya yaitu agama dan politik. Di mana politik akan bisa terlaksana dengan sempurna tatkala dipengaruhi oleh agama. Namun jika tidak demikian maka yang terjadi hanyalah kerusakan bukan keberkahan.


Di samping itu, tatkala agama memengaruhi setiap aspek kehidupan. Termasuk pemilihan pemimpin, politik dan menjamin kebutuhan, pendidikan dan keamanannya. Islam akan melahirkan manusia yang setiap paginya memikirkan umat bukan hanya isi perutnya. Ia akan mengerahkan pemikiran terbaiknya untuk mempertimbangkan dengan bijaksana hukum yang terbaik dalam menyelesaikan masalah baru yang dihadapi umat.


Maka tidak akan ada yang namanya kriminalitas, korupsi dan kejahatan-kejahatan yang lain. Yang ada hanyalah kebaikan, keberkahan dan rahmatan lil alamin. Rahmat tersebut akan hadir di dalam wilayah yang penduduknya beriman, bertakwa dan selalu menjalankan amalan nafilahnya. Sehingga orang-orangnya menjadi sosok yang di nanti sebagai pemimpin yaitu amanah, adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan.


Pemimpin seperti ini lahir dari sistem yang adil juga yaitu Islam. Sistem yang sempurna dan paripurna. Dengan negara yang menggunakan sistem Islam. Negara yang menggunakan sistem Islam, dan menjadikan wilayah negaranya mendapatkan rahmat bagi seluruh alam. Menjadi perisai agung tatkala ada serangan yang menyusuk ke dalam negara. Baik itu secara fisik maupun secara pemikiran. 


Wallahualam bissawab. [SJ]

Menggantung Asa di Langit Istanbul

Menggantung Asa di Langit Istanbul

 


Diam-diam David mengikuti jalannya aksi sampai di tempat yang dituju. 

David tidak menyangka langkah kakinya yang tidak punya arah mengantarkannya ke tempat ini. Sementara, di seberang sana, peserta sudah berbaris di depan Gedung Sate

_________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - Seorang laki-laki yang berperawakan kekar berkulit kuning, turun di stasiun bis tanpa membayar. Sopir bis itu mengeluarkan sumpah serapah kepada orang tersebut yang berlalu begitu saja. "Dasar Sinting!" kutuknya. Para penumpang lain yang turun berbarengan memandangnya dengan rasa iba. Ada juga yang memandang acuh tak acuh bahkan mencibir.


Lelaki itu berjalan gontai. Sekali-kali wajahnya menunduk. Matanya merah saga. Dari mulutnya menyeruak bau minuman keras. Ia merasakan tenggorokannya kering dan pahit sementara perutnya terasa perih menahan lapar.


Semua orang yang berpapasan dengannya memandang jijik dan memalingkan muka. Ia mengepalkan tangannya kepada seorang bapak tua yang memperhatikannya dengan senyuman sinis. Bapak tua itupun lari menghindar karena takut.


Sepasang mata diam-diam memperhatikannya sejak lama. Laki-laki itu memandang dan berdiri di sebuah warung tegal, ia tidak berani masuk ke dalam. Hampir dua hari tidak ada sebutir nasi pun masuk kerongkongan. Sisa air mineral sudah ia habiskan beberapa jam yang lalu. Sementara, uangnya tidak satu sen pun tersisa di kantong celananya.


"Bung, ini! makanlah"


Laki-laki itu mengambil bungkusan yang disodorkan kepadanya dengan cepat. Ia langsung melahap isinya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Orang yang berlalu lalang di sekitar, memperhatikan dengan tatapan aneh.


Setelah menghabiskan isi bungkusan, laki-laki itu mencari sosok dewa penolongnya. Namun, ia tidak menemukan jejaknya.


Kini, ia merasa lebih kuat. Lalu, ia meninggalkan tempat itu. Melangkah, dan terus melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. 


*****


Umar baru saja sampai di tempat penginapannya. Sudah dua hari, ia berada di kota kembang ini. Ia sedang mengikuti pelatihan yang ditugaskan dari sekolah tempatnya mengajar. Umar merebahkan badan di atas tempat tidurnya. Hari ini, cuaca begitu panas. Pemanasan global ternyata berefek juga kepada Kota Bandung yang dulu terkenal sejuk. 


Umar teringat kepada laki-laki asing yang ia belikan nasi bungkus. Umar meninggalkannya begitu saja, sampai ia lupa menanyakan nama dan nomor ponselnya. 


"Siapakah?" Umar yakin, laki-laki itu sedang terbius dengan minuman keras atau obat-obatan sampai ia seperti itu. Tidak heran, di sistem yang menganut kapitalisme sekuler seperti saat ini, narkoba tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan. Padahal, dalam Islam jelas-jelas narkoba atau zat lainnya yang memabukkan haram hukumnya.


Umar spontan menolong laki-laki tadi tanpa mempedulikan statusnya, siapa dan apa agamanya. Pelajaran ini yang pernah ia dapatkan di kelompoknya. Inilah yang disebut nilai insaniyah. Di mana seseorang secara refleks akan menolong orang lain tanpa melihat statusnya, tergerak secara langsung untuk membantu. 


"Harusnya aku lebih bersyukur kalau dibandingkan dengan dia. Dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai karena Allah. Ada di sebuah kelompok dakwah yang di dalamnya senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar. Tidak terbayangkan olehku, apa jadinya kalau ada di luar jamaah. Keras dan menakutkan. Ya, Rabb ... maafkan hamba yang berniat futur dari jalan dakwah ini," gumamnya. Hati kecilnya terus berkata-kata.


Umar mendapat kabar dari Ustaz Lutfi, bahwa besok akan ada aksi damai menolak kenaikan BBM yang sering kali terjadi. Karena Umar lagi berada di Bandung, Ustaz Lutfi memberikan amanah untuk menjadi salah satu orator, perwakilan dari kaum muda.


Peserta aksi berkumpul di Pusdai, pada pukul tujuh dan mulai bergerak dengan berjalan tertib menuju Gedung Sate, ikonnya Kota Bandung sekitar pukul delapan. Aparat kepolisian sudah bersiap-siap mengawal peserta aksi. Mereka membersamai jalannya aksi dengan penuh gembira, karena aparat tahu, bahwa aksi kami tidak pernah membuat kerusuhan.


"Bung, apa kabar?" seorang laki-laki tiba-tiba menyapa Umar.


"Oh, alhamdulillah, baik. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Umar.


"Masih ingat kemarin, ketika Anda memberikan sebungkus nasi kepada seseorang? Orang itu adalah saya.


"Masyaallah, akhirnya kita dipertemukan kembali," kata Umar.


"Saya senang berkenalan dengan Anda. Kenalkan, nama saya David Borg. Nenek moyang saya, yahudi, tapi sudah lama tinggal di Bali.


Umar menyambut uluran tangannya, hangat.


"Saya Umar. Umar bin Ahmad, asli dari Garut." 


David menatap wajah Umar yang berseri-seri dan bersih. Bahkan, ia melihat dalam diri teman barunya itu terlihat seperti ada cahaya yang memancar dari raut mukanya. Wajah yang menampakkan kedamaian dan bersahabat. Tidak terlihat kesan yang buruk, seperti banyak diberitakan, bahwa seorang muslim itu radikal dan intoleran.


"Maaf, saya harus ikut mobil terbuka itu dan berjalan sampai Gedung Sate," kata Umar. 


"Oh, iya iya, silahkan," kata David.


Mobil mulai bergerak pelan. Kalimat tauhid dan takbir berkumandang sepanjang perjalanan, membuat gemetar bagi yang mendengarnya. Teriakan yel-yel melalui pengeras suara semakin membakar para peserta aksi. Ar-Rayah menghitam. Spanduk bertulisan, "Tolak BBM," dan lainnya ikut dibawa oleh para aksi. 


BBM naik, tolak! 

Islam kafah, terapkan!

Khilafah, tegakkan!

Kapitalisme, campakkan!


Diam-diam David mengikuti jalannya aksi sampai di tempat yang dituju. David tidak menyangka langkah kakinya yang tidak punya arah mengantarkannya ke tempat ini. Sementara, di seberang sana, peserta sudah berbaris di depan Gedung Sate.


David terkesiap dan mematung sebentar, mendengar teriakan dari atas mobil terbuka. David tidak mengerti apa yang diucapkan Umar dan kawan-kawannya. Tetapi, yang pasti semua orang mengikuti kata-kata Umar ketika mengucapkan yel-yel. Semangat mereka begitu luar biasa, seperti air yang dipanaskan dalam tungku, mendidih, dan menggerakkan semua orang yang hadir.


David terus memperhatikan acara yang digelar di gedung kantor Gubernur Jawa Barat itu. Sampai acara beres, David menyimak dan mendengarkan, walaupun kata-katanya tidak dipahami secara utuh, sebagian besar malah asing di telinganya.


Selepas acara, diam-diam David menghampiri Umar. "Anda tadi berbicara apa? Apa yang dilakukan bersama yang lainnya?"


"Oh, Anda, masih di sini?"


"Iya, saya mengikuti Anda dari belakang," sahut David.


"Oh, tadi saya sedang melakukan aksi damai, melakukan muhasabah kepada penguasa. Mengingatkan kepada mereka agar tidak mengeluarkan kebijakan yang menzalimi rakyat. Penguasa bersikeras menaikkan BBM, padahal rakyat sedang menghadapi persoalan ekonomi yang semakin hari semakin mencekik leher. Apa yang kami lakukan itu adalah bentuk cinta rakyat kepada pemimpinnya, agar pemimpin tidak melanggar ketetapan Allah dan Rasul-Nya."


"Oh, seperti itu ya, bentuk cinta dalam Islam terhadap pemimpinnya. Acayip!" [GSM]


-Bersambung-

Agama sebagai Alat Politik

Agama sebagai Alat Politik

  


Dalam Islam menjadi pemimpin atau penguasa bukan sekadar untuk harta dan tahta, menaikkan popularitas atau bahkan dimuliakan, tetapi perlu memiliki tujuan mulia yang mengantarkan kepada kemuliaan, di sisi-Nya

Memilih pemimpin bukan hanya sekadar dengan agamanya saja, tetapi yang visioner seperti Rasulullah, para sahabat, dan para khalifah, yang menjadikan Islam sebagai way of life, sebagai sistem kehidupan

______________________________


Penulis Salsabila N.A. Pasaribu

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Jelang Pilpres tahun 2024, bursa capres dan cawapres semakin memanas mulai berkompetisi dan bersaing, baik di lingkungan atau bahkan di media sosial.


Di tengah panasnya kompetisi kepemimpinan ini, Menteri Agama Yaqut Cholil mengimbau kepada masyarakat agar jangan memilih pemimpin yang memecah belah umat, dan juga meminta masyarakat untuk tidak memilih pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan. (VivaJabar, 5/9/2023)


Pernyataan ini justru mengantarkan masyarakat kepada mindset yang menganggap bahwa agama hanyalah sebagai alat politik, juga akan menimbulkan pemikiran bahwa Islam dan politik adalah hal asing yang tidak bisa bersatu.


Allah berfirman :


وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ


"Dan Kami turunkan kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta Rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim)." (QS. An Nahl: 89)


Dari ayat di atas sudah jelas bahwa Allah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk yang di mana di dalamnya terdapat berbagai penjelasan segala sesuatu, yang salah satunya adalah politik pemerintahan. Maka, politik adalah bagian dari syariat Islam, yang berarti 2 hal ini tidak terpisah dan asing.


Namun saat ini justru umat Muslim dijauhkan dari syariat. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani, bahwa yang pertama hilang adalah sifat amanah, dan yang terakhir hilang adalah salat. Dan bisa kita lihat keadaan dunia saat ini, sudah hampir hilang segalanya.


Politik Sekularisme


Sekularisme yang berarti memisahkan antara agama dan pemerintahan, yang tentu hal ini berasal dari Barat yang tujuan utamanya hanya untuk menciptakan Islamofobia agar masyarakat merasa asing dan makin jauh dengan agama. Namun disayangkan hal ini terjadi pada umat kita sendiri, yakni umat Muslim. Masyarakat dibuat makin jauh dengan agama oleh pemerintahnya sendiri.


Ini pun menjadi alasan mengapa kondisi saat ini menjadi makin buruk, karena pemimpin masyarakat yang juga menggunakan prinsip sekularisme-demokrasi. Menjadikan jabatan dan kekuasaan sebuah persaingan. Bahkan mereka menggunakan prinsip barat yaitu buatan Machiavell, "Menghalalkan segala cara."


Ini sebabnya banyak terjadi, modus pencitraan, janji palsu, dan bahkan sampai yang terburuk yaitu adanya  politik uang.


Nabi saw. telah mengingatkan kita sebagai umatnya bahwa persaingan dalam jabatan dan kekuasaan adalah hal yang berbahaya, apalagi dengan cara yang sangat amat Allah murkai, karena dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, An-Nasai dan Ahmad, Rasulullah bersabda bahwa kepemimpinan atau kekuasaan akan menjadi penyesalan dan kerugian di hari kiamat.


Karena menjadi pemimpin berarti memegang tanggung jawab yang berat karena setiap pemimpin akan dipertanyakan di akhirat kelak. Maka dari itu menjadi pemimpin adalah memegang sebuah amanah yang besar.


Menegakkan Syariat: Politik 


Islam, kekuasaan dan rakyat itu seperti tenda besar, tenda besarnya adalah Islam, tiangnya kekuasaan, tali pengikat serta pasaknya ibarat rakyat, bayangkan jika salah satu bagian tidak ada maka tenda besar tersebut tidak akan berdiri tegak, seperti itulah Ibnu Qutaibah mengumpamakannya.


Maka, ini adalah bukti bahwa Islam dan politik bukanlah hal yang asing. Islam dan politik adalah satu kesatuan yang berintegrasi, Ibnu Taimiyah pun menyatakan dalam kitab Majmu' al-Fatawa, (28/394), bahwa jika kekuasaan terpisah dengan agama, atau sebaliknya maka niscaya perkataan manusia akan rusak.


Dalam Islam menjadi pemimpin atau penguasa bukan sekadar untuk harta dan tahta, menaikkan popularitas atau bahkan dimuliakan, tetapi perlu memiliki tujuan mulia. Tujuan yang mulialah yang akan mengantarkan kepada kemuliaan, yaitu kemuliaan di sisi-Nya.


Salah satu contoh tujuan mulia ialah menjadikan hal ini sebagai amal salih untuk mengurus umat dengan menerapkan sistem Islam di seluruh dunia, juga harus berhukum dengan syariat Islam pula menunaikan amanah.


Allah berfirman :


إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا


"Sungguh Allah, menyuruh kalian memberikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, juga (menyuruh kalian) jika menetapkan hukum di antara manusia agar kalian berlaku adil." (QS. An-Nisa : 58)


Dengan demikian memilih pemimpin bukan hanya sekadar dengan agamanya saja, tetapi kita perlu memilih pemimpin yang visioner seperti Rasulullah, para sahabat, dan para khalifah, yang menjadikan Islam sebagai way of life, sebagai sistem kehidupan.


Karena yang kita tuju bukanlah menjadi negara yang hanya maju, namun menjadi negara dengan seluruh isinya yang mengundang rida dan rahmat Allah Swt.. 


Wallahualam bissawab. [SJ]

Mahasiswa Membunuh, Ada Apa dengan Sistem Pendidikan Kita?

Mahasiswa Membunuh, Ada Apa dengan Sistem Pendidikan Kita?

 


Banyaknya kasus perundungan di satuan pendidikan menandakan sistem pendidikan kita rusak sejak akarnya

Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan menjadi sumber petaka berbagai kasus yang terjadi. Sekularisme mengabaikan peran agama (Islam) sebagai aturan kehidupan


____________________


Penulis Yani Ummu Qutuz

Kontributor Media Kuntum Cahaya, Pegiat Literasi dan Member AMK


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Universitas Indonesia (UI) salah satu perguruan tinggi negeri pavorit. Siapa pun merasa bangga jika bisa kuliah di kampus ini, karena memang proses seleksinya yang ketat. Dipastikan hanya orang-orang pilihan yang bisa lolos menjadi mahasiswa UI. Orang-orang pilihan ini mestinya menjadi contoh yang baik bagi para mahasiswa di perguruan tinggi lain. Namun yang terjadi justru hal yang menggemparkan, di awal Agustus terjadi kasus pembunuhan di kampus ini.


Tragis betul nasib Muhammad Nauval Zidan (19) mahasiswa UI, yang tewas dibunuh oleh seniornya Altafasalya Ardnika Basya (22). Mayat MNZ ditemukan terbungkus kantong sampah di dalam kamarnya.


Kecurigaan terjadi ketika pihak keluarga sulit menghubungi korban. Akhirnya, pihak keluarga mendatangi pemilik kos dan mengecek kamar korban. Setelah dibuka kondisi kamar berantakan dan barang-barang milik korban raib. Sementara, korban terbungkus plastik hitam yang disembunyikan di bawah tempat tidur. Keluarga MNZ langsung melaporkan kejadian pada pihak kepolisian. Dalam waktu kurang dari 3 jam, pelaku berhasil ditangkap polisi.


Dari pengakuan pelaku, AAB tega membunuh adik tingkatnya karena terjerat pinjaman online. Pelaku merasa sudah putus asa sehingga berniat menguasai harta benda korban agar utang pinjolnya lunas. Kepolisian menetapkan Altaf sebagai tersangka dan dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati.


Kok bisa? Seorang mahasiswa membunuh padahal terpelajar. Seharusnya, dia menjadi contoh yang baik bagi peserta didik di bawahnya. Belum lagi temuan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang mencatat, telah terjadi 16 kasus perundungan di satuan pendidikan selama Januari -Juli 2023. Selain itu, tawuran yang terjadi antar pelajar, pergaulan bebas yang  sangat memprihatinkan  menambah panjang masalah pendidikan. Ada apa dengan sistem pendidikan kita sebenarnya?


Banyaknya kasus perundungan di satuan pendidikan menandakan sistem pendidikan kita rusak sejak akarnya. Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan menjadi sumber petaka berbagai kasus yang terjadi. Sekularisme mengabaikan peran agama (Islam) sebagai aturan kehidupan. Porsi pelajaran agama sangat minim, itu pun hanya materi ajar yang berkaitan dengan ibadah mahdoh saja. Islam hanya dikenal peringatan hari besarnya saja. Islam tidak menjadi acuan dan dasar dalam pendidikan.


Sesering apa pun kita mengganti kurikulum, tetap tidak menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian. Pendidikan karakter yang menjadi andalan juga tidak mampu mencetak peserta didik yang berkualitas karena asasnya masih sekuler. Maka dari itu, tidak mungkin lahir generasi yang cemerlang, jika moral mereka hancur tergerus gaya hidup liberalis dan hedonis.


Sistem pendidikan sekuler hanya mengedepankan target prestasi akademik dan orientasi bekerja. Begitu pula minim penanaman adab dan akhlak mulia. Pelajaran agama di sekolah atau kampus hanya sekadarnya saja. 


Berbeda dengan sistem pendidikan Islam, mempunyai tujuan yang jelas yaitu membentuk generasi yang berkepribadian Islam. Kepribadian Islam ini akan membentuk pola pikir dan pola sikap peserta didik agar selaras dengan Islam.  Mereka memiliki keimanan yang kuat serta pemahaman Islam yang mendalam (tafaquh fiddin). Sehingga memberikan pengaruh terhadap peserta didik untuk terikat dengan syariat Islam. Hal ini akan berdampak pada terwujudnya masyarakat yang bertakwa, memiliki budaya amar makruf nahi munkar dan menyebarnya dakwah Islam. 


Selain pemahaman agama yang mendalam, para peserta didik juga diarahkan menjadi individu yang memiliki beragam kecerdasan dalam rangka memberikan kontribusi bagi umat. Mereka tidak dicetak menjadi para pekerja atau pengusaha untuk bekerja di dunia industri juga bukan sebagai mesin pemutar roda industri.


Para peserta didik diberikan pengajaran Islam agar menjadi petunjuk yang praktis. Sistem pendidikan Islam berhasil melahirkan dan membentuk pribadi mulia, karena Islam mendahulukan pendidikan adab sebelum ilmu dan lainnya.


Sistem pendidikan Islam telah melahirkan generasi cemerlang yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap peradaban Islam.  Tengoklah pada masa kekhilafahan Bani Abbasiyah, peradaban Islam mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang ilmu pengetahuan, seni, dan budaya.


Banyak ilmuwan muslim bermunculan memberikan sumbangsih dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Sebut saja Al Khawarijmi, Al Farabi, Al Battani, Ibnu Sina, Al Kays, di antara mereka ada yang ahli matematika, astronomi, filsuf, ahli kosmologi, dan ahli kedokteran. Alhasil, agar generasi muslim menjadi manusia-manusia beradab dan berilmu, maka terapkanlah sistem pendidikan Islam dalam bingkai negara Islam yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.

Wallahualam bissawab [Dara]

Learning Poverty Tidak Dianggap Serius, Kualitas Pendidikan Diabaikan

Learning Poverty Tidak Dianggap Serius, Kualitas Pendidikan Diabaikan

 


Perbedaan sarana dan prasarana di berbagai wilayah semakin memperbesar angka learning poverty

Perbedaan ini terjadi karena kapitalisasi di bidang pendidikan merupakan sesuatu yang legal dalam sistem saat ini. Dengan demikian mewujudkan pendidikan yang berkualitas hanya sebuah mimpi dalam sistem sekulerisme kapitalis

_________________________


Penulis Elfia Prihastuti, S.Pd.

Kontributor Tetap Media Kuntum Cahaya dan Praktisi Pendidikan 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Pendidikan merupakan salah satu sektor yang paling banyak menarik perhatian. Alasan klisenya adalah semua orang berkepentingan terhadap pendidikan. Untuk itu, desain pendidikan selalu menampilkan inovasi baru. Itulah sebabnya kita jumpai pergantian kurikulum berkali-kali. Bahkan ada kalimat yang menyatakan ganti menteri ganti kurikulum. Semua itu diklaim untuk memacu kualitas sumber daya peserta didik.


Namun, patut disayangkan, gambaran fakta yang ada, tidaklah selalu berbanding lurus dengan harapan. Sebanyak 21 siswa di SMPN 11 kota Kupang ditemukan tidak bisa membaca, menulis hingga membedakan abjad. Hal ini terlihat saat pelaksanaan asesment kognitif peserta didik baru pada bulan Juni 2023 lalu. (Tribun flores[dot]com, 10/8/2023)


Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di republik ini. Dalam sebuah laporan Bank Dunia menunjukkan setidaknya di setiap tahunnya, sebanyak 172 juta di 22 negara berpenghasilan menengah di Asia Timur dan Pasifik terdaftar di sekolah dasar. Hanya saja jumlah partisipan pendidikan yang terus meningkat masih banyak anak-anak yang tidak memiliki keterampilan dasar pendidikan. (Republika[dot]co[dot]id, 24/9/2023)


Definisi tingkat ketidakmampuan belajar (learning poverty), menurut laporan tersebut adalah ketidakmampuan anak usia 10 tahun untuk membaca dan memahami bahan bacaan yang sesuai dengan usianya, berada di atas angka 50 persen di 14 dari 22 negara, termasuk Indonesia, Myanmar, Kamboja, Filipina, dan Republik Demokratik Rakyat Laos.


Kenyataan ini amat miris. Kegagalan dalam memberikan keterampilan dasar pada peserta didik akan berpengaruh pada masa depan peserta didik. Pendidikan dalam sistem kapitalisme yang berorientasi mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja akan banyak menemukan hambatan karena masalah tersebut. 


Jauh sebelumnya pemerintah pernah mencanangkan Wajib Belajar 9 tahun. Demi mendongkrak partisipasi masyarakat agar program tersebut berjalan dengan baik, pemerintah memudahkan masyarakat untuk mendirikan sekolah-sekolah. 


Benar saja, kebijakan ini disambut masyarakat dengan sukacita. Sekolah-sekolah, terutama di daerah pedesaan tumbuh bagai jamur di musim hujan. Namun sayang, munculnya sekolah-sekolah itu tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai. Meski kebijakan ini cukup mendongkrak partisipasi masyarakat dan menjadikan akses pendidikan menjadi lebih mudah.


Namun keberadaannya dengan fasilitas seadanya. Alih-alih menghasilkan pendidikan yang berkualitas, justru out put pendidikan yang dihasilkan pun juga seadanya. Meski pendidikan gratis telah lama bertalu-talu dengan digulirkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kualitas pendidikan masih berjalan lambat tidak juga melesat. Terutama di daerah pedesaan.


Hal ini wajar terjadi, karena dana BOS yang dikucurkan di sekolah menghitung jumlah siswa. Jelas kondisi ini akan menghasilkan ketimpangan. Bagi sekolah yang memiliki siswa dengan jumlah yang banyak, maka luncuran dana yang didapat pun banyak. Sehingga fasilitas sekolah bisa terpenuhi dengan memadai. Begitu pula sebaliknya.


Administrasi yang Njlimet


Episode berikutnya dunia pendidikan mulai menerapkan administrasi yang rumit. Seorang guru tidak lagi fokus menghantarkan peserta didik menjadi pribadi-pribadi yang memiliki pengetahuan, sikap serta keterampilan. Konsentrasi guru mulai terpecah oleh seperangkat bahan ajar dan administrasi lainnya.


Sementara peserta didik hari ini, dituntut untuk tuntas dalam pembelajaran. Proses ketuntasan belajar diserahkan kepada guru. Tidak boleh ada siswa yang tidak naik kelas. Guru harus bekerja melakukan remidi pada peserta didik agar proses pembelajaran tuntas. Segudang tuntutan yang harus dilakukan, dalam waktu terbatas, kadang-kadang remidi hanya dilakukan secara adminitrasi saja. Sehingga status kenaikan kelas peserta didik tidak sesuai dengan kemampuan belajarnya.


Dukungan dan Komitmen Pembuat Kebijakan


Banyak negara menganggap bahwa masalah ketidakmampuan belajar (learning poverty) bukanlah masalah yang serius, sehingga tidak memerlukan penanganan yang serius pula. Padahal dukungan dan komitmen pembuat kebijakan merupakan faktor krusial untuk keluar dari masalah ini.


Hal ini disebabkan berbagai upaya untuk menanggulangi masalah, ternyata membutuhkan  pembelanjaan yang lebih efektif dari sumber daya yang ada dan alokasi sumber daya tambahan. Padahal penanganan permasalahan learning poverty akan dapat lebih mencerahkan masa depan generasi muda dan prospek ekonomi.


Membangun Pendidikan Berkualitas, Mimpi dalam Sistem Kapitalis


Fakta-fakta yang terungkap sejatinya merupakan buah dari penerapan sistem pendidikan saat ini yaitu sistem pendidikan sekulerisme kapitalisme. 


Sekulerisme adalah paham yang menanggalkan agama dalam setiap aktivitas, termasuk pendidikan. Materi adalah tujuan utama bagi sistem ini. Sedangkan manfaat merupakan azas bagi perbuatannya. 


Sejatinya kurikulum yang terus mengalami pergantian bukanlah diperuntukkan untuk meningkatkan kualitas peserta didik. Melainkan untuk memenuhi kualifikasi yang dituntut korporasi. Muatan agama dikikis secara perlahan. Materi pembelajaran hanya bermuara pada pencapaian materi, berupa nilai, keterampilan dan sejenisnya. Bagi peserta didik yang tidak bisa mengikuti perubahan kurikulum akan tertinggal.


Di samping itu, perbedaan sarana dan prasarana di berbagai wilayah semakin memperbesar angka learning poverty. Perbedaan ini terjadi karena kapitalisasi di bidang pendidikan merupakan sesuatu yang legal dalam sistem saat ini. Dengan demikian mewujudkan pendidikan yang berkualitas hanya sebuah mimpi dalam sistem sekulerisme kapitalis.


Sistem Islam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas


Islam memandang bahwa pendidikan merupakan kebutuhan dasar publik yang harus diperoleh individu rakyat. Untuk itu menjadi kewajiban negara untuk memenuhi kebutuhan tersebut.


Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

"Imam (pemimpin) adalah raa'in (pengurus rakyat) ia bertanggung jawab atas kepengurusan rakyatnya." (HR. Al-Bukhari)


Tanggung jawab penguasa dalam memenuhi kewajiban ini ditunjukkan Rasulullah saw. yang mewajibkan tawanan perang Badar untuk mengajarkan baca tulis kepada kaum muslimin yang masih buta huruf sebagai tebusan diri mereka.


Oleh karena itu pembiayaan sektor pendidikan tidak diberikan pada individu-individu masyarakat, melainkan ditanggung secara mutlak oleh negara. Pembiayaan diambil dari pos kepemilikan umum dan pos kepemilikan negara. 


Pos kepemilikan umum diambil dari pengelolaan SDA secara mandiri oleh negara. Sedangkan yang dimaksud kepemilikan negara berasal harta fa'i, kharaj, jizyah dan sejenisnya. 


Dengan mekanisme ini tidak akan ada liberalisasi dan kapitalisasi pendidikan. Sehingga tidak terjadi ketimpangan pendidikan di berbagai wilayah. Semua wilayah akan mendapat jaminan kualitas pendidikan yang sama.

Wallahualam bissawab. [GSM]