Alt Title
Karut Marut PPDB, Tak Berdayanya Pemerintah Atasi Pendidikan

Karut Marut PPDB, Tak Berdayanya Pemerintah Atasi Pendidikan

Nyatanya negara hanya sebagai regulator dan fasilitator bukan pelaksana atau operator. Oleh karena itu swasta menjadi harapan dalam proses pendidikan karena kurangnya daya tampung sekolah negeri. Negara memandang jika bermitra dengan swasta itu menjadi solusi, bukan membangun sekolah yang memadai. Nyatanya pada sistem kapitalis keterlibatan swasta kebanyakan didasari motivasi mencari keuntungan. Sehingga PPDB pada sistem kapitalis persoalannya tidak akan terselesaikan
_________________________


Penulis Neny Nuraeny

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pendidik Generasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sistem zonasi sekolah lagi-lagi menuai kontroversi. Banyaknya ketidaksinkronan antara peraturan dan kenyataan yang menyebabkan protes para orang tua. Berdasarkan penelusuran data pendaftarannya, dari 161 siswa baru SMAN 1 Bogor, hanya empat yang dari daerah sekitar. Para orang tua pun merasa heran, saat pendaftaran, mendapat posisi kedua, namun berubah bahkan menghilang. Kemudian salah satu wali murid Joko Sarjanoko, mengungkapkan bahwa “banyak warga yang berasal dari luar sekolah, bahkan ada 13 anak dari kabupaten yang masuk jalur zonasi, ini merupakan bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh panitia penerimaan siswa baru," tambahnya. Sementara, ketua PPDB SMAN 1 Bogor membantah pernyataan tersebut, semua yang mengajukan pendaftaran telah memenuhi syarat, dan menegaskan kembali jika semua siswa berasal dari Bogor Tengah. (Bogor, Bersatu[dot]com)


Tidak dapat dimungkiri, pemilihan sekolah dapat dilihat dari fasilitas dan kualitas, infrastuktur yang memadai, dan mempunyai guru-guru yang berpengalaman. Namun, banyak siswa tidak masuk sekolah negeri manapun dan terpaksa masuk ke sekolah swasta yang mahal. 


Sengkarut PPDB zonasi, menguatkan pesan betapa lemahnya negara mengatur urusan pendidikan. Padahal pendidikan adalah hal dasar yang harus terpenuhi untuk individu dan masyarakat. Masalah yang ditimbulkan saat ini sebenarnya adalah cara pengelolaan yang keliru dan berpacu pada penerapan kekuasaan kapitalis, hingga negara dituntut memberi kesempatan kepada swasta atau masyarakat untuk terlibat menyelesaikan persoalan pendidikan. Padahal itu adalah tugas negara.


Nyatanya negara hanya sebagai regulator dan fasilitator bukan pelaksana atau operator. Oleh karena itu swasta menjadi harapan dalam proses pendidikan karena kurangnya daya tampung sekolah negeri. Negara memandang jika bermitra dengan swasta itu menjadi solusi, bukan membangun sekolah yang memadai. Nyatanya pada sistem kapitalis keterlibatan swasta kebanyakan didasari motivasi mencari keuntungan. Sehingga PPDB pada sistem kapitalis persoalannya tidak akan terselesaikan. 


Berbeda dengan sistem Islam, kepala negara atau Khalifah adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam terselenggaranya pendidikan. Negara hadir sebagai pelaksana dalam layanan pendidikan untuk masyarakat secara adil. Hal ini karena Islam telah menetapkan negara sebagai penanggungjawab penguasaan urusan seluruh umat. Sebagaimana dalam hadis mengungkapkan “Seorang imam (Khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Al-Bukhari)


Dengan demikian, negara bertanggung jawab menyediakan semua fasilitas dan kualitas yang memadai, gedung sekolah beserta seluruh kelengkapannya, kurikulum yang jelas, guru yang kompeten dan profesional. Dalam hal ini negara Islam atau Khilafah berpegang dalam tiga prinsip yaitu kesederhanaan peraturan, profesional pengurus, dan kecepatan pelayanan, sehingga mendaftar sekolah akan mudah dan terasa adil, dan tidak akan serumit ini. 


Sebagai penanggungjawab, negara tidak diperbolehkan kerjasama atau menyerahkan pada pihak swasta. Walaupun swasta masih diberi kesempatan untuk beramal saleh dan berkontribusi untuk pendidikan. Namun, keberadaan mereka tidak akan sampai menggantikan peran negara yang sebenarnya. Adapun mengenai anggaran pendidikan negara akan mengelola anggaran terpusat di baitul mal. Negara mampu membiayai seluruh kebutuhan pendidikan yang berkualitas, gratis dan mudah diakses oleh semua pihak.


Khilafah dapat mengokohkan suasana takwa warga negaranya dan terus membangun paradigma pendidikan yang sahih di tengah masyarakat. Sehingga masyarakat memandang lurus tujuan dari proses pendidikan yaitu berlomba-lomba dalam mencari derajat tertinggi di hadapan Allah Swt. melalui ilmu yang diperolehnya. 


Dengan ketersediaan sekolah yang berkualitas, keberlangsungan pendidikan berjalan dengan khidmat tanpa kisruh. Pencapaian pendidikan benar-benar optimal untuk membangun peradaban. Demikianlah betapa mudahnya sekolah di sistem Khilafah, itu karena  pengaturan pendidikan yang diserahkan pada aturan Allah Swt.

Wallahualam bissawab. [GSM]

Kelemahan Iman Berbuah Maraknya Tindak Kejahatan

Kelemahan Iman Berbuah Maraknya Tindak Kejahatan

Dari lemahnya keimanan dan ketakwaan seseorang, tampak jelas penyebab terjadinya berbagai motif kriminalitas menjadi salah satu penyebabnya. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan yang diambil menjadi landasan pada kehidupan ini membuat orang mudah melakukan tindak kriminal, bahkan hingga melenyapkan nyawa orang lain
______________________


Penulis Aning Juningsih

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah Islam


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Beberapa pekan lalu, Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan potongan tubuh mahasiswa inisial R, korban mutilasi di Sleman ditemukan di lima titik sejak penemuan pertama hari Rabu (12/7) kemarin.

Di tempat lain, tepatnya di sebuah kontrakan di Kampung Muka Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Polda Metro Jaya menemukan seorang pria tewas berinisial W (51) di kamar kontrakannya. Kemudian, tak berselang lama pria berinisial MA (20) ditangkap Polda Metro Jaya sebagai tersangkanya.


Rentetan berita tersebut hanya sebagian kecil fakta yang di ungkap di media. Tentu lebih banyak lagi kejahatan yang tidak muncul di media massa. Keadaan ini membuat masyarakat takut. Betapa tidak, kriminalitas begitu merebak di masyarakat, baik jumlah atau modusnya makin beragam. Begitu juga dengan tindakan pelaku yang semakin sadis.


Kini, masalah-masalah sepele bisa memicu pada penganiayaan dan pembunuhan. Seperti, salah paham, cemburu, hutang bisa memicu kepada hilangnya nyawa. Bukan hanya dibunuh bahkan, jasad korban sampai dimutilasi secara sadis seakan-akan pelakunya bukan manusia.


Dari lemahnya keimanan dan ketakwaan seseorang, tampak jelas penyebab terjadinya berbagai motif kriminalitas menjadi salah satu penyebabnya. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan yang diambil menjadi landasan pada kehidupan ini membuat orang mudah melakukan tindak kriminal hingga melenyapkan nyawa orang lain.


Kehidupan sekuler dewasa ini tidak membuat orang takut kepada dosa dan azab Allah. Mereka tidak takut dengan murka Allah ketika melakukan kemasiatan, bahkan yang termasuk dosa besar seperti pembunuhan. Namun, lebih takut dengan hukuman manusia seperti dipenjara.


Inilah akibat diterapkannya sekuler di kehidupan kita saat ini. Agama dijauhkan dari kehidupan. Tidak ada fungsi pencegahan pada diri seseorang dari berbuat kejahatan karena lemahnya keimanan di dalam hatinya. Sungguh menyedihkan, bayangan surga dan neraka seakan merupakan suatu yang jauh dari realitas kehidupan.


Hasil dari, penerapan kapitalisme di negara ini telah menghasilkan kemiskinan yang meluas. Begitu juga masyarakat harus membayar mahal di setiap pertengahan tahun biaya pendidikan untuk masuk sekolah seperti biaya pendaftaran, daftar ulang, biaya buku, seragam, alat tulis dan yang lain.  Bahkan, banyak orang yang mudah untuk gelap mata demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Orang tega melakukan kejahatan dengan mencuri, begal bahkan merampas harta dan nyawa.


Di sisi lain, yang menjadi penyebab meningkatnya kejahatan adalah lemahnya penerapan hukum. Banyak kasus kejahatan yang hilang begitu saja karena masyarakat enggan melapor. Sudah tenar di negeri ini bahwa berurusan dengan aparat keamanan akan mengeluarkan biaya yang besar dan proses yang rumit, sedangkan masalah belum tentu selesai. Sehingga ada ungkapan, "kehilangan ayam, jadi bisa  kehilangan sapi jika lapor aparat. Itu merupakan bukti lemahnya penerapan hukum ditengah masyarakat.


Selain itu, hukum yang ada tidak dapat menjerakan para pelaku kejahatan. Bahkan, menjadi bukti bahwa pelaku kejahatan tidak jera dipenjara, mereka bertambah lihai melakukan aksinya setelah keluar dari penjara.


Penerapan hukum kufur tidak akan berhasil menghentikan tindak kejahatan karena tidak mampu mewujudkan efek jera pada pelaku kejahatan. Selain hukumannya lemah ditambah banyak oknum mudah dibeli agar pelaku bisa lepas dari jerat hukum.


Hasilnya, masyarakat tidak mendapatkan rasa aman dalam kehidupannya. Masyarakat merasa ketakutan terhadap keselamatanya karena pelaku kejahatan yang berkeliaran siap merampas harta dan nyawa. Maka, terbukti bahwa hukum sekuler tidak mampu memberikan rasa aman pada masyarakat.


Islam memiliki solusi yang efektif untuk mewujudkan rasa aman pada masyarakat. Pada tingkat individu, negara akan membina kepribadian individu rakyat sehingga menjadi sosok yang taat dan bertakwa. Negara akan senantiasa menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah islam, juga mengutus para pendakwah ke berbagai penjuru negeri untuk mengajarkan akidah dan syariat Islam di tengah masyarakat. Ketakwaan dan keimanan akan senantiasa menjadikan seseorang takut untuk berbuat kejahatan.


Sementara itu, pelaku tindak kejahatan hukumannya tidak selalu dipenjara sebagaimana dalam sistem saat ini, melainkan akan disesuaikan dengan tindak kejahatannya. Misalnya, qisas bagi pelaku pembunuhan yang disengaja. Firman Allah SWT. dalam Q.S Al-Baqarah :178 : "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qisas berkenaan orang yang dibunuh."


Ada empat jenis sanksi dalam Islam yaitu hudud, jinayah, takzir dan mukhalafat. Hudud adalah jenis sanksi atas kemaksiatan yang kadarnya telah ditetapkan oleh syariat dan menjadi hak Allah Ta'ala. Jinayah adalah penganiayaan atas badan dan mewajibkan qisas. Takzir adalah sanksi atas kemaksiatan yang tidak ada had dan kafarat. Sedangkan mukhalafat adalah sanksi atas pelanggaran aturan yang diterapkan negara.


Dalam sistem Islam memang tetap ada penjara, tetapi keadaannya berbeda dengan penjara pada sistem sekuler saat ini. Penjara dalam sistem Islam, selain memberikan hukuman untuk mewujudkan efek jera, juga berisi pembinaan kepribadian dengan pemahaman Islam hingga orang yang ada di dalamnya terdorong untuk bertobat. Hal ini untuk mencegah pelakunya untuk mengulangi berbuat jahat.


Hanya dengan penerapan sistem sanksi Islam yang adil dan tegas, tindak kejahatan akan terselesaikan dan masyarakat akan merasa aman dari kriminalitas. Sudah saatnya kita  campakkan sistem sekuler yang telah gagal memberikan rasa aman, kita pindah ke sistem Islam. 

Wallahualam bissawab. [Dara Hanifah]

Rusia Larang Ganti Jenis Kelamin, Bandingkan dengan Khilafah

Rusia Larang Ganti Jenis Kelamin, Bandingkan dengan Khilafah

 


Rusia melarang mengganti jenis kelamin warganya adalah karena ketidaksesuaian dengan prinsip tradisional negara. Khilafah melarang prosedur transgender bukanlah karena kepentingan sebuah negara saja, namun karena ketaatan terhadap hukum syarak

_________________________


Penulis Aini Rahmalia, S.Si.

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Di era kebebasan liberalisme yang merajalela di setiap negara, manusia semakin terjauhkan dari agamanya dengan dalih kebebasan dan hak asasi manusia. Manusia tak mau lagi diatur dengan aturan agama, hingga tersesat ke jurang kehancuran. L6BT kian mewabah ke setiap umat, baik yang beragama maupun tak beragama. 


Transgender dijadikan sebuah solusi atas konflik batin, merasa terjebak di dalam tubuh yang salah. Bermula hanya mengubah penampilan dan gaya bicara, hingga melakukan operasi untuk mengganti jenis kelamin untuk menyempurnakan kodrat yang dipilih.


Kebijakan sebuah negara sangatlah berpengaruh dalam menghilangkan dan mengurangi terjadinya transgender. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rusia. Di saat kebanyakan negara melegalkan perubahan gender, berbeda halnya dengan Rusia yang justru menolak.


Dikutip dari Jakarta, CNN Indonesia (15/07) bahwa dalam kurun waktu tidak lama lagi, Rusia akan resmi melarang prosedur operasi penggantian kelamin kepada warganya. Di mana Duma Negara atau bisa disebut Majelis Rendah Parlemen Rusia telah menyetujui RUU larangan prosedur operasi penggantian kelamin. Artinya, aturan ini akan diberlakukan ketika Dewan Federasi Rusia telah mengesahkan dan ditandatangani oleh Vladimir Putin selaku presiden Rusia. 


Alasan Rusia melarang mengganti jenis kelamin warganya adalah karena ketidaksesuaian dengan prinsip tradisional negara, menganggap hal tersebut adalah ideologi asing yang dapat mengancam nilai-nilai tradisonal dan spiritual dan juga berkurangnya peserta wajib militer. Selain melarang transgender, Rusia pada tahun 2022 melarang untuk mengkampanyekan hubungan sesama jenis dan gaya hidup L6BT.


Kebijakan yang diambil oleh Rusia patut diapresiasi. Kenapa? karena di era serba bebas dan di kala negara lain di luar sana yang melegalkan bahkan mengkampanyekan transgender, justru Rusia menolak. Seharusnya kebijakan yang dilakukan oleh Rusia ini patut diikuti oleh negara lain terlebih negara yang mayoritas muslim. Karena secara jelas Islam melarang penggantian jenis kelamin. Namun sayangnya negara kita pun melegalkan hal tersebut. Bahkan ada tujuh publik figur di Indonesia yang melakukan transgender dan mengampanyekan ke khalayak publik.


Islam adalah sebuah ideologi yang di dalamnya terdapat peraturan yang mengatur segala kehidupan manusia, salah satunya adalah peraturan terkait L6BT yang kini menjadi virus yang beredar di seluruh dunia. Khilafah sebagai sebuah negara akan menerapkan aturan Islam secara sempuna. Khilafah akan memberlakukan peraturan untuk melindungi warganya dari virus L6BT, mulai dari pencegahan, pengobatan hingga sanksi bagi pelaku L6BT.


Khilafah melarang prosedur transgender bukanlah karena kepentingan sebuah negara saja, namun karena ketaatan terhadap hukum syarak dimana dijelaskan di dalam surah An-Nisa ayat 19 bahwa Allah Swt. melarang untuk mengubah ciptaan-Nya., 

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَءَامُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ ٱلْأَنْعَٰمِ وَلَءَامُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ ٱلشَّيْطَٰنَ وَلِيًّا مِّن دُونِ ٱللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا

"Dan aku akan menyesatkan mereka, dan membangkitkan angan-angan kosong pada diri mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga binatang ternak), lalu mereka benar memotongnya, dan akan aku suruh (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar mengubahnya, barang siapa yang menjadikan syaitan pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata."


Maka jelaslah makna mengubah ciptaan Allah Swt. salah satunya adalah jenis kelamin yang sudah Allah tetap sejak didalam kandungan. Sedangkan dalam sabda Rasulullah saw.,

عَنْ اِبْنِ عَبّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ لَعَنَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم الْمُخَنَّثِيْنَ مِنْ الرَّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنْ النِّسَاء وَ قَالَ أَخْرِجُوْهُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ رواه البخاريّ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan dan perempuan yang bertingkah laku seperti laki-laki. Rasulullah bersabda, usirlah mereka dari rumahmu (HR. Al Bukhari)


Sungguh tak ada alasan untuk mendukung L6BT, sekedar menirukan atau bertingkah laku seperti lawan jenis saja dilarang apalagi sampai mengubahnya.


Oleh karenanya Khilafah akan melakukan pencegahan dengan meningkatkan keimanan setiap warganya untuk bersyukur atas apa yang sudah Allah Swt. tetapkan pada dirinya. Bahwa Allah sudah menentukan semua hal pada diri baik bentuk fisik, warna kulit dan jenis kelamin yang terbaik. Tak ada ketetapan Allah yang salah maupun tertukar. Yang ada hanyalah hilangnya iman hingga mudah sersesat mengikuti langkah setan.  Khilafah mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan, membatasi melihat aurat antar lawan janis maupun sesama jenis. Sehingga tak ada lagi rasa iri dan ingin seperti orang lain, hingga berdalih terjebak dalam tubuh yang salah karena tak puas dengan dirinya sendiri.


Khilafah juga akan melakukan pengobatan dengan mengedukasi untuk mengokohkan keimanan dan menyibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat. Sedangkan sanksi yang diberlakukan Khilafah bagi pelaku L6BT adalah dibunuh baik dengan cara dipenggal, digantung bahkan di jatuhkan dari ketinggian hingga mati. Hukuman yang amat tegas ini akan menjadikan hilangnya virus L6BT di tengah-tengah umat bahkan negara. Tak ada aturan yang lebih baik selain Islam, semoga Allah Swt. menyegerakan berdirinya sebuah negara yang menerapkan aturan Islam secara sempurna.

Wallahualam bissawab. [SJ]

Ambisi Proyek Strategis yang Berakhir Dramatis

Ambisi Proyek Strategis yang Berakhir Dramatis


Inilah yang terjadi jika berpijak pada sistem kapitalis, meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal yang serendah-rendahnya. Pembangunan yang dilaksanakan menggunakan format perusahaan, hanya sebatas bisnis. Alih-alih ditujukan untuk kepentingan publik, justru yang terjadi hubungan yang terjalin antara penguasa dan rakyat tak ubahnya seperti penjual dan pembeli
_________________________


Penulis Irma Faryanti

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member Akademi Menulis Kreatif 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Menjelang akhir masa kepemimpinan Presiden Jokowi, diketahui bahwa saat ini terdapat 58 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang belum diselesaikan. Menanggapi fakta tersebut, Wahyu Utomo selaku Deputi bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata ruang Kemenko Perekonomian yang merangkap sebagai Ketua Tim Pelaksana Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), menyatakan bahwa semua itu belum dimulai pembangunannya, tapi juga tidak dikeluarkan dari daftar PSN pemerintah. (CNBC Indonesia, Kamis 13 Juli 2023)


Menurut Wahyu,  jika 58 proyek itu tidak tercapai maka dikembalikan kepada Presiden yang berwenang untuk memutuskan apakah akan dikeluarkan dari PSN ataukah tidak. Pun jika itu terjadi, pengerjaannya masih bisa diteruskan dengan menawarkan pembayarannya pada pemerintah daerah maupun investor yang lain. Kepala negara hanya meminta agar mempercepat perizinan, pengadaan tanah dan financing. Karena jika itu selesai dilakukan, maka akan terhindar dari mangkrak.


Adapun yang termasuk ke dalam 58 PSN itu beberapa diantaranya adalah: MRT East-West rute Cikarang-Balaraja, kereta api semi cepat Jakarta-Surabaya, Pelabuhan New Ambon, Tol Bicimi, tol Trans Sumatera dan tol Getaci. Konon nilai investasi proyek-proyek tersebut jumlahnya fantastis yaitu mencapai Rp420 Triliun. Namun sayang, keberadaannya dipastikan tidak akan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.


Airlangga Hartarto sebagai Menteri Koordinator Perekonomian juga menyatakan pendapatnya bahwa sejauh ini ada 156 PSN yang telah rampung dan akan terus dilaksanakan oleh pemimpin terpilih pada 2024 mendatang. Ia pun mengungkapkan bahwa sampai akhir tahun depan, masih ada 27 proyek yang akan dipercepat pengerjaannya, dengan total nilai mencapai Rp1.360 triliun.


Sayangnya, infrastruktur yang digadang sebagai proyek strategis nasional, faktanya tidak membawa manfaat bagi masyarakat. Karena ujung-ujungnya fasilitas yang dibangun justru dijual pada swasta. Sebagai contoh di tahun 2019, Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melelang enam pembangunan jalan tol yang umumnya ada di Pulau Jawa. Total investasi yang dibutuhkan pun tidaklah sedikit, yaitu mencapai Rp137,74 yang hampir setara dengan APBD wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Besarnya biaya yang dibutuhkan, membuat pemerintah berpeluang membuka utang baru, dan untuk mengatasi masalah utang yang membengkak maka jalan tol yang sudah dibangun tersebut dijual pada swasta. Pada akhirnya, rakyat hanya menjadi objek penderita.


Inilah yang terjadi jika berpijak pada sistem kapitalis, meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal yang serendah-rendahnya. Pembangunan yang dilaksanakan menggunakan format perusahaan, hanya sebatas bisnis. Alih-alih ditujukan untuk kepentingan publik, justru yang terjadi hubungan yang terjalin antara penguasa dan rakyat tak ubahnya seperti penjual dan pembeli.


Asas manfaat begitu melekat kuat, menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diinginkan pun menjadi hal wajar tanpa memperhatikan nilai agama yang melandasinya. Karena sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) menjadi dasar untuk melakukan suatu perbuatan. Sistem kapitalis jelas zalim dan tidak layak dijadikan pegangan dalam kehidupan.


Lain halnya dengan Islam, rancangan pembangunan selalu dilakukan demi kepentingan umat. Tidak untuk sekedar mengejar reputasi atau ambisi modernisasi. Infrastruktur akan dibangun sesuai kebutuhan masyarakat, jika dianggap tidak urgen maka pembangunannya bisa ditunda dan mendahulukan apa yang diperlukan. 


Misalnya pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman yang terpencil, tidak cukup hanya sekedar dengan menyediakan jalan tapi juga sarana transportasi umum yang memadai untuk mempermudah masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya. Seorang penguasa akan melaksanakan kewajiban dalam mengurusi urusan rakyat, karena ia menyadari bahwa kepemimpinannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana sabda Rasulullah  dalam HR Muslim dan Ahmad:

"Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap urusan rakyat yang diurusnya."


Saat kapitalisme dianggap gagal karena kezaliman dan kesengsaraan yang ditimbulkannya, masihkah kita berharap padanya? Padahal Islam merupakan agama sempurna yang  dapat menjadi solusi bagi seluruh permasalahan kehidupan, terlebih ketika diterapkan di bawah naungan sebuah  kepemimpinan.

Wallahualam bissawab. [GSM]

Pertemuan Kaum Pelangi Se-ASEAN Menancapkan Pisau Penyimpangan

Pertemuan Kaum Pelangi Se-ASEAN Menancapkan Pisau Penyimpangan

 


Masalah l6bt jika ditelaah bukan hanya sekadar penyimpangan seksual yang bersifat individu tetapi ada gerakan besar yang sistematik. Bukan itu saja jika melihat masifnya gerakan ini ada pendanaan besar dengan promosi yang begitu luas. Contohnya saja adanya konser Coldplay yang akan diselenggarakan di Indonesia. Bisa kita lihat dari vokalisnya yang selalu membawa bendera pelangi di setiap konsernya. Ini menjadi bukti kuat bahwa kampanye kaum 

_________________________


Penulis Heni Ummufaiz

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Umat


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Entah mengapa kalau melihat warna pelangi dijadikan simbol dikaos, gelang bawaannya pasti curiga. Semua terjadi karena masifnya para kaum melambai dan turunnya sudah tak malu lagi mengumbar aktivitasnya baik di medsos maupun di kehidupan sehari-hari. Bahkan mirisnya keberadaan mereka teroganisir di seluruh dunia. Fakta ini bisa kita lihat dengan akan diadakannya pertemuan mereka se-ASEAN dan Jakarta menjadi tuan rumahnya. Sekalipun acara tersebut dibatalkan tetapi tetap saja harus dipantau.


Kondisi ini pun sontak mendapatkan penolakan dari berbagai kalangan termasuk MUI.

Menurut Kiai Cholil jangan sampai l6bt dianggap sesuatu yang normal apalagi hingga dilegalkan di Indonesia (republika, 12/7/2023). 


Walaupun sebenarnya belum ada aturan yang tegas terkait l6bt, setidaknya pelarangan ini didasarkan atas aspirasi dan norma yang berlaku. Menurutnya berharap agar yang terkena elgebete senantiasa dibimbing dan diluruskan oleh pemerintah, tokoh agama serta seluruh masyarakat agar orientasi seksualnya kembali sesuai fitrahnya.


Masalah l6bt jika ditelaah bukan hanya sekadar penyimpangan seksual yang bersifat individu tetapi ada gerakan besar yang sistematik. Bukan itu saja jika melihat masifnya gerakan ini ada pendanaan besar dengan promosi yang begitu luas. Contohnya saja adanya konser Coldplay yang akan diselenggarakan di Indonesia. Bisa kita lihat dari vokalisnya yang selalu membawa bendera pelangi di setiap konsernya. Ini menjadi bukti kuat bahwa kampanye kaum pelangi terus dimasifkan agar diterima di masyarakat dunia khususnya negeri-negeri muslim.


Ironisnya justru l6bt  kian menyasar para publik figur termasuk kasus selebgram yang harus merasakan pahit saat pasangan hidupnya ternyata mengalami penyimpangan seksual. Dan masih banyak publik figur terpapar virus pelangi ini. Mirisnya perilaku ini dianggap hal yang wajar dan bentuk hak asasi manusia di kalangan selebritis. Na'uzubillahiminzalik.


Di balik Masifnya L6BT


Bagi sebagian masyarakat adanya komunitas L6BT ini menganggap hanya penyakit biasa saja. Sebagian menganggap  sebagai kebebasan berekspresi dan berperilaku yang merupakan bagian dari HAM.


Dikutip dari instagram,  Komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (L68T) se-ASEAN bakal menggelar kumpul bareng di Jakarta pada 17-21 Juli 2023 di Jakarta. Acara tersebut diorganisasi oleh ASEAN SOGIE Caucus, organisasi di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2021, bersama Arus Pelangi dan Forum Asia.

 

”Apakah kalian aktivis queer yang berbasis di Malaysia, Thailand, Laos, Singapura, dan negara lain di Asia Tenggara? Mari bergabung bersama kami dalam ASEAN Queer Advocacy Week (AAW) Juli ini,” kata ASEAN SOGIE Caucus dalam pengumuman di Instagram, @aseansoegicaucus.

 

Sebuah kampanye besar dan terkoordinasi sangat rapi ini bisa dipastikan merupakan agenda yang bertujuan untuk menghancurkan masa depan generasi kita khususnya muslim. Bahkan jika ditelusuri  program L68T yang kini terus masif  didukung oleh pendanaan kuat yang disokong negara-negara adidaya. Demi menghancurkan masa depan dunia. Menurut Guru Besar IPB, Dr. Euis Sunarti menyatakan bahwa L68T masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an. Dialog Komunitas L68T   Nasional di Nusa Dua Bali kala itu diprakarsai oleh Forum L68TQ dan mendapatkan dukungan dana dari USAID (Al Waie, Juli 2023). 


Kehidupan sekuler kapitalistik mengakibatkan negeri ini begitu mudahnya dimasuki berbagai penyakit penyimpangan seksual. Terlebih negeri tercinta kita ini memiliki bonus demografi yang cukup besar. Hal ini pula menjadi sasaran empuk Barat guna menghancurkan generasi melalui perusakan moral dan akhlak bangsa. Ironisnya banyak yang tak menyadari dan justru terbuai dengan konsep kebebasan hidup Barat. Melampiaskan nalurinya dengan membabibuta tanpa ada aturan agama dan norma kesusilaan. Tak heran jika kemudian hari ini kita menyaksikan semakin menjamur para kaum pelangi di berbagai sektor kehidupan.


Jika hal ini terus dibiarkan tak dapat dibayangkan kelak generasi kita di masa depan akan semakin rusak. Maka perlu solusi tuntas agar generasi kita terselamatkan terlebih Indonesia penduduknya mayoritas muslim.


Solusi Islam


Melihat masifnya kampanye l6bt ini tentunya bagi kita muslim tidak boleh diam dan membiarkan generasi kita hancur. Islam sebagai agama dan ideologi mampu menyelesaikan persoalan kaum pelangi ini. Dalam Islam berbagai penyimpangan akhlak dan penyimpangan seksual akan segera ditangani.


Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah komunitas pelangi di antaranya;

Pertama, Salah satu pencegahan pun dimulai dari keluarga yang dilakukan semenjak dini. Pembekalan akidah yang kokoh dan pola asuh yang benar akan menjauhkan dari perilaku  menyimpang.

Kedua,peranan masyarakat sangat diperlukan yakni harus bergerak dengan melakukan amar makruf nahi mungkar dengan menutup tempat-tempat maksiat yang dijadikan kumpul-kumpul para kaum pelangi. Bahu membahu seluruh komponen masyarakat menyadarkan mereka dengan mengembalikan kepada fitrahnya. Bisa dengan edukasi dan rehabilitasi.

Ketiga,  negara sangat efektif dengan cara menolak kampanye elgebete tersebut secara tegas. Menutup konten-konten di medsos, lewat film, seni dan sarana yang memungkinkan masuknya perilaku menyimpang seksual.

Hal tersebut karena tidak sesuai dengan dasar negara kita yakni sila ke satu Ketuhanan yang Maha Esa.


Walhasil dengan bahu membahu menyadarkan seluruh komponen anak bangsa ini tentu keberadaan kaum pelangi tidak akan masif. Berharap juga agar mereka segera taubat atas segala kesalahan penyimpangan seksualnya. Namun rasanya sangat sulit mengharapkan kehidupan yang aman dari kerusakan penyimpangan seksual ini jika tanpa sistem Islam kafah. 

Wallahualam bissawab.[SJ]

Hijrah Muharram Tiba

Hijrah Muharram Tiba

 



Hijrah Muharram tiba
Diperingati dengan ragam acara
Lalu hijrah seperti apa dalam konteks kini?
Ketika umat Islam tak baik-baik saja dalam kegelapan sistem kejahiliahan
____________________________


Penulis Hanif Kristianto

Sastrawan Politik dan Analis Berita 


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Tahun baru Hijriah kini diperingati meriah

Berciri khas sesuai nilai Islam yang dalam

Pawai Muharram menjadi penanda suka cita

Lalu, apa makna sebenarnya dari hijrah ketika Muharram tiba?


Hijrah tampil disematkan pada peristiwa berubah

Dulu maksiat kini taat

Dulu tampil aurat kini tertutup rapat

Dulu bejat kini taubat


Itulah hijrah kebaikan

Dalam makna arti luas berpindah

Dari satu kondisi ke kondisi lainnya

Dari yang biasa menjadi luar biasa


Hijrah Muharram tiba

Diperingati dengan ragam acara

Lalu hijrah seperti apa dalam konteks kini?

Ketika umat Islam tak baik-baik saja dalam kegelapan sistem kejahiliahan


Pesan tauhid sejatinya perlu diungkit

Hijrah maknawi menyiratkan sebuah perpisahan total

Bukan berpindah lokasi tempat tinggal

Beralih dari jahiliah menuju Islam itulah petunjuk keabsahan


Dikata jahiliah bukan manusia bodoh sebodoh-bodohnya

Dikata jahiliah sebab manusia mendesak akal yang tak kekal

Merasa hebat dalam produksi aturan

Lalu Islam yang berasal dari Allah Maha 'Alim dicampakkan


Rasulullah secara ragawi menggariskan arah hijrah

Dari Makkah yang penuh kejahiliyahan dan keterpurukan

Berpindah ke Madinah dengan sambutan hangat penuh toleran

Bekal penting bangun peradaban dunia dari Islam mulia


Kini siapa penuntut hijrah ragawi peneladan nabi?

Adakah di antara umat terbaik ini menuntun ke hijrah yang diridaii Illahi?

Umat masih belum siuman setelah dibius musuh dalam penjajahan

Umat masih tak sadar kondisi terpuruk dikira dalam nyaman dan aman


Hijrah Muharram tiba

Perubahan mewujudkan cita-cita umat mulia

Sekali kembali kepada Islam

Selamanya tak akan jatuh ke pelukan kejahilan [By]


#puisi #puisihanifk #hijrah #sastra #sastraindonesia #hijriyah #muharram

Marak Kriminalitas, Umat Butuh Solusi Tuntas

Marak Kriminalitas, Umat Butuh Solusi Tuntas

 


Kemiskinan yang terus berlanjut dari waktu ke waktu ini bukan tanpa sebab. Ada dalang utama yang menjadi penyebabnya yang tak lain adalah penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini meniscayakan adanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Bahkan gap ini harus terus diadakan agar sistem tersebut bisa tetap eksis. Walhasil, inilah yang akhirnya membuat masalah kemiskinan menjadi hal yang sulit diselesaikan.  

_________________________   


Penulis Etik Rositasari

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Akhir-akhir ini, beragam kasus kriminalitas yang terjadi sungguh membuat kita geleng-geleng kepala. Sebut saja kasus kriminalitas di Jakarta sepanjang Senin (10/7) kemarin, mulai dari kasus pembunuhan yang terjadi di Jakarta Utara, kasus pemerasan Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) oleh oknum PNS kelurahan hingga kasus penganiayaan bersenjata tajam yang dilakukan oleh sekelompok pemuda terhadap seorang pria yang dipicu karena motif cemburu. Sementara itu dilansir dari situs Kumparan[dot]com (16/7) seorang pria berusia 43 tahun di Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim dibekuk polisi setelah menusuk tetangganya sendiri hingga tewas pada 10/7 lalu. Pembunuhan dilakukan lantaran korban memiliki hutang kepada pelaku namun enggan membayarnya. 


Kasus kriminal yang tak kalah miris juga terjadi baru-baru ini di Yogyakarta. Dilansir dari Tempo[dot]co (16/7), seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta dibunuh secara keji oleh dua rekannya yang merupakan seorang karyawan restoran dan penjual kue. Jasadnya kemudian dimutilasi menjadi beberapa bagian dan dibuang di lima titik terpisah. Ironisnya, beberapa bulan sebelumnya tepatnya di Bulan Maret 2023, kasus mutilasi juga terjadi di provinsi yang sama dan melibatkan korban seorang ibu dua anak yang dibunuh lalu dimutilasi menjadi puluhan bagian. Pelaku yang mengaku memiliki hubungan asmara dengan korban nekat membunuh untuk mendapatkan harta korban guna melunasi pinjaman online pelaku dari tiga aplikasi sebesar Rp8 juta.


Di Tangerang, polisi juga berhasil menciduk tersangka pembunuhan dan mutilasi seorang pria yang dipicu karena cekcok. Sementara itu, di penghujung tahun lalu, polisi mengungkap pembunuhan yang diikuti mutilasi di sebuah apartemen Taman Rasuna, Jakarta. Motif dari tindak kejahatan ini karena pelaku ingin menguasai harta korban yang berupa apartemen dan tabungan. 


Rentetan-rentetan kriminalitas tersebut baru secuil kasus yang dipaparkan sosial media. Faktanya, tindak kriminalitas di Indonesia layaknya fenomena gunung es. Masih banyak kasus kriminalitas yang tak terungkap karena tak disorot media. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Apalagi, hal ini didukung dengan angka kejahatan yang semakin hari semakin meningkat. Data yang dilansir dari CNN[dot]com (31/12/22) memaparkan fakta mengejutkan dimana angka kriminalitas tahun 2022 naik 7,3 persen dari tahun lalu. Bahkan jika dirata-ratakan, 31,6 kejahatan terjadi setiap jamnya. Subhanallah!


Kasus kriminalitas yang makin lama makin mengerikan ini tentu membuat masyarakat resah. Mereka khawatir terhadap keselamatan harta, diri dan keluarganya. Jaminan keamanan yang menjadi hak tak didapat, hingga akhirnya masyarakat harus mengusahakan sendiri untuk melindungi apa yang mereka miliki. 


Jika ditelisik, realitas saat ini ada kaitannya dengan kehidupan masyarakat yang serba sulit. Harga kebutuhan yang makin mencekik, mendorong masyarakat, mau tak mau, harus memutar otak untuk bisa tetap bertahan hidup. Beberapa terpaksa berhutang pada pinjol meski konsekuensinya pinjaman harus dikembalikan plus bunga yang tak sedikit. Mereka yang tak sanggup membayar sampai batas waktu tagihan akhirnya melakukan segala cara untuk bisa melunasi pinjaman dan lepas dari pinjol, termasuk menguasai harta orang lain. Beberapa lainnya memilih cara lebih instant dengan melakukan perbuatan kriminal seperti mencuri, merampok, dan lain sebagainya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 


Kemiskinan yang terus berlanjut dari waktu ke waktu ini bukan tanpa sebab. Ada dalang utama yang menjadi penyebabnya yang tak lain adalah penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini meniscayakan adanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Bahkan gap ini harus terus diadakan agar sistem tersebut bisa tetap eksis. Walhasil, inilah yang akhirnya membuat masalah kemiskinan menjadi hal yang sulit diselesaikan.     


Ironisnya, bukan hanya miskin materi, masyarakat pun minim keimanan dan ketakwaan. Buktinya, hanya karena perkara-perkara sepele seperti utang, cekcok dan cemburu, seseorang bisa menghabisi nyawa orang lain, bahkan memutilasinya dengan tak manusiawi. Jangankan iman, rasa empati pada sesama pun seakan lenyap dari diri mereka. Tak heran, kondisi ini merupakan manifestasi dari sekulerisme yang berlaku saat ini. Kehidupan sekuler yang meminggirkan nilai agama, membuat orang tak takut dengan konsekuensi murka Allah dan siksa neraka. Tindakan dosa pun jadi suatu hal yang enteng saja dilakukan sekalipun merupakan tindakan yang terkategori dosa besar layaknya pembunuhan.


Selain faktor-faktor individu tersebut, lemahnya penegakan hukum juga turut berkontribusi mencetuskan ‘wabah’ tindak kriminal ini. Anekdot “Percuma Lapor Aparat” seolah mengamini buruknya pelayanan hukum oleh aparat keamanan. Proses hukum yang lama, berbelit bahkan berbiaya mahal menjadikan masyarakat enggan melapor dan membiarkan tindak kriminal yang terjadi lenyap begitu saja. Mereka memilih bungkam timbang nantinya menelan kekecewaan saat kasusnya tak juga diproses karena berbagai alasan. Hal ini akan berbeda cerita saat kalangan berduit dan berkuasa yang mengalami masalah. Aduan mereka akan diproses secara cepat tanpa proses rumit dan berbelit. 


Tindakan tebang pilih ini ternyata tak hanya terjadi pada proses pelaporan. Dalam pemberian sanksi pun, tebang pilih kerap ditemukan. Bisa dikatakan, hukuman akhirnya bergantung pada seberapa banyak cuan yang bisa diberikan. Tak heran, muncul anekdot lain di tengah masyarakat seperti “Hukum tumpul ke atas tajam ke bawah” yang mencerminkan gagalnya aparat keamanan mewujudkan keadilan dalam hukum. 


Ketidakadilan tersebut juga dibarengi dengan hukuman yang minim dari efek jera. Apalagi jika mengingat betapa mudahnya hukum saat ini dibeli dan dipesan. Akibatnya, muncullah istilah penjahat kambuhan. Penjahat ini tak mempan dengan hukuman kurungan penjara yang dijatuhkan. Bahkan, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk bertukar pikiran dengan narapidana lain serta memantapkan rencana tindak kriminal selanjutnya yang akan mereka lakukan selepas selesai menjalani hukuman.  


Inilah hasil dari diterapkannya sistem kapitalisme sekuler. Masyarakat yang miskin materi dan iman yang didukung dengan lemahnya penegakan hukum, membuat tindak kriminal bak rumput liar, terus tumbuh subur dan sulit dibasmi. Rasa ketakutan dan waswas pun terus mengintai dan seakan tak berkesudahan. Dengan demikian nyatalah sudah gagalnya hukum sekuler menjamin keamanan masyarakat.


Kondisi tersebut tentu sangat berbeda dengan apa yang ada pada sistem Islam. Dalam Islam, pendidikan akidah dan penanaman karakter menjadi kurikulum wajib yang harus diajarkan orangtua pada anaknya sejak kecil. Dengan mengakarnya akidah, akan terbentuk individu dengan kepribadian yang shalih, tangguh dalam keislaman serta senantiasa merasa selalu terhubung dengan Allah (idrak sillah billah). Rasa keterhubungan ini akan mewujudkan rasa takut bermaksiat karena merasa bahwa Allah akan selalu mengawasi dimanapun manusia berada. Dampaknya, secara otomatis, hal ini akan mencegah individu melakukan perbuatan kriminal. 


Selain itu, negara pun akan menjamin kesejahteraan umat dengan memenuhi berbagai kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, pendidikan hingga kesehatan. Tentunya, hal ini akan meminimalisir kemiskinan yang menjadi salah satu faktor timbulnya tindak kriminal. Terakhir, selain jaminan kesejahteraan, negara juga akan menerapkan sistem peradilan yang adil dan tegas. Sanksi yang dijatuhkan pun bersifat jawabir (penebus dosa) dan zawajir (mencegah orang lain melakukan perbuatan yang sama) sehingga tak ada lagi istilah penjahat kambuhan seperti yang ada dalam sistem sekuler. 


Sebut saja terkait sanksi bagi tindak pembunuhan. Jika dalam sistem sekuler, pelakunya masih bisa mendapat keringanan hukuman dengan mendekam selama beberapa tahun di jeruji besi, berbeda halnya dalam sistem Islam dimana pelakunya akan mendapatkan hukum qisas. Hukum qisas ini berupa  perlakuan yang sama kepada pelaku sebagaimana yang telah dilakukan pada korban.      


Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 178


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ


“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) kisas berkenaan dengan orang yang dibunuh.”


Demikianlah Islam mewujudkan keadilan dan menjamin keamanan bagi umatnya. Dengan diterapkannya sistem Islam, kriminalitas dapat diberantas. Umat pun akan hidup dengan tenang dan tak lagi waswas terhadap keselamatan harta maupun nyawanya. 

Wallahualam bissawab.[SJ]

Delusi Eskapisme Sebagai ‘Solusi Mental Generasi’

Delusi Eskapisme Sebagai ‘Solusi Mental Generasi’

 


Atmosfer sekuler menyebabkan masyarakat jauh dari agama sehingga mereka tidak tahu cara coping problem menggunakan solusi Islam. Alhasil, generasi kesulitan menghadapi konflik dan memilih melakukan pelarian ketika mengalami masalah
_________________________

Penulis Izza Afkarina

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Mahasiswa


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Ramai-ramai Lari dari Kenyataan, Ada apa?


Baru-baru ini jagat maya dikejutkan oleh video seorang anak yang dimarahi ayahnya lantaran asyik memainkan game role-playing (RP) di aplikasi Tiktok. Betapa tidak, konten RP yang dilakukan sudah berbau dewasa sampai-sampai bocah tersebut berperan seolah sudah memiliki anak (TribunNews/19/6/2023).


Tahun lalu, seorang remaja dilaporkan meninggal dunia karena diduga kecanduan game online (pikiran-rakyat[dot]com/30/3/2022). Tindakan maraton dalam menonton film, fenomena healing, dan fenomena ghosting juga tampaknya telah menjamur di tengah generasi. Carla Marie Manly, Ph.D., seorang psikolog klinis, mengatakan "Selama masa traumatis, banyak individu secara alami 'melarikan diri' untuk menghindari tekanan psikologis. Bermain game dan media sosial, mendengarkan musik, menonton film, travelling, kumpul bersama teman, hingga tidur dilakukan sebagai upaya dalam mengalihkan fokus dari permasalahan mereka”. 


Tak heran, generasi hari ini berada pada kondisi krisis mental yang mengkhawatirkan. Angka gangguan kesehatan mental menunjukkan tren peningkatan di level global maupun Indonesia. Riset terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington tahun 2019 menunjukkan bahwa terdapat tren peningkatan jumlah gangguan kesehatan mental dalam 30 tahun terakhir. Berdasarkan hasil survei Alvara Research Center terhadap 1.529 responden di 34 provinsi seluruh Indonesia, lebih dari 20% generasi X, Millenial, dan Z mengalami kecemasan. Kerena itu, alih-alih menyelesaikan masalah, mereka melakukan Eskapisme untuk lari dari permasalahannya. Menurut Jouhki dan Oksanen (2022), Eskapisme adalah kecenderungan seseorang untuk melarikan diri dari kenyataan.

 

Sistem Kapitalisme Melahirkan Generasi Stres dan Eskapis 


“Mengapa banyak yang melarikan diri?”. Penyebab Eskapisme sangatlah kompleks. Menurut Widya Hanum, P.hD, dikutip dari chanel Youtube IMuNe, pelarian dapat terjadi ketika individu memiliki jenis attachment style yang tidak sehat, depresi, cemas, kesulitan mengatasi konflik, merasa memiliki harga diri yang rendah, dan minim orientasi agama. Faktor internal tersebut semakin subur di dalam atmosfer sekuler kapitalisme yang menciptakan berbagai permasalahan yang kompleks, sehingga menjadi faktor eksternal penyebab stres dan eskapis.


Dalam hal ekonomi, sistem sekuler kapitalisme telah menciptakan gap lebar antara si kaya dan si miskin. Harga-harga bahan pokok, BBM, dan pajak juga naik bertahap. PHK dimana-mana. Belum lagi pengesahan Omnibus Law dengan berbagai polemiknya yang membuat para pekerja semakin khawatir. Begitu pun dalam hal sosial, kehidupan sekuler yang serba bebas mencetak beragam kezaliman di tengah masyarakat sehingga banyak yang mengalami konflik dengan keluarga, teman, ataupun pasangan. Kondisi-kondisi tersebut memberikan banyak tekanan terhadap mental generasi. Parahnya, sistem Pendidikan sekuler kapitalis tidak dapat memberikan bekal mental yang cukup untuk menghadapi berbagai masalah. Atmosfer sekuler juga menyebabkan masyarakat jauh dari agama sehingga mereka tidak tahu cara coping problem menggunakan solusi Islam. Alhasil, generasi kesulitan menghadapi konflik dan memilih melakukan pelarian ketika mengalami masalah.


Pelarian tersebut semakin menjamur lantaran dibuat nyaman oleh sosial media dan algoritmanya yang membius. Algoritma di platform media sosial dalam sistem kapitalis akan menyaring unggahan sesuai dengan apa yang relevan dengan minat pengguna. Hal ini menyebabkan seseorang betah berlama-lama dalam pelariannya, nyaman saat escape, dan melupakan tanggung jawabnya di kehidupan nyata. Tak cukup di situ, generasi juga di’ninabobok’kan dengan berbagai film dan hiburan yang menggiurkan sehingga mereka kecanduan untuk escape. Belum lagi masalah Idol dan celebrity worship syndrome (CWS) atau pengagungan selebriti yang membuat mereka semakin jauh dari kenyataan. Padahal, Fenomena CWS dapat membajak waktu serta dapat menjadi sangat berbahaya karena tidak realistis dan mengarah pada konsekuensi depresi jika sang idol tak sesuai ekspektasi. 

 

 

Eskapisme: Seni Menciptakan Masalah dengan Lari dari Masalah 


Amanda Perl, dalam artikelnya berjudul "Anxiety and Escapism: A Post-Traumatic Stres Disorder" berpendapat bahwa eskapisme merupakan srategi koping yang tidak sehat. Bermain game, menonton film, dan scroll sosial media dalam waktu yang lama dapat mengganggu kesehatan, mengurangi produktivitas, bahkan menyebabkan semakin stres. Riset yang dilakukan para ilmuwan dari Jeman dan Amerika Serikat dalam Frontiers in Psychology (2020) menyatakan bahwa stres dikaitkan dengan penggunaan media yang hedonis serta koping berbasis media yang menghindar dan melarikan diri. Sebuah studi yang dilakukan di Universitas Leiden juga menyebutkan bahwa orang yang terus-menerus ‘melarikan diri’ secara intens dapat mengalami perasaan cemas dan tekanan emosional yang lebih besar dari waktu ke waktu seperti bola salju berbahaya yang menuruni gunung. 


Oleh karena itu, tidak layak bagi generasi hari ini menjadikan eskapisme sebagai solusi dari permasalahan mereka. Eskapisme adalah delusi dari solusi mental generasi. Alih-alih menyelesaikan masalah, strategi tersebut justru menambah beban mental dan permasalahan baru. 

 

Islam Solusi Permasalahan Mental Generasi 


Persoalan mental generasi hanya mampu diatasi dengan penerapan Islam di segala aspek kehidupan. Banyak ahli bersepakat bahwa aspek psikologis tergolong permasalahan yang rumit dan melibatkan banyak faktor Internal dan Eksternal. Untuk itu, diperlukan sistem yang mampu mengatur faktor-faktor tersebut dengan baik sehingga dapat mencegah stres dan alih-alih memilih lari dari masalah, mereka mampu menyelesaikan masalahnya karena memiliki mental yang sehat. 


Sistem Pendidikan Islam dalam Khilafah akan memperkokoh mental generasi. Kurikulum pendidikan dibentuk berasaskan pada akidah Islam. Hal ini bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam sehingga generasi memiliki mental yang kuat dan tidak lari ketika diuji oleh beragam masalah. Generasi juga akan dibina dengan baik oleh guru dan di bersamai dalam menyelesaikan masalahnya, sebagaimana Rasulullah ﷺ membina para sahabat. Mereka juga akan dididik dan dibentuk sebagai “problem solver” agar dapat mencari solusi terkait masalahnya sendiri ataupun masalah umat. Karena itu, tidak akan pernah terpikirkan sedikit pun bagi mereka untuk melarikan diri dan kenyataan dan permasalahannya.


Khilafah juga akan meminimalisir faktor-faktor eksternal penyebab stres seperti masalah ekonomi, konflik sosial, dan lain-lain. Dalam aspek ekonomi, Negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyat dengan cara menciptakan iklim kondusif untuk mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan pokok rakyatnya. Tidak hanya itu, dalam aspek sosial, Negara akan menciptakan iklim pergaulan yang aman dari segala kemaksiatan sehingga toxic relationship, kerusakan tatanan keluarga, perselingkuhan, kekerasan seksual, bullying, dan penyebab stres yang lain dapat dicegah. Rehabilitasi medis dan nonmedis terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental juga akan dilakukan dengan pembiayaan penuh oleh Negara. Dalam aspek hukum, Negara akan membuat produk hukum yang mencegah terjadinya kejahatan serta memberikan sanksi tegas terhadap para pelaku kejahatan, misalnya hukum rajam, agar tidak menyebabkan korban mengalami gangguan mental. Begitupun dalam aspek Informasi, Negara juga akan mengatur arus informasi dan membatasi konten-konten yang dapat menyebabkan stres seperti flexing atau konten-konten “gila” yang tidak masuk akal.


Jika solusi-solusi tersebut diterapkan, maka sangat memungkinkan faktor-faktor penyebab stres akan tiada, angka stres menurun drastis, dan masyarakat tidak akan lari dari masalahnya, melainkan menghadapi segala permasalahan tersebut dengan mentalnya yang tangguh.

Wallahualam bissawab. [GSM]

Kejahatan Meningkat Akibat Kebebasan yang Kebablasan

Kejahatan Meningkat Akibat Kebebasan yang Kebablasan

Yang sangat menonjol dari maraknya tindak kriminalitas itu dipicu oleh pemikiran keliru tentang kehidupan, pemikiran yang salah, pemikiran yang jauh dari ajaran Islam

Banyak orang yang menjalani hidup ini sekadar untuk makan, untuk memenuhi kebutuhan,  menghabiskan waktu dengan penuh kesia-siaan

_______________________________


Penulis Ummu Bagja Mekalhaq 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pengasuh Majelis Taklim



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dilansir dari media ANTARA bahwa beragam peristiwa kriminalitas telah terjadi di Jakarta sepanjang tanggal 10/7/2023. Mulai pembunuhan di Jakarta Utara, dan lima pembunuhan disertai mutilasi yang tidak kalah sadis sedang viral saat ini.


Inilah gambaran kehidupan yang terjadi saat ini, berita berita kriminalitas  dari hari ke hari semakin banyak mengisi laman viral media sosial. Maraknya kriminalitas tidak terlepas dari sebuah sistem kehidupan yang salah yakni sistem demokrasi sekulerisme. Artinya memisahkan agama dari kehidupan. Sistem rusak yang dipraktikkan masyarakat Indonesia saat ini, menghantarkan pada jurang kehancuran.


Semua kehancuran berawal dari sistem demokrasi Sekulerisme. Artinya selama sistem demokrasi ini dipraktikan, selama itu pula kejahatan meningkat sebebas-bebasnya bahkan kebebasan yang kebablasan. Makanya, jangan heran jika semakin hari semakin meningkat tajam beragam kasus kriminalitas, termasuk pembunuhan sadis disertai mutilasi yang tidak berperikemanusiaan.


Dulu, kasus-kasus seperti ini jarang sekali terjadi. Bahkan jika pun ada, maka bisa diprediksi  pelakunya orang gila/abnormal. Itu pun "hanya sekadar" membunuh saja, tidak disertai mutilasi. Tetapi yang terjadi saat ini jauh lebih sadis. Pembunuhan yang direncanakan, pembunuhan disertai kekerasan dengan memutilasi korban untuk menghilangkan jejak, agar tidak terdeteksi polisi. Biasanya pelakunya itu, merencanakan dengan matang, penuh  perhitungan bahkan mencari informasi via media. 


Tindak kriminalitas pembunuhan disertai mutilasi ini, dipicu oleh beberapa alasan, di antaranya: Pertama kurangnya akses pendidikan, terutama pendidikan ajaran Islam kafah. Dengan kurangnya akses pendidikan, maka menghantarkan generasi Islam kepada kegelapan, rusak akidahnya rusak pula kepribadiannya.


Kedua kriminalitas dipicu pula oleh emosi,  rasa sakit hati, dendam kesumat, kisah  asmara tak terbalas, cemburu buta, bisa pula dipicu oleh perselingkuhan.


Adapun, dari sisi  sosial, tindak kriminal bisa dipicu oleh kesenjangan sosial yakni perbedaan mencolok antara yang kaya dan yang miskin. Serta tindak kriminal itu, bisa pula dipicu oleh pengangguran yang membuat hidup penuh beban.


Kondisi di lapangan tampak jelas peningkatan pengangguran dari tahun ke tahun naik tinggi. Bahkan bisa dikatakan, pada dasarnya semua rakyat Indonesia itu berstatus pengangguran.


Mau bukti? Coba lihat tengok kanan kiri saudara saudara kita, kakak, adik, paman, dan kerabat, hingga masyarakat setempat betulkah mereka banyak yang nganggur? Hanya dengan kemudahan dan karunia dari Allah, para pengangguran yang masih kuat iman bisa makan sampai saat ini, meskipun dari hasil kerja serabutan, betul?


Tetapi, perlu diketahui, yang sangat menonjol dari maraknya tindak kriminalitas itu dipicu oleh pemikiran keliru tentang kehidupan, pemikiran yang salah, pemikiran yang jauh dari ajaran Islam. Banyak orang yang menjalani hidup ini sekadar untuk makan, untuk memenuhi kebutuhan,  menghabiskan waktu dengan penuh kesia-siaan.


Pandangan kehidupan yang sesat tentang kehidupan. yakni bahwa hidup adalah untuk mengumpulkan sebanyak banyaknya harta, materi, materi dan materi yang dicari, tanpa memperhitungkan status hukumnya apakah  halal atau  haram, yang penting cepat mendapatkan uang meski dengan cara yang diharamkan dalam Islam. 


Mereka tidak mau berpikir keras untuk mendapatkan rezeki secara halal, seperti aktivitas jual beli barang yang halal zatnya, atau pun berbisnis yang diperbolehkan dalam Islam. Saat ini, kebanyakan orang tidak memiliki sifat sabar dalam menjalani hidup. Saat hilang kesabaran akibatnya hidup tanpa aturan, hidup penuh kebebasan. Sehingga untuk mendapatkan keinginannya bertindak tergesa-gesa, meskipun haram tetapi tetap saja ia lakukan.


Padahal seharusnya, kehidupan yang dijalani haruslah diniatkan semuanya untuk ibadah, termasuk mencari nafkah. Jika hidup diniatkan untuk ibadah, tentunya menjalani hidup ini penuh kesabaran. Tetapi, kesabaran itu tidak bisa diraih dengan mudah melainkan kesabaran itu harus diraih dengan meningkatkan keimanan. Keimanan itu tidak  bisa diraih dengan instan, tetapi harus diraih dengan menuntut ilmu agama, terutama mempelajari Islam kafah agar paham terhadap syariat Islam. 


Sayang, saat ini banyak orang-orang yang memilih hidup dengan instan, akhirnya memilih jalan haram. Dari sini, kerusakan timbul perlahan tetapi pasti, seperti tindak kriminalitas pembunuhan yang terjadi terus-menerus memenuhi laman media, tiada hari tanpa berita kriminalitas.


Ada kasus kriminalitas pembunuhan terjadinya diawali mengutang riba, meminjam uang riba dari rentenir/bank keliling yang sangat kejam. Mereka memberi pinjaman berbunga tinggi, yang tidak mungkin bisa dilunasi, selain pelunasannya dengan cara gali lubang tutup lubang.


Makanya banyak pengutang yang memiliki hampir 30 pintu pinjaman dari pemberi utang yang berbeda. Bahayanya saat ditagih jatuh tempo, tertekan dengan kesulitan, bingung dan kalut memikirkan dari mana uang untuk membayar utang.


Karena beratnya beban utang riba, sulit untuk dilunasi, akhirnya untuk melunasi riba itu, ia pun memutar otak dengan beragam cara. Jika buntu, maka tindak kriminal dilakukannya, seperti mencuri disertai pembunuhan, dan tidak cukup membunuh tetapi disertai mutilasi. Makin sadis, bukan?


Banyaknya tindak kriminalitas pembunuhan selain yang dilatarbelakangi oleh beberapa faktor pemicu yang sudah disebutkan di atas, ternyata saat ini banyak pula pembunuhan yang dilatarbelakangi oleh pinjol dan bank keliling/rentenir.


Bisakah setiap kasus-kasus kriminalitas diselesaikan di mahkamah peradilan? Ah, sulit untuk tuntas. Janganlah  berharap kepada mahkamah peradilan untuk menuntaskan masalah kriminalitas ini, karena tak sedikit faktanya tidak akan tuntas.


Deretan kasus kriminalitas sudah terjadi, belum tuntas diadili. Boleh cek sendiri, googling! Masih ingat kasus pembunuhan KM 50? Apakah bisa tuntas? Artinya, tidak ada cara lain, kecuali kembali kepada Islam kafah. 


Dalam Islam dijelaskan penghilangan nyawa korban, yakni  pembunuhan yang disengaja harus diadili dengan seadil-adilnya. Hukum dalam Islam adil, nyawa dibayar nyawa, hingga ada efek jera. Hukum dalam Islam pun bersifat jawabir dan jawazir, sebagai penebus dan pencegah


Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 45, yang artinya, "Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya(Taurat) bahwa nyawa dibalas dengan nyawa, mata dengan mata,  hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisasnya (balasan yang sama). Barang siapa melepaskan (hak qisas)nya maka itu menjadi "penebus" dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah,  maka mereka itulah orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 45)


Begitulah cara Islam memberikan solusi yang pasti. Siapa yang akan menggantikan sistem demokrasi? agar kejahatan bisa diatasi? Tentu yang memiliki ghirah Islam kafah yakni orang-orang yang kuat tauhidnya, mantap imannya. Mereka itulah orang-orang yang rela berjuang demi tegaknya syariat Islam yang akan membawa dampak baik bagi kehidupan. 


Sudah saatnya membuang demokrasi sesat yang gagal mengurus rakyat. Saatnya berganti dengan Islam kafah untuk kebaikan semua manusia, baik muslim ataupun nonmuslim. Hanya dengan aturan Islam saja yang mampu menghilangkan beragam kejahatan termasuk pembunuhan disertai mutilasi. 


Sebaliknya jika tidak kembali kepada aturan Islam kafah, tidak mungkin kejahatan ini berakhir. Itu karena dorongan demokrasi yang mengusung kebebasan yang kebablasan, begitu kuat mencengkeram jiwa-jiwa yang lalai atas seruan amar makruf nahi mungkar. Wallahualam bissawab. [By]

Hijrah Menuju Berkah

Hijrah Menuju Berkah

Hijrah menuju berkah
Dari jahiliah menuju fathanah
Kebodohan sistemik lahirkan manusia problematik 
Kini hijrah menuju masyarakat penuh barakah

_________________________________


Penulis Hanif Kristianto

Sastrawan Politik dan Analis Berita



KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Semua berhijrah mengajak maju rakyatnya
Menyingkirkan segala gangguan dan hambatan di masa depan
Semenjak kapitalisme memimpin peradaban dunia
Penjajahan di dunia merajalela di mana-mana


Belumlah dikatakan hijrah 

Jika sekadar memperingati hari tapi tanpa arti

Berpindah dari unsur kejelekan menuju kebaikan

Tanpa esensi apa hakikatnya yang asasi


Hijrah menuju berkah

Jika tauhid jadi pengungkit

Ekstrak dari capaian puncak iman

Segala sistem jahiliyah disingkirkan


Hijrah menuju berkah

Jika kejahilan kapitalisme terkubur dalam pesara peradaban

Termuseum dalam bingkai objek penglihatan

Atas kekejaman karena memisahkan agama dari kehidupan


Hijrah menuju berkah 

Jika tauladan Baginda Nabi fokusnya 

Di Makkah penuh ujian dan diembargo kaumnya

Di Madinah disambut kabilah dengan riang gembira


Makkah telah memberikan pelajaran penting

Dakwah tak boleh berhenti meski kondisi genting

Tetap sabar dan tawakal sembari menunggu wahyu untuk berbuat sesuatu

Ini lebih dari sekadar taktik untuk misi propetik


Hijrah menuju berkah

Dari jahiliah menuju fathanah

Kebodohan sistemik lahirkan manusia problematik 

Kini hijrah menuju masyarakat penuh barakah


Hijrah menuju berkah

Rindu masyarakat sehat jasmani dan ruhaninya 

Pikirannya jernih dibimbing wahyu Illahi 

Pribadinya kokoh bersama umat dalam garis taat [By]


#puisi #puisihanifk #hijrah #sastra #sastraindonesia